Kisah Para Rasul 11:18: Pertobatan yang Dikaruniakan Allah bagi Bangsa-Bangsa Lain

Kisah Para Rasul 11:18: Pertobatan yang Dikaruniakan Allah bagi Bangsa-Bangsa Lain

Pendahuluan

Kisah Para Rasul 11:18 adalah salah satu ayat kunci dalam seluruh narasi Perjanjian Baru yang menyingkapkan keluasan anugerah Allah dan kedaulatan-Nya dalam keselamatan. Ayat ini menjadi titik balik penting dalam sejarah gereja mula-mula, ketika orang-orang Yahudi percaya akhirnya mengakui bahwa Allah juga mengaruniakan pertobatan yang membawa hidup kepada bangsa-bangsa non-Yahudi.

Dalam tradisi teologi Reformed, ayat ini memiliki bobot doktrinal yang sangat besar. Di dalamnya terkandung pengajaran tentang anugerah Allah yang berdaulat, natur pertobatan sejati, karya Roh Kudus, dan universalitas Injil. Para teolog Reformed seperti Yohanes Calvin, Herman Bavinck, Louis Berkhof, dan R.C. Sproul melihat Kisah Para Rasul 11:18 bukan sekadar laporan historis, melainkan pernyataan teologis yang mendalam tentang bagaimana keselamatan bekerja sepenuhnya oleh inisiatif Allah.

Artikel ini akan menyajikan eksposisi Kisah Para Rasul 11:18 secara menyeluruh, disertai pandangan para pakar teologi Reformed, serta aplikasi teologis dan pastoral bagi gereja masa kini.

Teks Alkitab: Kisah Para Rasul 11:18

“Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah, katanya: ‘Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.’”

I. Latar Belakang Historis dan Konteks Naratif

1. Gereja Mula-Mula dan Ketegangan Yahudi–Non-Yahudi

Gereja mula-mula pada awalnya didominasi oleh orang Yahudi. Mereka percaya kepada Yesus sebagai Mesias, tetapi masih membawa banyak asumsi teologis dan budaya Yahudi, termasuk anggapan bahwa keselamatan berkaitan erat dengan identitas etnis Israel.

Masuknya bangsa-bangsa lain (Gentiles) ke dalam gereja tanpa harus menjadi Yahudi terlebih dahulu menimbulkan ketegangan serius. Kisah Para Rasul 10–11 mencatat peristiwa monumental tentang pertobatan Kornelius, seorang perwira Romawi, melalui pelayanan Rasul Petrus.

2. Petrus Dipertanyakan oleh Jemaat Yerusalem

Kisah Para Rasul 11 dimulai dengan kritik keras terhadap Petrus karena ia masuk ke rumah orang tidak bersunat dan makan bersama mereka. Dalam konteks Yahudi, ini adalah pelanggaran serius terhadap hukum adat.

Namun Petrus tidak membela diri secara emosional, melainkan menjelaskan karya Allah secara kronologis dan teologis, termasuk penglihatan dari Tuhan dan pencurahan Roh Kudus atas bangsa-bangsa lain.

II. Eksposisi Ayat demi Ayat Kisah Para Rasul 11:18

A. “Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang”

Respons pertama jemaat Yerusalem adalah ketenangan. Ketegangan, kecurigaan, dan potensi perpecahan mereda ketika mereka menyadari bahwa apa yang terjadi bukanlah inisiatif Petrus, melainkan karya Allah sendiri.

Yohanes Calvin menekankan bahwa ketika Firman Allah dijelaskan dengan benar, keberatan manusia seharusnya tunduk. Menurut Calvin, ketenangan ini adalah buah dari kerendahan hati di hadapan kebenaran ilahi.

B. “Lalu memuliakan Allah”

Reaksi selanjutnya bukan sekadar menerima secara intelektual, tetapi memuliakan Allah. Ini menunjukkan bahwa mereka memahami bahwa keselamatan bangsa-bangsa lain bukan karya manusia, melainkan anugerah Allah yang patut dipuji.

Herman Bavinck menyatakan bahwa ciri utama pemahaman teologis yang benar adalah doxologi—pujian kepada Allah. Ketika anugerah dipahami dengan benar, respons yang lahir adalah penyembahan.

C. “Allah mengaruniakan pertobatan”

Frasa ini sangat penting secara teologis. Pertobatan tidak digambarkan sebagai hasil keputusan manusia semata, tetapi sebagai karunia Allah.

Louis Berkhof menegaskan bahwa dalam teologi Reformed, pertobatan adalah bagian dari karya keselamatan yang dikerjakan Allah secara efektif di dalam hati manusia melalui Roh Kudus. Manusia sungguh-sungguh bertobat, tetapi hanya karena Allah terlebih dahulu bekerja.

D. “Yang memimpin kepada hidup”

Pertobatan yang sejati selalu menghasilkan hidup—hidup baru di dalam Kristus, baik secara rohani sekarang maupun hidup kekal kelak.

R.C. Sproul menekankan bahwa pertobatan Alkitabiah bukan hanya perubahan moral, tetapi perubahan status di hadapan Allah: dari maut kepada hidup.

III. Pertobatan sebagai Anugerah dalam Teologi Reformed

1. Pertobatan dan Regenerasi

Dalam teologi Reformed, pertobatan berkaitan erat dengan kelahiran baru (regenerasi). Manusia yang mati dalam dosa tidak mungkin bertobat dengan kekuatannya sendiri.

