Zakharia 11:7–9 — Gembala yang Ditolak dan Penghakiman Allah

Zakharia 11:7–9 — Gembala yang Ditolak dan Penghakiman Allah

Pendahuluan

Kitab Zakharia merupakan salah satu kitab nabi kecil dalam Perjanjian Lama yang sangat kaya dengan simbol, nubuat Mesianik, serta gambaran mengenai relasi antara Allah dan umat-Nya. Pasal 11 khususnya sering dianggap sebagai bagian yang sulit ditafsirkan karena penuh simbol gembala, tongkat, dan tindakan profetik yang bersifat dramatis. Dalam tradisi teologi Reformed, bagian ini sering dipahami dalam terang kedaulatan Allah, perjanjian Allah dengan umat-Nya, dan juga sebagai bayangan yang mengarah kepada Kristus sebagai Gembala yang Baik yang akhirnya ditolak oleh umat-Nya.

Zakharia 11:7–9 menggambarkan seorang gembala yang diutus untuk menggembalakan domba-domba yang sebenarnya sedang menuju kebinasaan. Dalam narasi ini, sang gembala mengambil dua tongkat yang diberi nama simbolis: Kemurahan (Grace/Favor) dan Ikatan (Union/Bond). Dua simbol ini sangat penting dalam memahami hubungan perjanjian antara Allah dengan Israel.

Dalam artikel ini kita akan membahas:

  • Terjemahan dan makna teks
  • Latar belakang sejarah dan konteks kitab Zakharia
  • Simbol dua tongkat
  • Arti “tiga gembala”
  • Penolakan terhadap gembala
  • Pandangan para teolog Reformed seperti John Calvin, Herman Bavinck, Louis Berkhof, Geerhardus Vos, R.C. Sproul, dan beberapa teolog lainnya
  • Implikasi teologis bagi gereja masa kini
  • Hubungan dengan Kristologi dalam Perjanjian Baru

Artikel ini ditulis secara mendalam dan reflektif agar dapat membantu studi Alkitab yang lebih serius. 

Latar Belakang Kitab Zakharia

Kitab Zakharia ditulis setelah bangsa Israel kembali dari pembuangan Babel. Masa ini adalah periode yang penuh harapan sekaligus konflik rohani. Secara historis, bangsa Israel telah mengalami penghukuman Allah karena ketidaktaatan mereka, tetapi kini mereka dipanggil kembali untuk membangun kembali bait Allah dan memperbarui perjanjian mereka dengan Tuhan.

Dalam kerangka teologi Reformed, periode ini sering dipahami sebagai:

  1. Masa pemulihan perjanjian
  2. Masa pengujian kesetiaan umat
  3. Bayangan menuju pemenuhan Mesianik

Geerhardus Vos, seorang teolog Reformed terkenal dalam bidang teologi biblika, melihat kitab Zakharia sebagai bagian dari perkembangan wahyu progresif yang mengarah kepada Kristus. Ia menekankan bahwa simbolisme dalam kitab nabi tidak boleh dilepaskan dari struktur perjanjian Allah.

Menurut Vos, pasal 11 merupakan drama profetik yang menggambarkan kegagalan kepemimpinan Israel dan juga penolakan terhadap gembala yang sejati.

Simbol Gembala dalam Alkitab

Dalam Alkitab, metafora gembala memiliki makna yang sangat penting.

Allah sendiri disebut sebagai gembala:

Mazmur 23
Yehezkiel 34
Yohanes 10

Dalam tradisi Reformed, metafora ini menekankan:

  • Pemeliharaan Allah
  • Kepemimpinan rohani
  • Perjanjian antara Allah dan umat-Nya

John Calvin dalam komentarnya mengenai nabi-nabi kecil menyatakan bahwa simbol gembala dalam Zakharia bukan sekadar pemimpin manusia, tetapi mencerminkan bagaimana Allah memerintah umat-Nya melalui perantara.

Calvin menulis bahwa bagian ini menunjukkan:

  1. Allah memberikan pemimpin kepada umat-Nya
  2. Umat sering menolak pemimpin yang benar
  3. Penolakan terhadap pemimpin yang diutus Allah sama dengan menolak Allah sendiri

Hal ini kemudian mencapai puncaknya dalam Perjanjian Baru ketika Israel menolak Kristus.

Dua Tongkat: Kemurahan dan Ikatan

Salah satu bagian paling menarik dari teks ini adalah dua tongkat yang dinamai:

Kemurahan (Favor / Grace)
Ikatan (Union)

Dalam pemahaman teologi Reformed, dua tongkat ini memiliki makna yang sangat dalam.

