Keluaran 5:1–2 - Siapa TUHAN Itu?
.jpg)
I. Pendahuluan: Konfrontasi antara Kerajaan Allah dan Kuasa Dunia
Kitab Keluaran merupakan salah satu teks paling fundamental dalam seluruh teologi Perjanjian Lama. Ia bukan sekadar kisah pembebasan Israel dari Mesir, tetapi juga drama ilahi tentang pertempuran antara TUHAN dan kuasa dunia.
Pasal 5 memulai babak penting dalam drama tersebut. Musa dan Harun, setelah dipanggil dan diutus oleh Allah di padang Midian (Kel. 3–4), kini berdiri di hadapan Firaun — simbol tertinggi dari manusia yang menolak kedaulatan Allah.
Dua ayat pertama dari pasal ini menjadi pusat konfrontasi itu:
Keluaran 5:1–2 (AYT):
“Kemudian, Musa dan Harun datang menghadap Firaun dan berkata, ‘Beginilah firman TUHAN, Allah Israel, “Biarkanlah umat-Ku pergi supaya mereka mengadakan perayaan bagi-Ku di padang gurun.”’
Namun, Firaun berkata, ‘Siapakah TUHAN itu sehingga aku harus mendengarkan suara-Nya dan membiarkan orang Israel pergi? Aku tidak mengenal TUHAN, dan aku juga tidak akan membiarkan orang Israel pergi.’”
Pertanyaan “Siapakah TUHAN itu?” bukan hanya ejekan dari seorang raja kafir, tetapi juga pernyataan teologis yang menantang otoritas ilahi. Inilah titik awal seluruh kisah Keluaran: pengakuan bahwa hanya TUHAN yang layak disembah, bukan manusia mana pun.
II. Latar Belakang Historis: Musa, Firaun, dan Tujuan Allah
1. Latar Sosial dan Religius Mesir
Mesir pada masa itu bukan sekadar kerajaan besar, melainkan juga pusat penyembahan berhala yang kompleks. Firaun dianggap sebagai dewa hidup — manifestasi dari dewa matahari Ra.
Maka ketika TUHAN memerintahkan Musa untuk berkata, “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel…,” pesan itu bukan hanya tuntutan pembebasan sosial, tetapi serangan langsung terhadap klaim ketuhanan Firaun.
John Calvin dalam Commentary on Exodus menulis:
“Firaun tidak hanya menolak Musa, tetapi menolak Allah yang berbicara melalui Musa. Ketika ia berkata, ‘Aku tidak mengenal TUHAN,’ itu adalah deklarasi pemberontakan terhadap kedaulatan ilahi.”
Dengan demikian, Keluaran 5 bukan hanya catatan sejarah, tetapi pengungkapan konflik teologis universal — antara Allah yang sejati dan semua bentuk ilah palsu, termasuk ego manusia yang menolak tunduk pada firman Allah.
III. Eksposisi Ayat demi Ayat
Keluaran 5:1: “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel…”
Musa berbicara dengan formula profetik yang kuat: “Beginilah firman TUHAN” (koh amar YHWH). Ini adalah deklarasi otoritas ilahi yang tidak bisa ditawar.
Kalimat itu menandai bahwa Musa datang bukan atas otoritas pribadi, tetapi sebagai utusan perjanjian Allah.
Louis Berkhof, dalam Systematic Theology, menjelaskan:
“Ketika seorang nabi berkata, ‘Beginilah firman TUHAN,’ ia menjadi corong kehendak Allah. Ia tidak menawarkan negosiasi, tetapi menyatakan ketetapan ilahi.”
Musa membawa pesan yang sederhana namun revolusioner:
“Biarkanlah umat-Ku pergi supaya mereka mengadakan perayaan bagi-Ku di padang gurun.”
Perintah ini menunjukkan dua hal teologis:
-
Israel disebut “umat-Ku” — identitas perjanjian ditegaskan. Mereka bukan budak Mesir, tetapi milik TUHAN.
-
Tujuan pembebasan adalah penyembahan. Allah tidak hanya membebaskan untuk kebebasan itu sendiri, melainkan agar umat-Nya dapat bersekutu dan beribadah kepada-Nya.
Geerhardus Vos menulis dalam Biblical Theology:
“Keluaran menunjukkan bahwa penebusan tidak terpisah dari penyembahan. Allah menebus agar umat-Nya dapat beribadah, dan ibadah adalah tujuan akhir dari penebusan itu.”