Efesus 2:1 menyatakan bahwa manusia mati secara rohani. Oleh karena itu, pertobatan harus didahului oleh karya Roh Kudus.

Calvin menyebut pertobatan sebagai “buah dari pembaruan hati yang dikerjakan Allah.”

2. Penolakan terhadap Sinergisme

Kisah Para Rasul 11:18 secara implisit menolak pandangan bahwa keselamatan adalah hasil kerja sama setara antara Allah dan manusia.

Bavinck menulis bahwa jika pertobatan adalah karunia, maka segala kemuliaan keselamatan harus dikembalikan kepada Allah saja (Soli Deo Gloria).

IV. Universalitas Injil dan Rencana Allah

1. Keselamatan bagi Bangsa-Bangsa Lain

Ayat ini menegaskan bahwa Injil tidak terbatas pada satu etnis. Janji kepada Abraham bahwa “olehmu semua bangsa akan diberkati” (Kejadian 12:3) mulai digenapi secara nyata.

Calvin melihat masuknya bangsa-bangsa lain sebagai bukti kesetiaan Allah pada janji perjanjian-Nya.

2. Gereja sebagai Komunitas Baru

Kisah Para Rasul 11:18 membuka jalan bagi gereja multietnis. Identitas umat Allah tidak lagi ditentukan oleh sunat atau hukum Taurat, tetapi oleh iman kepada Kristus.

Sproul menegaskan bahwa gereja adalah komunitas anugerah, bukan komunitas etnis atau budaya.

V. Kedaulatan Allah dalam Sejarah Keselamatan

Peristiwa dalam Kisah Para Rasul 11 menunjukkan bahwa Allah berdaulat atas:

  • Pewahyuan (penglihatan kepada Petrus)

  • Penginjilan (pemberitaan Injil kepada Kornelius)

  • Pencurahan Roh Kudus

  • Respons iman dan pertobatan

Tidak ada satu pun unsur yang terjadi secara kebetulan.

Berkhof menegaskan bahwa sejarah gereja adalah sejarah karya Allah yang berdaulat.

VI. Dimensi Pneumatologis: Peran Roh Kudus

Roh Kudus adalah agen utama dalam pertobatan bangsa-bangsa lain. Ia bekerja sebelum Petrus selesai berkhotbah.

Ini menegaskan bahwa Roh Kudus tidak dibatasi oleh struktur atau tradisi manusia.

Bavinck menyatakan bahwa Roh Kudus adalah penghubung antara karya Kristus dan penerapannya dalam hidup orang percaya.

VII. Implikasi Doktrinal

1. Doktrin Anugerah yang Efektif

Pertobatan yang dikaruniakan Allah pasti menghasilkan hidup. Ini sejalan dengan doktrin Irresistible Grace dalam tradisi Reformed.

2. Jaminan Keselamatan

Jika pertobatan adalah karunia Allah, maka keselamatan orang percaya tidak bergantung pada kekuatan manusia yang rapuh, tetapi pada kesetiaan Allah.

Sproul menekankan bahwa doktrin ini memberi penghiburan besar bagi orang percaya.

VIII. Aplikasi Pastoral dan Gerejawi

1. Kerendahan Hati dalam Pelayanan

Gereja harus belajar dari jemaat Yerusalem: tunduk pada karya Allah meski melampaui kategori teologis dan budaya yang lama.

2. Semangat Misi

Jika Allah mengaruniakan pertobatan kepada bangsa-bangsa lain, maka gereja dipanggil untuk memberitakan Injil kepada semua orang tanpa diskriminasi.

IX. Kisah Para Rasul 11:18 dan Injil Kristus

Pada akhirnya, ayat ini tidak bisa dilepaskan dari karya Kristus:

  • Kristus mati bagi semua umat pilihan-Nya

  • Kristus bangkit membawa hidup

  • Kristus mencurahkan Roh Kudus

Pertobatan yang membawa hidup adalah buah dari salib dan kebangkitan Kristus.

Calvin menegaskan bahwa tidak ada satu pun berkat keselamatan yang terpisah dari Kristus.

X. Refleksi Teologis Akhir

Kisah Para Rasul 11:18 mengajak gereja untuk:

  • Mengagungkan anugerah Allah

  • Menolak kesombongan rohani

  • Menghidupi kesatuan dalam Kristus

  • Bertekun dalam misi Injil

Ayat ini mengingatkan kita bahwa keselamatan bukan milik kelompok tertentu, melainkan karya Allah bagi umat pilihan-Nya dari segala bangsa.

Kesimpulan

Kisah Para Rasul 11:18 adalah deklarasi agung tentang anugerah Allah yang berdaulat. Allah bukan hanya membuka pintu keselamatan bagi bangsa-bangsa lain, tetapi juga mengaruniakan pertobatan yang membawa hidup.

Dalam terang teologi Reformed, ayat ini menegaskan bahwa:

  • Pertobatan adalah karunia Allah

  • Keselamatan bersumber dari kedaulatan-Nya

  • Injil bersifat universal

  • Respons yang tepat adalah memuliakan Allah

Kiranya gereja masa kini terus hidup dalam kerendahan hati, ketaatan, dan pujian, sambil memberitakan Injil anugerah kepada segala bangsa, sampai Kristus datang kembali.

“Sebab dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia-lah segala sesuatu. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.” (Roma 11:36)

Next Post Previous Post