Penyakit dalam Perspektif Alkitab

Penyakit dalam Perspektif Alkitab

Pendahuluan

Penyakit adalah salah satu pengalaman paling universal dalam kehidupan manusia. Tidak peduli usia, status sosial, tingkat pendidikan, kekayaan, atau latar belakang budaya, setiap orang pada suatu waktu akan berhadapan dengan sakit. Sebagian mengalami penyakit ringan yang segera berlalu, sementara yang lain harus bergumul dengan penyakit kronis, kecacatan, atau bahkan penyakit yang mengancam jiwa.

Ketika penyakit datang, banyak pertanyaan muncul dalam hati manusia. Mengapa saya sakit? Apakah penyakit ini hukuman Allah? Apakah Tuhan masih mengasihi saya? Mengapa orang benar juga menderita? Bagaimana orang Kristen seharusnya menghadapi penderitaan fisik?

Alkitab tidak mengabaikan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sebaliknya, Kitab Suci berbicara secara jujur tentang realitas penyakit dalam dunia yang telah jatuh ke dalam dosa. Namun Alkitab juga memberikan pengharapan yang besar. Allah tetap berdaulat atas penyakit. Kristus memahami penderitaan manusia. Roh Kudus menghibur umat Tuhan di tengah kelemahan mereka. Dan suatu hari nanti, dalam langit dan bumi yang baru, penyakit akan disingkirkan untuk selamanya.

Dalam tradisi Teologi Reformed, para teolog seperti John Calvin, Herman Bavinck, Louis Berkhof, John Owen, Jonathan Edwards, Charles Hodge, B.B. Warfield, J.I. Packer, R.C. Sproul, Sinclair Ferguson, Joel Beeke, Michael Horton, dan Tim Keller telah memberikan refleksi yang mendalam mengenai penyakit, penderitaan, pemeliharaan Allah, dan pengharapan Kristen.

Artikel ini akan membahas penyakit dari perspektif Alkitab dan Teologi Reformed, serta bagaimana orang percaya dapat menghadapi sakit dengan iman, pengharapan, dan ketekunan.

Penyakit Bukan Bagian dari Ciptaan yang Sempurna

Untuk memahami penyakit dengan benar, kita harus kembali kepada awal penciptaan.

Ketika Allah menciptakan dunia, segala sesuatu sangat baik.

Kejadian 1:31 menyatakan:

“Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.”

Pada saat itu:

  • Tidak ada penyakit.
  • Tidak ada penderitaan.
  • Tidak ada kematian.
  • Tidak ada kelemahan fisik.

Manusia hidup dalam persekutuan yang sempurna dengan Allah.

Namun keadaan tersebut berubah setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa.

Dosa dan Masuknya Penyakit ke Dunia

Dalam Kejadian 3, manusia memberontak terhadap Allah.

Akibatnya, seluruh ciptaan mengalami kerusakan.

Rasul Paulus menulis:

“Sebab upah dosa ialah maut.” (Roma 6:23)

Menurut Herman Bavinck, penyakit merupakan salah satu manifestasi dari dunia yang telah rusak akibat dosa.

Penting untuk dipahami bahwa tidak semua penyakit merupakan akibat langsung dari dosa pribadi seseorang.

Namun semua penyakit pada akhirnya berakar pada kenyataan bahwa dunia telah jatuh ke dalam dosa.

Karena itu penyakit mengingatkan kita bahwa dunia saat ini bukanlah dunia sebagaimana Allah menciptakannya pada mulanya.

Apakah Semua Penyakit Merupakan Hukuman Allah?

Ini adalah pertanyaan yang sering muncul.

Dalam Alkitab terdapat beberapa kasus di mana penyakit memang berkaitan dengan hukuman ilahi.

Namun Alkitab juga dengan jelas menunjukkan bahwa tidak semua penyakit merupakan akibat langsung dari dosa pribadi.

Dalam Yohanes 9, para murid bertanya mengenai seorang yang lahir buta:

“Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya?”

Yesus menjawab:

“Bukan dia dan bukan juga orang tuanya.”

Jawaban Yesus sangat penting.

R.C. Sproul menjelaskan bahwa manusia sering mencoba mencari hubungan langsung antara penderitaan dan dosa tertentu.

