Doktrin Pengudusan (The Doctrine of Sanctification)

Pendahuluan: Kehidupan Kudus sebagai Buah dari Anugerah
Di antara doktrin-doktrin besar dalam teologi Reformed, pengudusan (sanctification) menempati tempat yang penting dalam pengalaman iman orang percaya. Jika pembenaran (justification) adalah karya Allah yang sekali untuk selama-lamanya yang mengubah status hukum kita di hadapan-Nya, maka pengudusan adalah proses berkelanjutan yang mengubah keberadaan moral dan rohani kita agar serupa dengan Kristus.
John Calvin dalam Institutes of the Christian Religion berkata:
“Kristus tidak dapat dibagi dua: karena Dia telah membenarkan kita, Dia juga harus menguduskan kita. Anugerah yang sama yang menghapus dosa juga menumbuhkan kekudusan.”
Pengudusan bukanlah hasil usaha manusia, tetapi hasil karya Roh Kudus dalam orang yang telah dilahirkan kembali. Namun, di sisi lain, pengudusan melibatkan tanggung jawab manusia: hidup dalam ketaatan dan disiplin rohani.
Louis Berkhof menggambarkan keseimbangan ini:
“Pengudusan adalah karya Allah dan juga tugas manusia. Allah menguduskan kita melalui Roh-Nya, tetapi manusia dipanggil untuk mengerjakan keselamatan itu dengan takut dan gentar.” (Systematic Theology)
Dengan demikian, doktrin pengudusan adalah jembatan antara anugerah dan ketaatan, antara karya Allah dan tanggapan manusia, antara pembenaran dan pemuliaan.
1. Definisi Pengudusan Menurut Teologi Reformed
Kata sanctification berasal dari bahasa Latin sanctificare, yang berarti “membuat kudus”. Dalam Alkitab, kata ini diterjemahkan dari akar Ibrani qadash (קדשׁ) dan Yunani hagiazō (ἁγιάζω), yang keduanya berarti “memisahkan” atau “mengkhususkan untuk Allah”.
a. Pengertian Dasar
Secara teologis, pengudusan berarti pekerjaan Roh Kudus yang terus-menerus memperbarui orang percaya, mematikan dosa, dan menumbuhkan keserupaan dengan Kristus.
Westminster Shorter Catechism (Q. 35) mendefinisikan:
“Pengudusan adalah pekerjaan kasih karunia Allah, di mana kita diperbarui di dalam seluruh pribadi menurut gambar Allah, dan dimampukan semakin mati terhadap dosa dan hidup bagi kebenaran.”
Definisi ini mencakup dua aspek penting:
-
Aspek negatif: mematikan dosa (mortificatio).
-
Aspek positif: hidup bagi kebenaran (vivificatio).
b. Hubungan dengan Pembenaran
Reformed theology membedakan, tetapi tidak memisahkan, antara pembenaran dan pengudusan:
-
Pembenaran adalah deklarasi hukum Allah tentang status kita yang benar di hadapan-Nya melalui Kristus.
-
Pengudusan adalah transformasi moral dan spiritual oleh Roh Kudus setelah kita dibenarkan.
Herman Bavinck menulis:
“Pembenaran adalah dasar pengudusan, dan pengudusan adalah bukti pembenaran. Keduanya berasal dari sumber yang sama — persatuan dengan Kristus.” (Reformed Dogmatics, Vol. 4)
2. Landasan Alkitabiah Pengudusan
Pengudusan bukanlah konsep etika manusia, melainkan ajaran yang berakar kuat dalam Kitab Suci.
a. Dalam Perjanjian Lama
Dalam Imamat 20:7–8, Allah berfirman:
“Kuduskanlah dirimu dan jadilah kudus, sebab Akulah TUHAN, Allahmu.”
Kekudusan di sini berarti pemisahan dari dosa dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. Umat Israel dikuduskan bukan karena kehebatan mereka, tetapi karena dipilih dan ditebus oleh Allah.
Bavinck mencatat:
“Kekudusan dalam PL bukan sekadar moralitas, melainkan konsekuensi dari pemilihan Allah — status yang menuntut kehidupan yang berbeda.”
b. Dalam Perjanjian Baru
Dalam PB, pengudusan selalu terkait erat dengan Kristus dan Roh Kudus.
-
1 Tesalonika 4:3: “Inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhkan diri dari percabulan.”
-
Yohanes 17:17: “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.”
-
Roma 6:22: “Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan akhirnya kepada hidup yang kekal.”
R.C. Sproul menafsirkan ayat ini dengan mengatakan:
“Kekudusan bukan pilihan opsional bagi orang percaya, tetapi bukti dari kehidupan baru. Orang yang diselamatkan pasti sedang diubahkan.”
3. Aspek-Aspek Pengudusan
Dalam teologi Reformed, pengudusan memiliki dua aspek utama: posisional (sekali untuk selamanya) dan progresif (berkelanjutan seumur hidup).
a. Pengudusan Positional (Sekali untuk Selamanya)
Ini terjadi pada saat kelahiran baru. Orang percaya dipisahkan dari dunia untuk menjadi milik Allah.