1. Tongkat Kemurahan (Grace)

Tongkat ini melambangkan:

  • Kasih karunia Allah
  • Perlindungan Allah terhadap Israel
  • Perjanjian Allah

Herman Bavinck menekankan bahwa dalam seluruh sejarah keselamatan, Allah selalu berurusan dengan umat-Nya berdasarkan kasih karunia, bukan jasa manusia.

Menurut Bavinck:

Perjanjian Allah adalah tindakan kasih karunia yang memelihara umat meskipun mereka tidak layak.

Tongkat Kemurahan menunjukkan bahwa Israel tetap dipelihara oleh Allah.

Namun ketika tongkat ini kemudian dipatahkan (di ayat berikutnya dalam konteks pasal), itu menunjukkan:

Penghakiman perjanjian.

2. Tongkat Ikatan (Union)

Tongkat kedua melambangkan:

  • Kesatuan umat Allah
  • Hubungan antara Yehuda dan Israel
  • Stabilitas komunitas perjanjian

Louis Berkhof dalam sistematika teologinya menekankan bahwa Allah tidak hanya menyelamatkan individu tetapi juga membentuk komunitas perjanjian.

Ikatan ini mencerminkan:

Kesatuan rohani umat Allah di bawah pemerintahan Tuhan.

Ketika kesatuan ini rusak, bangsa itu mengalami kehancuran sosial dan spiritual.

Tiga Gembala yang Dilenyapkan

Zakharia 11:8 menyebutkan sesuatu yang misterius:

“Dalam satu bulan aku melenyapkan ketiga gembala itu.”

Para penafsir berbeda pendapat mengenai siapa tiga gembala ini.

Beberapa kemungkinan menurut teologi Reformed:

1 Imam, nabi, dan raja yang korup
2 Pemimpin Israel yang tidak setia
3 Sistem kepemimpinan religius Israel
4 Pemimpin politik tertentu pada masa itu

John Calvin menafsirkan bahwa tiga gembala mewakili kelas pemimpin yang gagal dalam memimpin umat.

Calvin berpendapat bahwa:

Allah menyingkirkan pemimpin yang tidak setia sebagai bagian dari penghakiman-Nya terhadap bangsa.

Namun menariknya, bahkan setelah pemimpin buruk disingkirkan, umat tetap tidak bertobat.

Ini menunjukkan sesuatu yang sangat penting dalam teologi Reformed:

Masalah utama manusia bukan hanya pemimpin yang buruk, tetapi hati manusia yang berdosa.

Penolakan Terhadap Gembala

Bagian paling tragis dari teks ini adalah kalimat:

“mereka pun merasa muak terhadap aku.”

Dalam tafsiran teologi Reformed, ini sering dilihat sebagai bayangan penolakan terhadap Kristus.

R.C. Sproul pernah menjelaskan bahwa salah satu tema besar Alkitab adalah:

Manusia secara alami menolak otoritas Allah.

Dalam konteks ini:

Gembala = representasi Allah
Domba = umat Israel

Penolakan ini menggambarkan:

kondisi total depravity (kerusakan total manusia).

Dalam doktrin Reformed, manusia tidak hanya berdosa tetapi juga:

tidak ingin dipimpin oleh Allah.

Penghakiman Allah: “Aku tidak mau lagi menggembalakan kamu”

Zakharia 11:9 sangat keras secara teologis.

Ini menggambarkan momen ketika Allah menyerahkan manusia kepada akibat dosa mereka.

Herman Bavinck menyebut konsep ini sebagai:

judicial abandonment (penyerahan dalam penghakiman).

Ini mirip dengan Roma 1 dalam Perjanjian Baru:

Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu mereka.

Artinya:

Penghakiman Allah tidak selalu berupa hukuman langsung, tetapi sering berupa Allah berhenti menahan kejahatan manusia.

Dalam Zakharia 11:9 kita melihat tiga konsekuensi:

1 Kematian
2 Kehancuran
3 Kekacauan sosial (memakan daging sesama)

Ini adalah gambaran kehancuran masyarakat tanpa kepemimpinan ilahi.

Hubungan dengan Kristus

Banyak teolog Reformed melihat pasal ini sebagai bayangan dari pelayanan Yesus.

Yesus disebut:

Gembala yang baik (Yohanes 10).

Namun apa yang terjadi pada Yesus?

Ia ditolak oleh umat-Nya.

Geerhardus Vos menjelaskan bahwa nubuat nabi sering memiliki dua lapisan:

lapisan sejarah langsung
lapisan Mesianik

Dalam kerangka ini:

Zakharia 11 menggambarkan pola yang akhirnya digenapi dalam Kristus.

Kristus datang sebagai gembala sejati, tetapi:

Israel menolak Dia.

Pandangan John Calvin tentang Zakharia 11

Calvin melihat pasal ini sebagai teguran keras terhadap pemimpin rohani yang gagal.

