TANDA-TANDA SEBAGAI ANAK ALLAH

Pdt. Effendi Susanto, S.Th.
TANDA-TANDA SEBAGAI ANAK ALLAHTANDA-TANDA SEBAGAI ANAK ALLAH. -“Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1 Korintus 2:9)

“Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!" Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” (Roma 8:14-17)

“Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?” (Ibrani 12:7-9)

Di majalah TIME terbaru ada artikel berjudul “The Science of Romance” menuliskan bagaimana Science ingin mencari bukti bahwa romance itu ada. Beberapa riset dilakukan, di antaranya dengan melakukan scan kepada otak orang yang sedang jatuh cinta dan terlihat memang ada perubahan chemical. Science juga melihat terjadinya ketertarikan antara pria dan wanita karena nampaknya ada misteri dimana ada chemical yang ditebarkan oleh pria terhadap wanita tertentu dan demikian sebaliknya, ternyata saling match satu sama lain. Tidak heran, setiap isteri menyukai bau suaminya. Yang bisa diobservasi oleh Science adalah hal-hal yang seperti itu.

Manusia selalu memiliki kecurigaan terhadap sesuatu yang abstrak dan kita ingin mendapatkan bukti. Cinta itu abstrak, tetapi orang berusah mencari bukti yang konkrit kehadiran dari cinta itu. Tetapi jujur, tetap bukti itu tidak bisa setara dengan cinta itu sendiri. Meskipun demikian, bagi saya bukti konkrit itu perlu ada meskipun tidak bisa menjadi ukuran sepenuhnya. Ada orang berpikir menikah itu kan cuma seremoni, jadi membeli cincin yang murah dan sederhana tidak apa. Habis menikah kan orang biasanya jadi gemuk, nanti cincinnya tidak bisa muat lagi toh? Buat saya, jangan berpikir seperti itu. Cincin pernikahan itu harus layak dan bagus. Kita bisa lihat bukti yang konkrit itu membuktikan berapa besar dan seriusnya cintamu. Kalau keluar makan saja tidak mau membayar bill, itu namanya parasit.

My point is kalau dunia Science saja ingin coba mencari observable things dari romance, dari situ kita bisa melihat manusia ingin mencoba membuktikan hal yang abstrak itu benar-benar ada. Sekarang kita tarik, banyak hal di dalam hidup ini, berkaitan dengan hubungan kita dengan Tuhan maupun berkaitan dengan kehadiran dan eksistensi Tuhan itupun sesuatu yang abstrak, dalam arti kata tidak bisa diobservasi oleh panca indera kita. Tetapi mengapa banyak orang mengatakan tidak ada Tuhan padahal wilayah itu bisa kita kategorikan sama seperti usaha manusia ingin membuktikan romance itu ada, bukan? Saya tidak bisa membuktikan eksistensi Tuhan seperti itu. 

Tetapi kita bisa melihat bukti observable things yang terjadi. Ada lagu “Things are different now, something happen to me when I believe in God.” Saya tidak bisa membuktikan keberadaan Tuhan yang saya percaya itu, tetapi you bisa observe something dari hidup saya yang mengalami perubahan ketika saya percaya Tuhan.

Namun inilah sikap hidup manusia yang selalu merasa ragu ketika dia tidak memiliki tangan yang kuat untuk bisa memegang dengan pasti apa yang tidak bisa dipegang. Maka tidak heran kenapa di dalam dunia ini kepercayaan yang memiliki simbol-simbol yang banyak membuat orang lebih gampang percaya daripada hal-hal yang abstrak. Di dalam kepercayaan apapun sdr lihat selalu ada simbol. Maka dalam tradisi Hinduism dan Buddhism sdr akan menemukan simbol patung-patung. Di dalam Kekristenan juga ada simbol-simbol, cuma bedanya simbol-simbol itu tidak kita sembah. Salib, misalnya. 

Meskipun demikian banyak orang Kristen masih berdoa di depan simbol seperti itu. Banyak orang Kristen akhirnya merasa lebih sreg dan lebih dekat Tuhan kalau berdoa di Yerusalem. Banyak orang Islam juga merasa lebih dekat dengan Tuhan kalau pergi ke Mekah. Itu kecenderungan manusia. Itupun kecenderungan yang bisa sdr dan saya alami.

Dalam 1 Korintus 2:9 Pauluspun berbicara akan hal itu. “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah timbul di dalam hati manusia, itu semua disediakan Allah bagi orang yang mengasihi Dia…” Inilah paradoks iman. Saya beriman, saya percaya dan saya yakin bahwa saya akan menerima apa yang disediakan Tuhan kepadaku, plus itu menjadi paradoks sebab saya belum pernah saya lihat dengan mata, belum pernah saya dengar, dsb. Sehingga waktu orang bertanya apa bukti iman saya, bukti itu mereka ingin observe dengan panca indera. 

Sesuatu yang bisa mereka lihat, sesuatu yang bisa mereka dengar, sesuatu yang bisa dipresentasikan di depan mereka. Paulus bicara paradoks hidup beriman seperti ini, hal yang engkau terima ini adalah sesuatu yang tidak pernah dilihat, tidak pernah didengar dan tidak pernah ada di dalam konsep manusia, sesuatu yang Tuhan beri dan sediakan bagi orang-orang mengasihi Dia.

Hari ini saya mau bicara mengenai seberapa yakinkah saya kepada imanku. Saya tidak meragukan bahwa saya adalah orang yang beriman dan percaya kepada Tuhan, tetapi yang kita bicarakan adalah aspek seberapa saya beriman kepada Tuhan. How strong I know that I am a son of God, how strong I know the strength of my faith. Mungkin kita tidak akan merasakan hal itu pada waktu kita tidak pernah mengalami goncangan, pada waktu hidup kita lancar. Tetapi bisa terjadi juga pada waktu hidup kita sedang lancar, kita menjadikan iman itu statis dan kita lebih percaya kepada diri sendiri. Ini adalah hal yang ingin saya ajak sdr lihat.

Di dalam Alkitab kita menemukan ada dua kasus yang sangat menarik yang Yesus ajarkan kepada murid-muridNya. Satu kasus adalah pada waktu Yesus menyembuhkan satu orang buta. Yesus bertanya kepadanya, “Apa yang engkau ingin Aku lakukan kepadamu?” Orang buta itu menjawab, “Aku ingin sembuh.” Kemudian Yesus bertanya lagi, “Percayakah engkau bahwa Aku bisa menyembuhkanmu?” Jawaban dari orang buta itu sangat menarik, “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini.” 

