.jpg)
Pendahuluan
Di antara berbagai pernyataan Yesus yang paling dikenal dalam Kekristenan, salah satu yang paling sering dikutip adalah perkataan-Nya tentang iman yang dapat memindahkan gunung. Dalam Matius 17:20, Yesus berkata:
“Sebab sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.”
Ayat ini telah menginspirasi jutaan orang sepanjang sejarah gereja. Namun ayat ini juga sering disalahpahami. Sebagian orang menganggap bahwa iman adalah kekuatan mental yang mampu menciptakan realitas sesuai keinginan manusia. Ada pula yang memahami iman sebagai alat untuk memperoleh kekayaan, kesembuhan, atau keberhasilan duniawi.
Teologi Reformed memberikan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih setia kepada keseluruhan kesaksian Alkitab. Para teolog seperti Yohanes Calvin, Herman Bavinck, John Owen, Louis Berkhof, Charles Hodge, B. B. Warfield, John Murray, J. I. Packer, R. C. Sproul, dan Sinclair Ferguson menegaskan bahwa iman bukanlah kuasa yang berasal dari manusia. Iman adalah sarana yang menghubungkan orang percaya dengan Allah yang Mahakuasa.
Ketika Yesus berbicara tentang memindahkan gunung, fokus utamanya bukan pada kemampuan manusia, melainkan pada kuasa Allah yang bekerja melalui iman yang sejati. Iman Kristen tidak berpusat pada diri sendiri, melainkan pada Kristus. Kekuatan iman tidak terletak pada besarnya iman itu sendiri, tetapi pada Pribadi yang menjadi objek iman tersebut.
Artikel ini akan membahas makna iman yang dapat memindahkan gunung menurut Alkitab dan pandangan para pakar Teologi Reformed, serta bagaimana iman sejati bekerja dalam kehidupan orang percaya.
Bab 1
Apa yang Dimaksud dengan Iman?
Sebelum membahas iman yang memindahkan gunung, kita harus memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan iman menurut Alkitab.
Ibrani 11:1 berkata:
“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”
Yohanes Calvin mendefinisikan iman sebagai pengetahuan yang teguh dan pasti tentang kemurahan Allah kepada kita, yang didasarkan pada janji-Nya di dalam Kristus dan dimeteraikan oleh Roh Kudus di dalam hati.
Dalam pengertian Reformed, iman bukan sekadar optimisme.
Iman bukan pula sekadar perasaan positif.
Iman adalah kepercayaan yang bersandar kepada Allah dan firman-Nya.
Louis Berkhof menjelaskan bahwa iman memiliki tiga unsur:
Pengetahuan (Notitia)
Mengetahui kebenaran Injil.
Persetujuan (Assensus)
Menerima bahwa Injil itu benar.
Kepercayaan (Fiducia)
Menyerahkan diri kepada Kristus secara pribadi.
Iman sejati melibatkan seluruh pribadi manusia.
Bab 2
Gunung sebagai Gambaran Hambatan yang Mustahil
Ketika Yesus berbicara tentang memindahkan gunung, Ia menggunakan bahasa yang lazim dalam budaya Yahudi.
Gunung sering dipakai sebagai simbol hambatan besar atau sesuatu yang tampaknya mustahil.
Herman Bavinck menjelaskan bahwa Yesus menggunakan gambaran hiperbolis untuk menegaskan bahwa tidak ada halangan yang dapat menggagalkan pekerjaan Allah.
Dalam Alkitab, gunung sering melambangkan:
- Kesulitan besar.
- Tantangan yang tidak dapat diatasi manusia.
- Kekuatan yang tampaknya tidak tergoyahkan.
Karena itu, ketika Yesus berbicara tentang memindahkan gunung, Ia tidak sedang mengajarkan kemampuan ajaib yang dapat digunakan sesuka hati.
Sebaliknya, Ia mengajarkan bahwa Allah mampu mengatasi setiap hambatan yang berada dalam jalan kehendak-Nya.
Bab 3
Kekuatan Iman Terletak pada Objeknya
Salah satu kesalahan terbesar dalam memahami iman adalah menganggap bahwa kekuatan terletak pada iman itu sendiri.
R. C. Sproul sering menegaskan bahwa iman tidak memiliki kuasa intrinsik.
Kekuatan iman terletak pada objek iman.
Sebagai ilustrasi:
Seseorang dapat memiliki iman yang sangat besar pada sebuah jembatan yang rapuh, dan jembatan itu tetap akan runtuh.
Sebaliknya, seseorang dapat memiliki iman yang kecil pada jembatan yang kokoh, dan jembatan itu tetap dapat menopangnya.
Demikian pula dalam kehidupan rohani.
