Teologia Reformed: Doktrin, Khotbah dan Artikel

Post Labels

Pdt.Budi Asali, M.Div.
KISAH PARA RASUL 20:17-38 (TUGAS PARA PENATUA)
Pada minggu yang lalu, kita sudah melihat kehidupan Paulus yang begitu saleh, dan pelayanannya yang begitu hebat di Efesus. Tetapi semua itu merupakan masa lalu, dan sekarang Paulus harus pindah ke tempat lain.

I) Paulus menyerahkan gereja Efesus.

1) Paulus menyerahkan gereja Efesus kepada Tuhan (Kisah Para Rasul 20: 32).

Kalau kita melayani orang-orang lain, kitapun bisa mengalami saat dimana kita harus menyerahkan orang-orang itu kepada Tuhan.

Misalnya:

· kalau kita memberitakan Injil kepada seseorang, apalagi kalau itu terjadi diluar kota, sehingga kita tidak akan bisa bertemu lagi dengan dia.

· bagi guru sekolah minggu, kalau anak-anaknya naik ke kelas yang lebih besar.

· pendeta yang harus pindah ke tempat lain.

Dalam keadaan seperti itu, kita harus bisa menyerahkan orang yang tadinya kita layani itu kepada Tuhan. Kita harus ingat bahwa Tuhan, dan bukan kita, yang adalah Gembala yang sebenarnya dari orang itu, dan kita harus percaya bahwa Tuhan bisa menggembalakan orang itu tanpa menggunakan diri kita!

2) Paulus juga menyerahkan gereja Efesus kepada para penatua Efesus (ay 17,28).

Dalam Kisah Para Rasul 20: 28, Paulus berkata kepada para penatua Efesus itu: ‘Kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggem­balakan jemaat Allah’. Ini menunjukkan bahwa:

a) Orang yang mau diangkat untuk melayani dalam suatu pelayanan tertentu dalam gereja, harus menggumulkan lebih dulu apakah pelayanan itu merupakan kehendak Tuhan / Roh Kudus bagi dia atau tidak.

Jangan melayani hanya karena ada orang-orang yang mendesak saudara untuk melakukan pelayanan itu!

Ini tentu tidak berarti bahwa kalau kita diminta untuk angkat-angkat kursi dalam gereja, kita harus menggumulkannya lebih dulu! Kalau pelayanan yang seperti itu, tentu bisa langsung kita lakukan. Tetapi kalau pelayanan itu berupa suatu jabatan terten­tu dalam gereja, seperti majelis, pengurus, guru sekolah minggu dsb, kita harus menggumulkannya dengan Tuhan!

b) Orang yang mengangkat juga harus menggumulkan apakah ia mengang­kat orang yang dikehendaki oleh Tuhan atau tidak.

Mengangkat secara sembarangan adalah sesuatu yang sangat berba­haya, karena kalau kita ternyata mengangkat seorang ‘serigala yang berbulu domba’ (bdk. Mat 7:15), maka itu akan menjadi sumber bencana yang bisa menghancurkan gereja! Karena itu jangan mengangkat sembarang orang, apalagi untuk menduduki posisi penting dalam gereja, seperti majelis, guru sekolah minggu, apalagi pendeta.

c) Dalam menggembalakan domba-dombaNya, Tuhan biasanya menggunakan manusia sebagai alatNya!

Ini menyebabkan saudara harus mau digembalakan (diarahkan, dipimpin, dinasehati, bahkan ditegur!) oleh manusia yang memang dipilih oleh Allah menjadi gembala! Janganlah menjadi domba yang som­bong, yang hanya mau digembalakan oleh Tuhan sendiri!

Tetapi pada saat yang sama, saudara juga harus yakin bahwa saudara bukan sedang digembalakan oleh seorang nabi palsu!

3) Sekalipun Paulus sudah menyerahkan gereja Efesus kepada Tuhan dan kepada para penatua Efesus, itu tidak berarti bahwa ia lepas tangan secara total terhadap gereja Efesus. Kasih dan beban pelayanannya yang besar, menyebabkan ia tetap berusaha melakukan hal-hal yang bisa ia lakukan untuk mereka:

a) Ia berdoa untuk mereka.

Ini bukan hanya ia lakukan pada saat akan berpisah dengan mereka (ay 36), tetapi juga setelah itu. Dan ia bukan hanya kadang-kadang saja mendoakan mereka, tetapi terus menerus mendoakan mereka (bdk. Ef 1:16-dst Ef 3:16-dst).

b) Ia memberikan Firman Tuhan (nasehat, teguran, dsb) kepada mereka, yaitu surat Efesus.

Penerapan:

Setelah saudara menyerahkan orang yang saudara layani kepada Tuhan / orang lain, apa yang saudara lakukan untuk orang itu? Berdoa bagi mereka? Menulis surat kepada mereka? Mengunjungi mereka? Atau saudara sama sekali tidak peduli kepada mereka lagi?

II) Tugas para penatua Efesus: berjaga-jaga.

A) Alasan untuk berjaga-jaga:

1) Jemaat / gereja diperoleh oleh Allah dengan darah (Kisah Para Rasul 20: 28).

a) Kata-kata ‘darah AnakNya’ dalam ay 28 ini salah terjemahan.

RSV: ‘he obtained with the blood of his own Son’ (= dipero­lehNya dengan darah AnakNya sendiri). Ini juga salah!

Tetapi RSV memberikan footnote / catatan kaki sebagai berikut: ‘with the blood of his Own’ / ‘with his own blood’ (= dengan darahNya sendiri).

NASB/NIV/KJV: ‘he purchased / bought / hath purchased with his own blood’ (= Ia telah membeli dengan darahNya sendiri).

Tetapi kalau kata ‘Anak’ dibuang, maka kata ‘darahNya’ berarti ‘darah Allah’. Istilah aneh ini bisa dijelaskan sebagai berikut:

Dalam Kitab Suci ada ayat-ayat yang menyebut Kristus dengan sebutan / gelar ilahi, tetapi menggunakan predikat yang hanya cocok untuk hakekat manusia.

Contoh:

· 1Kor 2:8.

Ayat ini menggunakan sebutan / gelar ilahi (‘Tuhan yang mulia’ / ‘The Lord of glory’), tetapi menggunakan predi­kat ‘menyalibkan’ yang sebetulnya hanya cocok untuk hakekat manusia Yesus.

· 1Yoh 1:1.

Ayat ini menggunakan sebutan / gelar ilahi (‘Firman’ / LOGOS), tetapi menggunakan predikat ‘telah kami lihat dengan mata kami’ dan ‘telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami’, yang sebetulnya hanya cocok untuk hakekat manusia Yesus.

· Kis 20:28 ini yang dalam terjemahan NIV berbunyi: “... the church of God, which he bought with his own blood” (= ... jemaat / gereja Allah, yang Ia beli dengan darahNya sendiri).

Ayat ini menggunakan sebutan / gelar ilahi (‘Allah’), tetapi predikatnya berbicara tentang ‘darah’, yang sebetulnya hanya cocok untuk hakekat manusia Yesus.

Tetapi sebaliknya dalam Kitab Suci juga ada ayat-ayat yang menyebut Kristus dengan sebutan / gelar manusia, tetapi menggunakan predikat yang hanya cocok untuk hakekat ilahi.

Contoh:

¨ Mat 9:6.

Ayat ini menggunakan sebutan / gelar manusia (‘Anak Manusia’), tetapi menggunakan predikat ‘berkuasa mengam­puni dosa’ yang hanya cocok untuk hakekat ilahi.

¨ Mat 12:8.

Ayat ini menggunakan sebutan / gelar manusia (‘Anak Manusia’), tetapi menggunakan predikat ‘Tuhan atas hari Sabat’ yang hanya cocok untuk hakekat ilahi.

¨ Hal yang sama bisa saudara lihat dalam ayat-ayat seper­ti: Mat 13:41 Luk 19:10 Yoh 3:13-15 Yoh 6:62 1Kor 15:47b.

Mengapa Kitab Suci melakukan hal ini? Calvin menjawab sebagai berikut:

Þ “And they (Scriptures) so earnestly express this union of the two natures that is in Christ as sometimes to inter­change them” [= dan mereka (Kitab-kitab Suci) begitu sungguh-sungguh mewujudkan kesatuan dari dua hakekat yang ada di dalam Kristus sehingga kadang-kadang menukar / membolak-balik mereka] - ‘Institutes of the Christian Religion’, book II, chapter XIV, 1.

Þ “Because the selfsame one was both God and man, for the sake of the union of both natures he gave to the one what belonged to the other” (= karena orang yang sama adalah Allah dan manusia, demi kesatuan dari kedua hakekat, ia memberikan kepada yang satu apa yang termasuk pada yang lain) - ‘Institutes of the Christian Religion’, book II, chapter XIV, 2.

b) Untuk kata-kata ‘jemaat Allah’ dalam ay 28 ini terdapat sebuah problem text, karena manuscript-manuscript bahasa Yunaninya terbagi menjadi 3 golongan:

· the church of God (= gereja / jemaat Allah).

· the church of the Lord (= gereja / jemaat Tuhan).

· the church of the Lord & God (= gereja / jemaat Tuhan & Allah).

Kata-kata dari manuscript golongan ke 3 itu biasanya tidak diperhitungkan, karena tidak didukung oleh manuscript yang kuno.

Sekalipun ada orang yang setuju dengan manuscript golongan ke 2, tetapi mayoritas penafsir setuju dengan manuscript golongan 1. Alasannya:

¨ Ini didukung oleh manuscript yang paling kuno (Catatan: ada yang tidak setuju dengan anggapan ini).

Ingat bahwa text Kitab Suci yang asli, yang disebut auto­graph, sudah tidak ada. Yang ada hanyalah copy-copynya, yang disebut manuscript. Makin kuno suatu manu­script, tentu makin mendekati aslinya, sehingga lebih bisa dipercaya.

¨ Ini merupakan bacaan yang lebih sukar.

Kalau saudara memilih ‘the church of the Lord’ (= gereja / jemaat Tuhan), maka ayat itu berbunyi: ‘... untuk menggem­balakan gereja / jemaat Tuhan yang diperolehNya dengan darahNya sendiri’. Ini bukan bacaan yang sukar / tak masuk akal, karena ‘darahNya’ berarti ‘darah Tuhan (Tuhan Yesus)’.

Tetapi kalau saudara memilih ‘the church of God’ (= gereja / jemaat Allah), maka ayatnya berbunyi: ‘... untuk menggembalakan gereja / jemaat Allah, yang diperolehNya dengan darahNya sendiri’. Ini jelas bacaan yang sukar, dan lebih tidak masuk akal, karena ‘darahNya’ berarti ‘darah Allah’.

Kalau ada 2 atau lebih manuscript yang berbeda, maka biasa­nya bacaan yang paling sukar / paling tidak masuk akal yang dianggap benar. Mengapa? Karena kalau aslinya masuk akal, tidak mungkin pengcopy akan mengubahnya menjadi sesuatu yang tidak masuk akal. Sebaliknya, kalau aslinya tidak masuk akal, maka pengcopy mungkin sekali akan menganggap bahwa itu adalah suatu kesalahan, dan akan mengubahnya menjadi yang lebih masuk akal.

¨ Dalam tulisan Paulus, istilah ‘the church of God’ (= gereja / jemaat Allah) muncul 7 x (1Kor 1:2 10:32 11:22 15:9 2Kor 1:1 Gal 1:13 1Tim 3:5), dan bentuk jamaknya yaitu ‘the churches of God’ (= gereja-gereja / jemaat-jemaat Allah) muncul 3 x (1Kor 11:16 1Tes 2:14 2Tes 1:4), dan istilah ‘the church of the living God’ (= gereja / jemaat Allah yang hidup) muncul 1 x (1Tim 3:15). Sebaliknya, istilah ‘the church of the Lord’ (= gereja / jemaat Tuhan) tidak pernah muncul satu kalipun dalam tulisan Paulus, bahkan tidak pernah ada dalam seluruh Perjanjian Baru!

