Paulus Sang Misionaris
.jpg)
Pendahuluan
Di antara semua tokoh dalam Perjanjian Baru selain Yesus Kristus, tidak ada yang memiliki pengaruh sebesar Rasul Paulus. Dari seorang penganiaya gereja menjadi pemberita Injil yang paling giat, Paulus menjadi alat yang dipakai Allah untuk membawa kabar keselamatan ke berbagai wilayah Kekaisaran Romawi. Surat-suratnya membentuk sebagian besar Perjanjian Baru, sementara perjalanan misinya menjadi model bagi pelayanan penginjilan gereja sepanjang sejarah.
Ketika membahas tema “Paul the Missionary” (Paulus Sang Misionaris), kita tidak hanya mempelajari seorang pengkhotbah yang berkeliling dari kota ke kota. Kita sedang mempelajari bagaimana Allah memakai seorang manusia berdosa yang telah ditebus untuk menjadi instrumen dalam penggenapan rencana penebusan-Nya bagi bangsa-bangsa.
Para teolog Reformed seperti Yohanes Calvin, Herman Bavinck, Geerhardus Vos, John Murray, Louis Berkhof, J. Gresham Machen, John Stott (yang banyak diapresiasi dalam tradisi Reformed), R. C. Sproul, J. I. Packer, Sinclair Ferguson, dan Michael Horton melihat Paulus bukan sekadar seorang organisator gereja atau ahli teologi. Ia adalah seorang misionaris yang memahami bahwa Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya.
Melalui kehidupan Paulus, kita belajar tentang panggilan Allah, kuasa anugerah, semangat penginjilan, ketekunan dalam penderitaan, dan visi global Kerajaan Allah. Artikel ini akan mengulas kehidupan dan pelayanan Paulus sebagai misionaris dalam terang Alkitab dan refleksi para pakar Teologi Reformed.
Bab 1
Dari Penganiaya Menjadi Pemberita Injil
Tidak ada kisah pertobatan yang lebih dramatis dalam Perjanjian Baru selain pertobatan Saulus dari Tarsus.
Sebelum menjadi Paulus, ia adalah seorang Farisi yang sangat taat.
Dalam Filipi 3:5–6, Paulus menggambarkan dirinya sebagai orang yang sangat bersemangat dalam agama Yahudi.
Namun semangat itu justru membuatnya menganiaya gereja.
Kisah Para Rasul 8:3 mencatat bahwa Saulus berusaha membinasakan jemaat.
Ia menangkap orang-orang Kristen dan menyerahkan mereka ke penjara.
Tetapi dalam perjalanan menuju Damsyik, segala sesuatu berubah.
Kristus yang telah bangkit menampakkan diri kepadanya.
Saulus mendengar suara:
“Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?”
(Kisah Para Rasul 9:4)
Yohanes Calvin melihat peristiwa ini sebagai salah satu bukti paling jelas tentang anugerah Allah yang berdaulat.
Paulus tidak sedang mencari Kristus.
Justru Kristus yang mencari Paulus.
Pertobatannya menunjukkan bahwa keselamatan bukan hasil usaha manusia, melainkan karya Allah yang penuh kuasa.
Bab 2
Panggilan sebagai Rasul bagi Bangsa-Bangsa
Setelah pertobatannya, Paulus menerima panggilan yang khusus.
Allah berfirman kepada Ananias:
“Orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain.”
(Kisah Para Rasul 9:15)
Herman Bavinck menjelaskan bahwa panggilan Paulus menunjukkan sifat universal Injil.
Dalam Perjanjian Lama, Israel sering menjadi pusat perhatian sejarah penebusan.
Namun melalui Kristus, kabar keselamatan diperluas kepada semua bangsa.
Paulus dipanggil secara khusus untuk melayani orang-orang bukan Yahudi (Gentiles).
Ini bukan berarti Allah meninggalkan Israel.
Sebaliknya, Allah sedang menggenapi janji-Nya kepada Abraham bahwa melalui keturunannya semua bangsa akan diberkati.
Paulus memahami dirinya sebagai alat dalam penggenapan janji tersebut.
Bab 3
Injil sebagai Pusat Pelayanan Paulus
Jika ada satu tema yang mendominasi seluruh kehidupan Paulus, tema itu adalah Injil.
Dalam Roma 1:16 ia berkata:
“Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya.”
Louis Berkhof menegaskan bahwa pelayanan Paulus berpusat pada karya Kristus.
Paulus tidak menawarkan filsafat baru.
Ia tidak membangun gerakan sosial semata.
Ia memberitakan Kristus yang disalibkan dan bangkit.
Dalam 1 Korintus 2:2 ia menulis:
“Aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.”
Bagi Paulus, Injil bukan sekadar pintu masuk kehidupan Kristen.
