Berjalan dengan Rendah Hati Bersama Allah

Pendahuluan
Ungkapan “Walking Humbly With God” (berjalan dengan rendah hati bersama Allah) sering kali terdengar sederhana, bahkan klise, dalam kehidupan Kristen. Namun di balik kesederhanaannya, frasa ini menyentuh jantung spiritualitas Kristen yang sejati. Dalam tradisi Teologi Reformed, kerendahan hati bukan sekadar sikap etis atau kepribadian yang baik, melainkan suatu konsekuensi teologis yang tak terelakkan dari pengenalan yang benar akan Allah dan manusia.
Teologi Reformed sejak awal menekankan bahwa kehidupan Kristen tidak dapat dipisahkan dari doktrin. Cara seseorang hidup di hadapan Allah selalu berakar pada apa yang ia yakini tentang Allah. Oleh karena itu, berjalan dengan rendah hati bersama Allah bukanlah sekadar ajakan moral, tetapi merupakan buah dari pemahaman yang benar tentang kedaulatan Allah, keberdosaan manusia, anugerah keselamatan, dan karya Roh Kudus dalam pengudusan.
Artikel ini akan membahas makna “walking humbly with God” dari perspektif Teologi Reformed dengan menelusuri fondasi doktrinalnya, pemikiran para teolog Reformed, serta implikasi praktisnya bagi kehidupan Kristen masa kini.
1. Kerendahan Hati sebagai Respons terhadap Siapa Allah Itu
Dalam pemikiran Reformed, segala pembahasan tentang kehidupan Kristen selalu dimulai dari Allah, bukan manusia. John Calvin dalam Institutes of the Christian Religion menegaskan bahwa seluruh hikmat sejati terdiri dari dua pengetahuan: pengetahuan tentang Allah dan pengetahuan tentang diri sendiri. Kedua pengetahuan ini saling berkaitan erat dan tidak dapat dipisahkan.
Ketika manusia mengenal Allah sebagai Pribadi yang kudus, berdaulat, mahakuasa, dan sempurna, secara otomatis manusia akan menyadari keterbatasan, kelemahan, dan keberdosaannya. Dari sinilah kerendahan hati sejati lahir. Kerendahan hati bukanlah hasil usaha psikologis untuk “merendahkan diri”, melainkan respon alami dari hati yang tersingkap di hadapan kemuliaan Allah.
R.C. Sproul sering menekankan bahwa salah satu krisis terbesar dalam gereja modern adalah hilangnya rasa kagum (awe) terhadap kekudusan Allah. Ketika kekudusan Allah direduksi, kerendahan hati manusia pun ikut memudar. Sebaliknya, semakin seseorang memahami kekudusan dan keagungan Allah, semakin kecil ia melihat dirinya sendiri—bukan dalam arti nihilistik, tetapi dalam ketergantungan penuh kepada Allah.
Berjalan dengan rendah hati bersama Allah, dengan demikian, berarti hidup setiap hari dalam kesadaran bahwa Allah adalah pusat, bukan diri sendiri.
2. Kerendahan Hati dan Doktrin Dosa Total
Salah satu pilar utama Teologi Reformed adalah doktrin Total Depravity (kerusakan total manusia). Doktrin ini sering disalahpahami seolah-olah manusia sepenuhnya tidak mampu melakukan kebaikan apa pun. Namun dalam pemahaman Reformed yang tepat, doktrin ini menyatakan bahwa seluruh aspek keberadaan manusia telah tercemar oleh dosa, sehingga manusia tidak mampu menyelamatkan dirinya atau berbalik kepada Allah dengan kekuatannya sendiri.
Pemahaman ini memiliki implikasi langsung terhadap kerendahan hati. Jika keselamatan bukan hasil kecerdasan, moralitas, atau keputusan otonom manusia, maka tidak ada ruang bagi kesombongan rohani. Michael Horton menekankan bahwa Injil Reformed menghancurkan segala bentuk self-salvation project. Manusia tidak datang kepada Allah sebagai rekan kerja, melainkan sebagai orang berdosa yang sepenuhnya bergantung pada anugerah.