Kalau memang ‘the church of God’ merupakan bacaan yang benar, maka jelas bahwa ay 28 itu menunjukkan pengakuan Paulus bahwa Yesus adalah Allah!

c) Dari ayat ini kita juga bisa melihat bahwa gereja / jemaat adalah milik Allah, bukan milik pendeta!

Kita sering mendengar cerita tentang seorang pendeta yang mempunyai jemaat yang pindah ke gereja lain. Pendeta itu lalu menjadi marah kepada pendeta gereja yang lain itu dan menu­duhnya mencuri dombanya! Ini adalah sesuatu yang menggelikan, karena sebetulnya tidak ada pendeta yang mempunyai domba! Domba bukan milik pendeta, tetapi milik Allah!

d) ‘diperolehNya dengan darahNya sendiri’ (Kisah Para Rasul 20: 28).

RSV: ‘he obtained’ (= dipero­lehNya).

NASB/NIV/KJV: ‘he purchased / bought / hath purchased’ (= Ia telah membeli).

Terjemahan hurufiahnya sebetulnya bukan ‘membeli’ tetapi ‘mendapatkan’. Tetapi dengan membandingkannya dengan ayat-ayat seperti 1Pet 1:18-19 1Kor 6:20 1Kor 7:23, maka jelas bahwa Tuhan bisa mendapatkan / memiliki kita karena Ia membe­li kita dengan darahNya!

Ini alasan pertama mengapa para penatua Efesus harus berjaga-jaga atas gereja / jemaat Efesus. Tuhan memperoleh mereka bukan dengan cara yang mudah, tetapi dengan mencurahkan darahNya pada waktu Ia menderita dan mati di atas kayu salib!

Penerapan:

Setiap saudara merasa malas / segan / bosan mengurusi orang kristen tertentu, maka ingatlah bahwa Tuhan mendapatkan dia dengan mencurahkan darahNya! Akan saudara sia-siakankah pengor­banan Tuhan Yesus itu?

2) Paulus bekerja keras selama 3 tahun (Kisah Para Rasul 20: 31).

a) Dalam Kis 19:8,10 kita melihat bahwa Paulus memberitakan Injil dalam rumah ibadat selama 3 bulan, dan mengajar di ruang kuliah Tiranus selama 3 tahun. Tetapi mengapa dalam ay 31 ini ia berkata 3 tahun? Ini bukan kontradiksi tetapi merupakan suatu pembulatan saja! Kalau saudara ditanya umur saudara, dan saudara sebetulnya berumur 34 tahun 8 bulan dan 12 hari, maka tentu bukan dusta kalau saudara menjawabnya 35 tahun!

b) Tujuan Paulus menceritakan kehidupannya dan kerja kerasnya dalam ay 18-35 adalah supaya:

· mereka meniru / meneladani dia (ay 35a).

· mereka tidak menyia-nyiakan jemaat yang ia dapatkan dengan susah payah (Kisah Para Rasul 20: 31), tetapi mau menjaga mereka dengan sungguh-sungguh!

Illustrasi: dalam bahasa Inggris ada pepatah yang berbunyi: “Easy come, easy go” yang berarti: kalau mendapatkannya mudah, melepaskannya / membuangnya juga mudah.

Dalam persoalan gereja / jemaat Efesus ini, Tuhan mendapatkannya dengan mencurahkan darahNya, Paulus dengan bekerja keras selama 3 tahun. Ini tentu bukan sesuatu yang ‘easy come’ / mudah didapatkan! Karena itu, jemaat itu harus dijaga baik-baik!

3) Ada musuh.

Ada 2 golongan musuh:

a) Kisah Para Rasul 20: 29: ‘serigala’.

Dalam Kitab Suci, serigala bisa berarti:

· musuh yang adalah orang luar / orang dunia (bdk. Matius 10:16).

· musuh yang adalah orang dalam (Matius 7:15).

Yang ini sama dengan musuh pada ay 30.

b) Kisah Para Rasul 20: 30: ‘dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka’.

· bandingkan dengan 1Yohanes 2:18-19 yang mengatakan bahwa anti Kristuspun akan keluar dari kalangan orang kristen sendiri!

· perhatikan apa tujuan para nabi palsu dalam Kisah Para Rasul 20: 30 itu. Mereka mengajar, supaya murid-murid mengikut mereka!

Dari sini kita bisa mendapatkan 2 hal:

* Hamba Tuhan yang mendorong jemaatnya untuk setia pada dirinya / gerejanya (bukan kepada Tuhan), adalah nabi palsu! Hamba Tuhan yang sejati harus mendorong jemaatnya untuk setia kepada Tuhan dan FirmanNya!

* Orang kristen yang setia kepada gereja / hamba Tuhan tertentu, sudah tersesat dari jalan yang benar!

· Kata-kata / peringatan Paulus ini menjadi kenyataan.

Ini bisa terlihat dari Wahyu 2:1-7 (khususnya ay 2,6), yang merupakan surat Tuhan Yesus kepada gereja di Efesus. Dan dari sana juga terlihat bahwa para penatua Efesus mentaati peringatan Paulus untuk berhati-hati terhadap musuh!

Penerapan:

Jangan mengabaikan Firman Tuhan yang saat ini tidak relevan bagi saudara, karena nanti itu bisa menjadi relevan!

B) Cara untuk berjaga-jaga:

1) Jaga diri sendiri (ay 28).

Dalam Kisah Para Rasul 20: 28 ‘menjaga diri sendiri’ didahulukan dari ‘menjaga kawanan’ (bdk. 1Tim 4:16). Ini bukan merupakan sikap yang egois, karena menjaga diri sendiri adalah sesuatu yang penting supaya kita bisa menjaga kawanan. Analogi: gembala yang tidak menjaga kesehatannya, akan sakit-sakitan sehingga juga tidak akan bisa menjaga domba-dombanya.

Pulpit Commentary: “He that is careless about his own salvation will never be careful about the souls of others” (= ia yang ceroboh / tidak berhati-hati terhadap keselamatannya sendiri, tidak akan pernah bisa berhati-hati terhadap jiwa orang lain).

Penerapan:

· Kalau ada retreat / KKR dsb, ada banyak pengurus yang menjadi seperti Marta dalam Lukas 10:38-42. Mereka melayani dan mengu­rusi orang lain sedemikian rupa, sehingga mereka tidak ada waktu untuk mendengar Firman Tuhan! Ini tidak menjaga diri sendiri!

· Apakah saudara menjaga kerohanian diri saudara sendiri? Apakah saudara memperhatikan iman saudara, pertumbuhan pengertian saudara tentang firman Tuhan, hubungan / persekutuan saudara dengan Tuhan, kesu­cian hidup saudara dsb? Kalau tidak, saudara tidak akan bisa berguna untuk orang lain!

· Dalam mengangkat orang untuk menduduki jabatan yang harus menggembalakan orang, seperti pendeta, majelis / tua-tua, guru sekolah minggu, bahkan pengurus komisi, kita harus mencari orang yang menjaga dirinya sendiri!

2) Jaga seluruh kawanan (ay 28).

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

a) Majelis / pengurus harus mengenal jemaat, karena bagaimana bisa menjaga kalau tidak kenal? Karena itu sebetulnya Majelis / pengurus juga harus berusaha mengenal jemaat, dengan cara mendekati mereka sebelum atau sesudah kebaktian / Pemahaman Alkitab, mengunjungi rumah mereka dsb. Tetapi sebaliknya, jemaat juga harus mau didekati oleh majelis / pengurus!

b) Para penatua juga disebut ‘penilik’ dalam ay 28. Dalam bahasa Inggris disebut dengan istilah ‘overseer’ yang berarti pengawas, penjaga. Ini menyebabkan penatua / majelis / pengu­rus harus hadir secara aktif dan rajin dalam semua acara gereja. Bagaimana ia bisa mengawasi, kalau ia sendiri tidak hadir dalam acara gereja? Karena itu, kalau jemaat biasa membolos sudah dianggap sebagai dosa, maka kalau majelis / pengurus membolos, dosanya dobel!

c) Dalam Kisah Para Rasul 20: 28 itu juga dikatakan bahwa para penatua itu harus menjaga ‘seluruh kawanan’, bukan yang disenangi saja, atau yang cantik saja, atau yang kaya saja!

d) Orang yang mau menjaga / menggembalakan kawanan domba, harus mengasihi Tuhan (bdk. Yoh 21:15-17). Ini penting, karena hanya orang yang mengasihi Tuhan, yang akan mengasihi domba-domba Tuhan (1Yohanes 4:20-21). Kalau kasih ini tidak ada maka mereka akan menjadi gembala yang jahat seperti dalam Yeh 34:1-6, atau menjadi orang upahan seperti dalam Yoh 10:12-13.

e) Hal yang terpenting yang harus dilakukan oleh para penatua terhadap domba, adalah menjaga makanan mereka!

Ini mencakup 2 hal:

· Melindungi mereka dari makanan yang salah, yaitu ajaran yang sesat / salah!

Ini bisa dilakukan dengan ‘menjaga mimbar’, supaya nabi-nabi palsu jangan sampai berkhotbah di situ. Ini juga bisa dilakukan dengan membahas ajaran / praktek sesat / salah yang sedang populer, seperti:

* Ajaran Theologia Kemakmuran.

* Anggapan bahwa Kitab Suci bukanlah Firman Tuhan.

* Anggapan bahwa Yesus adalah salah satu jalan ke surga.

* Ajaran yang mengatakan bahwa orang yang menerima Yesus harus muntah-muntah.

* Ajaran yang mengatakan bahwa orang yang menerima Roh Kudus harus berbahasa roh.

* Ajaran yang mengatakan bahwa orang kristen harus sembuh dari penyakit.

* Tenaga dalam, yang dikatakan sebagai sesuatu yang berasal dari manusia, dan merupakan sesuatu yang ilmiah.

· Memberikan mereka makanan yang baik, yaitu Firman Tuhan.

Dalam Kisah Para Rasul 20: 32 dikatakan bahwa Firman Tuhan itu ‘berkuasa membangun kamu’. Sebetulnya kata-kata ini ditujukan kepada Tuhan, bukan kepada Firman Tuhan. Ini ternyata dari kata-kata selanjutnya dalam ay 32 itu, yang berbunyi: ‘dan menganugerahkan kepada kamu bagian yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskanNya’. Ini jelas menunjuk pada Tuhan, bukan kepada Firman Tuhan. Dan karena itu, maka ‘kuasa membangun’ itu juga ditujukan kepada Tuhan, bukan kepada Firman Tuhan.

Tetapi bagaimanapun juga, Tuhan membangun iman kita dengan menggunakan FirmanNya. Dan karena itu para penatua harus berusaha supaya jemaat mendapatkan Firman Tuhan yang baik! Para penatua tidak boleh sembarangan saja mengambil pengkhotbah, tetapi harus memilih pengkhotbah yang sebaik mungkin!

Dua hal di atas ini harus sama-sama dilakukan!

Ada hamba-hamba Tuhan yang hanya melakukan yang pertama saja. Dalam khotbah / ajarannya mereka terus menerus membicarakan ajaran / praktek yang sesat / salah, tetapi tidak mengajarkan Firman Tuhan yang benar. Ini akan menyebabkan jemaatnya tahu apa yang salah, tetapi tidak tahu apa yang benar!

BACA JUGA: KETIKA TUHAN DIAM - HABAKUK 3:17-19

Sebaliknya, ada hamba-hamba Tuhan yang hanya melakukan yang kedua saja. Ia memang mengajarkan Firman Tuhan, tetapi tidak pernah mau membicarakan kesalahan ajaran / praktek dari gereja / hamba Tuhan lain, dengan alasan bahwa itu tidak kasih, melanggar etika, menghakimi, menyebabkan perpecahan / gegeran, dsb! Tetapi ini akan menyebabkan jemaatnya mudah tersesat pada waktu mereka mendengar ajaran-ajaran yang sesat / salah, karena para nabi palsu itu bisa memberikan ayat-ayat Kitab Suci sebagai dasar dari ajaran / praktek mereka, dan jemaatnya tidak tahu dimana letak kesalahan penafsirannya!