Pertanyaan saya, orang buta ini sebenarnya percaya atau tidak percaya? Dia percaya karena dia tahu Tuhan sanggup menyembuhkan dia, tetapi dia merasa ragu sebab itu itu kembali lagi kepada perasaan hidup manusia, ingin Tuhan itu bisa digenggam. Maka tidak heran, banyak orang ingin menyembah kepada patung karena di situ dia bisa menyentuh dan menggenggam Tuhan yang disembahnya.

Satu kasus lagi adalah pada waktu Yesus menyembuhkan satu orang buta yang lain lagi dengan cara yang berbeda. Yesus meludah ke tanah, lalu dari situ Dia membuat lumpur yang digosokkan ke mata orang buta itu. Lalu Yesus bertanya kepada dia, “Sudahkah engkau melihat?” Jawab orang itu, “Sudah, tetapi aku melihat orang berjalan seperti pohon.” Apakah orang buta ini sudah melihat? Sudah. 

Tetapi masih melihat orang berjalan seperti pohon. Maka Yesus sekali lagi memegang matanya dan dia sembuh total. Kalau Yesus bisa menyembuhkan dengan satu kali, kenapa Yesus melakukan hal seperti ini? Karena Yesus ingin mengajarkan satu hal kepada murid-muridNya yaitu pada waktu mereka ragu-ragu, hal seperti orang buta itulah yang terjadi. Ada tetapi juga merasa tidak ada.

Paulus mengangkat hal ini. Tuhan berjanji akan memberi kepada orang yang mengasihi Dia. Di sini menunjukkan Dia belum memberikan hal itu, bukan? Walaupun secara bahasa teologis kita tahu Dia sudah memberikan, kita sudah yakin akan keselamatan kita, kita sudah menjadi orang Kristen. Tetapi di dalam realitanya, kita belum menerima hal itu. Betapa seringkali di dalam perjalanan kita beriman kita mungkin bisa mengalami hal seperti ini.

Satu contoh konkrit ada di dalam surat Ibrani.10:25 penulis Ibrani memberi nasehat kepada orang Kristen jangan menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah. Lakukan dengan lebih giat karena Tuhan akan segera datang. Sdr melihat terjadi satu realita di dalam hidup, kenapa ada sebagian orang yang terbiasa tidak mau lagi datang beribadah. Saya percaya jawaban yang paling lazim adalah karena mereka sudah tidak lagi menemukan ada manfaatnya. Buat mereka nothing happen di dalam pertemuan ibadah itu. 

Tetapi di dalam ayat 34 kita melihat konteks yang penting dan jelas, orang Kristen yang menerima surat ini sedang mengalami penderitaan, harta mereka dirampas. Memang mereka belum mengalami aniaya secara fisik tetapi sudah mengalami kerugian secara finansial. Harta mereka dicuri dan dirampas secara paksa. Rumahnya, kebunnya diambil begitu saja tanpa ada pembelaan secara hukum. Dan ketika hal itu terjadi, sebagian orang Kristen yang mendapat perlakuan itu imannya menjadi undur. Mereka tidak ingin rugi dan tidak ingin dirampas harta bendanya, akhirnya mereka tidak mengaku sebagai orang Kristen.

Firman Tuhan mengatakan Tuhan sudah memberi keselamatan itu tetapi kita belum menerimanya sekarang, itulah paradoks iman kita. Engkau percaya kepada Tuhan, engkau beriman kepada Dia, Dia memberikan janji anugerah keselamatan kepastian hidup itu. Di tengah-tengah itu menjadi orang Kristen kadang-kadang kita memiliki gelombang antara yakin dan tidak yakin, percaya dan ragu, rasa dekat dan rasa jauh. Bagaimana saya tahu dan yakin saya adalah anak Tuhan yang sejati?

Ada dua ayat yang saya ingin sdr perhatikan.

Pertama, dari Roma.8:14-17. Ayat ini menjadi ayat yang penting ketika orang Kristen berada di tengah-tengah antara Tuhan sudah sediakan janji itu, Tuhan sudah beri kepastian keselamatan itu, tetapi sekaligus kita ragu karena hal itu belum kita lihat oleh mata kita. Ayat ini dengan sangat subjektif mengatakan kita tahu kita anak Tuhan, kita tahu Tuhan mengasihi kita karena ada Roh Kudus yang tinggal di dalam hati kita yang bersaksi bahwa kita adalah anak Tuhan. Mengapa ayat ini perlu? Karena di dalam hidup kita sering memiliki 3 suara yang selalu berkata-kata.

Satu, suara hati nurani kita yang karena masih berdosa, suara hati nurani ini masih perlu dimurnikan oleh pimpinan Roh Kudus. Suara hati nurani kita berusaha merasionalisasi sesuatu. Sdr yang punya wekker, ada mungkin yang bangun sebelum wekkernya berbunyi. Tetapi ada yang baru bangun setelah wekkernya berbunyi beberapa kali. Tetapi ada yang wekkernya sudah tidak bunyi lagipun tidak bangun-bangun. Keterbiasaan ini bisa terjadi di dalam kita mendengar suara hati nurani. Suara hati nurani meminta kita merasionalisasi, “sudahlah tidak apa-apa, ... toh semua orang Kristen begitu.”

Suara yang kedua adalah suara dari Setan yang selalu menuduh kita, mengatakan kita bukan anak Tuhan. Tuhan sudah bosan melihat hidup kita yang terus mengecewakan Dia. Itu suara Setan yang selalu menuduh.

Maka muncul suara ketiga yaitu suara Roh Kudus memberi kesaksian bahwa engkau tetap anak Allah. Tetapi sdr harus ingat baik-baik Roh Kudus bekerja dan bersaksi di dalam hati kita tidak pernah lepas dari 2 hal yaitu tidak pernah lepas dari firman Tuhan dan tidak pernah lepas dari karya Kristus. Ini penting sekali. Yesus mengatakan, pada waktu Roh Kudus datang, Dia akan bersaksi bagiKu. Pada waktu Roh Kudus datang, Dia akan mengingatkan kepadamu semua firman yang sudah Kukatakan kepadamu. 

Maka kita menemukan korelasinya, bagaimana saya makin di-confirm dan makin sadar bahwa kita anak Tuhan dan Tuhan mengasihi saya, justru waktu kita makin datang kepada Dia ketika kita merasa tidak yakin akan iman kita. Inilah paradoks iman kita. Dalam kehidupan Paulus dia tidak terlepas dari orang-orang yang ikut dengan dia melayani bersama-sama tetapi akhirnya ternyata menjadi orang yang melawan Paulus dan Kekristenan.

Ada 3 orang yang Paulus sebut namanya dengan terus terang dan terbukti mereka memang bukan orang Kristen yang sejati. Dalam 2 Timotius 4:10 ada seorang bernama Demas yang telah mencintai dunia ini dan meninggalkan Paulus. 