Dengan demikian, kebebasan sejati adalah kebebasan untuk menyembah Allah.
Keluaran 5:2: “Siapakah TUHAN itu sehingga aku harus mendengarkan suara-Nya?”
Inilah puncak keangkuhan manusia. Firaun tidak hanya menolak perintah, tetapi menantang keberadaan Allah itu sendiri.
Kata-kata ini menjadi representasi dari natur manusia berdosa — hati yang memberontak terhadap otoritas Sang Pencipta.
R.C. Sproul menulis:
“Pertanyaan Firaun adalah inti dari semua dosa: penolakan terhadap kedaulatan Allah. Setiap kali manusia bertanya, ‘Mengapa aku harus taat kepada Tuhan?’ ia sedang berbicara dengan suara Firaun.”
John Calvin menambahkan:
“Firaun tidak berkata ia tidak pernah mendengar tentang Allah, tetapi bahwa ia tidak mengakuinya sebagai Allah yang berdaulat. Begitulah hati yang keras: mengenal tetapi tidak tunduk.”
Dalam teologi Reformed, ini dikenal sebagai total depravity — kebobrokan total manusia akibat dosa.
Firaun bukan pengecualian; ia cermin bagi semua manusia tanpa anugerah.
IV. Tema Teologis Utama
1. Otoritas Firman Allah
Ketika Musa berkata, “Beginilah firman TUHAN,” ia berbicara atas nama Allah yang berdaulat mutlak. Dalam pandangan Reformed, otoritas Alkitab bersumber dari Allah yang berbicara — bukan dari manusia yang menulisnya.
Keluaran 5:1 menegaskan bahwa firman Allah bersifat mutlak dan efektif. Ia bukan saran, melainkan perintah yang menuntut ketaatan.
R.C. Sproul berkata:
“Firman Allah bukanlah opini religius, tetapi perintah ilahi. Otoritas tertinggi di dunia ini bukan berada pada raja atau negara, tetapi pada firman yang keluar dari mulut Allah.”
Firaun menolak karena ia tidak mengenal TUHAN. Inilah gambaran dari dunia modern — manusia yang menolak otoritas firman, mengandalkan otonomi moralnya sendiri.
2. Pengakuan “Umat-Ku”: Teologi Perjanjian
Ketika TUHAN berkata, “Biarkanlah umat-Ku pergi,” Ia menegaskan relasi perjanjian antara diri-Nya dan Israel.
Ini bukan relasi politik, tetapi relasi redemptif. Allah memilih, menebus, dan memelihara umat-Nya bukan karena kehebatan mereka, melainkan karena kasih karunia-Nya.
John Calvin menjelaskan:
“Allah tidak menyebut Israel ‘umat-Ku’ karena mereka layak, tetapi karena Ia telah mengikatkan diri-Nya melalui perjanjian. Pemilihan Allah adalah dasar dari seluruh sejarah keselamatan.”
Inilah inti teologi Reformed: pemilihan kasih karunia (election of grace).
Israel tidak membebaskan dirinya sendiri — Allah-lah yang memanggil mereka keluar dari perbudakan.
3. Hati yang Keras dan Kedaulatan Allah
Respon Firaun — “Aku tidak mengenal TUHAN” — memperlihatkan kerasnya hati manusia. Namun, Alkitab juga mencatat bahwa “TUHAN mengeraskan hati Firaun” (Keluaran 9:12).
Bagaimana kita memahami paradoks ini?
Teolog Reformed menegaskan bahwa Allah berdaulat bahkan atas penolakan manusia.
Calvin berkata:
“Tuhan tidak menanamkan dosa ke dalam hati Firaun, tetapi menyerahkannya pada kebobrokan dirinya sendiri sehingga rencana ilahi dinyatakan melalui kebinasaan orang fasik.”
Louis Berkhof menambahkan:
“Kekerasan hati Firaun adalah contoh providensia ilahi yang aktif dalam sejarah manusia, di mana Allah menggunakan kejahatan tanpa menjadi penyebab kejahatan.”
Dengan kata lain, Firaun menolak Allah dengan kehendak bebasnya yang rusak, namun di balik semua itu, Allah sedang menegakkan kemuliaan nama-Nya.
