Akhir Hidup Petrus
.jpg)
Pendahuluan
Di antara para rasul Yesus Kristus, Petrus menempati posisi yang sangat menonjol. Namanya muncul lebih banyak dibandingkan murid-murid lainnya dalam Injil. Ia adalah orang yang pertama mengakui Yesus sebagai Mesias, tetapi juga orang yang pernah menyangkal Gurunya sebanyak tiga kali. Ia adalah murid yang berani melangkah keluar dari perahu, tetapi juga murid yang tenggelam karena keraguannya. Kehidupan Petrus memperlihatkan perpaduan antara kelemahan manusia dan anugerah Allah yang mengubahkan.
Namun salah satu bagian yang paling menarik dari kisah Petrus justru berada pada penghujung hidupnya. Alkitab tidak memberikan catatan rinci mengenai kematiannya. Meski demikian, petunjuk-petunjuk Alkitab, kesaksian gereja mula-mula, dan penelitian sejarah memberikan gambaran yang cukup kuat mengenai bagaimana rasul besar ini mengakhiri hidupnya.
Dalam perspektif Teologi Reformed, akhir hidup Petrus bukan sekadar kisah kematian seorang tokoh gereja. Peristiwa tersebut merupakan kesaksian tentang kesetiaan Allah yang memelihara umat-Nya sampai akhir. Petrus yang dahulu takut menghadapi seorang pelayan perempuan akhirnya menjadi saksi Kristus yang rela mati demi Injil.
Artikel ini akan membahas akhir hidup Petrus berdasarkan data Alkitab, sejarah gereja mula-mula, dan pandangan beberapa pakar Teologi Reformed seperti John Calvin, Herman Bavinck, Geerhardus Vos, William Hendriksen, R.C. Sproul, John Stott, Sinclair Ferguson, dan Michael Horton.
Petrus dalam Rencana Penebusan Allah
Sebelum membahas kematiannya, penting untuk memahami tempat Petrus dalam sejarah penebusan.
Nama aslinya adalah Simon. Yesus kemudian memberinya nama Kefas atau Petrus yang berarti batu.
Dalam Injil, Petrus sering tampil sebagai juru bicara para murid. Ia hadir dalam berbagai peristiwa penting:
- Pengakuan Mesias di Kaisarea Filipi.
- Peristiwa transfigurasi.
- Doa di Getsemani.
- Penyaliban dan kebangkitan Kristus.
- Pentakosta.
- Pembukaan Injil kepada bangsa-bangsa lain.
Menurut Geerhardus Vos, peranan Petrus harus dipahami dalam konteks perkembangan sejarah penebusan. Allah memakai Petrus sebagai salah satu saksi utama kebangkitan Kristus dan sebagai alat untuk membuka pintu Injil kepada dunia non-Yahudi.
Namun Teologi Reformed menolak gagasan bahwa Petrus menjadi kepala gereja universal dengan otoritas yang diteruskan secara eksklusif kepada paus-paus Roma. Sebaliknya, Petrus dipandang sebagai rasul yang memiliki otoritas apostolik bersama para rasul lainnya di bawah kepemimpinan Kristus sebagai Kepala Gereja.
Nubuat Yesus Mengenai Akhir Hidup Petrus
Petunjuk paling penting mengenai kematian Petrus terdapat dalam Injil Yohanes.
Setelah kebangkitan-Nya, Yesus berbicara kepada Petrus:
“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” (Yohanes 21:18)
Kemudian Yohanes menambahkan:
“Dan hal itu dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah.” (Yohanes 21:19)
Sebagian besar penafsir memahami ungkapan “mengulurkan tanganmu” sebagai petunjuk mengenai penyaliban.
John Calvin dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Kristus sedang memberitahukan bahwa Petrus akan mengalami kematian yang keras demi Injil.
Menurut Calvin, bagian ini mengandung penghiburan sekaligus panggilan. Penghiburan karena Allah telah menetapkan akhir hidup Petrus. Panggilan karena Petrus harus setia sampai mati.
Dari Penyangkal Menjadi Martir
Salah satu transformasi terbesar dalam Perjanjian Baru terlihat dalam kehidupan Petrus.