Demikian juga dalam 2 Timotius 2:17 ada Himeneus dan Filetus. Jangan kecewa pada waktu sdr berada di dalam posisi memang sdr percaya Tuhan tetapi saat itu tidak terlalu yakin. Saya mengatakan ada perbedaan antara satu iman yang sejati tetapi lemah dengan yang sama sekali tidak beriman. Saya memakai ilustrasi seperti seorang ibu yang baru mengandung 5 bulan, yang belum melihat bayinya tetapi sudah bisa merasakan gerakan di dalam rahimnya. 

Iman kita yang lemah kepada Tuhan bisa terjadi, tetapi iman yang lemah tidak akan pernah mati. Dia akan selalu fight. Dari situlah saya ingin mengajak sdr melihat prinsip bagaimana saya membedakan antara seorang yang pura-pura menjadi orang Kristen, yang sebenarnya belum pernah percaya Tuhan, dengan orang yang memiliki iman yang lemah, yang struggle di dalam keinginan memiliki keyakinan bahwa dia adalah anak Tuhan. 

Maka di dalam surat Ibrani yang mengatakan ada orang yang sudah mendengar firman, sudah melayani, dsb tetapi menjadi murtad, itu bukan mengatakan bahwa orang yang sudah percaya Tuhan bisa kehilangan keselamatan, karena Alkitab mengatakan barangsiapa yang percaya Yesus dan menerima Dia dan Roh Kudus bekerja di dalam hatinya, dia tidak mungkin menghujat Roh Kudus. 

Yang bisa dilakukan oleh orang Kristen yang sejati adalah mendukakan Roh Kudus. Sdr harus membedakan dua hal itu. Mendukakan, berarti melakukan sesuatu yang salah sehingga mendatangkan kesedihan. Murtad atau menghujat Roh Kudus adalah suatu tindakan aktif menolak pekerjaan Roh Kudus di dalam dirinya. 

Efesus.4:30 bicara secara clear akan hal ini, janganlah kamu mendukakan hati Roh Kudus yang sudah memateraikan imanmu. Materai menandakan kita sudah resmi dan sah meskipun kita belum menerima keselamatan itu dan Roh Kudus tidak akan pernah meninggalkan hati kita. Yang ada ialah kita bisa mendukakan Roh Kudus.

Maka muncul prinsip ketiga, bagaimana saya tahu saya adalah umat pilihan Tuhan yang sejati? Ini hanya bisa dilakukan melalui satu proses yang namanya proses pemurnian. Yesus pernah mengatakan banyak orang yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih. Pada waktu banyak orang kecewa dan meninggalkan Yesus, Yesus berbalik kepada murid- muridNya dan mengatakan kenapa kalian tidak pergi juga? Petrus mengatakan, Tuhan, kami tahu Engkau adalah Anak Allah yang hidup. 

Dalam Ibrani.12:7-9 penulis surat Ibrani mengangkat point yang penting, jika kita adalah anak Allah, maka Allah akan mendidik dan mendisiplin kita. Paulus berkata kepada Timotius, barangsiapa yang ingin sungguh-sungguh mengikut Tuhan maka dia akan mengalami penderitaan.

Inilah perbedaan kalau sdr baca pengalaman orang-orang Kristen di jaman modern ini dengan orang-orang Kristen di masa lalu. Orang-orang di jaman sekarang mengatakan tanda engkau adalah seorang anak Tuhan yang sejati kalau engkau diberkati Tuhan. Tetapi tanda seorang anak Tuhan yang sejati bukan itu. Kesulitan, tantangan, bukan menjadi tanda bahwa kita dikutuk Tuhan tetapi justru sebaliknya menjadi tanda kita adalah anak Tuhan yang sejati. Ibrani mengatakan, kalau kita tidak pernah dipukul Tuhan, mungkin kita bukan anakNya. Maka bukti saya adalah anak Tuhan, prinsip ini tidak boleh dicabut yaitu the mark of the children of God is suffering. Demikian dalam hidup rohani kita ada “tanda rotan” dari Tuhan. 

Dalam keadaan lancar seringkali kita menjadi terlalu percaya diri sehingga tidak merasa perlu pertolongan Tuhan. Tetapi pada waktu kita mengalami kesulitan dan tantangan, di tengah air mata, kita menjadi rendah hati di hadapan Tuhan dan di situ kita melihat kekuatan yang datang dari Tuhan. Minggu depan saya akan membahas “The Marks of the Children of God,” bagaimana disiplin itu memberikan kita tanda yang positif.

TANDA-TANDA SEBAGAI ANAK ALLAH (2)

Surat Ibrani :

12:5 Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya;

12:6 karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."

12:7 Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?

12:8 Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.

12:9 Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?

12:10 Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.

12:11 Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.

12:12 Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah;

12:13 dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh.

12:14 Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.

12:15 Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.

12:16 Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan.

12:17 Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.

Minggu lalu di ABC ada satu dokumentasi mengenai seorang yang mengalami “genius disorders.” Menarik sekali dokumentasinya, karena dia bisa melihat hal-hal lain yang sdr dan saya tidak lihat. Pada waktu kita masuk ke dalam ruangan ini, kita melihat dengan persepsi yang normal di lihat orang lain, ada tiang, tembok dsb. Tetapi orang itu bisa melihat dengan persepsi dan dimensi yang lain yang berbeda dengan kita yang normal. 

Menurut dokumentasi itu, kemungkinan besar hal yang sama terjadi pada diri Van Gogh dan Picasso. Bisakah kita mengatakan dia orang gila? Tidak, karena dia disebut genius, tetapi dalam kategori ‘disorder’ karena ini adalah suatu kelainan. Maksudnya adalah kita melihat hal yang sama, tetapi dia memiliki mata dan cara pandang yang berbeda, yang tidak boleh kita katakan tidak ada.

Saya percaya, ini juga bisa kita masukkan di dalam kebenaran soal kacamata iman. Menghadapi penderitaan, menghadapi kesulitan yang sama, orang yang satu bilang “it is bad luck,” itu sesuatu hal yang tidak baik, dsb tetapi orang Kristen mengatakan di situ ada kebaikan Tuhan, tidak boleh dikatakan orang ini gila, karena tetap ada yang namanya “kacamata iman.” Jadi mata rohani kita mirip seperti orang genius disorders yang melihat dengan perspektif yang berbeda.

Saya rasa kalimat ini menjadi point yang penting karena penulis surat Ibrani mengatakan hal ini, pada waktu pendidikan itu datang, dia tidak mendatangkan sukacita tetapi dukacita, itu fakta. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran kepada mereka yang dilatih olehnya (Ibr.12:11). Berangkat dari ayat ini saya ingin mengajak sdr melihat what is the marks of God’s children, apa saja yang menjadi ciri dan tanda seorang percaya. Minggu lalu saya sudah membahas tanda yang paling penting adalah konfirmasi dari Roh Kudus yang tidak pernah berhenti mengatakan “You are still My child.” 