Namun Yesus menolak kesimpulan yang terlalu sederhana seperti itu.

Tidak semua penderitaan dapat dijelaskan dengan cara tersebut.

Ayub: Orang Benar yang Menderita

Kitab Ayub merupakan salah satu pembahasan paling mendalam mengenai penderitaan dalam Alkitab.

Ayub digambarkan sebagai seorang yang saleh.

Namun ia mengalami:

  • Kehilangan harta.
  • Kehilangan anak-anak.
  • Kehilangan kesehatan.
  • Kehilangan kenyamanan hidup.

Teman-temannya berulang kali menuduh bahwa penderitaannya pasti disebabkan oleh dosa tertentu.

Namun pada akhirnya Allah menunjukkan bahwa penilaian mereka salah.

John Calvin, dalam khotbah-khotbahnya mengenai Ayub, menegaskan bahwa penderitaan orang percaya sering kali memiliki tujuan yang lebih dalam daripada yang dapat dipahami manusia.

Allah bekerja bahkan ketika manusia tidak memahami alasan-Nya.

Kristus dan Orang-Orang Sakit

Ketika membaca Injil, kita menemukan bahwa Yesus menunjukkan perhatian yang luar biasa kepada orang-orang sakit.

Ia menyembuhkan:

  • Orang kusta.
  • Orang lumpuh.
  • Orang buta.
  • Orang tuli.
  • Orang yang kerasukan roh jahat.
  • Orang yang mengalami berbagai penyakit lainnya.

Penyembuhan-penyembuhan tersebut bukan sekadar tindakan belas kasihan.

Menurut Geerhardus Vos, mukjizat-mukjizat Yesus merupakan tanda datangnya Kerajaan Allah.

Mukjizat tersebut menunjukkan bahwa Kristus sedang memulihkan apa yang telah dirusak oleh dosa.

Penyembuhan menjadi gambaran dari pemulihan yang sempurna yang akan datang.

Kristus Adalah Pribadi yang Mengenal Penderitaan

Salah satu penghiburan terbesar bagi orang sakit adalah kenyataan bahwa Kristus memahami penderitaan.

Yesaya 53:3 menyebut Mesias sebagai:

“Seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan.”

Menurut Sinclair Ferguson, Kristus tidak menyelamatkan manusia dari kejauhan.

Ia masuk ke dalam dunia yang penuh penderitaan.

Ia mengalami:

  • Keletihan.
  • Kesedihan.
  • Penolakan.
  • Kesakitan.
  • Kematian.

Karena itu tidak ada penderitaan manusia yang asing bagi-Nya.

Ketika orang percaya sakit, mereka memiliki Imam Besar yang memahami kelemahan mereka.

Penyakit dan Pemeliharaan Allah

Salah satu doktrin yang sangat ditekankan dalam Teologi Reformed adalah doktrin providensia atau pemeliharaan Allah.

Menurut Heidelberg Catechism:

“Tidak ada sesuatu pun yang terjadi secara kebetulan, melainkan oleh tangan Bapa surgawi.”

John Calvin menulis bahwa tidak ada satu peristiwa pun yang berada di luar kendali Allah.

Ini termasuk penyakit.

Pernyataan ini tidak berarti bahwa Allah menikmati penderitaan manusia.

Namun ini berarti bahwa penyakit tidak pernah terjadi di luar rencana dan pengawasan Allah.

Bagi orang percaya, hal ini memberikan penghiburan besar.

Penyakit bukanlah kekacauan yang tidak terkendali.

Allah tetap memegang kendali.

Tujuan Rohani di Balik Penyakit

Meskipun tidak semua alasan penyakit dapat diketahui, Alkitab menunjukkan beberapa tujuan yang sering Allah kerjakan melalui penderitaan.

1. Mengajarkan Ketergantungan kepada Allah

Ketika sehat, manusia mudah merasa mandiri.

Penyakit mengingatkan bahwa hidup bergantung pada Allah.

2. Membentuk Karakter

Yakobus 1:2-4 menunjukkan bahwa pencobaan menghasilkan ketekunan.

3. Memurnikan Iman

Seperti emas dimurnikan dalam api, iman sering dimurnikan melalui penderitaan.