Pada malam penangkapan Yesus, Petrus menyangkal Gurunya tiga kali.
Ia bahkan bersumpah bahwa dirinya tidak mengenal Yesus.
Namun setelah kebangkitan Kristus dan pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta, Petrus berubah secara drastis.
Ia berkhotbah dengan berani di Yerusalem.
Ia menghadapi ancaman Mahkamah Agama.
Ia dipenjara.
Ia dicambuk.
Namun ia tetap memberitakan Kristus.
R.C. Sproul menyoroti bahwa perubahan ini tidak dapat dijelaskan hanya melalui kekuatan psikologis manusia.
Menurutnya, perubahan Petrus merupakan bukti kuasa kebangkitan Kristus dan pekerjaan Roh Kudus.
Orang yang dahulu takut kepada manusia kini lebih takut kepada Allah daripada kepada penguasa dunia.
Pelayanan Petrus Setelah Kisah Para Rasul
Kitab Kisah Para Rasul hanya mencatat sebagian pelayanan Petrus.
Setelah pasal 12, fokus narasi beralih kepada pelayanan Paulus.
Namun berbagai sumber menunjukkan bahwa Petrus tetap aktif melayani di berbagai wilayah.
Tradisi gereja mula-mula menyebut bahwa Petrus melayani di:
- Yerusalem.
- Antiokhia.
- Asia Kecil.
- Akhirnya Roma.
Surat 1 Petrus menunjukkan bahwa ia memiliki perhatian besar terhadap jemaat-jemaat yang tersebar di berbagai daerah Kekaisaran Romawi.
Dalam surat tersebut, Petrus berulang kali berbicara tentang penderitaan, ketekunan, dan pengharapan.
Banyak ahli melihat tema-tema ini sebagai cerminan pengalaman pribadinya menjelang akhir hidup.
Apakah Petrus Pernah Berada di Roma?
Pertanyaan ini sering menjadi perdebatan.
Mayoritas sejarawan, termasuk banyak teolog Reformed, menerima bahwa Petrus memang pernah berada di Roma pada akhir hidupnya.
John Stott mengakui bahwa bukti sejarah mendukung keberadaan Petrus di Roma, meskipun hal itu tidak berarti menerima seluruh klaim tradisi kepausan.
Beberapa saksi gereja mula-mula yang mendukung hal ini antara lain:
- Klemens dari Roma.
- Ignatius dari Antiokhia.
- Irenaeus.
- Tertullian.
- Eusebius.
Kesaksian mereka muncul relatif dekat dengan masa hidup para rasul sehingga memiliki nilai historis yang signifikan.
Karena itu banyak sarjana Reformed menerima bahwa Petrus kemungkinan besar mengalami kemartiran di Roma pada masa pemerintahan Kaisar Nero.
Penganiayaan di Bawah Nero
Untuk memahami akhir hidup Petrus, kita harus melihat konteks politik saat itu.
Pada tahun 64 M terjadi kebakaran besar di Roma.
Sebagian besar kota terbakar.
Masyarakat menuduh Kaisar Nero sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Untuk mengalihkan perhatian, Nero menyalahkan orang-orang Kristen.
Mulailah salah satu penganiayaan paling brutal dalam sejarah gereja.
Menurut sejarawan Romawi Tacitus:
- Orang Kristen dibakar hidup-hidup.
- Sebagian dijadikan tontonan publik.
- Sebagian disalibkan.
- Sebagian dilemparkan kepada binatang buas.
Dalam konteks inilah Petrus diyakini menghadapi kematiannya.
Tradisi Penyaliban Terbalik
Tradisi paling terkenal mengenai kematian Petrus adalah bahwa ia disalibkan dengan kepala di bawah.
Sumber utama tradisi ini berasal dari tulisan-tulisan gereja awal, terutama Origen dan Eusebius.
Menurut tradisi tersebut, Petrus meminta agar dirinya disalibkan terbalik karena merasa tidak layak mati dengan cara yang sama seperti Tuhannya.