Kesimpulan.

Dalam waktu 3 tahun, dalam gereja Efesus sudah ada orang-orang yang bisa memikul tanggung jawab atas gereja itu. Mereka jelas sudah dewasa dalam iman, sehingga mereka bukan hanya minta dilayani, tetapi mereka bahkan bisa melayani!

Bagaimana dengan saudara? Apakah saudara terus menjadi bayi kristen yang harus terus dilayani, sekalipun saudara sudah bertahun-tahun ikut Tuhan? Maukah saudara berusaha untuk bertumbuh dalam iman, sehingga bisa menjadi seperti mereka?
KISAH PARA RASUL 20:17-38 (TUGAS PARA PENATUA)
-AMIN-

Pdt.Budi Asali, M.Div.
I TIMOTIUS 1:1-2 (ARTI DARI KATA RASUL)
1 Timotius 1: 1-2: “(1) Dari Paulus, rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah, Juruselamat kita, dan Kristus Yesus, dasar pengharapan kita, (2) kepada Timotius, anakku yang sah di dalam iman: kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau”.

1) “Dari Paulus, rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah, Juruselamat kita, dan Kristus Yesus, dasar pengharapan kita,”.

a) ‘Dari Paulus, rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah’.

1. Arti dari kata ‘rasul’.

a. Arti umum / mula-mula dari kata rasul.

Barclay: “Apostle is the Greek word APOSTOLOS, from the verb APOSTELLEIN which means ‘to send out;’ an APOSTOLOS was one who was sent out. As far back as Herodotus it means ‘an envoy,’ ‘an ambassador,’ one who is sent out to represent his country and his king. Paul always regarded himself as the envoy and ambassador of Christ. And, in truth, that is the office of every Christian. It is the first duty of every ambassador to form a liaison between his country to which he is sent and the country from which he has come. He is the connecting link. And the first duty of every Christian is to be a connecting link between his fellow-men and Jesus Christ” (= Rasul adalah kata Yunani APOSTOLOS, dari kata kerja APOSTELLEIN yang berarti ‘mengirim keluar’; seorang APOSTOLOS adalah seseorang yang dikirim keluar. Sudah sejak jaman Herodotus kata itu berarti ‘seorang utusan’, ‘seorang duta’, seseorang yang dikirim keluar untuk mewakili negaranya dan rajanya. Paul selalu menganggap dirinya sendiri sebagai utusan dan duta dari Kristus. Dan, sebenarnya, itu merupakan tugas dari setiap orang Kristen. Merupakan kewajiban pertama dari setiap duta untuk membentuk hubungan antara negara kemana ia dikirim dan negara dari mana ia telah datang. Ia merupakan mata rantai yang menghubungkan. Dan kewajiban pertama dari setiap orang Kristen adalah menjadi mata rantai penghubung antara sesama manusianya dengan Yesus Kristus) - hal 17.

Penerapan:

Saya diminta khotbah di depan kelompok Islam lagi.

b. Arti luas dari kata ‘rasul’.

Ini menunjuk kepada siapapun yang diutus untuk memberitakan Injil. Dalam arti ini kata ‘rasul’ digunakan untuk banyak orang, seperti Barnabas, Silwanus / Silas dan Timotius [Kis 14:13 1Tes 2:6 (bdk. 1Tesalonika 1:1)].

c. Arti sempit / ketat dari kata ‘rasul’.

Homer A. Kent, Jr.: “In the strictest technical sense which this formal salutation implies, the title refers to those men who were specially chosen by Christ Himself. Thus it applies to the twelve (with the place of Judas taken by Matthias), plus Paul. Those men were called to their mission by Jesus personally. No others were called in exactly the same way” [= Dalam arti tekhnis yang paling ketat, yang ditunjukkan secara implicit oleh salam formil ini, gelar itu menunjuk kepada orang-orang yang secara khusus dipilih oleh Kristus sendiri. Jadi, itu berlaku untuk 12 rasul (dengan tempat dari Yudas diambil oleh Matias), ditambah Paulus. Orang-orang itu dipanggil ke dalam missi mereka oleh Yesus secara pribadi. Tak ada orang-orang lain yang dipanggil dengan cara yang persis sama] - hal 71.

2. Mengapa Paulus perlu menyebutkan di sini bahwa ia adalah rasul?

Calvin mengatakan bahwa kalau Timotius adalah satu-satunya orang yang dituju oleh Paulus dalam surat ini, maka kata-kata ini tidak perlu, karena Timotius pasti percaya kerasulan dari Paulus. Jadi jelas ada orang-orang lain, yang tidak terlalu mempercayai kerasulan dari Paulus, yang dituju oleh Paulus dengan surat ini.

Tetapi ada pandangan yang mengatakan bahwa penyebutan rasul itu juga berguna untuk Timotius sendiri.

William Hendriksen: “Perhaps in order to make it easier for Timothy to carry out the instructions which Paul is about to give him, and also in order to add weight to the words of encouragement contained in this letter, the writer adds to his name the words ‘an apostle of Christ Jesus’. Timothy needs to know that this letter is not just a substitute for a friendly, confidential chat, a tête-à-tête; even though its tone is naturally very cordial, for a friend is indeed writing to a friend. The letter, however, rises above the purely human level. The writer is a friend, to be sure, but also an apostle of Christ Jesus” (= Mungkin supaya mempermudah Timotius untuk melaksanakan instruksi-instruksi yang akan diberikan oleh Paulus kepadanya, dan juga supaya menambah berat pada kata-kata penguatan yang ada dalam surat ini, sang penulis menambahkan pada namanya kata-kata ‘rasul Kristus Yesus’. Timotius perlu tahu bahwa surat ini bukanlah sekedar suatu pengganti untuk obrolan yang bersifat rahasia, suatu pembicaraan di antara 2 orang saja; sekalipun nada surat itu tentu saja sangat ramah, karena seorang sahabat memang sedang menulis kepada seorang sahabat. Tetapi surat itu naik di atas level manusia semata-mata. Sang penulis memang adalah seorang sahabat, tetapi juga seorang rasul dari Kristus Yesus) - hal 49.

John Wesley: “Familiarity is to be set aside where the things of God are concerned” (= Keakraban harus dikesampingkan pada saat menyangkut hal-hal dari Allah).

Penerapan:

Hati-hati kalau mendengar khotbah Firman Tuhan dari seseorang yang dekat dengan saudara. Dia mungkin adalah keluarga atau teman dekat, tetapi pada saat ia memberitakan Firman Tuhan, saudara harus menyadari bahwa kata-katanya bukan sekedar kata-kata seorang teman / keluarga, tetapi Firman Tuhan.

3. Paulus adalah rasul menurut perintah Allah.

Paulus menambahkan ‘menurut perintah Allah’ untuk meneguhkan kerasulannya, karena tak ada orang yang bisa menjadikan dirinya sendiri rasul, tetapi hanya dia yang ditetapkan oleh Allah saja.

Bdk. 1Korintus 1:1 - “Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Sostenes, saudara kita”.

b) ‘Allah, Juruselamat kita’.

1. Latar belakang dari kata ‘Juruselamat’.

Barclay mengatakan bahwa kata ‘Juruselamat’ ini mempunyai latar belakang:

a. Perjanjian Lama.

Bandingkan dengan:

· Ul 32:15 - “Lalu menjadi gemuklah Yesyurun, dan menendang ke belakang, - bertambah gemuk engkau, gendut dan tambun - dan ia meninggalkan Allah yang telah menjadikan dia, ia memandang rendah gunung batu keselamatannya”.

· Mazmur 24:5 - “Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia”.

· Lukas 1:46-47 - “(46) Lalu kata Maria: ‘Jiwaku memuliakan Tuhan, (47) dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,”.

Sekalipun ayat ini ada dalam Perjanjian Baru, tetapi sebetulnya masih termasuk jaman Perjanjian Lama, karena Yesus belum mati dan bangkit. Juga kontextnya jelas menunjukkan bahwa yang Maria maksudkan dengan ‘Juruselamat’ adalah Bapa, bukan Yesus.

b. Kafir.

Barclay: “There is a pagan background. It so happened that just at this time the title SOTER, ‘Saviour,’ was much in use. Men had always used it. In the old days the Romans had called Scipio, their great general, ‘our hope and our salvation.’ But at this very time it was the title which the Greeks gave to Aesculapius, the god of healing. And it was one of the titles which Nero, the Roman Emperor, had taken to himself. So in this opening sentence Paul is taking the title which was much on the lips of a seeking and a wistful world and giving it to the only person to whom it belonged by right” [= Di sini ada latar belakang kafir. Pada saat itu gelar SOTER, ‘Juruselamat’ banyak digunakan. Orang-orang selalu menggunakannya. Pada jaman kuno orang-orang Romawi telah menyebut Scipio, jendral mereka yang agung, ‘pengharapan kita dan keselamatan kita’. Tetapi pada saat ini itu adalah gelar yang diberikan oleh orang-orang Yunani kepada Aesculapius, sang dewa penyembuh. Dan itu merupakan salah satu gelar yang diambil oleh Nero, kaisar Romawi, bagi dirinya sendiri. Jadi, dalam kalimat pembukaan ini Paulus mengambil gelar yang banyak terdapat pada bibir dari dunia yang mencari dan sedih (?) dan memberikannya kepada satu-satunya pribadi yang berhak] - hal 18.

2. Bapa disebut ‘Juruselamat’ dalam Perjanjian Baru.

a. Gelar ‘Juruselamat’ dalam Perjanjian Baru biasanya ditujukan bagi Yesus Kristus, tetapi di sini ditujukan kepada Bapa, karena Ialah yang memberikan Yesus Kristus kepada kita.

Calvin: “how comes it that we are saved? It is because the Father loved us in such a manner that he determined to redeem and save us through the Son” (= bagaimana kita diselamatkan? Itu adalah karena Bapa mengasihi kita dengan cara sedemikian rupa sehingga Ia menentukan untuk menebus dan menyelamatkan kita melalui Anak) - hal 20.

b. Penyebutan Bapa sebagai ‘Juruselamat’ ini merupakan sesuatu yang penting.

Barclay: “We must never forget that Paul called God ‘Saviour.’ It is possible to take a quite wrong idea of the Atonement. Sometimes people speak of it in a way which indicates that something Jesus did pacified the anger of God. The idea they give is that God was bent on our destruction and that somehow his wrath was turned to love by Jesus. Nowhere in the New Testament is there any support for that. ... God is Saviour. We must never think or preach or teach of a God who had to be pacified and persuaded into loving us, for everything begins from his love ” (= Kita tidak pernah boleh melupakan bahwa Paulus menyebut Allah ‘Juruselamat’. Adalah mungkin untuk mengambil suatu pandangan yang betul-betul salah tentang Penebusan. Kadang-kadang orang-orang berbicara tentangnya dengan suatu cara yang menunjukkan bahwa sesuatu yang dilakukan Yesus menenangkan murka Allah. Gagasan yang mereka berikan adalah bahwa Allah cenderung pada penghancuran kita dan bahwa dengan cara tertentu murkaNya dibalikkan menjadi kasih oleh Yesus. Dimanapun dalam Perjanjian Baru tidak ada dukungan untuk pandangan seperti itu. ... Allah adalah Juruselamat. Kita tidak pernah boleh berpikir atau berkhotbah atau mengajar tentang seorang Allah yang harus ditenangkan dan dibujuk sehingga mengasihi kita, karena segala sesuatu mulai dari kasihNya) - hal 18-19.