Ini adalah kesaksian Roh Kudus yang penting di dalam hati setiap orang percaya. Kenapa ini menjadi ciri penting? Kalau anak kita berbuat salah, umumnya dia akan lari dan bersembunyi dari kita. Ini adalah kecenderungan dosa. Pada waktu Adam dan Hawa berbuat dosa, itu yang terjadi, bukan? Alkitab memberitahukan kepada kita itulah reaksi yang terjadi karena berdosa. Menghadapi situasi seperti itu Tuhan akhirnya datang mencari Adam, terus memberikan satu konfirmasi yang penting sekali di dalam hidup mereka, “You are still My children.”

Kecenderungan kita sebagai orang Kristen pada waktu kita melewati tantangan dan kesulitan, pada waktu kita merasa Tuhan tidak ada di dalam hidup kita, kita cenderung juga lari. Itu sebab penulis Ibrani mengingatkan jemaat yang mengalami penderitaan, jangan membiasakan diri lari dari Tuhan. Ini reaksi yang wajar karena kita pikir Tuhan tidak mengasihi kita lagi. Bahaya sekali kalau kita mengajarkan teologi seperti ini kepada orang: “Kalau engkau tidak sembuh berarti masih ada dosa di dalam hatimu, maka Tuhan tidak mengasihimu.” Saya masih ingat kesaksian nyata dari seorang wanita yang terkena kanker payudara di Jakarta. 

Pada waktu itu dia menghadiri satu kebaktian kesembuhan ilahi dan pendeta mendoakan dia. Dua minggu kemudian, bukan kesembuhan yang terjadi kepadanya, tetapi ibu ini ditemukan mencoba bunuh diri dengan minum Baygon. Keluarga segera membawanya ke rumah sakit dan memompa perutnya. Selama beberapa hari dia terus berada dalam pengawasan ketat supaya tidak mencoba bunuh diri lagi. Dia mengatakan, “..Kenapa saya ditolong? Lebih baik saya mati saja. 

Hidup saya sudah susah seperti ini. Tuhan tidak sayang kepada saya. Kalau Dia mengasihi saya, saya pasti disembuhkan. Kalau Tuhan sudah tidak care terhadap hidup saya, buat apa lagi?” Wanita ini mendapatkan konsep yang salah. Kalau kesembuhan adalah tanda Tuhan sayang kepadanya, maka tidak sembuh membuat dia merasa Tuhan sudah tidak peduli dengan dia. Bukan Tuhan tidak care kepada kita, tetapi itu yang menjadi reaksi kita.

Pada waktu kita rasa hidup kita susah, ada sesuatu yang tidak beres di dalam hidup ini, kita lebih cenderung lari dan bersembunyi. Ditambah dengan hati nurani kita yang sudah berdosa dan bersalah, ditambah dengan suara setan yang selalu menuduh kita, maka kenapa harus ada suara yang lain yang menjadi ciri yang menguatkan kita. Puji Tuhan kalau ada ciri eksternal yang memberitahu kita adalah anak Tuhan. Tetapi itu tidak ada. Maka suara Roh Kudus mengingatkan bahwa kita adalah anak Allah. Suara itu akan terus bekerja dengan tidak mengabaikan firman Tuhan. 

Itu sebab mengapa Ibrani memberikan nasehat ini, jangan lari dari pertemuan ibadah sebab melalui pertemuan ibadah seperti ini sdr akan dengar firman Tuhan yang memberikan konfirmasi kepadamu bahwa engkau tetap anak Allah sekalipun hidup kita mungkin tidak menyenangkan. Roh Kudus bersaksi di dalam hati kita bahwa kita adalah anak-anak Allah.

Yang kedua, sekarang kita angkat perspektifnya melalui Ibrani 12 ini. Ayat 12-13 memberikan satu metafora yang menarik, “…sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah…” Ini adalah metafora perjalanan. Melihat hidup dengan perspektif ini penting. Artinya sebagai orang Kristen kita tidak boleh merasa diri lebih istimewa daripada orang-orang lain sebab Alkitab mengatakan siapapun dia yang hidup di dalam dunia ini hidup di dalam satu perjalanan, satu journey. Di dalam perjalanan itu sdr dan saya menemukan beragam persoalan, hal yang indah atau tidak indah, hal yang surprise ataupun hal biasa. Itulah perjalanan. 

Pada waktu kita bicara mengenai perjalanan, saya ingat kepada Mazmur 23 yang memberikan satu gambaran yang indah dan kontras. “Tuhan Gembalaku yang baik membaringkan aku di padang yang berumput hijau. Sekalipun aku berjalan di dalam lembah kekelaman…” Di padang yang berumput hijau aku berbaring, artinya ini adalah destination. Ada sesuatu yang bersifat permanen di situ. Tetapi di dalam lembah kekelaman aku berjalan, artinya ini bukan menjadi destination, bukan tujuan dan tidak bersifat permanen. Ini dua perbedaan yang menarik. Alkitab mengatakan di dalam journey ini ada lembah yang hijau, tetapi juga ada lembah yang gelap. 

Di dalam journey ada mata air, tetapi juga ada padang gurun. Namun di dalam journey itu kita menemukan perbedaannya pada waktu Tuhan memberikan penggembalaanNya di dalam hidup kita. Pada waktu menghadapi lembah yang penuh air dikatakan Dia membawa kita berbaring. Artinya Gembala kita tahu apa kebutuhan kita. Tetapi pada waktu kita berada di dalam lembah kekelaman, Dia mengingatkan kita sedang berjalan, artinya someday kita pasti akan melewatinya.

Maka saya berpikir, apa bedanya kesulitan, pendidikan, ganjaran dan api dari Tuhan itu. Kita harus ingat relasi kita dengan Tuhan harus dibedakan antara relasi abusive, relasi destruktif dan relasi purification. Jelas api destruktif dan api penyucian itu berbeda, walaupun sama panasnya dan sama dahsyatnya. Tetapi api destruktif bertujuan untuk merusak hidup kita, sedangkan api purification memurnikan iman kita. Salah satu relasi yang sangat berbahaya di dalam hubungan suami isteri adalah relasi abusive. Yang seringterjadi adalah suami melakukan kekerasan kepada isteri, tetapi celakanya si isteri merasa tindakan kekerasan itu sebagai bukti suami mencintainya. Ini menjadi relasi yang berbahaya sekali. 