Beberapa poin penting dari tafsiran Calvin:

1 Allah mengutus gembala kepada umat-Nya
2 Umat sering tidak menghargai pelayanan rohani
3 Penolakan terhadap firman membawa penghakiman

Calvin juga menekankan bahwa gereja harus berhati-hati agar tidak mengulangi kesalahan Israel.

Menurut Calvin:

Ketika manusia menolak firman Tuhan secara terus-menerus, Allah dapat menarik berkat-Nya.

Perspektif Herman Bavinck

Bavinck melihat bagian ini dalam kerangka teologi perjanjian.

Ia menjelaskan bahwa sejarah Israel menunjukkan dua hal:

kesetiaan Allah
ketidaksetiaan manusia

Dalam Zakharia 11 kita melihat kontras ini dengan sangat jelas.

Allah menggembalakan umat-Nya, tetapi mereka menolak Dia.

Bavinck mengatakan bahwa:

Kasih karunia Allah tidak meniadakan tanggung jawab manusia.

Perspektif Louis Berkhof

Berkhof mengaitkan bagian ini dengan doktrin gereja.

Menurut Berkhof:

Gereja selalu berada dalam bahaya menolak kepemimpinan Kristus.

Ia menekankan pentingnya:

kesetiaan kepada firman
kepemimpinan rohani yang sehat
kedaulatan Kristus atas gereja

R.C. Sproul dan Doktrin Penolakan Manusia

R.C. Sproul sering berbicara tentang kecenderungan manusia untuk memberontak terhadap Allah.

Dalam kerangka itu, Zakharia 11 menggambarkan realitas:

ketika manusia menolak kasih karunia, mereka memilih kehancuran.

Sproul menyatakan:

Dosa membuat manusia membenci otoritas Allah.

Hal ini terlihat dalam ayat 8 ketika domba-domba merasa muak terhadap gembala.

Aplikasi bagi Gereja Masa Kini

Bagian ini memiliki implikasi yang sangat kuat bagi gereja modern.

Beberapa pelajaran penting:

1 Bahaya Menolak Firman Tuhan

Gereja bisa memiliki struktur dan organisasi, tetapi jika menolak firman, maka:

gembala sejati tidak lagi dihargai.

2 Pentingnya Kepemimpinan yang Setia

Tiga gembala yang disingkirkan mengingatkan bahwa:

Allah menghakimi pemimpin rohani.

3 Kasih Karunia Tidak Boleh Disia-siakan

Tongkat Kemurahan menunjukkan bahwa:

Allah memimpin dengan kasih karunia.

Namun kasih karunia dapat ditolak.

4 Kesatuan Gereja Sangat Penting

Tongkat Ikatan mengingatkan bahwa:

perpecahan adalah tanda bahaya rohani.

Dimensi Eskatologis

Beberapa teolog Reformed juga melihat bagian ini memiliki dimensi eskatologis.

Artinya:

pola penolakan terhadap gembala akan terus terjadi hingga kedatangan Kristus kembali.

Dalam sejarah gereja:

banyak orang menolak kebenaran.

Namun Allah tetap memelihara umat pilihan-Nya.

Refleksi Teologis Mendalam

Jika kita melihat keseluruhan narasi ini, ada beberapa tema besar:

1 Kedaulatan Allah
2 Kerusakan manusia
3 Kasih karunia yang ditolak
4 Penghakiman yang adil
5 Harapan Mesianik

Dalam teologi Reformed, semua tema ini terhubung dalam doktrin besar:

redemptive history (sejarah penebusan).

Kesimpulan

Zakharia 11:7–9 adalah bagian Alkitab yang sangat kuat dan serius secara teologis. Melalui simbol gembala dan domba, Allah menunjukkan hubungan antara diri-Nya dan umat-Nya. Ia datang sebagai gembala yang penuh kasih karunia, memimpin dengan tongkat Kemurahan dan Ikatan, tetapi umat menolak Dia.

Para teolog Reformed seperti John Calvin, Herman Bavinck, Louis Berkhof, Geerhardus Vos, dan R.C. Sproul melihat bagian ini sebagai gambaran:

  • kegagalan manusia
  • kesabaran Allah
  • dan akhirnya penghakiman yang adil.

Namun dalam terang seluruh Alkitab, kita juga melihat harapan besar: Kristus datang sebagai Gembala yang Baik yang memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya.

Walaupun banyak orang menolak Dia, Ia tetap menyelamatkan umat pilihan-Nya melalui kasih karunia yang berdaulat.

Inilah inti dari Injil menurut perspektif Reformed:

Keselamatan bukan berasal dari manusia, tetapi dari Allah yang setia memelihara perjanjian-Nya.

Next Post Previous Post