Khotbah Kaum Bapak: Tanggung Jawab Bapak Menurut Hati Allah (Efesus 6:4)
.jpg)
“Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” (Efesus 6:4, TB)
Pendahuluan
Shalom, Bapak-bapak yang dikasihi Tuhan.
Hari ini kita akan merenungkan sebuah tema yang sangat penting, yaitu tanggung jawab seorang bapak menurut hati Allah. Dunia sedang mengalami krisis figur ayah. Banyak rumah tangga masih memiliki ayah secara fisik, tetapi kehilangan kehadiran ayah secara emosional, rohani, dan relational.
Ada anak-anak yang bertumbuh dengan kebutuhan materi tercukupi, tetapi hatinya kosong karena tidak pernah mendengar kata-kata affirmasi dari ayahnya. Ada juga keluarga yang memiliki ayah pekerja keras, tetapi anak-anak merasa asing terhadap ayahnya sendiri.
Firman Tuhan menunjukkan bahwa peran bapak bukan sekadar pencari nafkah.
Allah tidak pernah mendesain seorang ayah hanya untuk:
- bekerja,
- pulang,
- makan,
- tidur,
- lalu mengulang rutinitas.
Tidak.
Menurut hati Allah, seorang bapak adalah:
- pemimpin rohani,
- pendidik,
- pelindung,
- teladan,
- dan wakil kasih Bapa Surgawi di dalam rumah.
Efesus 6:4 memberi dua sisi penting:
- Apa yang tidak boleh dilakukan oleh bapak.
- Apa yang harus dilakukan oleh bapak.
Mari kita pelajari bersama.
I. Bapak Jangan Melukai Hati Anak
“Janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu…”
Paulus memulai dengan peringatan.
Menarik, Tuhan terlebih dahulu membahas apa yang harus dihindari.
Mengapa?
Karena kadang seorang bapak merasa ia sedang mendidik, padahal sebenarnya ia sedang melukai.
Kata “membangkitkan amarah” berarti:
- memprovokasi,
- melukai,
- menekan,
- membuat anak kehilangan semangat.
Seorang anak bisa marah bukan karena aturan ayahnya terlalu keras, tetapi karena sikap ayah yang tidak adil.
Bapak-bapak, ada beberapa hal yang bisa membangkitkan amarah anak.
1. Kata-kata yang melukai
Amsal berkata bahwa lidah memiliki kuasa kehidupan dan kematian.
Banyak anak tidak dipukul, tetapi hancur karena perkataan.
Contoh:
- “Kamu bodoh.”
- “Kamu selalu gagal.”
- “Kenapa kamu tidak seperti kakakmu?”
- “Ayah kecewa punya anak seperti kamu.”
Kalimat seperti ini tertanam bertahun-tahun.
Anak mungkin bertumbuh dewasa, menikah, punya pekerjaan, tetapi luka dari ayah belum sembuh.
Kadang seorang bapak berpikir:
“Saya cuma ngomong biasa.”
Tetapi bagi anak, itu menjadi identitas.
Anak mulai percaya:
- saya tidak berharga,
- saya tidak cukup baik,
- ayah tidak bangga kepada saya.
Bapak-bapak, hati-hati dengan perkataan.
Allah memberi kita mulut untuk:
- memberkati,
- membangun,
- menguatkan.
Tanyakan:
Apakah anak saya lebih sering mendengar kritik atau dorongan dari saya?
2. Kemarahan yang tidak terkendali
Ada ayah yang temperamental.
Anak-anak menjadi takut.
Begitu ayah pulang:
- rumah jadi tegang,
- semua diam,
- suasana berubah.
Anak tidak merasakan rumah sebagai tempat aman.
Padahal rumah seharusnya menjadi tempat perlindungan.
Jika seorang anak selalu hidup dalam ketakutan, ia sulit membuka hati.
Kemarahan yang tidak dikendalikan menghasilkan:
- trauma,
- pemberontakan,
- atau penarikan diri.
Efesus tidak berkata ayah tidak boleh marah sama sekali.
Marah bisa benar.
Tetapi marah yang:
- meledak-ledak,
- kasar,
-
merendahkan,
adalah dosa.
Yakobus 1:20 berkata:
“Sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.”
Marah yang tidak dikendalikan tidak menghasilkan kebenaran.
3. Ketidakhadiran emosional
Ini masalah besar zaman sekarang.