Ironside: “The death of our Lord Jesus Christ on the cross did not enable God to love men; it was the expression of the love of God toward men” (= Kematian dari Tuhan kita Yesus Kristus pada kayu salib bukanlah yang memampukan Allah untuk mengasihi manusia; itu merupakan pernyataan dari kasih Allah kepada manusia) - hal 11.

Bdk. 1Yohanes 4:10 - “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus AnakNya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita”.

c) ‘dan Kristus Yesus’.

Dari kata-kata ini terlihat bahwa pemilihan menjadi rasul, bukan hanya oleh Bapa, tetapi juga oleh Yesus Kristus.

d) ‘dasar pengharapan kita’.

Lit: ‘the hope of us’ (= pengharapan kita).

Bdk. Ef 2:11-12 - “(11) Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu - sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya ‘sunat’, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, - (12) bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia”.

Kolose 1:27 - “Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!”.

Adam Clarke: “‘Jesus Christ, which is our hope.’ Without Jesus, the world was hopeless; the expectation of being saved can only come to mankind by his Gospel. He is called our hope, as he is called our life, our peace, our righteousness, etc., because from him hope, life, peace, righteousness, and all other blessings proceed” (= ‘Yesus Kristus, yang adalah pengharapan kita’. Tanpa Yesus, dunia tak mempunyai pengharapan; pengharapan untuk diselamatkan hanya bisa datang kepada manusia oleh InjilNya. Ia disebut ‘pengharapan kita’, seperti Ia disebut ‘kehidupan kita’, ‘damai kita’, ‘kebenaran kita’, dsb, karena dari Dia pengharapan, kehidupan, damai, kebenaran, dan berkat-berkat lain keluar).

2) “kepada Timotius, anakku yang sah di dalam iman:”.

a) ‘Timotius’.

2Timotius 1:5 - “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu”.

Kis 16:1-3 - “(1) Paulus datang juga ke Derbe dan ke Listra. Di situ ada seorang murid bernama Timotius; ibunya adalah seorang Yahudi dan telah menjadi percaya, sedangkan ayahnya seorang Yunani. (2) Timotius ini dikenal baik oleh saudara-saudara di Listra dan di Ikonium, (3) dan Paulus mau, supaya dia menyertainya dalam perjalanan. Paulus menyuruh menyunatkan dia karena orang-orang Yahudi di daerah itu, sebab setiap orang tahu bahwa bapanya adalah orang Yunani”.

Barclay: “Timothy was the child of a mixed marriage; his mother was a Jewess, and his father a Greek (Acts 16:1). Paul circumcised him. It was not that Paul was a slave of the law, or that he saw in circumcision any special virtue; but he knew well that if Timothy was to work amongst the Jews, there would be an initial prejudice against him if he was uncircumcised, and so he took this step as a practical measure to increase Timothy’s usefulness as an evangelist” [= Timotius adalah anak dari pernikahan campuran; ibunya adalah seorang Yahudi, dan ayahnya seorang Yunani (Kis 16:1). Paulus menyunat dia. Itu bukan karena Paulus adalah budak dari hukum Taurat, atau bahwa ia melihat dalam sunat ada kebajikan khusus apapun; tetapi ia tahu dengan benar bahwa jika Timotius akan bekerja di antara orang-orang Yahudi, maka akan ada prasangka awal terhadapnya jika ia tidak disunat, dan demikianlah ia mengambil langkah ini sebagai suatu tindakan praktis untuk meningkatkan kebergunaan Timotius sebagai seorang Penginjil] - hal 21-22.

Homer A. Kent, Jr.: “circumcision was not performed to make him more acceptable to Christians, but to make him acceptable to Jewish audiences” (= sunat tidak dilakukan untuk membuat dia makin diterima oleh orang-orang kristen, tetapi untuk membuat dia diterima oleh pendengar-pendengar Yahudi) - hal 17.

Bdk. 1Kor 9:19-22 - “(19) Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. (20) Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. (21) Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. (22) Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka”.

b) ‘anakku yang sah’.

NIV: ‘my true son in the faith’ (= anakku yang sejati dalam iman).

NASB: ‘my true child in the faith’ (= anakku yang sejati dalam iman).

Kata ‘ku’ sebetulnya tak ada dalam aslinya, dan ini digunakan oleh banyak penafsir untuk mengatakan bahwa yang dimaksud oleh Paulus di sini bukanlah bahwa Timotius adalah anaknya, tetapi bahwa Timotius adalah anak Allah.

Tetapi dari banyak ayat lain terlihat dengan jelas bahwa Paulus memang menyebut / menganggap Timotius sebagai anaknya.

· 1Timotius 1:18 - “Tugas ini kuberikan kepadamu, Timotius anakku, sesuai dengan apa yang telah dinubuatkan tentang dirimu, supaya dikuatkan oleh nubuat itu engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni”.

· 2Timotius 1:2 - “kepada Timotius, anakku yang kekasih: kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau”.

· 2Tim 2:1 - “Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus”.

· 1Kor 4:17 - “Justru itulah sebabnya aku mengirimkan kepadamu Timotius, yang adalah anakku yang kekasih dan yang setia dalam Tuhan. Ia akan memperingatkan kamu akan hidup yang kuturuti dalam Kristus Yesus, seperti yang kuajarkan di mana-mana dalam setiap jemaat”.

Matthew Henry: “He calls Timothy his own son, because he had been an instrument of his conversion, ... Timothy had not been wanting in the duty of a son to Paul, and Paul was not wanting in the care and tenderness of a father to him” (= Ia menyebut Timotius anaknya sendiri, karena ia telah menjadi alat dari pertobatannya, ... Timotius tidak kurang dalam melakukan kewajiban seorang anak kepada Paulus, dan Paulus tidak kurang dalam perhatian dan kelembutan seorang bapa kepadanya).

Bdk. 1Korintus 4:15 - “Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu”.

Tetapi bandingkan dengan Matius 23:9 - “Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga”. Bagaimana Paulus berani menyebut dirinya bapa, sementara ada kata-kata Yesus yang seperti ini?

Calvin dan Hendriksen mengatakan bahwa Paulus menyebut dirinya ‘bapa’ dalam arti yang berbeda (arti sekunder).

Calvin: “God, and God alone, strictly speaking, was Timothy’s spiritual Father, but Paul, who was God’s minister in begetting Timothy, lays claim to this title, by what may be called a subordinate right” (= Allah, dan hanya Allah, berbicara secara ketat, adalah Bapa rohani Timotius, tetapi Paulus, yang adalah pelayan Allah dalam memperanakkan Timotius, mengclaimgelar ini, dengan apa yang bisa disebut ‘suatu hak yang lebih rendah’) - hal 21.

William Hendriksen: “Paul was Timothy’s father in a secondary sense only, the apostle functioning as God’s instrument, so that God himself remains the real Father” (= Paulus adalah bapa Timotius hanya dalam arti sekunder, sang rasul berfungsi sebagai alat Allah, sehingga Allah sendiri tetap adalah Bapa yang sejati) - hal 53.

Bandingkan juga dengan penjelasan tentang Matius 23:7-12 di bawah ini,

Mat 23:7-12 - “(7) mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. (8) Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. (9) Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. (10) Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. (11) Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. (12) Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan”.

Perhatikan ay 7: suka dipanggil Rabi.

Sehubungan dengan ini Yesus memberikan ay 8-10: “(8) Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. (9) Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. (10) Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias”.

Dalam menafsirkan ay 8-10 ini, kita harus memperhatikan bahwa:

¨ Paul menyebut dirinya ‘pengajar’ (1Timotius 2:7).

¨ Jabatan dalam gereja / pimpinan gereja diberikan oleh Tuhan (Efesus 4:11).

¨ Tuhanlah yang memberi ‘pengajar’ pada gereja (1Kor 12:28).

¨ Paulus menyebut dirinya ‘bapa rohani’ (1Kor 4:15,17 Fil 2:22 1Tim 1:18 2Tim 1:2 2Tim 2:1).

Karena itu, jelaslah bahwa dalam menafsirkan ay 8-10, kita harus memperhatikan bahwa: “The prohibition must be understood in the spirit and not in the letter” (= Larangan ini harus dimengerti menurut arti yang sebenarnya, dan bukan menurut arti hurufiahnya).

Untuk bisa mengetahui arti yang sebenarnya, maka ada 2 hal yang harus diperhatikan:

· Arah / penekanan dari kontex (ay 7-12).

Ay 7 jelas menyerang kesombongan, sifat ingin dihor­mati / ditinggikan dsb.

Ay 11-12 jelas juga mengajar kerendahan hati dan melarang peninggian diri sendiri.

Jadi jelas bahwa ay 8-10 terletak dalam kontex (ay 7-12) yang menekankan bahwa kita harus rendah hati, tidak boleh ingin dihormati / meninggikan diri dsb.

· Penekanan dari ay 8-10 sendiri:

Ay 8 menunjukkan Yesus sebagai satu-satunya Rabi yang sejati; sedangkan semua orang kristen adalah saudara / setingkat (hanya Yesus yang ada di atas!)

Ay 9 menunjukkan hanya ada 1 Bapa.

Ay 10 menujukkan hanya ada 1 pemimpin yaitu Mesias.

Jadi, penekanan dari ay 8-10 ini adalah: kemuliaan hanya boleh diberikan kepada Allah / Yesus; kita tak boleh mengurangi kemuliaan Allah / Yesus dengan memberikannya kepada manusia.

Kesimpulan: Larangan menyebut Rabi, bapa, pemimpin hanya berlaku kalau:

¨ Orang itu ingin disebut demikian untuk meninggikan dirinya.

¨ Sebutan itu mengaburkan / mengurangi kemuliaan Allah / Tuhan Yesus.

Calvin (tentang ay 9): “The true meaning therefore is, that the honour of a father is falsely ascribed to men, when it obscures the glory of God” (= Arti sebenarnya adalah, bahwa penghormatan bapa secara salah ditujukan kepada manusia, kalau itu mengaburkan kemuliaan Allah).

c) ‘di dalam iman’.

Adam Clarke: “‘In the faith.’ The word PISTIS, ‘faith,’ is taken here for the whole of the Christian religion, faith in Christ being its essential characteristic” (= ‘dalam iman’. Kata PISTIS, ‘iman’, digunakan di sini untuk seluruh agama Kristen, karena iman kepada Kristus merupakan cirinya yang hakiki).

3) “kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau”.

a) Kita soroti kata ‘rakhmat’.

Kata ‘rakhmat’ diterjemahkan ‘mercy’ (= belas kasihan) dalam KJV/RSV/NIV/NASB.

Jamieson, Fausset & Brown: “‘Grace’ refers to men’s sins; ‘mercy’ to their misery. God extends His grace to men as guilty; His mercy to them as miserable (Trench)” [= ‘Kasih karunia’ berkenaan dengan dosa-dosa manusia; ‘belas kasihan’ berkenaan dengan kesengsaraan mereka. Allah memberikan kasih karuniaNya kepada manusia sebagai orang-orang yang bersalah; belas kasihanNya kepada mereka sebagai orang-orang yang sengsara (Trench)].

Calvin: “he does not observe the exact order; for he places first what ought to have been last, namely, the ‘grace’ which flows from ‘mercy.’ For the reason why God at first receives us into favour and why he loves us is, that he is merciful” (= ia tidak memperhatikan urut-urutan yang tepat; karena ia menempatkan pada tempat pertama apa yang seharusnya terakhir, yaitu, ‘kasih karunia’ yang mengalir dari ‘belas kasihan’. Karena alasan mengapa Allah mula-mula menerima kita ke dalam kemurahan dan mengapa Ia mengasihi kita adalah, bahwa Ia mempunyai belas kasihan) - hal 21.

William Hendriksen: “The usual way of distinguishing between grace and mercy is to say that grace pardons while mercy commiserates; grace is God’s love toward the guilty, mercy his love toward the wretched or pitiable” (= ) - hal 55.

b) Hubungan kata ‘rakhmat’ / ‘belas kasihan’ ini khusus dengan Timotius.