1 Korintus 6:11 menyatakan:
“Kamu telah dibasuh, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.”
Bavinck menjelaskan:
“Pengudusan posisional adalah status baru yang diberikan oleh Allah pada saat seseorang dipersatukan dengan Kristus. Ia dipisahkan dari dosa dan dinyatakan sebagai milik Allah.”
Dengan kata lain, setiap orang percaya sudah dikuduskan secara hukum, meskipun belum sempurna secara moral.
b. Pengudusan Progresif (Pertumbuhan Kekudusan)
Ini adalah proses seumur hidup di mana Roh Kudus terus mengubah karakter kita. Proses ini melibatkan kerjasama aktif antara anugerah Allah dan ketaatan manusia.
Filipi 2:12–13 menyatakan:
“Kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar... karena Allah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.”
John Owen menulis dalam The Mortification of Sin:
“Orang percaya harus mematikan dosa setiap hari. Tidak ada waktu di mana dosa berhenti menyerang, dan tidak ada waktu di mana orang percaya boleh berhenti berperang.”
Proses ini penuh dengan ketegangan: antara “sudah” dan “belum”. Kita telah dikuduskan dalam Kristus, tetapi kita sedang dikuduskan oleh Roh-Nya.
4. Pengudusan dan Persatuan dengan Kristus
Salah satu kunci utama dalam teologi Reformed adalah konsep union with Christ — persatuan dengan Kristus. Semua berkat keselamatan, termasuk pengudusan, mengalir dari hubungan ini.
Calvin berkata:
“Selama Kristus tetap di luar kita, semua yang Dia lakukan tidak berguna bagi kita. Tetapi ketika kita dipersatukan dengan Dia melalui iman, kita menerima kehidupan, kebenaran, dan kekudusan-Nya.”
Melalui persatuan ini:
-
Kita mati terhadap dosa (Roma 6:6–11).
-
Kita hidup dalam kebaruan hidup (Roma 6:4).
-
Kita berbuah dalam Roh (Galatia 5:22–23).
Persatuan ini bukan sekadar relasi emosional, tetapi realitas rohani yang efektif, di mana kuasa kebangkitan Kristus bekerja dalam diri kita.
5. Roh Kudus sebagai Agen Pengudusan
Roh Kudus adalah pribadi ilahi yang bekerja secara aktif dalam proses pengudusan. Tanpa karya Roh Kudus, kekudusan hanyalah moralitas kosong.
2 Tesalonika 2:13 menegaskan:
“Allah telah memilih kamu dari semula untuk diselamatkan dalam pengudusan oleh Roh dan kepercayaan kepada kebenaran.”
Louis Berkhof menulis:
“Roh Kudus menerapkan keselamatan yang diperoleh Kristus. Ia menginsafkan dosa, memperbarui hati, dan menumbuhkan buah kebenaran.”
Peran Roh Kudus mencakup:
-
Menginsafkan dosa – Yohanes 16:8
-
Membimbing kepada kebenaran – Yohanes 16:13
-
Menumbuhkan buah Roh – Galatia 5:22–23
-
Memperkuat iman – Efesus 3:16–17
R.C. Sproul menyebut Roh Kudus sebagai “The Divine Sanctifier”, Sang Pengudus Ilahi yang menjadikan umat kudus semakin menyerupai Kristus.
6. Tanggung Jawab Manusia dalam Pengudusan
Meskipun pengudusan adalah karya anugerah, manusia tidak pasif. Teologi Reformed menolak ekstrem quietism (menunggu saja) dan moralism (usaha tanpa anugerah).
Sebaliknya, pengudusan adalah kerjasama anugerah dan ketaatan — Allah bekerja di dalam kita, dan kita bekerja karena Allah bekerja.
Beberapa aspek tanggung jawab manusia:
a. Disiplin Rohani
Doa, firman, sakramen, dan persekutuan kudus adalah sarana anugerah. Melalui ini, Allah menumbuhkan iman dan keserupaan dengan Kristus.
Calvin menyebutnya means of grace:
“Allah telah menetapkan sarana di mana Ia menyalurkan kasih karunia-Nya kepada kita. Orang yang mengabaikannya menolak pertumbuhan rohani.”
b. Pertobatan Sehari-hari
Pengudusan bukan berarti tidak berdosa, tetapi perang terus-menerus melawan dosa.
Martin Luther bahkan menulis dalam tesis pertamanya:
“Seluruh hidup orang percaya adalah pertobatan.”
c. Ketaatan dalam Penderitaan
Roh Kudus sering menggunakan penderitaan untuk memurnikan iman.
Ibrani 12:10–11 berkata:
“Allah mendidik kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.”