Yang menyelamatkan bukan besarnya iman.
Yang menyelamatkan adalah Kristus yang menjadi objek iman.
Yesus bahkan berkata bahwa iman sebesar biji sesawi sudah cukup.
Artinya, bukan ukuran iman yang menjadi fokus utama, melainkan kepada siapa iman itu diarahkan.
Bab 4
Iman dan Kedaulatan Allah
Teologi Reformed selalu menekankan bahwa iman bekerja dalam konteks kedaulatan Allah.
John Murray menjelaskan bahwa iman tidak memaksa Allah melakukan sesuatu.
Iman tunduk kepada kehendak Allah.
Banyak orang beranggapan bahwa jika mereka memiliki iman yang cukup besar, Allah harus mengabulkan semua permintaan mereka.
Namun Alkitab tidak mengajarkan demikian.
Yesus sendiri berdoa di Getsemani:
“Jadilah kehendak-Mu.”
Iman sejati percaya bahwa Allah mampu melakukan segala sesuatu.
Namun iman sejati juga percaya bahwa Allah mengetahui apa yang terbaik.
Karena itu, iman bukanlah alat untuk mengendalikan Allah.
Iman adalah ketergantungan penuh kepada Allah.
Bab 5
Iman yang Menyelamatkan
Pembahasan tentang iman tidak boleh dilepaskan dari keselamatan.
Efesus 2:8 berkata:
“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman.”
Charles Hodge menegaskan bahwa iman adalah sarana yang Allah gunakan untuk menghubungkan orang berdosa dengan Kristus.
Iman tidak menyelamatkan karena iman memiliki nilai tertentu.
Iman menyelamatkan karena iman menerima Kristus.
Semua berkat keselamatan diperoleh melalui persatuan dengan Kristus:
- Pengampunan dosa.
- Pembenaran.
- Pengudusan.
- Adopsi sebagai anak Allah.
- Hidup kekal.
Karena itu, gunung terbesar yang dipindahkan oleh iman bukanlah masalah keuangan atau kesehatan.
Gunung terbesar adalah dosa yang memisahkan manusia dari Allah.
Bab 6
Iman dalam Tengah Penderitaan
Banyak orang menghubungkan iman dengan kemenangan.
Namun Alkitab juga menunjukkan bahwa iman bertahan di tengah penderitaan.
Ibrani 11 mencatat para pahlawan iman.
Sebagian mengalami mukjizat besar.
Namun sebagian lainnya mengalami penganiayaan, penjara, dan kematian.
J. I. Packer menjelaskan bahwa iman bukan jaminan kehidupan bebas masalah.
Iman adalah keyakinan bahwa Allah tetap setia bahkan ketika keadaan sulit.
Ayub kehilangan segala sesuatu.
Namun ia tetap berkata:
“TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil.”
Iman yang dewasa tetap percaya ketika gunung itu belum dipindahkan.
Karena iman percaya bahwa Allah sedang bekerja melalui semua keadaan.
Bab 7
Iman dan Doa
Yesus sering menghubungkan iman dengan doa.
Dalam Markus 11:24 Ia berkata:
“Apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya.”
Ayat ini harus dipahami dalam konteks keseluruhan Alkitab.
John Owen menjelaskan bahwa doa yang beriman selalu selaras dengan kehendak Allah.
Iman tidak berarti menuntut Allah.
Iman berarti mempercayakan kebutuhan kita kepada-Nya.
Doa yang lahir dari iman memiliki beberapa ciri:
- Bersandar pada janji Allah.
- Mengutamakan kehendak Allah.
- Dilandasi kerendahan hati.
- Dipenuhi pengharapan.
Allah sering menjawab doa dengan cara yang berbeda dari harapan kita.
Namun Ia selalu menjawab sesuai hikmat-Nya yang sempurna.
Bab 8
Iman yang Menghasilkan Ketaatan
Iman sejati selalu menghasilkan ketaatan.
Yakobus 2:17 berkata:
“Iman tanpa perbuatan adalah mati.”
B. B. Warfield menjelaskan bahwa perbuatan baik bukan penyebab keselamatan.
Namun perbuatan baik adalah bukti keselamatan.
Abraham menunjukkan imannya dengan menaati Allah.
Nuh menunjukkan imannya dengan membangun bahtera.
Musa menunjukkan imannya dengan meninggalkan Mesir.
Iman yang hanya ada di pikiran tetapi tidak memengaruhi kehidupan bukanlah iman Alkitabiah.
Iman yang hidup menghasilkan perubahan nyata.
Bab 9
Gunung-Gunung yang Dihadapi Orang Percaya
Dalam kehidupan sehari-hari, orang percaya menghadapi berbagai “gunung.”
