Yohanes 9:40-41: Pertanyaan Orang Farisi Dijawab oleh Yesus
Pendahuluan:
Dalam Yohanes 9:40-41, kita menemukan momen konfrontasi yang mendalam antara Yesus dan orang-orang Farisi setelah Yesus menyembuhkan seorang pria yang buta sejak lahir. Ayat ini berbunyi:
"Kata-kata itu didengar juga oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepada-Nya: ‘Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?’ Jawab Yesus kepada mereka: ‘Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa. Tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu.’”
Ayat ini mengungkapkan kebenaran teologis yang mendalam tentang dosa, kebutaan rohani, dan tanggung jawab manusia di hadapan Allah. Dalam artikel ini, kita akan mendalami makna dari Yohanes 9:40-41 berdasarkan sudut pandang teologi Reformed, memahami bagaimana jawaban Yesus ini relevan bagi kita saat ini, serta menggali pengajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan orang percaya.
1. Konteks Yohanes 9: Pertentangan dan Mukjizat Yesus
Pasal 9 dalam Injil Yohanes berfokus pada mukjizat penyembuhan seorang pria yang buta sejak lahir, sebuah peristiwa yang memicu diskusi besar tentang dosa, kebutaan rohani, dan identitas Yesus sebagai Terang Dunia. Ketika pria yang telah sembuh itu memberikan kesaksian tentang Yesus, ia menghadapi interogasi dari orang-orang Farisi, yang berusaha menolak kebenaran tentang siapa Yesus.
Teologi Reformed sering menyoroti bagaimana mukjizat Yesus bukan hanya tindakan belas kasih, tetapi juga pernyataan otoritas-Nya sebagai Mesias. John Calvin, dalam komentarnya tentang Yohanes, mencatat bahwa mukjizat ini adalah pengajaran visual tentang bagaimana Kristus membawa terang kepada dunia yang terperangkap dalam kegelapan dosa. Orang Farisi, meskipun memiliki pengetahuan tentang hukum Taurat, memilih untuk menolak terang ini, menunjukkan kebutaan rohani mereka.
2. Pertanyaan Orang Farisi: “Apakah Itu Berarti Kami Juga Buta?”
Setelah mendengar pengajaran Yesus tentang kebutaan rohani, beberapa orang Farisi bertanya dengan nada sinis, “Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?” Pertanyaan ini mengandung kesombongan yang khas dari orang Farisi, yang menganggap diri mereka sebagai penuntun buta dan penjaga kebenaran Taurat.
Namun, teologi Reformed menekankan bahwa kebutaan rohani adalah kondisi universal yang melanda semua manusia akibat kejatuhan dalam dosa (Roma 3:23). Orang Farisi, meskipun memiliki pengetahuan Alkitabiah, tetap buta secara rohani karena hati mereka keras dan tidak mau menerima kebenaran Injil. Dalam tulisannya, R.C. Sproul mencatat bahwa “kebutaan rohani adalah kondisi yang tidak dapat diatasi oleh manusia sendiri, kecuali oleh pekerjaan Roh Kudus yang memperbarui hati dan pikiran mereka.”
3. Jawaban Yesus: Kebutaan dan Dosa
Yesus menjawab orang Farisi dengan pernyataan yang penuh makna:"Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa. Tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu.”
Jawaban ini menunjukkan bahwa ada perbedaan antara kebutaan rohani yang diakui dan kebutaan yang disangkal. Orang yang mengakui kebutaannya, seperti pria yang telah disembuhkan, dapat menerima anugerah dan terang Kristus. Namun, mereka yang mengklaim memiliki penglihatan (pemahaman) tetapi menolak terang Kristus, tetap berada dalam dosa mereka.
Herman Bavinck, seorang teolog Reformed, menjelaskan bahwa pengakuan akan kebutuhan akan anugerah Allah adalah langkah pertama menuju keselamatan. Sebaliknya, keangkuhan dan penolakan terhadap kebenaran hanya akan membawa kepada kebinasaan. Orang Farisi, dengan kesombongan mereka, menunjukkan bahwa mereka tidak memahami kebutuhan akan Juruselamat.
4. Kebutaan Rohani dan Anugerah Allah
Dalam teologi Reformed, kebutaan rohani sering dikaitkan dengan doktrin tentang Total Depravity (kerusakan total), yang menyatakan bahwa manusia, dalam keadaan jatuh, tidak mampu mengenal Allah atau menerima kebenaran-Nya tanpa pekerjaan anugerah Allah. Yohanes 9:40-41 menjadi ilustrasi sempurna dari doktrin ini.