4. Allah yang Dikenal dalam Tindakan Penebusan
Ketika Firaun berkata, “Aku tidak mengenal TUHAN,” Allah akan menjawabnya bukan dengan kata-kata, tetapi dengan perbuatan besar.
Sepuluh tulah yang akan datang merupakan pewahyuan diri Allah kepada Mesir dan dunia.
Geerhardus Vos menulis:
“Allah dikenal bukan melalui spekulasi manusia, tetapi melalui tindakan penebusan dalam sejarah. Keluaran adalah teofani Allah dalam kuasa dan kasih.”
Setiap tulah adalah serangan langsung terhadap dewa-dewa Mesir. Maka, pembebasan Israel adalah deklarasi bahwa TUHAN saja yang Allah.
V. Implikasi Teologi Reformed
1. Supremasi Allah atas Semua Kekuasaan Dunia
Keluaran 5:1–2 mengingatkan kita bahwa semua penguasa dunia hanyalah alat dalam tangan Allah.
Tidak ada kerajaan, bangsa, atau pemimpin yang dapat melawan kehendak-Nya.
R.C. Sproul menegaskan:
“Tidak ada satu atom pun yang bergerak di luar kendali Allah. Jika ada, maka Allah bukan Allah.”
Dalam sejarah, kerajaan-kerajaan seperti Mesir, Babel, Roma — semuanya runtuh. Tetapi kerajaan Allah tetap berdiri, sebab Ia memerintah atas segala sesuatu.
2. Natur Dosa: Pemberontakan terhadap Allah yang Dikenal
Firaun berkata, “Aku tidak mengenal TUHAN.” Namun, Roma 1:21 menjelaskan bahwa semua manusia sebenarnya mengenal Allah melalui ciptaan, tetapi menindas kebenaran itu dalam kelaliman.
Dengan demikian, dosa bukanlah ketidaktahuan intelektual, melainkan pemberontakan moral.
John Calvin menulis dalam Institutes:
“Hati manusia adalah pabrik berhala yang terus memproduksi ilah palsu karena menolak tunduk kepada Allah yang sejati.”
Firaun bukan hanya tokoh sejarah, tetapi cerminan setiap hati manusia tanpa anugerah.
3. Penebusan: Dari Perbudakan kepada Ibadah
TUHAN tidak sekadar berkata, “Biarkan umat-Ku pergi,” tetapi menambahkan, “supaya mereka mengadakan perayaan bagi-Ku.”
Pembebasan dari Mesir memiliki tujuan ibadah.
Dalam teologi Reformed, ini menegaskan bahwa keselamatan bukan akhir, melainkan jalan menuju penyembahan sejati.
Herman Bavinck menulis:
“Manusia diciptakan untuk memuliakan Allah; penebusan memulihkan tujuan ciptaan itu. Maka, ibadah adalah bentuk tertinggi dari kebebasan.”
Kristus, Anak Domba Paskah yang sejati, menebus kita dari perbudakan dosa agar kita menjadi umat penyembah — umat yang bersukacita dalam kasih karunia Allah.
4. Kristus sebagai Penggenapan Musa
Musa diutus kepada Firaun dengan pesan pembebasan; Kristus datang kepada dunia dengan misi yang sama, namun lebih besar: membebaskan umat manusia dari kuasa dosa dan maut.
Perintah “Biarkanlah umat-Ku pergi” menemukan penggenapan tertingginya dalam Injil.
Kristus berkata:
“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk memberitakan kabar baik kepada orang miskin, untuk memberitakan pembebasan kepada orang tawanan.” (Luk. 4:18)
R.C. Sproul menjelaskan:
“Yesus adalah Musa yang lebih besar, yang menghadapi Firaun yang lebih besar — Iblis dan dosa. Melalui salib, Ia menuntut pembebasan kita, bukan dengan tongkat, tetapi dengan darah-Nya.”
Dengan demikian, Keluaran 5 adalah bayangan Injil.
Firaun melambangkan kuasa dosa; Israel melambangkan umat pilihan; Musa melambangkan Kristus; dan Mesir melambangkan dunia yang diperbudak.
VI. Aplikasi bagi Gereja Masa Kini
1. Dunia Modern dan Pertanyaan “Siapa TUHAN itu?”
Pertanyaan Firaun terus bergema hingga hari ini — dalam universitas sekuler, politik, dan bahkan gereja yang kompromistis.