Matthew Henry: “The benediction is, grace, mercy, and peace, from God our Father. Some have observed that whereas in all the epistles to the churches the apostolical benediction is grace and peace, in these two epistles to Timothy and that to Titus it is grace, mercy, and peace: as if ministers had more need of God’s mercy than other men. Ministers need more grace than others, to discharge their duty faithfully; and they need more mercy than others, to pardon what is amiss in them: and if Timothy, so eminent a minister, must be indebted to the mercy of God, and needed the increase and continuance of it, how much more do we ministers, in these times, who have so little of his excellent spirit!” (= Berkatnya adalah, kasih karunia, belas kasihan, dan damai, dari Allah Bapa kita. Beberapa orang telah mengamati bahwa sementara dalam semua surat-surat kepada gereja-gereja berkat rasuli adalah kasih karunia dan damai, dalam kedua surat kepada Timotius ini, dan juga dalam surat kepada Titus, berkatnya adalah kasih karunia, belas kasihan, dan damai: seakan-akan pendeta-pendeta / pelayan-pelayan mempunyai kebutuhan lebih banyak akan belas kasihan Allah dari pada orang-orang lain. Pelayan-pelayan / pendeta-pendeta membutuhkan lebih banyak kasih karunia dari pada orang-orang lain, untuk melaksanakan kewajiban mereka dengan setia; dan mereka membutuhkan lebih banyak belas kasihan dari pada orang-orang lain, untuk mengampuni apa yang keliru / salah di dalam mereka: dan jika Timotius, seorang pelayan / pendeta yang begitu menonjol, harus berhutang pada belas kasihan Allah, dan membutuhkan penambahan dan kelanjutan dari belas kasihan itu, lebih-lebih kita pelayan-pelayan / pendeta-pendeta, pada jaman ini, yang mempunyai begitu sedikit dari semangatnya yang begitu bagus!).

BACA JUGA: POLA KEPEMIMPINAN YESUS KRISTUS

William Hendriksen: “Timothy was in a difficult situation. He faced problems which were all the more trying for a man of his disposition. Hence, God’s tender love toward those in need was definitely required” (= ) - hal 54.

William Hendriksen: “Nevertheless, the word employed in the original (e]leoj) is often somewhat broader in scope. It indicates not only the actual outpouring of pity upon those in distress but also the underlying lovingkindness of which God’s creatures, particularly his people, are the objects, regardless of whether in the given context they are viewed as being ‘in deep misery’ or more generally ‘in need of help.’. ... Timothy, upon whom mercy ‘drops as a gentle rain from heaven,’ furnishes an excellent example of the use of the term in this somewhat broader sense. The salutation, accordingly, assures him not only of pardoning grace, operating as a spiritual dynamic in his life, but also of the closely related divine lovingkindness in his present difficulties and in every situation of life” (= ) - hal 55.

c) Sumber dari berkat-berkat ini adalah Bapa dan Yesus!

Homer A. Kent, Jr.: “The coupling by Paul of God the Father and Christ Jesus as co-bestowers of these divine blessings is clear indication of Paul’s belief in the full deity of Christ” (= pemasangan / penggandengan Allah Bapa dan Kristus Yesus oleh Paulus sebagai rekan-rekan pemberi berkat-berkat ilahi ini merupakan petunjuk yang jelas tentang kepercayaan Paulus pada keilahian yang penuh dari Kristus) - hal 75.

Pulpit Commentary: “The Source of these blessings. They spring alike from the Father and the Son - a proof of the coequal Godhead of the Son; for they are strictly Divine gifts” (= Sumber dari berkat-berkat ini. Berkat-berkat itu keluar secara sama dari Bapa dan Anak - suatu bukti tentang KeAllahan yang setara dari Anak; karena berkat-berkat itu secara ketat adalah pemberian-pemberian Ilahi) - hal 9.
I TIMOTIUS 1:1-2 (ARTI DARI KATA RASUL)
-AMIN-

Pdt.Budi Asali, M.Div.
1 YOHANES 4:1-6 (PENGAJAR DAN PENGIKUT)1Yohanes 4:1-6 - “(1) Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. (2) Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, (3) dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia. (4) Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia. (5) Mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka. (6) Kami berasal dari Allah: barangsiapa mengenal Allah, ia mendengarkan kami; barangsiapa tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kami. Itulah tandanya Roh kebenaran dan roh yang menyesatkan”.

I) Pengajar-pengajar.

1Yohanes 4: 1-3: “(1) Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. (2) Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, (3) dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia”.

1) Arti dari kata ‘roh’ di sini.

Yang disebut ‘roh’ dalam text ini adalah ‘pengajar Firman Tuhan’. Ini tidak berarti bahwa kata ‘roh’ (PNEUMA) memang mempunyai arti seperti itu. Kata ‘roh’ tidak berarti ‘pengajar’. Di sini kata ‘roh’ digunakan dalam arti ‘pengajar’ karena semua pengajar mengaku dipimpin oleh Roh Kudus.

Adam Clarke: “the term ‘spirit’ was used to express the man who pretended to be and teach under the Spirit’s influence” (= istilah ‘roh’ digunakan untuk menyatakan orang yang menganggap diri sebagai, dan mengajar, di bawah pengaruh Roh).

Jamieson, Fausset & Brown: “‘Every spirit’ - i. e., Every teacher claiming inspiration by THE HOLY SPIRIT” (= ‘Setiap roh’ - yaitu, setiap pengajar yang mengclaim pengilhaman oleh Roh Kudus).

Editor dari Calvin’s Commentary: “It appears that by ‘spirit’ throughout this passage, we are to understand a teacher claiming, rightly or falsely, to be influenced by God’s Spirit. Not would it be improper, but suitable to the context, to consider ‘the spirit of God’ in this verse as meaning a teacher guided by God” (= Kelihatannya kata ‘roh’ dalam sepanjang text ini harus dimengerti sebagai claim dari seorang pengajar, secara benar atau salah, bahwa ia diilhami oleh Roh Allah. Juga bukannya tidak benar, tetapi cocok dengan kontext, untuk menganggap ‘Roh Allah’ dalam ayat ini (1Yohanes 4: 2)sebagai seorang pengajar yang dipimpin oleh Allah) - hal 232 (footnote).

Catatan: saya berpendapat bahwa kata ‘ilham’ di sini tidak digunakan dalam arti tehnis, seperti pada waktu kita berkata bahwa para penulis Kitab Suci diilhami oleh Roh Kudus. Jadi di sini artinya hanya bahwa para pengajar itu mengaku dipimpin oleh Roh Kudus, atau bahwa ajaran mereka berasal dari Roh Kudus.

Ayat lain dimana kata ‘roh’ juga mempunyai arti seperti itu adalah 1Kor 12:10 - “Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu”.

‘Karunia untuk membedakan bermacam-macam roh’ ini tidak menunjuk kepada karunia untuk melihat setan, tetapi kepada karunia untuk membedakan pengajar yang benar dari nabi palsu.

2) Harus menguji pengajar.

1Yohanes 4: 1a: “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah”.

Perintah menguji seperti ini juga ditekankan oleh Paulus dalam 1Tes 5:21 - “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik”.

Ini jelas menunjukkan bahwa orang Kristen tidak boleh menerima seadanya ajaran tanpa melakukan pemeriksaan apakah itu adalah ajaran benar atau sesat. Juga tak boleh menerima seadanya orang yang mengaku sebagai hamba Tuhan, tanpa memeriksa apakah ia betul-betul seorang hamba Tuhan atau nabi palsu.

Ada orang yang kalau dengar khotbah selalu manggut-manggut (mengangguk-angguk). Biasanya pengkhotbah senang melihat hal itu, karena kelihatannya orang itu mendengar dan setuju dengan apa yang diberitakan. Tetapi kalau setiap mendengar pendeta / pengkhotbah yang manapun, termasuk yang ajarannya sesat, dia selalu manggut-manggut, pasti ada sesuatu yang tidak beres dalam diri orang itu.

A dan B gegeran, dan C dan D berusaha melerai / mendamaikan. Pada waktu A ceritakan versinya, C berkata: ‘Ya kamu benar’. Tetapi waktu B ceritakan versinya, yang bertentangan dengan versi A, C juga berkata: ‘Ya kamu juga benar’. D mendengar semua itu dan berkata: ‘Cerita mereka bertentangan, jadi tidak mungkin keduanya benar’. C menjawab: ‘Ya kamu juga benar’.

Kalau dalam hal rohani saudara bersikap seperti C ini, maka saudara tidak mentaati kata-kata Yohanes di sini, dan saudara pasti mudah disesatkan.

1Yohanes 4: 1a: “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah”.

Bdk. Amsal 14:15 - “Orang yang tak berpengalaman percaya kepada setiap perkataan, tetapi orang yang bijak memperhatikan langkahnya”.

John Stott (Tyndale): “There is an urgent need for discernment among Christians. We are often too gullible, and exhibit a naive readiness to credit messages and teachings which purport to come from the spirit-world. There is such a thing, however, as a misguided charity and tolerance towards false doctrine. Unbelief (‘believe not very spirit’) can be as much a mark of spiritual maturity as belief. We need to preserve the biblical balance, avoiding on the one hand the extreme superstition which believes everything and on the other the extreme suspicion which believes nothing” [= Di sini ada suatu kebutuhan yang mendesak untuk melakukan pembedaan di antara orang-orang kristen. Kita sering terlalu mudah tertipu, dan menunjukkan suatu kesediaan yang naif untuk menghargai berita-berita dan ajaran-ajaran yang mengaku / mengclaim datang dari dunia roh. Tetapi ada kasih / kemurahan hati dan toleransi yang salah-jalan terhadap ajaran yang palsu. Ketidak-percayaan (‘janganlah percaya akan setiap roh’) bisa merupakan suatu tanda kematangan rohani, sama seperti kepercayaan. Kita perlu untuk mempertahankan keseimbangan yang alkitabiah, menghindari di satu sisi takhyul extrim yang mempercayai segala sesuatu, dan di sisi yang lain kecurigaan extrim yang tidak mempercayai apapun] - hal 153.

3) Pengujian harus dilakukan dengan Firman Tuhan.

Dalam melakukan pengujian, kita harus menggunakan Firman Tuhan, bukan pikiran / logika atau perasaan kita. Memang pikiran harus digunakan, untuk mengerti apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan, dan untuk membandingkannya dengan ajaran yang kita uji itu. Tetapi kalau kita semata-mata menggunakan pikiran / logika, itu pasti salah.

Barnes’ Notes: “There were those in the early Christian church who had the gift of ‘discerning spirits,’ ... but it is not certain that the apostle refers here to any such supernatural power. It is more probable, as he addresses this command to Christians in general, that he refers to the ability of doing this by a comparison of the doctrines which they professed to hold with what was revealed, and by the fruits of their doctrines in their lives. ... It may be remarked, that it is just as proper and as important now to examine the claims of all who profess to be teachers of religion, as it was then. In a matter so momentous as religion, and where there is so much at stake, it is important that all pretensions of this kind should be subjected to a rigid examination. No one should be received as a religious teacher without the clearest evidence that he has come in accordance with the will of God, nor unless he inculcates the very truth which God has revealed” [= Ada orang-orang dalam gereja Kristen mula-mula yang mempunyai karunia ‘membedakan roh’ ... tetapi tidak pasti apakah sang rasul menunjuk di sini kepada kuasa supranatural seperti itu. Karena ia menujukan perintah ini kepada orang-orang kristen secara umum, adalah lebih mungkin bahwa ia menunjuk kepada kemampuan untuk melakukan hal ini dengan suatu perbandingan antara ajaran-ajaran yang mereka akui untuk dipercaya, dengan apa yang dinyatakan (dalam Firman Tuhan), dan oleh buah-buah dari ajaran itu dalam kehidupan mereka. ... Bisa dikatakan bahwa juga merupakan sesuatu yang benar dan penting pada saat ini untuk memeriksa claim dari semua yang mengaku sebagai pengajar agama, seperti pada saat itu. Dalam suatu persoalan yang begitu penting seperti agama, dan dimana di sana ada begitu banyak yang dipertaruhkan, adalah penting bahwa semua claim jenis ini ditundukkan pada suatu pemeriksaan yang keras / kaku. Tak seorangpun harus diterima sebagai seorang guru agama tanpa bukti yang paling jelas bahwa ia telah datang sesuai dengan kehendak Allah, atau kecuali ia mengajarkan kebenaran yang telah Allah nyatakan].