Misalnya:
Gunung Dosa
Pergumulan melawan dosa yang terus berulang.
Gunung Ketakutan
Kecemasan tentang masa depan.
Gunung Penderitaan
Penyakit, kehilangan, dan kesulitan hidup.
Gunung Penganiayaan
Tekanan karena mengikuti Kristus.
Gunung Pelayanan
Tantangan dalam memberitakan Injil.
Sinclair Ferguson menjelaskan bahwa iman tidak selalu menghilangkan gunung-gunung tersebut secara instan.
Sering kali Allah memberikan kekuatan untuk melewatinya.
Dalam banyak kasus, mukjizat terbesar bukanlah gunung yang hilang.
Mukjizat terbesar adalah orang percaya yang tetap setia di tengah gunung tersebut.
Bab 10
Kristus: Dasar dan Penyempurna Iman
Pada akhirnya, fokus iman Kristen bukanlah iman itu sendiri.
Fokusnya adalah Kristus.
Ibrani 12:2 berkata:
“Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan.”
Yohanes Calvin menegaskan bahwa seluruh kehidupan Kristen bergantung pada persatuan dengan Kristus.
Kita percaya kepada Kristus untuk keselamatan.
Kita percaya kepada Kristus untuk pertumbuhan rohani.
Kita percaya kepada Kristus dalam penderitaan.
Kita percaya kepada Kristus sampai akhir hidup.
Kristus adalah dasar iman.
Kristus juga adalah tujuan iman.
Karena itu, ketika berbicara tentang iman yang memindahkan gunung, kita sebenarnya sedang berbicara tentang kuasa Allah yang bekerja melalui mereka yang percaya kepada Kristus.
Pandangan Beberapa Pakar Teologi Reformed
Yohanes Calvin
Calvin melihat iman sebagai keyakinan yang teguh kepada janji Allah di dalam Kristus.
Herman Bavinck
Bavinck menjelaskan bahwa gunung melambangkan hambatan besar yang tidak dapat diatasi manusia tetapi dapat diatasi Allah.
Louis Berkhof
Berkhof menekankan bahwa iman melibatkan pengetahuan, persetujuan, dan kepercayaan.
Charles Hodge
Hodge mengajarkan bahwa iman adalah sarana untuk menerima keselamatan dalam Kristus.
John Owen
Owen menegaskan bahwa doa yang beriman selalu tunduk pada kehendak Allah.
John Murray
Murray mengingatkan bahwa iman tidak memaksa Allah, melainkan bersandar kepada-Nya.
B. B. Warfield
Warfield menekankan bahwa iman sejati selalu menghasilkan ketaatan.
J. I. Packer
Packer menunjukkan bahwa iman tetap bertahan bahkan ketika Allah mengizinkan penderitaan.
R. C. Sproul
Sproul menyoroti bahwa kekuatan iman terletak pada objeknya, yaitu Allah sendiri.
Sinclair Ferguson
Ferguson menjelaskan bahwa mukjizat terbesar sering kali adalah ketekunan iman di tengah kesulitan.
Kesimpulan
Pernyataan Yesus bahwa “iman dapat memindahkan gunung” merupakan salah satu ajaran yang paling menguatkan dalam Alkitab. Namun Teologi Reformed mengingatkan bahwa makna ayat ini bukanlah memberi manusia kuasa untuk mengendalikan realitas sesuai keinginannya. Sebaliknya, ayat ini menunjuk kepada kuasa Allah yang bekerja melalui iman yang bersandar kepada-Nya.
Calvin menegaskan bahwa iman adalah keyakinan kepada janji Allah. Bavinck menjelaskan bahwa gunung melambangkan hambatan yang tampaknya mustahil. Berkhof menguraikan unsur-unsur iman yang sejati. Hodge mengaitkan iman dengan keselamatan dalam Kristus. Owen dan Murray menekankan hubungan antara iman dan kedaulatan Allah. Warfield menunjukkan bahwa iman menghasilkan ketaatan. Packer dan Ferguson mengingatkan bahwa iman tetap teguh bahkan di tengah penderitaan.
Pada akhirnya, iman Kristen bukanlah tentang seberapa besar keyakinan kita, tetapi tentang seberapa besar Allah yang kita percayai. Iman yang kecil kepada Kristus yang besar lebih berharga daripada iman yang besar kepada sesuatu yang salah.
Karena itu, ketika menghadapi gunung-gunung kehidupan—dosa, ketakutan, penderitaan, atau tantangan pelayanan—orang percaya dipanggil untuk memandang kepada Kristus. Dialah yang memimpin iman kita, menopang iman kita, dan menyempurnakan iman kita.
“Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.” (Matius 19:26)