Berjalan dengan rendah hati bersama Allah berarti hidup dengan kesadaran terus-menerus bahwa segala kebaikan rohani dalam diri orang percaya adalah hasil karya anugerah Allah, bukan prestasi pribadi. Kesadaran ini membentuk sikap hati yang lembut, tidak defensif, dan terbuka untuk ditegur.
3. Anugerah sebagai Dasar Kerendahan Hati
Jika dosa total menghancurkan kesombongan manusia, maka anugerah Allah membangun kerendahan hati yang penuh syukur. Herman Bavinck menegaskan bahwa anugerah tidak meniadakan natur manusia, tetapi menebus dan memperbaharuinya. Namun pembaharuan ini selalu bersifat anugerah, bukan hak.
Dalam kerangka Reformed, keselamatan sepenuhnya adalah karya Allah dari awal hingga akhir. Doktrin pemilihan, panggilan efektif, pembenaran, pengudusan, dan pemeliharaan ilahi semuanya menegaskan bahwa Allah adalah pelaku utama dalam keselamatan. Manusia adalah penerima anugerah, bukan penggagasnya.
Kesadaran ini melahirkan kerendahan hati yang sehat. Orang percaya tidak hidup dalam rasa bersalah yang terus-menerus, tetapi juga tidak hidup dalam kesombongan rohani. Ia hidup dalam keseimbangan antara keyakinan akan kasih karunia Allah dan kesadaran akan ketergantungan total kepada-Nya.
Sinclair B. Ferguson menyebut kerendahan hati Kristen sebagai “humility that grows in the soil of grace”. Semakin seseorang memahami kedalaman anugerah Allah, semakin ia rendah hati—bukan karena merasa tidak berharga, tetapi karena tahu bahwa ia sangat dikasihi tanpa layak menerimanya.
4. Berjalan Bersama Allah: Dimensi Relasional, Bukan Sekadar Moral
Istilah “berjalan bersama Allah” menunjukkan relasi yang hidup dan dinamis. Dalam Teologi Reformed, kehidupan Kristen bukan hanya ketaatan eksternal terhadap hukum, melainkan persekutuan perjanjian dengan Allah.
Abraham Kuyper menekankan bahwa Allah bukan hanya Tuhan atas gereja, tetapi Tuhan atas seluruh kehidupan. Tidak ada satu inci pun dari realitas yang tidak berada di bawah kedaulatan Kristus. Oleh karena itu, berjalan bersama Allah mencakup seluruh aspek kehidupan: pekerjaan, keluarga, budaya, politik, dan pelayanan.
Kerendahan hati dalam konteks ini berarti hidup dengan kesadaran bahwa setiap aspek kehidupan berada di hadapan Allah (coram Deo). Orang percaya tidak memilih kapan ia rendah hati dan kapan ia tidak. Kerendahan hati menjadi cara hidup yang konsisten karena ia sadar bahwa Allah hadir dalam seluruh realitas hidupnya.
5. Kerendahan Hati dan Pengudusan
Dalam Teologi Reformed, pengudusan adalah karya Roh Kudus yang berlangsung seumur hidup. Berbeda dengan pembenaran yang bersifat sekali untuk selamanya, pengudusan adalah proses yang melibatkan pertumbuhan, pergumulan, dan ketaatan.
Kerendahan hati sangat penting dalam proses ini. Tanpa kerendahan hati, seseorang akan sulit mengakui dosa, menolak teguran, dan merasa tidak membutuhkan pertolongan. Sebaliknya, orang yang rendah hati akan melihat pengudusan sebagai perjalanan panjang bersama Allah, bukan sebagai pencapaian spiritual.