Herschel H. Hobbs: “We are not to judge of doctrine by miracles, but miracles by doctrine. A miracle enforcing what contradicts the teaching of Christ and His apostles is not ‘of God’ and is no authority for Christians” (= Kita tidak boleh menghakimi / menilai ajaran dengan menggunakan mujijat, tetapi menghakimi / menilai mujijat dengan menggunakan ajaran. Suatu mujijat yang melaksanakan apa yang bertentangan dengan ajaran dari Kristus dan rasul-rasulNya bukan ‘dari Allah’ dan tidak mempunyai otoritas untuk orang-orang kristen) - hal 99.

Bdk. Ul 13:1-3 - “(1) Apabila di tengah-tengahmu muncul seorang nabi atau seorang pemimpi, dan ia memberitahukan kepadamu suatu tanda atau mujizat, (2) dan apabila tanda atau mujizat yang dikatakannya kepadamu itu terjadi, dan ia membujuk: Mari kita mengikuti allah lain, yang tidak kaukenal, dan mari kita berbakti kepadanya, (3) maka janganlah engkau mendengarkan perkataan nabi atau pemimpi itu; sebab TUHAN, Allahmu, mencoba kamu untuk mengetahui, apakah kamu sungguh-sungguh mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu”.

Jamieson, Fausset & Brown: “Even an angel’s message should be tested by the Word of God; much more men’s teachings, however holy the teachers seem (Gal. 1:8).” [= Bahkan berita / pesan dari seorang malaikat harus diuji dengan Firman Allah; apalagi ajaran manusia, bagaimanapun kudusnya guru-guru itu kelihatannya (Gal 1:8)].

Gal 1:6-9 - “(6) Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, (7) yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. (8) Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. (9) Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia”.

Teladan yang baik bisa kita dapatkan dari orang-orang Kristen Berea yang bahkan menguji ajaran Paulus, yang adalah seorang rasul, dengan menggunakan Firman Tuhan.

Kis 17:11 - “Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian”.

Tetapi bagaimana dengan orang yang tak mengerti Firman Tuhan? Calvin mengatakan (hal 230-231) bahwa dari sini kita harus menyimpulkan bahwa setiap orang percaya pasti diberi Roh kebijaksanaan / pembedaan yang dibutuhkan dalam hal ini, asal mereka memintanya dari Tuhan. Tetapi Roh hanya akan membimbing mereka yang betul-betul tunduk kepada Firman Tuhan.

Tetapi ini tentu tak bisa diartikan bahwa orang Kristen tak perlu belajar Firman Tuhan. Mereka harus belajar Firman Tuhan supaya bisa menggunakannya untuk mengechek apakah seorang nabi asli atau palsu.

4) Banyak nabi-nabi palsu / pengajar-pengajar sesat.

a) Kitab Suci memberikan banyak peringatan tentang nabi-nabi palsu.

1. Matius 7:15-23 - “(15) ‘Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. (16) Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? (17) Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. (18) Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. (19) Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. (20) Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. (21) Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga. (22) Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga? (23) Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!"”.

2. Markus 13:22-23 - “(22) Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat dengan maksud, sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan. (23) Hati-hatilah kamu! Aku sudah terlebih dahulu mengatakan semuanya ini kepada kamu.’”.

3. Kis 20:28-30 - “(28) Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperolehNya dengan darah AnakNya sendiri. (29) Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. (30) Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka”.

4. 2Petrus 2:1 - “Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka”.

b) 1Yohanes 4: 1b merupakan alasan mengapa orang Kristen harus menguji ‘roh’ / pengajar.

Ay 1b: “sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia”.

Perhatikan hal-hal ini:

1. Banyak nabi palsu!

2. Mereka ini bukan akan muncul, tetapi sudah muncul.

3. Mereka pergi keseluruh dunia.

Ini menunjukkan kerajinan para nabi palsu dalam menyebarkan ajaran sesatnya. Saksi-Saksi Yehuwa berulangkali membanggakan bahwa mereka sudah tersebar dalam 230 negara atau lebih.

Tentang banyaknya pelayanan Charles Taze Russell (pendiri Saksi Yehuwa) dalam sepanjang hidupnya, seorang penulis internet mengatakan: “By the time of his death, Charles Taze Russell had travelled more than a million miles dan preached more than 30,000 sermons. He had authored works totaling some 50,000 printed pages, and nearly 20,000,000 copies of his books and booklets had been sold” (= Pada saat kematiannya, Charles Taze Russell telah menempuh lebih dari satu juta mil dan mengkhotbahkan lebih dari 30.000 khotbah. Ia telah mengarang sekitar 50.000 halaman cetak, dan hampir 20 juta buku dan buku tipisnya telah terjual).

Karena itu kita juga harus giat dan bersemangat dalam memberitakan kebenaran dan melawan kesesatan.

5) Cara menguji pengajar.

1Yohanes 4: 2-3: “(2) Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, (3) dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia”.

a) Ini adalah cara khusus, untuk menghadapi pengajar sesat yang khusus.

Di atas telah diberi cara yang umum, yaitu menggunakan Firman Tuhan, dan membandingkan Firman Tuhan itu dengan ajaran mereka. Tetapi di sini diberikan cara yang khusus, karena Yohanes memaksudkannya untuk menghadapi pengajar-pengajar sesat pada jamannya.

b) Pada saat itu memang ada beberapa ajaran sesat yang menolak keilahian dan kemanusiaan Yesus, yang berusaha menyesatkan orang-orang yang sudah percaya kepada Kristus:

1. Gnosticism.

Gnosticism ini mengajarkan sebagai berikut: Pada mulanya ada Allah dan matter (= zat / bahan / materi). Matter ini sudah ada sejak kekal, dan merupakan bahan mentah dari mana dunia / alam semesta diciptakan. Matter itu cacat dan tidak sempurna, sedangkan Allah itu adalah roh yang murni dan sempurna, dan karena itu Allah tidak bisa menyentuh matter. Karena itu, maka Allah tidak bisa menciptakan segala sesuatu.

Allah lalu mengeluarkan serangkaian / serentetan emanations (= emanasi / sesuatu yang keluar dari suatu sumber). Tiap emanasi makin jauh dari Allah, dan makin sedikit tahu tentang Allah. Sampai setengah jalan dari rangkaian emanasi itu, terdapat suatu emanasi yang sama sekali tidak kenal Allah. Selanjutnya ada emana­si yang bukan hanya tidak kenal Allah, tetapi juga memusuhi Allah. Pada akhir dari rangkaian emanasi itu, terdapat suatu emanasi yang sama sekali tidak mengenal Allah, dan juga memusuhi Allah secara total. Emanasi ini bisa menyentuh matter dan men­ciptakan alam semesta.

Lalu ajaran ini mengatakan bahwa emanasi itu adalah Yesus!

2. Cerinthus.

Cerinthus mengajarkan bahwa Yesus adalah manusia biasa, anak Yusuf dan Maria. Tetapi pada saat baptisan, Kristus turun kepada Yesus, tetapi lalu meninggalkan Yesus lagi, sesaat sebelum penyaliban.

3. Docetism.

Ajaran ini menganggap bahwa Yesus hanya kelihatannya saja adalah manusia, tetapi sebetulnya bukan manusia.

c) Karena itu Yohanes memberikan cara pengujian yang khusus, yang ia berikan dalam ay 2-3 tadi. 1Yohanes 4: 2 menyatakannya secara positif, dan ay 3 secara negatif. Perhatikan bahwa rasul / Kitab Suci bukan hanya mengajar secara positif, tetapi juga secara negatif.

Ay 2: “Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah”.

KJV: ‘Hereby know ye the Spirit of God: Every spirit that confesseth that Jesus Christ is come in the flesh is of God’ (= Dengan ini kamu tahu Roh Allah: Setiap roh yang mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang dalam daging adalah dari Allah).

1. Terjemahan yang lain.

John Stott memberikan terjemahan lain yang menurutnya lebih benar, yaitu: ‘Every spirit that confesses Jesus, as Christ has come in the flesh, is of God’ (= Setiap roh yang mengaku Yesus, sebagai Kristus yang telah datang dalam daging, adalah dari Allah).

Stott lebih setuju dengan ini, karena ia berkata: “it was not until after the incarnation that He was called ‘Jesus’” (= baru setelah inkarnasi Ia disebut ‘Yesus’) - hal 156.

2. Perbandingan ay 2 ini dengan 2Yoh 7.

1Yohanes 4: 2: “Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah”.

2Yoh 7 - “Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus”. Ini salah terjemahan karena kata yang diterjemahkan ada dalam bentuk present participle.

NIV: ‘Many deceivers, who do not acknowledge Jesus Christ as coming in the flesh, have gone out into the world. Any such person is the deceiver and the antichrist’ (= Banyak penipu, yang tidak mengakui Yesus Kristus sebagai datang dalam daging, telah keluar ke dalam dunia. Orang seperti itu adalah penipu dan antikristus).

John Stott (Tyndale): “The perfect tense ‘come’ (ELELUTHOTA) compared with the present tense in 2John 7 (ERCHOMENON), seems to emphasize that the flesh assumed by the Son of God in the incarnation has become His permanent possession. Far from coming upon Jesus at the baptism and leaving Him before the cross, the Christ actually came in the flesh and has never laid it aside” [= Bentuk perfect tense ‘come’ (ELELUTHOTA) dibandingkan dengan bentuk present tense dalam 2Yoh 7 (ERCHOMENON), kelihatannya menekankan bahwa daging yang diambil oleh Anak Allah dalam inkarnasi telah menjadi milikNya secara permanen. Kristus bukannya datang kepada Yesus pada baptisan dan meninggalkan Dia sebelum salib (ajaran Cerinthus), tetapi sungguh-sungguh datang dalam daging dan tidak pernah meninggalkan daging itu] - hal 154.

3. Pengujian ini mencakup:

a. Keilahian Kristus.

b. Kemanusiaan Kristus.

c. Bahkan ada yang menganggap juga mencakup tujuan kedatanganNya, yaitu penebusanNya.

John Stott (Tyndale): “The Person of Christ is central. No system can be tolerated, however loud its claims or learned its adherents, if it denies that Jesus is the Christ come in the flesh, that is, if it denies either His eternal deity or His historical humanity. Its teachers are false prophets and its origin is the spirit of antichrist” (= Pribadi dari Kristus adalah sentral. Tidak ada sistim yang bisa ditoleransi, betapapun keras claimnya atau terpelajarnya para pengikutnya, jika itu menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus yang datang dalam daging, yaitu, jika itu menyangkal atau keilahianNya yang kekal atau kemanusiaanNya yang bersifat sejarah. Pengajar-pengajarnya adalah nabi-nabi palsu dan asal usulnya adalah roh antikristus) - hal 155.