Walaupun detail ini tidak tercatat dalam Alkitab, banyak sejarawan menganggap tradisi tersebut memiliki kemungkinan historis yang cukup kuat.
Namun para teolog Reformed mengingatkan bahwa otoritas utama tetap berada pada Kitab Suci.
Yang pasti adalah bahwa Petrus mati sebagai martir demi Kristus.
Cara persis pelaksanaannya tidak memiliki kepastian absolut.
Herman Bavinck dan Makna Kemartiran
Herman Bavinck melihat kemartiran bukan sebagai kegagalan pelayanan, melainkan kemenangan iman.
Dalam pandangannya, kematian para martir menunjukkan bahwa kerajaan Allah tidak dibangun melalui kekuatan politik atau militer.
Kerajaan Allah berkembang melalui kesaksian.
Petrus tidak meninggal sebagai pecundang.
Ia meninggal sebagai saksi Kristus.
Kata Yunani untuk “saksi” (martys) kemudian menjadi asal kata “martir”.
Dengan demikian kematian Petrus merupakan bentuk kesaksian tertinggi tentang kebenaran Injil.
Surat 2 Petrus dan Kesadaran Akan Kematian yang Mendekat
Petunjuk menarik lainnya terdapat dalam 2 Petrus.
Rasul itu menulis:
“Aku tahu bahwa aku akan segera menanggalkan kemah tubuhku ini sebagaimana yang telah diberitahukan kepadaku oleh Yesus Kristus.” (2 Petrus 1:14)
Ayat ini menunjukkan bahwa Petrus sadar waktunya sudah dekat.
Ia mengingat nubuat Kristus dalam Yohanes 21.
Alih-alih panik, Petrus mempersiapkan jemaat untuk melanjutkan kehidupan iman setelah kepergiannya.
William Hendriksen berpendapat bahwa bagian ini memperlihatkan kedewasaan rohani yang luar biasa.
Petrus menghadapi kematian dengan damai karena ia tahu kepada siapa ia telah percaya.
Kepastian Keselamatan di Akhir Hidup
Sinclair Ferguson menyoroti bahwa salah satu tema penting dalam surat Petrus adalah pengharapan yang hidup.
Petrus memahami bahwa hidup di dunia bersifat sementara.
Orang percaya adalah pendatang dan perantau.
Karena itu fokus hidup bukan pada kenyamanan duniawi, tetapi pada warisan kekal yang disediakan Allah.
Ketika menghadapi kematian, Petrus tidak bergantung pada prestasi kerasulannya.
Ia bergantung pada anugerah Kristus.
Ini sejalan dengan doktrin Reformed mengenai pembenaran oleh iman.
Keselamatan tidak didasarkan pada pelayanan seseorang, melainkan pada karya Kristus yang sempurna.
John Calvin tentang Ketekunan Orang Kudus
Dalam Teologi Reformed terdapat doktrin Perseverance of the Saints atau ketekunan orang-orang kudus.
Calvin mengajarkan bahwa Allah yang memulai pekerjaan keselamatan juga akan memelihara umat-Nya sampai akhir.
Kehidupan Petrus menjadi ilustrasi yang sangat jelas.
Petrus pernah jatuh.
Ia pernah menyangkal Kristus.
Namun Kristus tidak meninggalkannya.
Sebaliknya, Kristus memulihkannya dan memeliharanya sampai akhir hidup.
Menurut Calvin, hal ini menunjukkan bahwa dasar keselamatan bukan kesetiaan manusia, melainkan kesetiaan Allah.
Michael Horton: Injil yang Lebih Besar dari Kegagalan Manusia
Michael Horton sering menekankan bahwa Injil adalah kabar tentang apa yang Allah lakukan, bukan terutama tentang apa yang manusia lakukan.
Kehidupan Petrus menjadi contoh nyata.
Jika kisah Petrus berhenti pada malam penyangkalan, maka hidupnya tampak seperti kegagalan besar.
Namun Injil tidak berakhir di sana.
Kristus mencari Petrus.
Kristus memulihkannya.
Kristus mengutusnya kembali.
Kristus memakainya secara luar biasa.