John Owen, seorang teolog Puritan yang sangat berpengaruh dalam tradisi Reformed, menekankan pentingnya mematikan dosa (mortification of sin). Namun Owen juga mengingatkan bahwa usaha mematikan dosa harus dilakukan dalam ketergantungan penuh kepada Roh Kudus. Ketergantungan ini adalah ekspresi nyata dari kerendahan hati.
Berjalan dengan rendah hati bersama Allah berarti mengakui bahwa pertumbuhan rohani tidak terjadi secara otomatis, dan bahwa setiap langkah ketaatan membutuhkan anugerah yang terus-menerus.
6. Kerendahan Hati dalam Komunitas Iman
Teologi Reformed tidak pernah memisahkan iman pribadi dari kehidupan komunitas. Gereja dipahami sebagai tubuh Kristus, tempat Allah bekerja melalui firman, sakramen, dan persekutuan orang percaya.
Kerendahan hati menjadi fondasi bagi kehidupan gereja yang sehat. Tanpa kerendahan hati, perbedaan pendapat akan berubah menjadi perpecahan, dan pelayanan akan berubah menjadi ajang pembuktian diri. Sebaliknya, kerendahan hati memungkinkan orang percaya untuk saling melayani, saling mengampuni, dan saling membangun.
Michael Horton menekankan bahwa gereja bukanlah kumpulan orang-orang yang “sudah jadi”, melainkan komunitas para pendosa yang sedang dibentuk oleh anugerah. Kesadaran ini mencegah sikap menghakimi dan menumbuhkan belas kasihan.
7. Tantangan Zaman Modern terhadap Kerendahan Hati
Budaya modern sangat menekankan otonomi, pencapaian diri, dan ekspresi individual. Nilai-nilai ini sering kali bertentangan dengan spiritualitas kerendahan hati yang diajarkan Alkitab dan ditegaskan dalam Teologi Reformed.
Dalam konteks ini, berjalan dengan rendah hati bersama Allah menjadi sebuah tindakan kontrakultural. Orang percaya dipanggil untuk menolak narasi dunia yang menempatkan manusia sebagai pusat dan menggantinya dengan kehidupan yang berpusat pada Allah.
R.C. Sproul mengingatkan bahwa iman Kristen bukan tentang membesarkan harga diri manusia, tetapi tentang meninggikan kemuliaan Allah. Ironisnya, justru ketika manusia berhenti memusatkan hidup pada dirinya sendiri, ia menemukan makna hidup yang sejati.
8. Kerendahan Hati sebagai Kesaksian Injil
Akhirnya, berjalan dengan rendah hati bersama Allah bukan hanya demi pertumbuhan pribadi, tetapi juga sebagai kesaksian Injil bagi dunia. Dunia yang penuh dengan kesombongan, persaingan, dan pembenaran diri membutuhkan teladan kerendahan hati yang lahir dari Injil.
Ketika orang percaya hidup dengan rendah hati—mengakui kelemahan, mengandalkan anugerah, dan memuliakan Allah—mereka sedang menyatakan realitas kerajaan Allah yang berbeda dari sistem dunia.
Penutup
“Walking Humbly With God” dalam perspektif Teologi Reformed bukanlah slogan spiritual yang dangkal, melainkan panggilan hidup yang berakar dalam doktrin yang kokoh. Kerendahan hati lahir dari pengenalan yang benar akan Allah, diperkuat oleh pemahaman akan dosa dan anugerah, dipelihara dalam relasi perjanjian, dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Berjalan dengan rendah hati bersama Allah berarti hidup coram Deo—di hadapan Allah—dalam seluruh aspek kehidupan, dengan hati yang terus dibentuk oleh anugerah-Nya. Inilah kehidupan Kristen yang sejati: bukan kehidupan yang berpusat pada diri sendiri, tetapi kehidupan yang bersandar sepenuhnya pada Allah yang berdaulat dan penuh kasih.