Tidak heran banyak wanita yang hidup di dalam relasi abusive seperti itu tidak mau keluar sampai terlambat. Biasanya setelah suami memukul dengan bogem mentah, besoknya dia memberi bunga mawar satu bakul. Isterinya waktu ditanya kenapa biru lebam, dia akan bilang karena suami mencintai dia. Sekarang kalau saya bertanya kepada orang Kristen kenapa menderita begini, jawab dia karena Tuhan mencintainya, apakah ini relasi yang abusive juga? Jadi bagaimana kita membedakan Tuhan memberikan tantangan, kesulitan tetapi bukan bersifat abusive dan destruktif kepada kita? Kita harus membedakannya baik-baik.

Saya percaya dengan mengerti konsep ini, “stay and walk” maka Tuhan sendiri memberikan kita jaminan, menghadapi kesulitan, penderitaan, dsb it is not His destination tetapi hanya merupakan satu proses. Artinya Tuhan bukan Tuhan yang ingin orang itu terus-menerus mengalami kesulitan dan penderitaan. Tetapi ada kalanya di dalam pengalaman kita juga, kita sudah puas di dalam satu hal kita tidak mau maju lagi. Itu kecenderungan hidup kita. Pada waktu kita sudah puas, kita tidak mau maju lagi. 

Tetapi kita tahu hal yang sudah kita capai itu belum maksimal dan bukan merupakan target dan tujuan kita. Bukan Tuhan tidak ingin kita menikmati keberhasilan kita, dan bukan Tuhan ingin men-spoiled keberhasilan atau kebahagiaan hidup kita. Tuhan hanya ingin menggoncangkan hidup kita yang sudah merasa satisfy di situ. Kalau someday Tuhan membuka dan memberikan tantangan yang lebih besar dan lebih beresiko daripada apa yang sudah kita kerjakan sekarang, kita berani mengerjakan hal itu karena Tuhan ingin kita melalui kesulitan itu dan maju selangkah.

Jangan kita sebagai orang Kristen melihat Tuhan sebagai “The Killer of Joy.” Sehingga banyak orang bercanda itulah bedanya orang Protestan dengan orang Karismatik. Orang Protestan punya konsep Tuhan adalah the killer of joy, maka jadi orang Kristen jangan kelihatan terlalu senang, nanti Tuhan kasih menderita. Jadi jangan terlalu senang di hadapan Tuhan supaya Dia tidak tahu kita lagi senang. Tetapi kalau kita pergi ke gereja Krismatik bicara mengenai sukacita, diberkati, makin kaya makin sukacita, itu berkat Tuhan. Dua-duanya salah konsep. Tuhan tidak pernah men-spoiled kebahagiaan kita. Tetapi hidup ini adalah suatu journey. Gembala itu akan membawa kita kemana yang Dia tahu baik adanya.

Melihat hidup itu sebagai satu perjalanan merupakan satu perspektif yang indah dan penting sekali. Dari situ kita membuka possibility, pada waktu ada kesulitan dan gejolak sedikit, kita mesti melihat itu sebagai satu possibility. Bukan Tuhan tidak mau kita menikmati apa yang sudah kita terima sekarang, tetapi biarlah di situ kita bertanya kepada Tuhan apa yang lebih dari ini yang bisa aku lakukan.

Hari ini dari Ibrani 12 kita akan melihat ada lima kata “jangan” pada waktu sdr dan saya menghadapi pendidikan dari Tuhan. Ayat 5 “…jangan anggap enteng didikan Tuhan.” Jangan masa bodoh terhadap hidup ini, don’t take it lightly waktu Tuhan mendidik kita. Banyak orang tidak tahu apa yang dia inginkan di dalam hidup ini, akhirnya hidup dengan sembarangan saja. Pada waktu Tuhan memberikan kesulitan dan tantangan, Dia ingin ada sesuatu yang indah terjadi pada hidup sdr, karena itu please be attentive, jangan menjadi orang Kristen yang tidak terlalu sensitif dengan apa yang terjadi di dalam hidup kita. Berani mencari apa yang Tuhan inginkan di dalam hidup kita, ini menjadi sikap positif. Maka Ibrani mengatakan jangan anggap enteng dan masa bodoh dengan didikan Tuhan.

Kedua, “…jangan putus asa…” sebaliknya jangan terlalu berat akhirnya tidak melihat keindahan di balik didikan Tuhan. Jangan menjadi orang Kristen yang berpikir hidup ini terlalu berat dan merasa diri sebagai orang yang paling malang di dunia ini. Semua orang lain hidupnya lancar tetapi saya orang Kristen yang paling malang. Lihat hidup Fanny Crosby, seorang yang buta tetapi tidak mengasihani diri sendiri. 

Sepanjang hidupnya bisa membuat 8000 lagu memuji Tuhan. Jangan putus asa, jangan merasa terlalu berat menjalani hidup ini. Ketiga, “…jangan menjauhkan diri…” dari terjemahan Indonesia bisa menunjukkan orang yang melihat hidup ini sudah terlalu putus asa dan kecewa sehingga tidak mau lagi dekat Tuhan. Kita tidak akan pernah melihat pendidikan Tuhan sebagai satu hal yang positif kalau kita akhirnya bersikap demikian. 

Tetapi ada terjemahan lain yang sangat menarik, “Do not miss out God’s grace…” Kenapa memakai kalimat itu? Pengertian positifnya, jangan sampai tanganmu jadi lemah, kurang energi. Pendidikan Tuhan tidak akan menjadi manfaat yang indah di dalam hidup kita kalau kita sendiri tidak memiliki keberanian untuk “menjemput bola” menangkap opportunity yang datang ke dalam hidup kita. Don’t miss out. Seperti Tuhan sedang membagi-bagi anugerahNya, kita mesti cepat menangkapnya. 

Bukan anugerah Tuhan kurang banyak, tetapi kita mungkin yang miss out. Wajar di dalam perjalanan hidup ini tangan kita menjadi letih, kaki kita bisa cape. Wajar kita tergoda untuk berhenti karena kita bukan superman. Tetapi tidak berarti kemudian Tuhan membatalkan “itenary-”nya. Maka muncul ayat ini, energize yourself, don’t miss out God’s grace in your life. Itu sebab kita perlu belajar untuk jangan terlalu lama berhenti di belakang. Jangan terus kemudian di belakang berlambat-lambat, akhirnya kita miss out the opportunity of His grace. 

Di sini kita menemukan satu cooperation yang menarik antara grace yang berlimpah itu dibarengi dengan satu responsibility untuk berlari dan berjuang di depan. Maka dari sini saya mengharapkan sdr belajar dari firman Tuhan itu, bukan Tuhan tidak empati, bukan Tuhan tidak care pada waktu kita menghadapi kesulitan di depan kita. Kita tidak diminta untuk terus stay di situ dan self pity kasihan kepada diri sendiri.