4. Mengarahkan Hati kepada Kekekalan

Penyakit mengingatkan bahwa dunia sekarang bukan rumah yang kekal.

J.I. Packer menulis bahwa Allah sering menggunakan penderitaan sebagai sekolah rohani untuk membentuk umat-Nya menjadi semakin serupa dengan Kristus.

Paulus dan Duri dalam Daging

Dalam 2 Korintus 12, Paulus berbicara tentang “duri dalam daging.”

Meskipun para penafsir berbeda mengenai identitas duri tersebut, banyak yang percaya bahwa itu berkaitan dengan kelemahan fisik tertentu.

Paulus tiga kali memohon agar penderitaan itu disingkirkan.

Namun Allah menjawab:

“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.”

Menurut Charles Hodge, kisah ini menunjukkan bahwa Allah tidak selalu menyembuhkan penyakit umat-Nya.

Terkadang Allah memiliki tujuan yang lebih besar.

Kasih karunia-Nya cukup bahkan ketika kesembuhan tidak segera diberikan.

B.B. Warfield dan Mukjizat Kesembuhan

B.B. Warfield terkenal karena pembahasannya mengenai mukjizat.

Ia mengingatkan bahwa mukjizat dalam Alkitab memiliki fungsi khusus dalam sejarah penebusan.

Namun Warfield juga menegaskan bahwa Allah tetap dapat menyembuhkan sesuai kehendak-Nya.

Orang Kristen boleh berdoa memohon kesembuhan.

Tetapi mereka juga harus tunduk kepada hikmat Allah.

Iman bukan berarti memaksa Allah melakukan apa yang kita inginkan.

Iman berarti percaya kepada kehendak-Nya yang sempurna.

Penyakit dan Doa

Alkitab mendorong umat Tuhan untuk berdoa ketika sakit.

Yakobus 5:14-15 berkata:

“Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat.”

Doa merupakan sarana anugerah yang Allah berikan.

Joel Beeke menjelaskan bahwa doa orang sakit bukan hanya permohonan kesembuhan.

Doa juga merupakan ungkapan ketergantungan kepada Allah.

Melalui doa, orang percaya menyerahkan dirinya ke dalam tangan Bapa yang penuh kasih.

Peran Dokter dan Pengobatan

Alkitab tidak mempertentangkan iman dengan pengobatan.

Lukas, penulis Injil Lukas dan Kisah Para Rasul, dikenal sebagai seorang tabib.

Dalam banyak kesempatan, Allah menggunakan sarana-sarana biasa untuk memelihara manusia.

Louis Berkhof menjelaskan bahwa providensia Allah sering bekerja melalui alat-alat yang tampak biasa.

Karena itu menggunakan:

  • Dokter.
  • Rumah sakit.
  • Obat-obatan.
  • Teknologi medis.

bukanlah tanda kurangnya iman.

Sebaliknya, semua itu dapat dipandang sebagai bagian dari anugerah umum Allah.

Bahaya Teologi Kemakmuran

Salah satu ajaran yang perlu diwaspadai adalah klaim bahwa orang percaya sejati seharusnya selalu sehat.

Ajaran ini tidak sesuai dengan Alkitab.

Banyak tokoh iman mengalami sakit:

  • Ayub.
  • Elisa.
  • Timotius.
  • Paulus.
  • Epafroditus.

Tim Keller menjelaskan bahwa Injil tidak menjanjikan kehidupan bebas penderitaan di dunia sekarang.

Yang dijanjikan adalah kehadiran Allah di tengah penderitaan.

Kesembuhan sempurna menunggu pada kebangkitan tubuh kelak.

Penghiburan dalam Masa Sakit

Ketika seseorang sakit, sering kali yang paling dibutuhkan bukan penjelasan filosofis.

Yang dibutuhkan adalah penghiburan Injil.

Penghiburan tersebut meliputi:

Allah Hadir

Ia tidak meninggalkan umat-Nya.

Kristus Mengerti

Ia memahami penderitaan manusia.

Roh Kudus Menghibur

Ia menopang orang percaya dalam kelemahan.

Gereja Mendukung

Tubuh Kristus dipanggil saling menanggung beban.

Masa Depan Penuh Harapan

Penyakit tidak memiliki kata terakhir.

