Kebenaran oleh Iman: Roma 9:30–33

Kebenaran oleh Iman: Roma 9:30–33

Pendahuluan

Surat Paulus kepada jemaat di Roma adalah salah satu karya teologis paling mendalam dan sistematis dalam seluruh Alkitab. Dalam pasal 9, Paulus membahas misteri pemilihan ilahi dan relasi antara Israel sebagai bangsa pilihan dan masuknya bangsa-bangsa bukan Yahudi ke dalam keselamatan. Bagian Roma 9:30-33 adalah bagian penutup dari argumen tersebut, dan memberikan kontras tajam antara usaha manusia dan kasih karunia Allah.

1. Konteks Besar: Pemilihan dan Penolakan (Roma 9)

Pasal 9–11 dalam kitab Roma berisi penjelasan Paulus tentang kedaulatan Allah dalam keselamatan dan dilema teologis: mengapa sebagian besar orang Yahudi menolak Mesias, sedangkan bangsa-bangsa bukan Yahudi menerima-Nya?

Dalam teologi Reformed, bagian ini sangat penting karena mendukung doktrin predestinasi, yaitu bahwa keselamatan adalah hasil pilihan Allah, bukan karena usaha atau kelayakan manusia. John Calvin menyebut Roma 9 sebagai “puncak dari pemahaman tentang rahmat yang berdaulat dari Allah.”

2. Eksposisi Ayat demi Ayat: Roma 9:30–33

Roma 9:30: Kebenaran Diperoleh oleh Iman

“...bangsa-bangsa bukan Yahudi yang tidak mencari kebenaran, telah memperoleh kebenaran...”

Konsep ini menggemparkan: bangsa-bangsa yang tidak mencari kebenaran (tidak taat hukum Musa) justru memperoleh pembenaran karena iman. Dalam kerangka Reformed, ini menyatakan sola fidekita dibenarkan oleh iman, bukan perbuatan.

Herman Bavinck dalam Reformed Dogmatics menyatakan:

Kebenaran bukanlah sesuatu yang dihasilkan oleh manusia, tetapi anugerah yang diberikan kepada mereka yang percaya.”

Paulus menggarisbawahi bahwa kebenaran itu tidak diraih, tetapi diberikan kepada mereka yang percaya kepada Yesus Kristus.

Roma 9:31: Israel Gagal dalam Usaha Manusiawi

“...Israel... tidak berhasil mencapai hukum Taurat itu?”

Bangsa Israel memiliki hukum Taurat dan mengejarnya dengan semangat. Namun, mereka gagal karena mencoba mencapainya melalui usaha sendiri, bukan melalui iman. Ini kontras langsung dengan bangsa-bangsa bukan Yahudi.

Dalam teologi Reformed, ini menegaskan ketidakmampuan manusia yang total (total depravity)—bahwa tanpa anugerah Allah, manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri, bahkan dengan hukum Allah sekalipun.

Roma 9:32: Dasar Kegagalan: Bukan Iman, Tetapi Perbuatan

Karena mereka tidak mencarinya dengan iman, melainkan dengan berdasar pada perbuatan...”

Inilah akar masalahnya: Israel menaruh pengharapan pada kepatuhan lahiriah, bukan pada iman kepada Mesias. Mereka tersandung karena menganggap kebenaran adalah hasil usaha.

R.C. Sproul menulis:

Satu-satunya cara untuk berdiri benar di hadapan Allah adalah dengan iman kepada Kristus, bukan dengan prestasi moral kita.”

Upaya untuk mendekat kepada Allah melalui hukum tanpa iman berakhir pada kebangkrutan rohani. Dalam teologi Reformed, ini memperkuat pentingnya regenerasi oleh Roh Kudus, bukan hanya reformasi perilaku.

Roma 9:33: Batu Sandungan dan Janji Keselamatan

Aku meletakkan di Sion sebuah batu sandungan... Siapa yang percaya kepada-Nya tidak akan dipermalukan.”

Paulus mengutip gabungan dari Yesaya 8:14 dan Yesaya 28:16, yang berbicara tentang Mesias sebagai batu penjurubagi sebagian orang, menjadi dasar keselamatan; bagi yang lain, menjadi batu sandungan.

Dalam Kristus, Allah memberikan fondasi keselamatan. Tetapi bagi mereka yang menolak-Nya (terutama dengan menggantinya dengan sistem keagamaan buatan manusia), Kristus menjadi sebab kejatuhan.