Banyak orang Kristen korban peperangan, yang tidak bisa mengenal ayah ibunya lagi. Kemarin lihat di teve ada puluhan ribu anak-anak Kristen di Kenya yang harus lari dari negerinya, berjalan melewati padang gurun hampir 1000 km jauhnya mencari perlindungan, sementara ayah ibu mereka sudah mati terbunuh. Sebagian mati ditembank tentara, sebagian dimakan singa dan hyena. Ada satu survivor yang akhirnya selamat dan tinggal di Amerika, menjadi pemuda yang tidak terus mengasihani diri. Dia sekarang menjadi mahasiswa kedokteran dan psikologi yang berhasil. 

Kalau kita tidak mau move on dan terus melihat past, kita tidak bisa maju. Ada orang lain hidup lebih susah daripada kita, diperlakukan tidak adil, dia bisa memiliki satu hidup yang lebih baik karena dia tidak melihat ke belakang terus. Don’t miss out God’s grace. Boleh cape, boleh berhenti, boleh lemas di belakang, tetapi kemudian cepat-cepat kalau bisa berebut antri di urutan depan.

Keempat, “…jangan tumbuh akar pahit.” Dan yang terakhir, “…jangan seperti Esau yang menjual hak kesulungannya demi sepiring kacang merah…” Artinya jangan hidup di dalam dunia ini mata kita cuma melihat kesenangan yang sementara ini. Itu Esau. Berbeda dengan Yakub, Yakub rela kehilangan sepiring kacang merah karena mendapatkan janji yang tidak kelihatan.

Hari ini saya menantang hidup sdr. Sdr bisa lihat ada orang di dalam kesulitan bukan saja bisa berhasil tetapi itu juga tidak menjadi akar pahit dalam hidupnya. Bahkan ada orang yang justru melalui kesulitan hidup dia menjadi berkat untuk orang yang lain karena dia tidak hanya melihat apa yang baik dan membahagiakan diri sendiri saja. Ini menjadi tanda kedua dari seorang anak Tuhan yang sejati, yaitu kadang-kadang Tuhan memberi kita sedikit disiplin supaya melalui disiplin itu kita disadarkan dari hal yang melenakan hidup kita.

Disiplin itu membuat kita memiliki satu genius disorders, dengan mata iman kita melihat sesuatu yang baik sedang Tuhan kerjakan di situ. Melihat disiplin yang terjadi di situ justru mendatangkan sukacita dalam hidupku karena ini adalah tanda aku anak Tuhan yang sejati. Biarlah disiplin itu menjadi alat Tuhan to energize you, membuatmu makin murni di hadapanNya.

TANDA-TANDA SEBAGAI ANAK ALLAH (3)

Surat Ibrani :

12:7 Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?

12:8 Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.

12:9 Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?

12:10 Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.

12:11 Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.

Kitab Mazmur :

126:1. Nyanyian ziarah. Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi.

126:2 Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: "TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!"

126:3 TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.

126:4. Pulihkanlah keadaan kami, ya TUHAN, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb!

126:5 Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.

126:6 Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.

Hari ini kita akan melanjutkan apa yang menjadi bukti bahwa kita adalah anak Tuhan yang sejati? Surat Ibrani mengatakan buktinya kita adalah anak yang sejati, ketika kita di dalam perjalanan hidup menghadapi kesulitan dimana Tuhan mendidik kita, karena dimana ayah yang tidak mendisiplin anaknya? Disiplin itu bukan menjadikan kita kecewa, tetapi justru dilihat secara terbalik oleh firman Tuhan bahwa ini bukti bahwa kita adalah anak Tuhan. 

Kita juga melihat anak Tuhan yang sejati dibuktikan karena justru sewaktu Allah “mem-pruning” kita, kita menghasilkan buah. Pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik, kata Tuhan Yesus. Anak Tuhan akan menghasilkan buah-buah yang kelihatan sebagai anak Tuhan.

Ibrani 12:7-11 mengatakan “…memang tiap-tiap ganjaran pada waktu diberikan tidak mendatangkan sukacita tetapi dukacita, tetapi setelah itu dia akan menghasilkan buah bagi mereka yang mau dilatih olehnya…” Kalimat ini menjadi penting karena seringkali ketika satu kesulitan datang ke dalam diri seseorang, kesulitan itu tidak secara otomatis mendatangkan kebaikan kepada orang tsb. Seringkali kesulitan di dalam diri orang bisa dilihat kemudian menjadi kepahitan yang tidak ada habis-habisnya. Merasa tidak adil di dalam hidup ini, merasa diperlakukan dengan keras, akhirnya menjadi marah dan kecewa.

Motivasi orang tua pada waktu mendidik dia ingin membuat dia menjadi baik, mungkin ditangkap oleh anak itu sebagai tindakan dari ayah ibu yang tidak mencintai dan mengasihi dia, sehingga menimbulkan hati yang pahit. Tetapi sebaliknya bisa jadi tantangan dan kesulitan yang datang kepada diri seseorang, semakin keras dan semakin berat yang dialaminya bisa menghasilkan keindahan dan kebaikan di dalam hidupnya. It depends on one condition seperti kalimat Ibrani yang menarik ini “…bagi mereka yang mau dilatih olehnya.” 

Itu berkaitan dengan satu proses kita melihat bagaimana pandangan kita. Kalau salah tafsir akan berbahaya, walaupun mungkin apa yang datang di dalam hidup kita itu adalah didikan yang baik. Ibrani mengatakan ayah kita yang di dunia mendidik kita untuk kebaikan kita, apalagi Bapa kita yang di surga. Tetapi kalimat selanjutnya mengatakan ayah kita di dunia mendidik kita menurut apa yang baik baginya.

Artinya, didikan dia terbatas. Ada kalanya mungkin motivasinya baik, tetapi caranya salah. Tetapi orang tua kita yang mungkin keliru tetap kita hormati, apalagi Tuhan kita yang tidak pernah keliru. Namun dengan kalimat seperti itu, berarti bisa jadi yang dimaksudkan baik mungkin bisa kita tangkap salah dan keliru. Itu sebab Ibrani mengatakan buah itu akan dihasilkan oleh orang yang mau dilatih olehnya. Maka ini berkaitan dengan perspektif hidup kita, dan mungkin interpretasi kita bisa salah. Orang tua tidak bermaksud untuk menyesatkan kita, namun kita bisa salah menangkapnya.

Kita adalah anak Tuhan, dan Tuhan mengatakan kita akan menghasilkan buah itu berkaitan dengan bagaimana kita belajar bersikap ketika menghadapinya. Yang pertama, pada waktu kita memperoleh didikan Tuhan, sikap pertama yang harus keluar dari hidup kita adalah belajar bersikap pasrah dan rela karena kita percaya apa yang Ia kerjakan itu pasti baik adanya.