Orang Farisi mewakili manusia yang secara rohani mati dalam dosa dan tidak mampu melihat terang Injil, meskipun terang itu telah diungkapkan secara jelas melalui Yesus Kristus. Namun, bagi mereka yang menyadari kebutaan mereka, seperti pria yang telah disembuhkan, ada harapan dalam Kristus.
John Owen, seorang teolog Puritan, menulis bahwa “kondisi pertama dari keselamatan adalah pengakuan bahwa kita membutuhkan Juruselamat.” Yohanes 9 mengajarkan bahwa hanya melalui karya Roh Kudus seseorang dapat diubahkan dari kebutaan menjadi penglihatan rohani.
5. Pendapat Pakar Teologi Reformed Mengenai Yohanes 9:40-41: Pertanyaan Orang Farisi Dijawab oleh Yesus
Yohanes 9:40-41 adalah bagian penutup dari narasi penyembuhan orang buta sejak lahir yang dilakukan oleh Yesus. Dalam ayat ini, orang-orang Farisi, merasa tersinggung oleh pernyataan Yesus, bertanya, "Apakah kami juga buta?" Yesus menjawab dengan tegas, "Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa. Tetapi sekarang kamu berkata, ‘Kami melihat,’ maka dosamu tetap ada." Jawaban Yesus mengungkapkan kebutaan rohani yang mendalam dari orang Farisi meskipun mereka mengklaim memiliki pemahaman yang benar tentang kebenaran. Dalam teologi Reformed, ayat ini dianggap penting untuk memahami doktrin tentang dosa, pengetahuan rohani, dan tanggapan manusia terhadap penyataan Allah. Berikut adalah pandangan beberapa pakar teologi Reformed mengenai ayat ini.
1. John Calvin: Kebutaan Rohani Akibat Kesombongan
John Calvin menyoroti bahwa kebutaan rohani orang Farisi adalah akibat dari kesombongan mereka yang merasa diri cukup dan tidak membutuhkan terang Allah. Calvin mencatat bahwa Yesus menyatakan kebutaan mereka dengan menunjukkan bahwa klaim mereka untuk "melihat" justru menjadi alasan penghukuman mereka.
Calvin menjelaskan bahwa orang yang sadar akan kebutaannya—baik secara fisik maupun rohani—akan mencari pertolongan Allah. Namun, mereka yang mengklaim melihat padahal buta secara rohani, seperti orang Farisi, menolak penyelamatan yang ditawarkan Kristus. Menurut Calvin, ini adalah salah satu peringatan keras dalam Alkitab tentang bahaya kesombongan rohani dan keengganan untuk mengakui kebutuhan akan kasih karunia Allah.
2. R.C. Sproul: Penghakiman terhadap Kesombongan Rohani
R.C. Sproul menekankan bahwa jawaban Yesus kepada orang Farisi dalam Yohanes 9:40-41 adalah penghakiman langsung terhadap kesombongan rohani mereka. Menurut Sproul, orang Farisi mewakili mereka yang percaya bahwa mereka memiliki pengetahuan sempurna tentang hukum Allah dan tidak membutuhkan pencerahan tambahan. Namun, kehadiran Yesus sebagai Terang Dunia mengungkapkan kebutaan mereka yang sebenarnya.
Sproul menyoroti bahwa dosa orang Farisi terletak pada penolakan mereka terhadap terang Injil, meskipun mereka memiliki akses kepada firman Allah. Dengan menyatakan bahwa dosanya tetap ada, Yesus menunjukkan bahwa penolakan terhadap terang yang sejati adalah bukti kebutaan rohani yang lebih besar daripada kebodohan yang sederhana.
3. Herman Bavinck: Penyataan Allah dan Respons Manusia
Herman Bavinck menekankan bahwa Yohanes 9:40-41 menunjukkan bagaimana penyataan Allah dalam Yesus Kristus menguji hati manusia. Dalam pandangan Bavinck, kebutaan rohani bukanlah hasil dari kurangnya pengetahuan, tetapi akibat dari penolakan aktif terhadap penyataan Allah. Orang Farisi yang mengklaim "melihat" sebenarnya menolak terang yang diberikan melalui Yesus, sehingga mereka tetap berada dalam dosa mereka.
Bavinck juga mencatat bahwa Yesus tidak hanya menunjukkan dosa orang Farisi, tetapi juga memberikan pelajaran penting tentang pentingnya kerendahan hati. Mereka yang mengakui kebutaan rohani mereka memiliki kesempatan untuk menerima terang dan pengampunan, tetapi mereka yang menolak untuk mengakui kebutuhan mereka akan Allah tidak dapat menerima keselamatan.