Calvin: “as Christ is the object at which faith aims, so he is the stone at which all heretics stumble. ... when the Apostle says that Christ ‘came’, we hence conclude that he was before with the Father; by which his eternal divinity is proved. By saying that he came ‘in the flesh,’ he means that by putting on flesh, he became a real man, of the same nature with us, that he might become our brother, except that he was free from every sin and corruption. And lastly, by saying that he came, the cause of his coming must be noticed, for he was not sent by the Father for nothing. Hence on this depend the office and merits of Christ” (= karena Kristus adalah obyek kepada mana iman ditujukan, demikianlah Ia adalah batu pada mana semua orang-orang sesat tersandung. ... pada waktu sang Rasul berkata bahwa Kristus ‘datang’, dari sini kita menyimpulkan bahwa tadinya Ia bersama dengan Bapa; dengan mana keilahianNya yang kekal dibuktikan. Dengan mengatakan bahwa Ia datang ‘dalam daging’, ia memaksudkan bahwa oleh pengenaan daging, Ia menjadi manusia yang sungguh-sungguh, dengan hakekat yang sama dengan kita, supaya Ia bisa menjadi saudara kita, kecuali bahwa Ia bebas dari setiap dosa dan kerusakan. Dan terakhir, dengan mengatakan bahwa Ia datang, alasan kedatanganNya harus diperhatikan, karena Ia bukannya diutus oleh Bapa tanpa tujuan apa-apa. Karena itu, pada hal ini tergantung jabatan / tugas dan jasa dari Kristus) - hal 232.

Tentang Katolik, Calvin berkata: “though they confess Christ to be God and man, yet they by no means retain the confession which the Apostle requires, because they rob Christ of his own merit; for where free-will, merits of works, fictitious modes of worship, satisfactions, the advocacy of saints, are set up, how very little remains for Christ!” (= sekalipun mereka mengaku Kristus sebagai Allah dan manusia, tetapi mereka sama sekali tidak mempertahankan pengakuan yang dituntut oleh sang Rasul, karena mereka merampok Kristus dari jasaNya sendiri; karena dimana kehendak-bebas, jasa dari perbuatan baik, cara-cara khayalan dari ibadah, tindakan penebusan dosa, dukungan dari orang-orang suci, ditegakkan, alangkah sedikitnya yang tersisa bagi Kristus!) - hal 232.

Jamieson, Fausset & Brown: “‘Jesus Christ is come in the flesh.’ - a twofold truth confessed: that Jesus is the Christ; and that He is come (ELEELUTHOTA, perfect; not a mere past historical fact, but present, and continuing in its blessed effects) in the flesh (‘invested with flesh;’ not with a seeming humanity, as the Docetae afterward taught). He therefore was previously something far above flesh. His flesh implies His death for us; for only by assuming flesh could He die (as God He could not, Heb. 2:9,16), and His death implies His LOVE for us (John 15:13)” [= ‘Yesus Kristus telah datang dalam daging’. - suatu kebenaran yang berlipat dua diakui: bahwa Yesus adalah Kristus; dan bahwa Ia ‘telah datang’ (ELEELUTHOTA, perfect; bukan semata-mata suatu bentuk lampau yang bersifat historis, tetapi present / sekarang , dan berlangsung terus dalam akibat / hasilnya yang diberkati) dalam daging (‘dipakaiani dengan daging’; bukan dengan apa yang kelihatannya adalah manusia, seperti yang diajarkan Docetae setelahnya). Karena itu, sebelum itu Ia merupakan sesuatu yang jauh di atas daging. DagingNya secara tak langsung menunjuk kepada kematianNya untuk kita, karena hanya dengan mengambil daging Ia bisa mati (sebagai Allah Ia tidak bisa mati, Ibr 2:9,16), dan kematianNya secara tak langsung menunjuk kepada kasihNya untuk kita (Yoh 15:13)].

Barnes’ Notes: “the fact that there was a real incarnation is essential to all just views of the atonement. If he was NOT truly a man, if he did not literally shed his blood on the cross, of course all that was done was in appearance only, and the whole system of redemption as revealed was merely a splendid illusion. There is little danger that this opinion will be held now, for those who depart from the doctrine laid down in the New Testament in regard to the person and work of Christ, are more disposed to embrace the opinion that he was a mere man; but still it is important that the truth that he was truly incarnate should be held up constantly before the mind, for in no other way can we obtain just views of the atonement” (= fakta bahwa di sana ada suatu inkarnasi yang sungguh-sungguh merupakan sesuatu yang bersifat hakiki bagi semua pandangan yang benar tentang penebusan. Jika Ia BUKAN sungguh-sungguh manusia, jika Ia tidak secara hurufiah mencurahkan darahNya pada kayu salib, tentu saja semua yang dilakukan hanya kelihatannya saja, dan seluruh sistim penebusan seperti yang dinyatakan hanyalah semata-mata suatu ilusi / khayalan yang bagus sekali. Sedikit bahayanya bahwa pandangan ini akan dipegang sekarang, karena mereka yang meninggalkan doktrin yang diletakkan dalam Perjanjian Baru berkenaan dengan pribadi dan pekerjaan Kristus, lebih condong untuk memeluk pandangan bahwa Ia adalah semata-mata manusia; tetapi adalah tetap penting bahwa kebenaran bahwa Ia betul-betul berinkarnasi harus dipegang / ditegakkan secara terus menerus di hadapan pikiran, karena tidak ada jalan lain kita bisa mendapatkan pandangan-pandangan yang benar tentang penebusan).

John Stott (Tyndale): “By this confession is meant not merely a recognition of His identity, but a profession of faith in Him ‘openly and boldly’ ... Even evil or unclean spirits recognized the deity of Jesus during His ministry ... But though they knew Him, they did not acknowledge or ‘confess’ Him” (= Yang dimaksudkan dengan pengakuan ini bukanlah semata-mata suatu pengenalan tentang identitasNya, tetapi suatu pengakuan iman kepadaNya ‘secara terbuka dan berani’ ... Bahkan roh-roh jahat atau najis mengenali keilahian Yesus dalam sepanjang pelayananNya. Tetapi sekalipun mereka mengenal Dia, mereka tidak mengakui atau ‘mengaku’ Dia) - hal 154.

Ini bukan merupakan semua hal yang dibutuhkan untuk menganggap seseorang sebagai pengajar yang benar.

Wycliffe Bible Commentary: “From this verse we are not to suppose that this is the only test of orthodoxy, but it is a major one and it was the most necessary one for the errors of John’s day”(= Dari ayat ini kita tidak boleh menganggap bahwa ini adalah satu-satunya test tentang ke-orthodox-an, tetapi ini merupakan suatu test yang besar dan ini adalah yang paling penting untuk kesalahan-kesalahan pada jaman Yohanes).

Barnes’ Notes: “nor does it mean that the acknowledgment of this truth was ALL which it was essential to be believed in order that one might be recognised as a Christian; but it means that it was ESSENTIAL that this truth should be admitted by everyone who truly came from God” (= juga itu tidak berarti bahwa pengakuan dari kebenaran ini adalah SEMUA hal-hal yang bersifat hakiki yang harus dipercaya supaya seseorang bisa dikenali sebagai seorang Kristen; tetapi itu berarti bahwa merupakan sesuatu yang bersifat HAKIKI bahwa kebenaran ini harus diakui oleh setiap orang yang sungguh-sungguh datang dari Allah).

Kalau seseorang salah dalam salah satu dari hal-hal ini, maka ia adalah orang kristen KTP / pengajar sesat. Tetapi kalau seseorang benar dalam hal-hal ini, belum tentu ia orang kristen yang sejati / pengajar yang benar!

Barnes’ Notes: “‘Is of God.’ This does not necessarily mean that everyone who confessed this was personally a true Christian, for it is clear that a doctrine might be acknowledged to be true, and yet that the heart might not be changed” (= ‘Adalah dari Allah’. Ini tidak harus berarti bahwa setiap orang yang mengaku ini adalah seorang Kristen yang sejati, karena adalah jelas bahwa suatu ajaran / doktrin bisa diakui sebagai benar, tetapi bahwa hati tidak berubah).

1Yohanes 4: 3: “dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia”.

Matthew Henry: “It was foreknown by God that antichrists would arise, ... we have been forewarned that such opposition would arise; ... the more we see the word of Christ fulfilled the more confirmed we should be in the truth of it” (= Telah diketahui lebih dulu oleh Allah bahwa antikristus-antikristus akan muncul, ... kita telah diperingati lebih dulu bahwa oposisi seperti itu akan muncul; ... makin kita melihat firman Kristus digenapi, makin kita harus diteguhkan dalam kebenaran darinya).

Barnes’ Notes: “‘And this is that spirit of antichrist.’ This is one of the things which characterize antichrist. John here refers not to an individual who should be known as antichrist, but to a class of persons. This does not, however, forbid the idea that there might be some one individual, or a succession of persons in the church, to whom the name might be applied by way of eminence” (= ‘Dan ini adalah roh antikristus’. Ini adalah satu dari hal-hal yang menjadi karakteristik dari antikristus. Di sini Yohanes tidak menunjuk kepada seorang individu yang akan dikenal sebagai antikristus, tetapi kepada segolongan orang. Tetapi ini tidak melarang gagasan bahwa di sana bisa ada seseorang individu, atau rangkaian / iring-iringan orang-orang dalam gereja, kepada siapa nama itu bisa diterapkan dengan cara yang menyolok).

II) Pengikut / pendengar dari pengajar.

Wycliffe mengatakan bahwa ay 2-3 menunjukkan pemeriksaan terhadap pengakuan / ajaran dari para pengajar, sedangkan ay 4-6 menunjukkan pemeriksaan terhadap pengikut dari para pengajar itu.

1Yohanes 4: 4-6: “(4) Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia. (5) Mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka. (6) Kami berasal dari Allah: barangsiapa mengenal Allah, ia mendengarkan kami; barangsiapa tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kami. Itulah tandanya Roh kebenaran dan roh yang menyesatkan”.

Sekarang mari kita soroti ay 4-6 satu per satu.

1) 1Yohanes 4: 4: “Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia”.

a) Kata ‘mengalahkan’ tidak boleh diartikan ‘mengalahkan secara jasmani / duniawi’, tetapi mengalahkan dengan pikiran. Kita tidak termakan oleh kesesatan mereka, bahkan sebaliknya, kita bisa membongkar kepalsuan mereka.

Barnes’ Notes: “The meaning is, that they had frustrated or thwarted all their attempts to turn them away from the truth” (= Artinya adalah bahwa mereka telah membuat frustrasi atau menggagalkan semua usaha mereka untuk menyimpangkan mereka dari kebenaran).

b) ‘sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia’.

1. Lit: ‘because greater is the one in you than the one in the world’.

Kata yang diterjemahkan ‘the one’ dalam bahasa Yunaninya adalah HO, yang mempunyai jenis kelamin laki-laki, padahal ini jelas menunjuk kepada Roh Allah / Roh Kudus, dan kata ‘Roh’ dalam bahasa Yunaninya adalah PNEUMA, yang mempunyai jenis kelamin netral. Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus adalah seorang pribadi. Ia bukan ‘sesuatu’ tetapi ‘seseorang’.

2. Editor dari Calvin’s Commentary: “‘The world’ is in this verse identified with ‘the false prophets;’” (= ‘Dunia’ dalam ayat ini diidentikkan dengan ‘nabi-nabi palsu’) - hal 235 (footnote).

3. Kata-kata terakhir dari ayat ini menunjukkan bahwa setan memang besar, tetapi kita boleh bersyukur bahwa Roh Kudus yang dianugerahkan kepada kita lebih besar dari setan. Ini yang menyebabkan kita pasti bisa mengalahkan nabi-nabi palsu itu.

Matthew Henry: “He gives them hope of victory: And have overcome them, v. 4. You have hitherto overcome these deceivers and their temptations, and there is good ground of hope that you will do so still, ...Because greater is he that is in you than he that is in the world, v. 4. The Spirit of God dwells in you, and that Spirit is more mighty than men of devils. It is a great happiness to be under the influence of the Holy Ghost” (= Ia memberi mereka pengharapan kebenaran: Dan ‘telah mengalahkan mereka’, ay 4. Sampai sekarang ini kamu telah mengalahkan penipu-penipu ini dan pencobaan-pencobaan mereka, ada dasar pengharapan yang baik bahwa engkau akan tetap mengalahkan mereka, ... Karena Ia yang ada di dalam kamu lebih besar dari pada ia yang ada di dalam dunia, ay 4. Roh Allah tinggal di dalam kamu, dan Roh itu lebih kuat dari pada orang-orang dari setan. Merupakan suatu kebahagiaan yang besar untuk berada di bawah pengaruh dari Roh Kudus).