Injil adalah pusat seluruh kehidupan Kristen.
Bab 4
Perjalanan Misi yang Mengubah Dunia
Kitab Kisah Para Rasul mencatat tiga perjalanan misi utama Paulus.
Dalam perjalanan-perjalanan tersebut ia mengunjungi:
- Siprus
- Antiokhia Pisidia
- Ikonium
- Listra
- Filipi
- Tesalonika
- Berea
- Korintus
- Efesus
- Dan berbagai kota lainnya
Geerhardus Vos menjelaskan bahwa penyebaran Injil melalui pelayanan Paulus merupakan bagian dari perkembangan sejarah penebusan.
Allah sedang memperluas Kerajaan-Nya dari Yerusalem ke ujung bumi.
Paulus sering memulai pelayanannya di sinagoge.
Ketika banyak orang menolak Injil, ia kemudian memberitakannya kepada bangsa-bangsa lain.
Melalui strategi ini, Injil menyebar ke pusat-pusat penting dunia Romawi.
Hasilnya adalah lahirnya jemaat-jemaat yang menjadi dasar perkembangan gereja global.
Bab 5
Misionaris yang Siap Menderita
Salah satu ciri paling menonjol dalam kehidupan Paulus adalah kesediaannya untuk menderita demi Injil.
Dalam 2 Korintus 11, Paulus mencatat berbagai penderitaan yang dialaminya:
- Dipenjara.
- Dicambuk.
- Dilempari batu.
- Mengalami karam kapal.
- Kelaparan.
- Bahaya perjalanan.
- Penganiayaan.
John Murray menegaskan bahwa penderitaan Paulus tidak dianggap sebagai kegagalan pelayanan.
Sebaliknya, penderitaan merupakan bagian dari panggilan kerasulan.
Paulus memahami bahwa mengikuti Kristus berarti memikul salib.
Ia tidak mengukur keberhasilan pelayanan berdasarkan kenyamanan.
Ia mengukur keberhasilan berdasarkan kesetiaan kepada Kristus.
Semangat ini menjadi teladan bagi gereja sepanjang zaman.
Bab 6
Teologi Anugerah dalam Pelayanan Paulus
Surat-surat Paulus dipenuhi dengan pengajaran tentang anugerah.
Efesus 2:8–9 menyatakan:
“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman.”
J. I. Packer menjelaskan bahwa Paulus memahami keselamatan sebagai karya Allah dari awal hingga akhir.
Manusia tidak menyelamatkan dirinya sendiri.
Allah yang:
- Memilih.
- Memanggil.
- Membenarkan.
- Menguduskan.
- Memuliakan.
Inilah sebabnya pelayanan misi Paulus tidak berpusat pada kemampuan manusia.
Ia percaya bahwa Allah memiliki umat pilihan di berbagai tempat.
Tugasnya adalah memberitakan Injil dengan setia.
Hasilnya berada di tangan Allah.
Bab 7
Membangun Gereja, Bukan Sekadar Mengumpulkan Petobat
Paulus bukan hanya seorang penginjil.
Ia juga seorang penanam gereja.
Setelah memberitakan Injil, ia membentuk jemaat yang sehat.
Ia menetapkan penatua.
Ia mengajarkan doktrin yang benar.
Ia membimbing pertumbuhan rohani jemaat.
R. C. Sproul menegaskan bahwa misi sejati tidak berhenti pada keputusan iman.
Tujuan misi adalah membangun murid yang hidup dalam komunitas gereja.
Paulus memahami bahwa gereja adalah tubuh Kristus.
Karena itu, setiap perjalanan misinya selalu berkaitan dengan pembentukan gereja lokal.
Prinsip ini tetap relevan bagi pelayanan misi masa kini.
Bab 8
Hati Paulus bagi Bangsa-Bangsa
Dalam Roma 10:1 Paulus menulis:
“Keinginan hatiku dan doaku kepada Allah ialah supaya mereka diselamatkan.”
Ayat ini menunjukkan hati seorang misionaris sejati.
Paulus tidak hanya menyampaikan kebenaran.
Ia mengasihi orang-orang yang mendengar kebenaran itu.
Bahkan terhadap orang Yahudi yang menolak Injil, Paulus tetap memiliki kasih yang mendalam.
Sinclair Ferguson menjelaskan bahwa semangat misi lahir dari kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama.
Paulus memahami realitas penghakiman.
Karena itu ia terdorong untuk memberitakan Injil dengan sungguh-sungguh.
Ia ingin sebanyak mungkin orang mendengar kabar keselamatan.
Bab 9
Paulus dan Kedaulatan Allah dalam Penginjilan
Salah satu aspek penting dari teologi Paulus adalah keyakinannya akan kedaulatan Allah.