Ayah hadir secara fisik, tetapi tidak hadir secara hati.
Contohnya:
- ada di rumah tetapi sibuk HP,
- tidak pernah mendengar cerita anak,
- tidak tahu pergumulan anak,
- tidak tahu siapa teman anak.
Anak butuh lebih dari uang.
Anak butuh:
- perhatian,
- pelukan,
- pendengaran,
- percakapan.
Kadang anak berkata:
“Ayah tidak pernah punya waktu untuk saya.”
Bapak, suatu hari anak tidak akan lagi meminta waktu Anda.
Saat kecil mereka mengejar Anda.
Saat dewasa mereka berhenti mencoba.
Jangan terlambat.
II. Bapak Dipanggil Mendidik
“Tetapi didiklah mereka…”
Setelah larangan, Tuhan memberi perintah.
“Didiklah.”
Mendidik lebih dalam daripada menyuruh.
Mendidik berarti membentuk.
Allah mempercayakan anak bukan sekadar untuk dibesarkan, tetapi untuk dibentuk.
Anak lahir dengan potensi.
Tugas orang tua adalah mengarahkan potensi itu sesuai kehendak Tuhan.
1. Pendidikan karakter lebih penting daripada prestasi
Banyak ayah fokus pada prestasi.
Pertanyaan yang sering keluar:
- Nilaimu berapa?
- Ranking berapa?
- Kapan lulus?
- Gajimu berapa?
Tidak salah.
Tetapi ada hal lebih penting:
karakter.
Apa gunanya anak:
- pintar,
- sukses,
-
kaya,
tetapi tidak takut Tuhan?
Apa gunanya:
-
karier tinggi,
tetapi moral rendah?
Menurut hati Allah, keberhasilan sejati bukan hanya pencapaian dunia.
Keberhasilan sejati adalah menjadi manusia yang serupa Kristus.
Ajarkan:
- kejujuran,
- disiplin,
- kerendahan hati,
- tanggung jawab,
- kasih.
Karakter tidak muncul otomatis.
Karakter dibentuk.
2. Pendidikan butuh konsistensi
Anak belajar bukan terutama dari ceramah.
Anak belajar dari pola.
Mereka melihat.
Mereka meniru.
Jika ayah berkata:
“Jangan bohong.”
Tetapi anak melihat ayah berbohong lewat telepon:
“Bilang saja ayah tidak di rumah.”
Anak belajar kebohongan.
Jika ayah berkata:
“Rajin ibadah.”
Tetapi ayah malas berdoa, anak melihat kontradiksi.
Teladan lebih keras suaranya daripada nasihat.
Bapak-bapak, anak kita mungkin lupa khotbah yang kita ucapkan.
Tetapi mereka ingat kehidupan yang kita tunjukkan.
III. Bapak Harus Menjadi Imam dalam Rumah
“…di dalam ajaran Tuhan…”
Ayah bukan hanya kepala keluarga secara administratif.
Ayah adalah imam rumah tangga.
Dalam Perjanjian Lama, imam membawa umat kepada Allah.
Dalam rumah, siapa yang terutama harus membawa keluarga mendekat kepada Tuhan?
Bapak.
Bukan berarti ibu tidak penting.
Ibu sangat penting.
Tetapi Allah memberi tanggung jawab kepemimpinan rohani secara khusus kepada ayah.
1. Memimpin doa keluarga
Pertanyaan untuk para bapak:
Siapa yang paling sering memimpin doa di rumah?
Jika jawabannya selalu ibu, ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
Ayah harus berani memimpin doa.
Tidak perlu:
- panjang,
- puitis,
- seperti pendeta.
Doa sederhana tetapi tulus sangat berarti.
Contoh:
- doa sebelum tidur,
- doa pagi,
- doa makan,
- doa syafaat.
Anak yang melihat ayah berdoa belajar bahwa:
Tuhan itu nyata.
2. Memimpin pembacaan Firman
Ulangan 6 mengajarkan Firman Tuhan harus dibicarakan:
- ketika duduk,
- berjalan,
- berbaring,
- bangun.
Artinya Firman menjadi budaya rumah.
Rumah Kristen bukan rumah yang hanya punya Alkitab.
Rumah Kristen adalah rumah yang hidup dalam Firman.
Bapak dapat memulai sederhana:
- baca satu ayat,
- diskusikan,
- doa bersama.