Kristus memeliharanya sampai kematian.
Menurut Horton, ini adalah gambaran indah tentang anugerah Allah yang menang atas kelemahan manusia.
Pelajaran Teologis dari Akhir Hidup Petrus
1. Kesetiaan Allah Lebih Besar dari Kelemahan Manusia
Petrus adalah bukti bahwa Allah memakai orang-orang yang tidak sempurna.
Ia impulsif.
Ia sering salah.
Ia pernah gagal secara tragis.
Namun Allah tetap memakainya.
Hal ini memberi pengharapan bagi setiap orang percaya.
2. Penderitaan Bukan Tanda Allah Meninggalkan Umat-Nya
Banyak orang menganggap penderitaan sebagai tanda kegagalan rohani.
Namun Petrus justru memuliakan Allah melalui penderitaannya.
Teologi Reformed mengajarkan bahwa Allah berdaulat bahkan atas penderitaan umat-Nya.
3. Kematian Orang Percaya Dapat Memuliakan Allah
Yesus berkata bahwa kematian Petrus akan memuliakan Allah.
Ini menunjukkan bahwa bahkan cara seseorang meninggal dapat menjadi kesaksian bagi Injil.
Bagi orang percaya, kematian bukan akhir cerita.
Kematian adalah pintu menuju hadirat Kristus.
4. Pengharapan Kristen Bersifat Eskatologis
Petrus hidup dengan mata yang tertuju kepada kemuliaan yang akan datang.
Ia memahami bahwa kerajaan Allah akan dinyatakan secara sempurna pada akhir zaman.
Pengharapan inilah yang memberinya keberanian menghadapi kematian.
Warisan Petrus bagi Gereja
Dua ribu tahun setelah kematiannya, pengaruh Petrus masih terasa.
Warisannya bukan terutama berupa bangunan atau institusi.
Warisannya adalah kesaksian tentang Kristus.
Melalui khotbah-khotbahnya, surat-suratnya, dan kemartirannya, Petrus terus berbicara kepada gereja.
Ia mengingatkan bahwa:
- Kristus adalah Mesias.
- Salib adalah pusat keselamatan.
- Kebangkitan adalah dasar pengharapan.
- Kekudusan adalah panggilan orang percaya.
- Kemuliaan kekal menanti umat Allah.
Inilah pesan yang terus hidup hingga hari ini.
Kesimpulan
Akhir hidup Petrus merupakan salah satu kisah paling mengesankan dalam sejarah Kekristenan. Dari seorang nelayan Galilea yang sederhana, Petrus dipanggil menjadi rasul Kristus. Dari seorang murid yang pernah menyangkal Gurunya, ia diubahkan menjadi saksi yang setia sampai mati.
Berdasarkan kesaksian Alkitab dan tradisi gereja mula-mula, sangat mungkin Petrus mengakhiri hidupnya sebagai martir di Roma pada masa penganiayaan Nero. Kematian tersebut menggenapi nubuat Yesus dan menjadi kesaksian tentang kesetiaan seorang murid kepada Tuhannya.
Para teolog Reformed seperti John Calvin, Herman Bavinck, Geerhardus Vos, Sinclair Ferguson, R.C. Sproul, Michael Horton, dan John Stott melihat akhir hidup Petrus sebagai bukti nyata anugerah Allah yang memelihara umat-Nya sampai akhir. Petrus bukan pahlawan karena kekuatannya sendiri. Ia menjadi teladan karena Allah yang setia bekerja dalam hidupnya.
Kisah Petrus mengingatkan gereja sepanjang zaman bahwa kegagalan bukan akhir perjalanan bagi orang yang berada dalam anugerah Kristus. Allah yang memanggil juga akan memelihara, memulihkan, dan menyempurnakan pekerjaan-Nya sampai hari Kristus datang kembali.
Pada akhirnya, kematian Petrus bukanlah sebuah kekalahan. Itu adalah kemenangan iman, penggenapan panggilan rasuli, dan pintu masuk menuju persekutuan kekal dengan Kristus yang selama hidupnya ia kasihi dan layani.
Soli Deo Gloria.