Walaupun dengan air mata dan ketidak-mengertian ketika pergumulan itu terjadi di tengah-tengah kehidupan raja Daud, dimana Tuhan harus menghukum dia atas dosa dan kesalahan yang dia perbuat dengan Batsyeba. Akibat hubungan yang salah itu seorang anak sudah lahir dan Tuhan menghukum anak itu akan mati. Daud terus berdoa dan bergumul, minta Tuhan kalau bisa merubah keputusanNya. Namun ketika anak itu akhirnya meninggal, Daud mengatakan kalimat yang menarik, “Dia adalah Allah, biarlah Dia melakukan apa yang Dia pandang baik.”

Kadang-kadang kita tidak mengerti karena keterbatasan kita melihatnya, maka sikap yang pertama ini yaitu kita berserah karena kita percaya Dia pasti mengerjakan hal yang baik bagi kita walaupun kita tidak mengerti. Ini yang dikatakan oleh Ibrani, ayah kita di dunia mendidik kita dengan maksud yang baik tetapi mempunyai dua keterbatasan (ayat 10), pertama terbatas oleh waktu. Orang tua kita mungkin mendidik dengan keras dan memberi rotan di dalam hidup kita, tetapi waktunya pendek. Orang tua tidak mungkin bisa menjaga anak kita terus sampai jenggotan. Ada waktunya orang tua tidak bisa apa- apa lagi, bukan? 

Jadi orang tua kita mendidik dengan waktu yang terbatas dan pendek. Ada limitasi waktunya. Yang kedua, orang tua mendidik berdasarkan apa yang mereka anggap baik. Artinya, bisa saja mereka salah. Sehingga kadang-kadang anak salah menangkapnya. Karena kita manusia, kita bisa curiga dua keterbatasan ini juga ada pada Allah. Apa yang Allah berikan itu baik, tetapi kita anggap tidak baik.

Contoh paling sederhana, kalau kita mendengar dua anak kita sedang bermain di kamar, lalu si adik yang kecil menangis keras. Kita langsung berasumsi pasti kakaknya membuat dia menangis. Maka kita memarahi kakaknya untuk sayang kepada adiknya. Kita jewer kupingnya dengan tujuan untuk mengajar dia untuk mengisihi adiknya, tetapi dianggap kita lebih sayang kepada adiknya dan bersikap tidak adil terhadap dia. Akhirnya jeweran itu membuat dia tidak sayang kepada kita dan marah kepada kita. Ini yang Alkitab katakan, orang tua kita di rumah mendidik kita dengan keterbatasan dengan cara yang dia anggap baik, padahal belum tentu baik atau belum tentu bisa direspons dengan baik.

Tetapi tetap kita harus respek dan hormat kepada mereka, karena kita tahu mereka tidak mungkin mencelakakan kita. Tidak ada ayah atau ibu yang ingin mencelakakan anaknya, walaupun dengan cara yang mungkin salah dan keliru, tidak ada yang punya motivasi yang salah. Kita harus menghargai itu.

Tetapi Tuhan sebagai Bapa yang mengasihi kita, mungkinkah Dia bisa bersalah dalam mendidik kita? Tidak mungkin. Karena itulah saya mengatakan sikap kita yang pertama adalah berserah dan rela, walaupun kadang-kadang kita tidak mengerti. Kita percaya yang Tuhan lakukan di dalam hidup saya, saya tahu pasti itu adalah hal yang terbaik.

Yang kedua, Alkitab mengatakan Tuhan bukan saja mendidik kita tetapi Tuhan kadang- kadang memberikan kesulitan dengan tujuan bersifat preventive. Dalam hal apa Tuhan memberi preventive ini? Dalam Hosea 2:5 kita melihat disiplin Tuhan memiliki sifat preventive demi untuk kebaikan kita semata-mata. “…sebab itu Aku akan menyekat jalannya dengan duri dan memberi pagar tembok untuk mengurung dia sehingga dia tidak dapat menemui jalannya.” Tuhan melakukan tindakan preventive menaruh duri di depan jalan untuk mencegah kita melewati jalan itu. Kenapa harus berupa duri? Dalam konteks Hosea, ini berkaitan dengan supaya bangsa Israel jangan berjalan di dalam jalan penyembahan berhala.

Tuhan memberi kesulitan, memberi onak duri di depan kita supaya jalan itu bukan jalan yang kita ambil, yaitu melakukan penyembahan berhala. Atau pakai bahasa kita sekarang, kadang-kadang Tuhan bisa mengambil sesuatu yang kita anggap sukses, sesuatu yang kita anggap baik, sesuatu yang kita sayangi bukan karena Tuhan adalah “the Killer of joy” yang ingin merebut semua yang kita suka dan senangi, tetapi pada waktu itu terjadi kita harus cepat-cepat mengambil sikap ini, itu mungkin cara Tuhan untuk mencegah kita supaya kita tidak menjadikan itu semua sebagai berhala di dalam hidup ini. 

Secara logis kitapun mengerti, tidak semua hal akan diberikan oleh ayah dan ibu kita, apalagi kalau mereka tahu itu hal yang membahayakan anaknya. Tuhan akan menaruh duri di depannya supaya anak Tuhan tidak berjalan ke sana, karena jalan lancar, jalan enak, jalan kesuksesan yang ditawarkan oleh penyembahan berhala. Tuhan melakukan pendidikan yang bersifat preventive mempunyai tujuan yang penting supaya kita tidak terjatuh lebih dalam ke dalam jerat yang membahayakan jiwa kita.

Mungkin sekarang kita tidak punya berhala berupa patung atau hal-hal yang kelihatan. Tetapi berhala itu bisa berbagai macam cara, berhala itu bisa datang karena kita terlalu percaya kepada diri kita sendiri, berhala itu bisa datang pada waktu kita terlalu percaya kepada kekayaan kita, berhala itu bisa datang pada waktu kita terlalu percaya kepada kekuatan diri kita sendiri, berhala itu bisa datang pada waktu kita percaya apapun yang kita kerjakan selalu berhasil, apapun yang kita sentuh akan menjadi emas, dsb. 

Sehingga kita tidak bisa bergantung kepada tangan Tuhan yang baik, yang menjaga dan memelihara kita. Dia Allah yang baik, Dia menaruh duri di depan kita bukan untuk membuat kita gagal tetapi supaya kita sadar. Dia mencegah kita.

Yang ketiga, dalam Ibrani12:10-11 muncul beberapa hal yang positif pada waktu Tuhan memberikan pendidikan kepada kita. Melihat perspektif segala tantangan, kesulitan dan pendidikan yang datang menjadi hajaran dengan tujuan mendatangkan kesucian di dalam hidup kita. 