Lima menit sehari pun berharga.
Jangan tunggu sempurna.
Mulailah.
3. Menjadi teladan penyembahan
Anak bisa merasakan apakah iman ayah asli atau palsu.
Jika ayah:
- menyanyi tanpa hati,
-
ibadah hanya formalitas,
anak menangkap sinyal itu.
Tetapi jika anak melihat ayah:
- menyembah sungguh-sungguh,
- menangis di hadapan Tuhan,
-
mengandalkan Tuhan,
itu membekas.
Anak belajar bahwa iman bukan teori.
Iman adalah kehidupan.
IV. Bapak Harus Mengasihi Seperti Kristus
Efesus sebelumnya juga berbicara tentang suami yang mengasihi istri seperti Kristus mengasihi jemaat.
Anak belajar kasih melalui rumah.
Cara ayah memperlakukan ibu akan membentuk cara anak memahami kasih.
Jika ayah kasar kepada ibu:
anak belajar kekerasan.
Jika ayah merendahkan ibu:
anak belajar penghinaan.
Jika ayah menghormati ibu:
anak belajar penghormatan.
1. Anak laki-laki belajar menjadi pria dari ayah
Seorang anak laki-laki mengamati:
“Apa artinya menjadi pria?”
Dari mana ia belajar?
Terutama dari ayah.
Ia belajar:
- bagaimana bicara,
- mengendalikan emosi,
- memperlakukan wanita,
- bertanggung jawab.
Jika ayah tidak hadir, dunia mengambil alih.
Media sosial akan mendidik.
Teman sebaya akan mendidik.
Budaya dunia akan mendidik.
Karena itu kehadiran ayah sangat penting.
2. Anak perempuan belajar standar pria dari ayah
Anak perempuan belajar:
“Pria seperti apa yang layak dipercaya?”
Jika ayah penuh kasih dan hormat, anak memiliki standar sehat.
Jika ayah abusive atau dingin, luka itu bisa terbawa.
Karena itu, perlakuan ayah kepada anak perempuan sangat penting.
Katakan:
- Ayah sayang kamu.
- Ayah bangga padamu.
- Kamu berharga.
Kata-kata ini membangun identitas.
V. Bapak Harus Mendisiplin dengan Kasih
“…dan nasihat Tuhan”
Disiplin diperlukan.
Kasih tanpa disiplin menghasilkan anak manja.
Disiplin tanpa kasih menghasilkan anak terluka.
Tuhan memanggil keseimbangan.
Ibrani 12 mengajarkan Tuhan menghajar yang dikasihi-Nya.
Artinya disiplin adalah ekspresi kasih.
Prinsip disiplin yang benar
1. Tujuannya memulihkan, bukan melampiaskan emosi
Jangan mendisiplin saat emosi meledak.
Tanyakan:
“Apakah saya mendidik atau melampiaskan?”
Jika marah, tenangkan dulu.
Disiplin harus lahir dari kasih.
2. Jelaskan alasan
Anak perlu mengerti:
- apa yang salah,
- mengapa salah,
- bagaimana memperbaikinya.
Hukuman tanpa penjelasan menghasilkan kebingungan.
3. Berikan pengampunan
Setelah disiplin, pulihkan relasi.
Peluk anak.
Berdoa bersama.
Pastikan mereka tahu:
“Ayah marah pada tindakanmu, bukan membenci dirimu.”
Ini penting.
VI. Bapak Harus Menyediakan Kebutuhan Keluarga
Alkitab mengajarkan tanggung jawab menyediakan kebutuhan keluarga.
1 Timotius 5:8 berkata bahwa yang tidak memelihara keluarganya lebih buruk daripada orang yang tidak beriman.
Artinya, bekerja dan memberi nafkah adalah bagian dari panggilan.
Tetapi ada keseimbangan.
Bahaya ekstrem pertama: malas bekerja
Bapak harus bertanggung jawab.
Kerja keras adalah kehormatan.
Anak perlu melihat etos kerja.
Bahaya ekstrem kedua: menjadikan kerja sebagai berhala
Ini yang sering terjadi.
Ayah berkata:
“Saya kerja demi keluarga.”
Tetapi keluarga kehilangan ayah.
Anak tidak butuh ayah kaya tetapi asing.
Lebih baik rumah sederhana dengan kasih daripada rumah mewah tanpa hubungan.