7. Tantangan dalam Proses Pengudusan
a. Sisa Dosa dalam Orang Percaya
Walaupun telah dilahirkan baru, orang percaya masih bergumul dengan dosa. Paulus sendiri berseru:
“Sebab aku tidak melakukan apa yang aku kehendaki, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” (Roma 7:15)
Bavinck menjelaskan:
“Pengudusan bukanlah pemusnahan dosa, tetapi penaklukannya. Dosa tetap ada, tetapi tidak lagi berkuasa.”
b. Bahaya Legalistik dan Antinomian
-
Legalistik: menganggap kekudusan adalah hasil usaha manusia.
-
Antinomian: menolak ketaatan karena menganggap anugerah cukup tanpa perubahan hidup.
Reformed theology menolak keduanya. Kasih karunia tidak meniadakan ketaatan, tetapi memampukan ketaatan.
Calvin menulis:
“Kita tidak diselamatkan oleh ketaatan kita, tetapi tidak ada keselamatan tanpa ketaatan.”
8. Buah dan Tanda Pengudusan
Bagaimana kita tahu bahwa kita sedang dikuduskan?
Alkitab memberikan beberapa tanda:
-
Kerendahan hati yang bertumbuh. Orang kudus semakin sadar akan dosanya.
-
Kasih yang bertambah. Kepada Allah dan sesama (Yohanes 13:35).
-
Ketaatan yang konsisten. Yohanes 14:15: “Jika kamu mengasihi Aku, turutilah perintah-Ku.”
-
Buah Roh. Galatia 5:22–23 — kasih, sukacita, damai, kesabaran, dsb.
-
Ketekunan sampai akhir. Mereka yang dikuduskan tidak mundur dari iman.
Jonathan Edwards menulis:
“Tanda utama dari kekudusan sejati adalah kasih yang rendah hati kepada Allah dan ketaatan yang tulus kepada kehendak-Nya.”
9. Pengudusan dan Gereja
Pengudusan bukan pengalaman individual semata, tetapi juga komunal. Gereja adalah tempat Allah menguduskan umat-Nya melalui firman, sakramen, dan persekutuan.
Efesus 5:25–27 menggambarkan Kristus yang menguduskan gereja:
“Kristus telah mengasihi jemaat dan menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya... supaya jemaat itu kudus dan tak bercela.”
Bavinck menulis:
“Gereja adalah komunitas pengudusan — bukan karena semua anggotanya sempurna, tetapi karena Roh Kudus bekerja di tengah-tengahnya.”
Pengudusan gereja berarti hidup bersama dalam kasih, disiplin, dan pelayanan saling membangun.
10. Akhir dari Pengudusan: Pemuliaan
Pengudusan mencapai puncaknya dalam pemuliaan (glorification). Ketika Kristus datang kembali, kita akan disempurnakan sepenuhnya.
1 Yohanes 3:2 berkata:
“Kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.”
Pada saat itu:
-
Dosa akan dihapus total.
-
Keserupaan dengan Kristus akan sempurna.
-
Penderitaan akan diganti dengan sukacita kekal.
Berkhof menulis:
“Pemuliaan adalah pengudusan yang disempurnakan. Proses yang dimulai di bumi mencapai kesempurnaan di surga.”
11. Aplikasi Praktis dari Doktrin Pengudusan
-
Hidup Kudus adalah Panggilan, Bukan Pilihan.
Kekudusan adalah tanda sejati dari keselamatan, bukan tambahan moral. -
Pertumbuhan Rohani Bersumber dari Anugerah.
Kita berjuang bukan agar Allah mengasihi kita, tetapi karena Allah telah mengasihi kita. -
Disiplin dan Doa adalah Sarana Anugerah.
Tanpa doa, firman, dan persekutuan, pengudusan menjadi kering dan dangkal. -
Kesadaran akan Dosa Membawa Kedekatan, Bukan Keputusasaan.
Orang yang dikuduskan semakin sadar akan kelemahan dirinya dan semakin bergantung pada Kristus. -
Penderitaan adalah Alat Pemurnian.
Dalam tangan Allah, setiap air mata menjadi bagian dari rencana pengudusan.
12. Kesimpulan: Kekudusan sebagai Bukti dan Sukacita
Pengudusan bukan sekadar proses moral, tetapi buah dari kehidupan baru dalam Kristus.
Kita tidak mengejar kekudusan untuk memperoleh keselamatan, tetapi karena telah diselamatkan.
Calvin berkata:
“Anugerah yang tidak menghasilkan kekudusan adalah anugerah palsu.”
Roh Kudus bekerja terus-menerus di dalam diri orang percaya untuk mematikan dosa, memperbarui pikiran, dan membentuk keserupaan dengan Kristus — hingga hari di mana kita benar-benar menjadi kudus, tanpa dosa, di hadapan takhta Allah.
Bavinck menutup dengan indah:
“Keselamatan bukan hanya pembebasan dari dosa, tetapi pembentukan kembali gambar Allah dalam manusia — dan itulah kemuliaan tertinggi dari pengudusan.”