Barnes’ Notes: “The apostle meant to say that it was by no power of their own that they achieved this victory, but it was to be traced solely to the fact that God dwelt among them, and had preserved them by his grace. What was true then is true now. He who dwells in the hearts of Christians by his Spirit, is infinitely more mighty than Satan, ‘the ruler of the darkness of this world;’ and victory, therefore, over all his arts and temptations may be sure. In his conflicts with sin, temptation, and error, the Christian should never despair, for his God will insure him the victory” (= Sang rasul bermaksud untuk mengatakan bahwa bukan oleh kuasa mereka sendiri mereka mencapai kemenangan ini, tetapi itu harus ditelusuri jejaknya sampai pada fakta bahwa Allah tinggal di antara mereka, dan telah memelihara / melindungi mereka dengan kasih karuniaNya. Apa yang benar pada saat itu, juga benar pada saat ini. Ia yang tinggal dalam hati dari orang-orang kristen oleh RohNya, lebih kuat secara tak terbatas dari setan, ‘pemerintah / penguasa dari kegelapan dari dunia ini’; dan karena itu, kemenangan atas semua keahlian dan pencobaannya bisa pasti. Dalam konflik dengan dosa, pencobaan, dan kesalahan, orang Kristen tidak pernah boleh putus asa, karena Allahnya akan menjamin kemenangannya).

c) Seluruh 1Yohanes 4: 4 ini menunjukkan bahwa dengan pertolongan Roh Kudus, orang Kristen bisa membongkar kesesatan dari para penyesat ini. Sebagai contoh, perhatikan bagaimana Stefanus yang dipenuhi / dipimpin Roh Kudus berdebat dengan orang-orang Yahudi yang sesat.

Kis 6:8-10 - “(8) Dan Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak. (9) Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut jemaat orang Libertini - anggota-anggota jemaat itu adalah orang-orang dari Kirene dan dari Aleksandria - bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia. Orang-orang itu bersoal jawab dengan Stefanus, (10) tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara”.

Alangkah berbedanya cerita ini dengan orang-orang yang mengaku dipenuhi Roh Kudus pada jaman ini, yang pada umumnya takut untuk berdebat, dengan alasan ‘cinta damai’, ‘kasih’, ‘tak boleh gegeran’, dan sebagainya. Ada lagi hamba Tuhan yang mengajarkan ‘kegilaan’ bahwa berdebat merupakan sesuatu yang salah, karena tak ada gunanya! Bagaimana hamba Tuhan itu menafsirkan ayat tentang Stefanus di atas ini? Apakah ia berani menyalahkan Stefanus, yang berarti ia juga menyalahkan Roh Kudus sendiri?

2) 1Yohanes 4: 5: “Mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka”.

a) ‘Mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi’.

KJV: ‘They are of the world: therefore speak they of the world, and the world heareth them’ (= Mereka dari dunia: karena itu mereka berbicara tentang dunia, dan dunia mendengarkan mereka).

Editor dari Calvin’s Commentary mengatakan (footnote, hal 235) bahwa kata ‘of’ (= tentang) itu salah. Menurut dia seharusnya adalah ‘according to’ (= menurut). Jadi nabi-nabi palsu itu berbicara / mengajar menurut pandangan-pandangan dan prinsip-prinsip dunia.

Bandingkan dengan orang Katolik dari Belanda yang tidak setuju pada waktu saya memberitakan Injil, karena menurut dia orang-orang yang hadir mempunyai hak azasi untuk menganut kepercayaannya masing-masing. Lucu, apakah saya tidak mempunyai hak azasi untuk memberitakan Injil?

Barnes’ Notes: “This may mean either that their conversation pertained to the things of this world, or that they were wholly influenced by the love of the world, and not by the Spirit of God, in the doctrines which they taught. The general sense is, that they had no higher ends and aims than they have who are influenced only by worldly plans and expectations. It is not difficult to distinguish, even among professed Christians and Christian teachers, those who are heavenly in their conversation from those who are influenced solely by the spirit of the world. ‘Out of the abundance of the heart the mouth speaketh,’” (= Ini bisa berarti atau bahwa pembicaraan mereka menyinggung hal-hal dari dunia ini, atau bahwa mereka sepenuhnya dipengaruhi oleh cinta dari / kepada dunia, dan bukan oleh Roh Allah, dalam doktrin-doktrin yang mereka ajarkan. Arti yang umum adalah bahwa mereka tidak mempunyai tujuan dan sasaran yang lebih tinggi dari mereka yang hanya dipengaruhi oleh rencana-rencana dan pengharapan-pengharapan duniawi. Tidak sukar untuk membedakan, bahkan di antara orang-orang yang mengaku Kristen dan pengajar-pengajar Kristen, mereka yang pembicaraannya bersifat surgawi dari mereka yang dipengaruhi semata-mata oleh roh dari dunia ini. ‘Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati’).

Catatan: kutipan ayat dari Matius 12:34b.

Contoh: theologia kemakmuran dan ajaran Kharismatik pada umumnya.

b) ‘dunia mendengarkan mereka’.

Matthew Henry: “The world heareth them, v. 5. They are followed by such as themselves: the world will love its own, and its own will love it” (= Dunia mendengarkan mereka, ay 5. Mereka diikuti oleh orang-orang yang seperti mereka sendiri: dunia akan mengasihi miliknya sendiri, dan miliknya akan mengasihinya).

Barnes’ Notes: “‘And the world heareth them.’ The people of the world - the frivoulous ones, the rich, the proud, the ambitious, the sensual - receive their instructions, and recognize them as teachers and guides, for their views accord with their own. ... A professedly religious teacher may always determine much about himself by knowing what class of people are pleased with him. A professed Christian of any station in life may determine much about his evidences of piety, by asking himself what kind of persons desire his friendship, and wish him for a companion” (= ‘Dan dunia mendengarkan mereka’. Orang-orang dunia - orang-orang yang sembrono, orang kaya, orang sombong, orang yang ambisius, orang yang dikuasai hawa nafsu - menerima pengajaran mereka, dan mengakui mereka sebagai pengajar-pengajar dan pembimbing-pembimbing, karena pandangan-pandangan mereka sesuai dengan pandangan mereka sendiri. Seorang yang diakui sebagai pengajar agama bisa selalu mengetahui banyak tentang dirinya sendiri, dengan mengenal golongan orang-orang apa yang senang dengan dia. Seorang yang dikenal sebagai orang Kristen dari tempat manapun dalam kehidupan bisa mengetahui banyak secara tepat tentang bukti-bukti kesalehannya, dengan menanyakan dirinya sendiri jenis orang-orang apa yang menginginkan persahabatannya, dan menginginkannya sebagai seorang teman).

3) 1Yohanes 4: 6: “Kami berasal dari Allah: barangsiapa mengenal Allah, ia mendengarkan kami; barangsiapa tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kami. Itulah tandanya Roh kebenaran dan roh yang menyesatkan”.

a) ‘Kami berasal dari Allah: barangsiapa mengenal Allah, ia mendengarkan kami; barangsiapa tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kami’.

Bdk. Yoh 8:47 - “Barangsiapa berasal dari Allah, ia mendengarkan firman Allah; itulah sebabnya kamu tidak mendengarkannya, karena kamu tidak berasal dari Allah.’”.

Kata ‘mendengar’ di sini tidak boleh diartikan ‘sekedar mendengar’, tetapi ‘mendengar dengan sikap positif’ atau ‘mendengar dan mempercayai’.

Barnes’ Notes: “They who do not receive the plain doctrines laid down in the word of God, whatever pretensions they may make to piety, or whatever zeal they may evince in the cause which they have espoused, can have no well-founded claims to the name Christian. One of the clearest evidences of true piety is a readiness to receive all that God has taught” (= Mereka yang tidak menerima doktrin-doktrin / ajaran-ajaran yang jelas yang diletakkan dalam firman Allah, apapun kepura-puraan yang mereka buat untuk kesalehan, atau semangat apapun yang bisa mereka tunjukkan dalam perkara yang mereka dukung, tidak bisa mempunyai claim yang cukup beralasan untuk nama ‘Kristen’. Salah satu dari bukti-bukti yang paling jelas tentang kesalehan yang benar adalah kesediaan untuk menerima semua yang Allah telah ajarkan).

Matthew Henry: “He that knoweth God ... heareth us,’ v. 6. As, on the contrary, ‘He that is not of God heareth not us. He who knows not God regards not us. He that is not born of God ... walks not with us. The further any are from God ... the further they are from Christ and his faithful servants; and the more addicted persons are to this world the more remote they are from the spirit of Christianity” (= ‘Ia yang mengenal Allah ... mendengar kami’, ay 6. Sebaliknya, ‘Ia yang bukan dari Allah tidak mendengar kami’. Ia yang tidak mengenal Allah tidak memperhatikan / menghormati kami. Ia yang tidak dilahirkan dari Allah ... tidak berjalan dengan kami. Makin jauh seseorang dari Allah ... makin jauh ia dari Kristus dan pelayan-pelayanNya yang setia; dan makin seseorang kecanduan pada dunia ini, makin jauh ia dari roh kekristenan).

Calvin: “By these words he intimates that the vast multitude to whom the Gospel is not acceptable, do not hear the faithful and true servants of God, because they are alienated from God himself. It is then no diminution to the authority of the Gospel that many reject it” (= Dengan kata-kata ini ia mengisyaratkan bahwa, orang banyak, bagi siapa Injil itu tidak diterima, tidak mendengar pelayan-pelayan yang setia dan benar dari Allah, karena mereka menjauhkan diri dari Allah sendiri. Maka, bukanlah merupakan suatu pengurangan terhadap otoritas dari Injil bahwa banyak orang menolaknya) - hal 236.

b) ‘Itulah tandanya Roh kebenaran dan roh yang menyesatkan’.

KJV: ‘Hereby know we the spirit of truth, and the spirit of error’ (= Dengan ini kami mengenal roh kebenaran, dan roh kesalahan).

NIV: ‘This is how we recognize the Spirit of truth and the spirit of falsehood’ (= Ini adalah bagaimana kami mengenali Roh kebenaran dan roh kepalsuan).

Adam Clarke: “‘Hereby know we the Spirit of truth.’ The doctrine and teacher most prized and followed by worldly men, and by the gay, giddy, and garish multitude, are not from God; they savour of the flesh, lay on no restraints, prescribe no cross-bearing, and leave everyone in full possession of his heart’s lusts and easily besetting sins. And by this, false doctrine and false teachers are easily discerned” (= ‘Dengan ini kami mengenal Roh kebenaran’. Doktrin dan pengajar yang paling dihargai dan diikuti oleh orang-orang duniawi, dan oleh orang banyak yang periang, sembrono dan yang berkilauan / menyolok, bukanlah dari Allah; mereka berbau daging, tidak memberikan pengekangan, tidak memerintahkan pemikulan salib, dan membiarkan setiap orang mempunyai nafsu-nafsu hatinya dan dosa-dosa yang dengan mudah menimpa. Dan dengan ini, doktrin-doktrin yang salah dan pengajar-pengajar yang salah dengan mudah dikenali / dibedakan).

Kata yang saya terjemahankan ‘periang’ maksudnya orang yang senang hura-hura dan kerjanya mencari kesenangan.

Kesimpulan / Penutup.

Ujilah setiap pengajar, ikutilah pengajar yang benar, dan jauhilah pengajar yang sesat. Tuhan memberkati saudara.
1 YOHANES 4:1-6 (PENGAJAR DAN PENGIKUT)
-AMIN-

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.