Pengharapan Kebangkitan Tubuh

Salah satu doktrin yang paling menghiburkan dalam Kekristenan adalah kebangkitan tubuh.

Banyak orang berpikir bahwa keselamatan hanya berkaitan dengan jiwa.

Namun Alkitab mengajarkan bahwa tubuh juga akan ditebus.

Menurut Herman Bavinck, kebangkitan Kristus menjadi jaminan kebangkitan umat-Nya.

Pada hari terakhir:

  • Tubuh yang lemah akan dipulihkan.
  • Penyakit akan lenyap.
  • Kematian akan dikalahkan.

Ini adalah pengharapan yang tidak dimiliki dunia.

Langit dan Bumi yang Baru

Kitab Wahyu menggambarkan masa depan umat Allah:

“Maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita.”

(Wahyu 21:4)

Michael Horton menekankan bahwa pengharapan Kristen bersifat eskatologis.

Kesembuhan terbesar bukan terjadi di rumah sakit.

Kesembuhan terbesar akan terjadi ketika Kristus memperbarui seluruh ciptaan.

Di sana tidak ada lagi:

  • Kanker.
  • Penyakit jantung.
  • Kelumpuhan.
  • Gangguan mental.
  • Kesakitan.
  • Kematian.

Semua akan diperbarui oleh kuasa Kristus.

Pelajaran Praktis bagi Orang Percaya

Ketika Anda Sakit

  • Berdoalah kepada Tuhan.
  • Gunakan sarana medis yang tersedia.
  • Bersandarlah pada janji Allah.
  • Jangan kehilangan pengharapan.

Ketika Orang Lain Sakit

  • Tunjukkan belas kasihan.
  • Berdoalah bagi mereka.
  • Dampingi mereka.
  • Jangan cepat menghakimi.

Ketika Kesembuhan Tidak Datang

  • Ingat bahwa Allah tetap baik.
  • Ingat bahwa Kristus tetap hadir.
  • Ingat bahwa penderitaan bersifat sementara.
  • Ingat bahwa kemuliaan kekal menanti.

Kesimpulan

“Sickness” atau “Penyakit” merupakan salah satu realitas paling menyakitkan dalam kehidupan manusia. Penyakit hadir karena dunia telah jatuh ke dalam dosa, tetapi penyakit tidak pernah berada di luar kendali Allah. Alkitab mengajarkan bahwa Allah tetap berdaulat, bahkan ketika tubuh manusia melemah.

John Calvin mengajarkan bahwa pemeliharaan Allah mencakup seluruh aspek kehidupan. Herman Bavinck menjelaskan bahwa penyakit merupakan bagian dari dunia yang telah rusak oleh dosa. Louis Berkhof menekankan providensia Allah. Charles Hodge dan B.B. Warfield mengingatkan bahwa Allah tidak selalu memberikan kesembuhan yang langsung, tetapi selalu memberikan kasih karunia yang cukup. J.I. Packer, Sinclair Ferguson, Tim Keller, Michael Horton, dan Joel Beeke menunjukkan bahwa penderitaan dapat menjadi sarana pertumbuhan rohani dan pengharapan akan kemuliaan yang akan datang.

Pada akhirnya, jawaban terbesar terhadap penyakit bukanlah teori, melainkan Pribadi Yesus Kristus. Ia datang ke dunia yang penuh penderitaan. Ia memikul kesengsaraan umat-Nya. Ia mati dan bangkit untuk mengalahkan dosa, penyakit, dan kematian.

Karena itu orang percaya dapat menghadapi sakit dengan pengharapan. Penyakit mungkin melemahkan tubuh, tetapi tidak dapat memisahkan mereka dari kasih Kristus. Penyakit mungkin bertahan untuk sementara waktu, tetapi tidak akan bertahan selamanya.

Sebab akan datang hari ketika Sang Juruselamat memperbarui segala sesuatu, dan umat-Nya akan hidup dalam tubuh yang dimuliakan tanpa sakit, tanpa air mata, dan tanpa kematian.

“Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka.” (Wahyu 21:4)

Itulah pengharapan yang teguh bagi setiap orang percaya yang berjalan bersama Kristus di tengah penderitaan.

Soli Deo Gloria.

Previous Post