Melihat segala proses kesulitan itu seperti seorang tukang emas yang membakar emasnya supaya makin lama makin murni sehingga lebih berarti dan lebih mahal. Saya percaya orang Kristen harus melihat dengna perspektif itu. Setiap kali saya melihat seorang anak muda yang menjalani satu perjalanan hidup yang susah, saya melihat itu kesempatan bagi dia untuk menjadi orang sukses nantinya. Pemurnian, itu merupakan maksud pendidikan dari Tuhan. 

Kalau itu menjadi maksud Dia, saya percaya hidup kita speerti emas yang baru diambil dari tanah, masih banyak hal yang kotor di dalamnya, maka kita rela dibentuk oleh Tuhan karena itu merupakan pemurnian Tuhan yang baik bagi kita. Semakin kita mengalami tantangan dan kesulitan itu, mari kita melihat dengan perspektif ini, kita mau dilatih karena ini akan mendatangkan satu proses hidup yang membuat kita lebih suci, lebih murni, lebih hidup berkenan kepada Tuhan.

Mari kita memiliki hati dan sikap seperti itu. Di dalam relasi kita sebagai orang Kristen kita mungkin perlu belajar juga memiliki sikap seperti itu. Ketika kita ditegur oleh orang Kristen yang lain, mari kita melihatnya bukan sebagai sikap ingin merugikan hidup kita tetapi melihat dengan perspektif yang lain, yaitu supaya hidup kita bisa lebih baik dan lebih indah.

Keempat, Yesus mengatakan supaya ranting pohon anggur akan menghasilkan buah lebih banyak maka Dia akan memangkas dahan-dahan yang tidak berbuah. Tuhan akan mem- pruning hidup kita supaya menghasilkan buah yang lebih banyak dan lebih berkualitas. Dietrich Bohhoeffer seorang hamba Tuhan yang brilliant dan masih muda, menyatakan protes secara publik terhadap tindakan Hitler yang tidak manusiawi melakukan pembunuhan terhadap orang Yahudi. 

Akhirnya dia ditangkap dan dikurung di dalam perjara dengan penjagaan yang ketat sehingga sayang sekali sampai sekarang kita tidak mendapat terlalu banyak memiliki tulisan-tulisan darinya. Beberapa tulisannya di penjara diselundupkan diam-diam keluar sehingga ada dua bukunya yang terkenal hingga saat ini yaitu “The Cost of Discipleship” dan “The Letters form Prison.” Seminggu sebelum Hitler bunuh diri, dia membunuh Bonhoeffer. 

Ada kalimat yang sangat indah darinya, “Cheap grace is grace without cross.” Anugerah yang murah adalah anugerah yang ingin kita terima tanpa penderitaan. Masih ingat kalimat Brother Yung, jangan doakan supaya Tuhan mengangkat penganiayaan yang kami alami sebagai orang Kristen di Cina tetapi berdoalah supaya Tuhan memberikan bahu yang kuat untuk menanggungnya.

Buah yang baik pasti keluar dari ranting yang di-pruning. Itu tujuan pruning, supaya menghasilkan satu kualitas. Kita belajar bersabar di dalam proses pendidikan Tuhan. Dunia yang sudah serba mudah, serba lancar dan serba cepat, kita akhirnya kehilangan asset berharga ini yaitu kesabaran. Mau memiliki satu hidup yang berkualitas, kita memerlukan waktu dan proses dan cost yang juga besar. 

Maka satu kehidupan Kristen yang bernilai, satu kehidupan Kristen yang excellent, satu kehidupan Kristen yang agung didapatkan dengan melalui proses dengan harga yang mahal. Kita harus berani dan belajar membayar harga. Pada waktu kita minta kepada Tuhan untuk menjadi hambaNya yang excellent, sekaligus kita rela diproses dengan keras olehNya.

Dunia kita memiliki hukum normal seperti itu, untuk memperoleh barang yang asli perlu membayar mahal, untuk menciptakan good quality product, kita perlu proses dan biaya yang lebih besar. Saya percaya hal yang sama juga pada waktu Tuhan ingin menghasilkan a good quality fruit di dalam hidup kita, itu membutuhkan proses yang berat dan keras. Tujuannya bukan untuk merugikan engkau dan saya tetapi mendatangkan satu hidup yang berkualitas.


Yang terakhir, segala pendidikan Tuhan bertujuan untuk melatih kita. Saya ingin mengajak sdr melihat dua ayat, Mazmur.126: ketika Tuhan memulihkan keadaan bangsa Isarel, itu seperti mimpi. Itu sebab ketika Tuhan melakukan perkara yagn besar, maka mereka bersukacita. Tetapi ayat 5-6 merupakan ayat yang indah “Orang yang menabur dengan mencucurkan air mata akan menuai dengan sorak-sorai. 

Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil tetap menabur benih, akan pulang dengan sorak-sorai membawa berkas-berkasnya. Yakobus.5:11 adalah firman Tuhan yang merefleksi hidup Ayub, seorang yang memiliki hidup penuh kesulitan yang saya percaya amat berat. “…apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan karena Tuhan maha penyayang dan penuh dengan belas kasihan.” Kenapa Tuhan memberikan proses latihan itu? Supaya kita belajar bertekun di dalamnya. 

Bertekun berarti tidak hanya melihat di awal tetapi berani menunggu sampai akhir. Ketekunan Ayub memberikan hasil akhir yang indah, karena Allah Tuhan kita maha penyayang. Waktu kita menangis dan mengalami perjalanan hidup yang susah, Tuhan bilang tetaplah jalan sambil menabur benih. Someday akan ada hasilnya. Itu satu perspektif yang penting pada waktu kita belajar menghadapinya, kita dilatih untuk belajar memiliki ketekunan. 

Sabar sedikit, jalani dengan setia, maka kita akan melihat proses sampai akhir ada hasil dan nilai yang berharga. Begitu kita lihat ke belakang kita akan bersyukur. Hidup kita memang masih belum bisa kita konklusi karena masih berada di dalam proses, tetapi percayalah akan ayat firman Tuhan ini, ketekunan Ayub sampai akhir menghasilkan kebaikan. Dan yang terpenting mungkin kita belum melihat hasilnya bagaimana tetapi kita tahu Tuhan kita penyayang dan penuh dengan belas kasihan.

PENUTUP: 

Maka inilah yang menjadi respons kita. 

Pertama, kita berserah kepadaNya. 

Kedua, kita melihat ini cara Tuhan mencegah kita terjerumus. 

Ketiga, kita tahu cara Tuhan membersihkan hal-hal yang tidak baik yang menghalangi kita berbuah. 

Dan keempat kita tahu ini merupakan cara Tuhan untuk melatih kita untuk bertekun dan bersabar.

Amin.
Next Post Previous Post