4. Charles Hodge: Dosa Kebutaan yang Disengaja
Charles Hodge melihat Yohanes 9:40-41 sebagai gambaran tentang dosa kebutaan yang disengaja. Menurut Hodge, orang Farisi adalah contoh nyata dari mereka yang memiliki akses kepada kebenaran tetapi memilih untuk menolaknya. Dalam hal ini, dosa mereka lebih besar karena mereka secara sadar menutup hati terhadap terang Allah yang dinyatakan dalam Kristus.
Hodge juga menekankan bahwa kebutaan rohani orang Farisi mencerminkan keadaan hati manusia yang berdosa. Tanpa karya Roh Kudus yang membuka mata rohani, manusia tidak dapat memahami kebenaran Allah. Jawaban Yesus dalam ayat ini adalah pengingat bahwa hanya mereka yang merendahkan diri dan mencari pertolongan Allah yang dapat melihat terang Injil.
5. Michael Horton: Kontras antara Kebutaan dan Penglihatan
Michael Horton menyoroti kontras yang ditampilkan dalam Yohanes 9:40-41 antara kebutaan dan penglihatan, baik secara fisik maupun rohani. Horton mencatat bahwa Yesus menggunakan ironi dalam jawaban-Nya kepada orang Farisi, menunjukkan bahwa klaim mereka untuk "melihat" sebenarnya membuktikan kebutaan mereka.
Horton juga menekankan bahwa kebutaan rohani adalah masalah hati, bukan hanya pemahaman intelektual. Orang Farisi percaya bahwa mereka memahami hukum Allah dan kebenaran, tetapi mereka gagal mengenali Yesus sebagai penggenapan dari semua itu. Bagi Horton, ini adalah pengingat bahwa kehadiran terang Kristus tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab manusia untuk merespons dengan iman dan kerendahan hati.
6. Sinclair Ferguson: Penolakan terhadap Terang Kristus
Sinclair Ferguson menekankan bahwa Yohanes 9:40-41 menggambarkan respons manusia terhadap terang Kristus. Orang Farisi, yang merasa memiliki penglihatan rohani, justru menjadi buta karena mereka menolak terang yang Yesus bawa. Ferguson mencatat bahwa jawaban Yesus adalah teguran terhadap kepercayaan diri yang salah dari orang Farisi, yang menganggap diri mereka benar di hadapan Allah.
Ferguson juga mencatat bahwa kebutaan rohani orang Farisi bukanlah akibat kurangnya informasi, tetapi akibat dari hati yang menolak untuk menerima penyataan Allah. Dalam pandangannya, ini adalah pengingat bahwa terang Injil tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab untuk meresponsnya dengan iman.
7. Tim Keller: Kerendahan Hati sebagai Kunci untuk Melihat Terang
Tim Keller menyoroti pentingnya kerendahan hati dalam memahami Yohanes 9:40-41. Ia mencatat bahwa Yesus menunjukkan bahwa kebutaan fisik tidak menghalangi seseorang untuk melihat terang Injil, tetapi kebutaan rohani yang disebabkan oleh kesombongan adalah penghalang utama. Orang Farisi adalah contoh dari mereka yang gagal melihat terang karena mereka tidak mau mengakui kebutuhan mereka akan penyelamatan.
Keller juga mencatat bahwa jawaban Yesus adalah undangan bagi setiap orang untuk merendahkan hati mereka dan mengakui kebutaan rohani mereka. Hanya dengan cara ini seseorang dapat menerima terang Injil dan mengalami transformasi rohani yang sejati.
Kesimpulan
Yohanes 9:40-41 menggambarkan momen penting dalam dialog antara Yesus dan orang Farisi, di mana Yesus menyingkapkan kebutaan rohani mereka yang mendalam. Para teolog Reformed sepakat bahwa ayat ini adalah teguran terhadap kesombongan rohani dan pengingat akan pentingnya kerendahan hati dalam menerima terang Injil.
Kesombongan rohani orang Farisi membuat mereka menolak terang yang Yesus bawa, meskipun mereka mengklaim memiliki pengetahuan yang benar tentang hukum Allah. Sebaliknya, mereka yang mengakui kebutuhan mereka akan Allah, seperti orang buta yang disembuhkan, diberi penglihatan rohani dan mengalami keselamatan.
Sebagai umat percaya, kita dipanggil untuk merendahkan hati di hadapan Allah, mengakui kebutuhan kita akan terang-Nya, dan bersyukur atas kasih karunia-Nya yang menyelamatkan. Berdoalah agar Roh Kudus membuka mata rohani kita sehingga kita dapat hidup dalam terang kebenaran dan kasih Kristus.