“Siapa Tuhan itu sehingga aku harus tunduk kepada firman-Nya?” adalah pertanyaan modernitas.
Jawaban Reformed jelas:
Tuhan adalah Pencipta, Penguasa, dan Penebus. Tidak ada bagian hidup yang netral di luar kedaulatan-Nya.
Abraham Kuyper pernah berkata:
“Tidak ada satu inci pun dalam seluruh wilayah eksistensi manusia di mana Kristus, yang berdaulat atas segalanya, tidak berkata, ‘Ini milik-Ku!’”
Karena itu, orang Kristen dipanggil untuk menyatakan kedaulatan Allah di setiap bidang kehidupan — dalam pekerjaan, pendidikan, politik, dan budaya.
2. Iman yang Taat kepada Firman
Musa datang dengan firman TUHAN meski tahu Firaun akan menolak.
Demikian pula, umat Tuhan hari ini harus berani memberitakan kebenaran tanpa kompromi, sekalipun dunia menolak.
John Calvin menasihati:
“Tugas kita bukan memastikan hasil, melainkan menaati perintah Allah. Firman yang keluar dari mulut-Nya tidak akan kembali sia-sia.”
Gereja yang setia adalah gereja yang terus berbicara dengan kata pembuka yang sama:
“Beginilah firman TUHAN.”
3. Hati yang Tak Mengenal Tuhan Harus Dikenalkan kepada-Nya
Jawaban bagi dunia yang berkata “Aku tidak mengenal TUHAN” bukanlah argumen intelektual, tetapi pewahyuan Kristus yang hidup.
Melalui pemberitaan Injil, Allah memperkenalkan diri-Nya kepada hati yang keras.
R.C. Sproul menulis:
“Injil bukan ajakan untuk percaya kepada Tuhan yang tidak dikenal, melainkan deklarasi bahwa Tuhan telah menyatakan diri dalam Kristus Yesus.”
Maka tugas gereja bukan sekadar mengajarkan agama, tetapi memperkenalkan Allah yang hidup melalui firman dan kasih.
4. Umat yang Ditebus Harus Hidup dalam Penyembahan
Tujuan pembebasan adalah ibadah.
Israel dibebaskan untuk mempersembahkan korban, bukan untuk kembali ke Mesir.
Begitu juga orang percaya — kita diselamatkan bukan untuk hidup bagi diri sendiri, melainkan untuk memuliakan Allah.
Paulus menulis:
“Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu, muliakanlah Allah dengan tubuhmu.” (1 Korintus 6:20)
VII. Penutup: Allah yang Dikenal Melalui Kedaulatan dan Kasih Karunia
Pertanyaan Firaun — “Siapakah TUHAN itu?” — akhirnya dijawab melalui seluruh narasi Keluaran.
TUHAN menunjukkan diri-Nya sebagai:
-
Pencipta atas alam semesta (melalui tulah-tulah).
-
Penebus umat pilihan (melalui darah anak domba).
-
Penguasa sejarah (melalui pembinasaan musuh di Laut Teberau).
Dan pada puncaknya, dalam Perjanjian Baru, Allah menjawab pertanyaan itu sekali untuk selamanya melalui salib Kristus.
Di sana, dunia kembali bertanya, “Siapakah TUHAN itu?” — dan Allah menjawab melalui Anak-Nya yang tersalib:
“Akulah yang adalah Aku.” (Keluaran 3:14)
“Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.” (Yohanes 14:6)
Refleksi Akhir
-
Keluaran 5:1–2 menunjukkan bahwa pemberontakan terhadap Allah adalah akar dari setiap dosa.
-
Otoritas firman Allah adalah mutlak dan final, melampaui segala otoritas manusia.
-
Anugerah pemilihan membuat umat Allah berbeda — mereka adalah “umat-Ku.”
-
Kristus adalah Musa yang lebih besar, yang datang menuntut kebebasan bagi umat tebusan.
-
Ibadah adalah puncak kebebasan, sebab hanya di hadapan Allah manusia benar-benar hidup.
“Siapa TUHAN itu?”
Ia adalah Allah Abraham, Ishak, dan Yakub; Ia adalah Allah Musa; dan dalam Kristus, Ia adalah Allah kita.
Ia yang mengalahkan Firaun dan membebaskan umat-Nya akan memerintah selama-lamanya.
Soli Deo Gloria — segala kemuliaan hanya bagi Allah