Roma 8 dan Roma 9 merupakan contoh yang jelas.
Paulus percaya bahwa keselamatan berasal dari anugerah Allah yang berdaulat.
Namun menariknya, keyakinan ini tidak membuatnya pasif.
Sebaliknya, ia menjadi salah satu misionaris paling aktif dalam sejarah.
J. Gresham Machen menjelaskan bahwa doktrin pemilihan tidak melemahkan misi.
Justru doktrin itu memberikan keberanian.
Paulus tahu bahwa Allah memiliki umat yang akan dipanggil melalui pemberitaan Injil.
Karena itu, ia terus berkhotbah meskipun menghadapi penolakan dan penganiayaan.
Bab 10
Warisan Paulus bagi Gereja Masa Kini
Pengaruh Paulus tidak berakhir ketika ia mati sebagai martir di Roma.
Surat-suratnya terus membentuk kehidupan gereja hingga hari ini.
Michael Horton menjelaskan bahwa gereja modern masih belajar dari Paulus dalam beberapa hal:
1. Sentralitas Injil
Segala pelayanan harus berpusat pada Kristus.
2. Pentingnya Doktrin
Misi dan teologi tidak dapat dipisahkan.
3. Penanaman Gereja
Tujuan penginjilan adalah pembentukan komunitas umat Allah.
4. Ketekunan dalam Penderitaan
Kesetiaan lebih penting daripada kenyamanan.
5. Visi Global
Injil ditujukan kepada semua bangsa.
Warisan Paulus mengingatkan gereja bahwa panggilan misi belum selesai.
Kristus masih mengutus gereja-Nya ke seluruh dunia.
Pandangan Beberapa Pakar Teologi Reformed
Yohanes Calvin
Calvin melihat pertobatan Paulus sebagai contoh luar biasa dari anugerah Allah yang berdaulat.
Herman Bavinck
Bavinck menekankan bahwa panggilan Paulus kepada bangsa-bangsa menunjukkan keluasan rencana keselamatan Allah.
Louis Berkhof
Berkhof menegaskan bahwa Injil Kristus adalah pusat seluruh pelayanan Paulus.
Geerhardus Vos
Vos memandang pelayanan Paulus sebagai bagian penting dalam perkembangan sejarah penebusan.
John Murray
Murray menyoroti kesediaan Paulus untuk menderita demi Kristus.
J. I. Packer
Packer melihat teologi anugerah Paulus sebagai fondasi penginjilan yang sejati.
R. C. Sproul
Sproul menekankan bahwa Paulus tidak hanya menginjili, tetapi juga membangun gereja yang sehat.
J. Gresham Machen
Machen menunjukkan bahwa keyakinan terhadap kedaulatan Allah justru mendorong semangat misi Paulus.
Sinclair Ferguson
Ferguson menyoroti kasih Paulus kepada jiwa-jiwa yang belum mengenal Kristus.
Michael Horton
Horton melihat Paulus sebagai model pelayanan yang menggabungkan Injil, gereja, dan misi global.
Kesimpulan
Paulus Sang Misionaris merupakan salah satu contoh paling luar biasa tentang bagaimana Allah memakai seorang manusia untuk mengubah sejarah. Dari seorang penganiaya gereja, Paulus diubahkan oleh anugerah Kristus dan dipanggil menjadi rasul bagi bangsa-bangsa. Hidupnya menjadi bukti bahwa tidak ada orang yang terlalu jauh dari jangkauan kasih karunia Allah.
Para teolog Reformed melihat pelayanan Paulus sebagai perpaduan yang indah antara kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia. Calvin menyoroti anugerah yang mengubah hidupnya. Bavinck menunjukkan keluasan misi Allah bagi segala bangsa. Berkhof menegaskan sentralitas Injil. Vos menempatkan pelayanan Paulus dalam kerangka sejarah penebusan. Murray mengingatkan tentang penderitaan yang menyertai panggilan misi. Packer dan Machen menunjukkan bahwa keyakinan akan anugerah Allah justru mendorong semangat penginjilan.
Paulus mengajarkan bahwa misi bukan sekadar aktivitas gereja, tetapi bagian dari rencana Allah untuk mengumpulkan umat-Nya dari seluruh dunia. Ia memberitakan Kristus dengan keberanian, membangun gereja dengan kesetiaan, dan menghadapi penderitaan dengan sukacita.
Hingga hari ini, suara Paulus masih bergema melalui surat-suratnya dan melalui teladan hidupnya. Ia mengingatkan gereja bahwa Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan, bahwa Kristus layak diberitakan kepada segala bangsa, dan bahwa tidak ada pengorbanan yang terlalu besar demi kemuliaan Sang Juruselamat.
“Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.” (1 Korintus 9:16)