Bapak-bapak, uang penting.
Tetapi uang tidak bisa menggantikan:
- pelukan,
- doa,
- kehadiran.
VII. Bapak Harus Mewariskan Iman
Warisan terbesar bukan:
- tanah,
- rumah,
- bisnis,
- deposito.
Warisan terbesar adalah iman.
Mazmur 78 berbicara tentang menceritakan karya Tuhan kepada generasi berikut.
Artinya iman harus diwariskan.
Pertanyaan penting
Saat kelak Anda meninggal, apa yang anak ingat?
Apakah mereka berkata:
- “Ayah kaya.”
- “Ayah sukses.”
Atau:
- “Ayah mengasihi Tuhan.”
- “Ayah mengajar kami berdoa.”
- “Ayah hidup takut akan Tuhan.”
Warisan rohani lebih besar dari warisan materi.
Materi bisa habis.
Iman menopang generasi.
VIII. Bapak yang Gagal Masih Bisa Dipulihkan
Mungkin ada bapak yang mendengar khotbah ini dan berkata:
- Saya sudah gagal.
- Saya terlalu keras.
- Saya jarang hadir.
- Anak saya sudah terluka.
Ada kabar baik.
Tuhan adalah Allah pemulihan.
Kegagalan masa lalu tidak harus menjadi akhir cerita.
Kerendahan hati membuka pemulihan.
Mungkin langkah pertama adalah berkata kepada anak:
“Nak, ayah minta maaf.”
Empat kata sederhana.
Sulit bagi pria.
Tetapi sangat berkuasa.
Meminta maaf tidak menurunkan wibawa.
Justru menunjukkan kedewasaan.
Anak sering lebih mudah sembuh ketika melihat pertobatan yang nyata.
Bapak juga butuh Bapa Surgawi
Mengapa sebagian ayah sulit menjadi ayah?
Karena mereka sendiri terluka oleh ayah mereka.
Mereka tidak pernah melihat model yang sehat.
Tetapi ada pengharapan.
Kita punya Bapa Surgawi.
Allah adalah Bapa sempurna.
Dia:
- sabar,
- penuh kasih,
- setia,
- mendidik dengan benar,
- tidak meninggalkan anak-anak-Nya.
Semakin kita mengenal Bapa Surgawi, semakin kita diubahkan menjadi ayah yang sehat.
Kita tidak menjadi ayah yang baik hanya dengan usaha manusia.
Kita membutuhkan anugerah Tuhan.
Penutup
Bapak-bapak yang dikasihi Tuhan,
Efesus 6:4 mengajarkan bahwa seorang bapak menurut hati Allah:
- Tidak melukai hati anak
- Mendidik dengan benar
- Menjadi imam dalam rumah
- Mengasihi seperti Kristus
- Mendisiplin dengan kasih
- Menyediakan kebutuhan keluarga
- Mewariskan iman
Dunia tidak membutuhkan ayah yang sempurna.
Dunia membutuhkan ayah yang:
- takut Tuhan,
- mau belajar,
- mau bertobat,
- mau bertumbuh.
Anak-anak tidak membutuhkan superhero.
Mereka membutuhkan ayah yang hadir.
Mungkin Anda merasa lemah.
Mungkin Anda merasa gagal.
Mungkin Anda merasa terlambat.
Selama Tuhan memberi napas, belum terlambat.
Mulailah hari ini.
Mulailah dengan:
- doa bersama keluarga,
- memeluk anak,
- meminta maaf,
- memberkati istri,
- kembali kepada Tuhan.
Jadilah ayah yang memantulkan hati Bapa Surgawi.
Ketika anak memandang Anda, biarlah mereka mendapat gambaran tentang kasih Allah.
Kiranya generasi setelah kita berkata:
“Kami mengenal kasih Bapa Surgawi karena kami melihatnya melalui ayah kami.”
Amin.
Doa Penutup
Bapa di Surga, terima kasih untuk setiap bapak yang Engkau percayakan memimpin keluarga. Ampuni jika kami sering gagal, keras, atau lalai dalam tanggung jawab kami. Bentuk kami menjadi ayah yang menurut hati-Mu. Ajari kami mengasihi, mendidik, memimpin, dan mewariskan iman kepada anak-anak kami. Pulihkan setiap relasi yang rusak dalam keluarga. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.