John Calvin mengomentari bagian ini:

Christ is either the cornerstone or the stumbling stone. He cannot be neutral.”

3. Tema Kunci dalam Teologi Reformed

a. Sola FideIman Sebagai Satu-satunya Jalan Pembenaran

Seluruh bagian ini menegaskan bahwa keselamatan hanya diperoleh melalui iman, bukan perbuatan. Ini adalah fondasi dari Reformasi Protestan.

Martin Luther menyebut Roma sebagai "surat paling murni tentang Injil", dan bagian ini sebagai bukti bahwa pembenaran oleh iman adalah jantung Injil.

b. Total DepravityKetidakmampuan Manusia

Upaya Israel untuk mencapai kebenaran melalui hukum menunjukkan bahwa manusia dalam dosanya tidak mampu mendekat kepada Allah tanpa anugerah.

Bahkan semangat religius tidak cukup tanpa hati yang dibaharui. Hal ini menguatkan doktrin bahwa kita tidak dapat menyelamatkan diri sendiri—bahkan melalui hukum Taurat.

c. Christocentric TheologyKristus sebagai Batu Penjuru

Yesus adalah pusat dari semua rencana keselamatan. Ia menjadi pemisah antara mereka yang percaya dan tidak percaya.

Herman Bavinck menulis:

In Christ, God’s justice and grace meet perfectly. To believe in Christ is to be grounded on God’s righteousness, not man’s.”

4. Aplikasi Praktis bagi Gereja dan Individu

a. Waspadai Legalisme Rohani

Sangat mudah bagi gereja masa kini untuk jatuh ke dalam perangkap yang sama dengan Israel: mengandalkan ritual, tradisi, atau moralitas tanpa iman yang sejati kepada Kristus.

Legalism tidak menghasilkan keselamatan. Kita bisa menjadi religius tetapi tetap terhilang jika iman kita bukan pada karya Kristus.

b. Kabar Baik bagi Semua Bangsa

Paulus mengajarkan bahwa bahkan bangsa-bangsa yang tidak mencari Allah bisa diselamatkan. Ini mendorong misi dan penginjilan kepada semua suku, bangsa, dan bahasa.

Ini adalah bukti kedaulatan dan luasnya anugerah Allahtidak dibatasi oleh latar belakang budaya, agama, atau sejarah.

c. Kristus Adalah Fondasi Kita

Kita dipanggil untuk membangun hidup di atas Kristus, bukan pada prestasi rohani kita. Mereka yang percaya kepada-Nya tidak akan dipermalukan—sebuah janji yang penuh pengharapan.

5. Refleksi Para Teolog Reformed

John Calvin

Dalam Commentaries on the Book of Romans, Calvin menulis:

The Jews stumbled because they sought righteousness through works, not faith. This is the perpetual disease of human nature.”

Ia menekankan bahwa ini adalah kondisi universal manusia: kecenderungan untuk menggantikan iman dengan usaha diri.

Herman Bavinck

Dalam Reformed Dogmatics, Bavinck menjelaskan bahwa keselamatan yang sejati bersifat monergistikdikerjakan sepenuhnya oleh Allah, bukan hasil kerja sama manusia dan Tuhan.

Faith is not a human contribution to salvation, but the very means God uses to unite us to Christ.”

R.C. Sproul

Dalam Faith Alone, Sproul menjelaskan bahwa iman bukanlah "perbuatan kecil" yang kita lakukan, melainkan alat yang menerima apa yang Allah sudah kerjakan di dalam Kristus.

6. Kesimpulan: Batu Sandungan atau Dasar Keselamatan?

Roma 9:30-33 adalah undangan untuk meninggalkan kepercayaan diri religius dan beralih pada iman yang murni kepada Kristus. Dalam bagian ini, kita melihat:

  • Bangsa-bangsa yang tidak mencari Allah menerima kebenaran karena iman.

  • Israel yang religius justru tersandung karena kepercayaannya pada perbuatan.

  • Kristus menjadi batu ujian: apakah kita akan percaya kepada-Nya atau tersandung karena-Nya?

Injil bukan tentang apa yang kita lakukan, tetapi tentang apa yang Kristus telah lakukan. Dan siapa pun yang percaya kepada-Nya “tidak akan dipermalukan.”

Next Post Previous Post