Tiga Puluh Satu Renungan tentang Injil

Tiga Puluh Satu Renungan tentang Injil

Pendahuluan

Di sepanjang sejarah gereja, tidak ada tema yang lebih penting daripada Injil. Seluruh Alkitab bergerak menuju Injil, berpusat pada Injil, dan menemukan penggenapannya di dalam Injil Yesus Kristus. Injil bukan sekadar pesan awal yang membawa seseorang kepada keselamatan, melainkan fondasi kehidupan Kristen setiap hari.

Banyak orang percaya memahami Injil sebagai berita yang diperlukan ketika seseorang pertama kali bertobat. Setelah itu, perhatian sering beralih kepada kehidupan praktis, pelayanan, pertumbuhan rohani, atau etika Kristen. Namun para teolog Reformed secara konsisten mengingatkan bahwa orang percaya tidak pernah meninggalkan Injil. Sebaliknya, semakin bertumbuh dalam iman, semakin dalam pula seseorang memahami kekayaan Injil.

Judul “Thirty-One Meditations on the Gospel” (Tiga Puluh Satu Renungan tentang Injil) mengingatkan kita bahwa Injil layak direnungkan setiap hari. Sebagaimana makanan dibutuhkan tubuh setiap hari, demikian pula Injil dibutuhkan jiwa setiap hari.

Artikel ini akan membahas makna Injil, eksposisi tema-tema utama Alkitab yang berkaitan dengan Injil, serta pandangan beberapa teolog Reformed mengenai pentingnya hidup yang berpusat pada Injil.

Apa Itu Injil?

Kata “Injil” berasal dari bahasa Yunani euangelion, yang berarti “kabar baik” atau “berita sukacita.”

Dalam pengertian Alkitabiah, Injil adalah berita bahwa Allah menyelamatkan orang berdosa melalui kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus.

Injil bukan pertama-tama tentang apa yang manusia lakukan bagi Allah.

Injil adalah tentang apa yang Allah lakukan bagi manusia melalui Kristus.

John Stott pernah mengatakan bahwa inti Kekristenan bukanlah nasihat moral, melainkan berita historis tentang tindakan penyelamatan Allah.

Dalam perspektif Reformed, Injil merupakan puncak dari rencana penebusan Allah yang telah ditetapkan sejak kekekalan.

Injil dalam Seluruh Alkitab

Salah satu kontribusi penting teologi Reformed adalah penekanannya pada kesatuan seluruh Alkitab.

Alkitab bukan kumpulan cerita yang terpisah.

Alkitab adalah satu kisah besar tentang karya penebusan Allah.

Geerhardus Vos, pelopor Teologi Biblika Reformed, menjelaskan bahwa seluruh sejarah penebusan berkembang secara progresif menuju Kristus.

Dengan demikian:

  • Kejadian menunjuk kepada Kristus.
  • Taurat menunjuk kepada Kristus.
  • Para nabi menunjuk kepada Kristus.
  • Mazmur menunjuk kepada Kristus.
  • Perjanjian Baru menyatakan Kristus secara penuh.

Yesus sendiri berkata:

“Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku.” (Yohanes 5:39)

Karena itu Injil bukan sekadar tema Perjanjian Baru.

Injil adalah jantung seluruh Alkitab.

Masalah Utama Manusia: Dosa

Untuk memahami keindahan Injil, seseorang harus memahami terlebih dahulu masalah yang hendak diselesaikan Injil.

Menurut Alkitab, masalah terbesar manusia bukan kemiskinan, penderitaan, ketidakadilan, atau penyakit.

Semua itu memang nyata dan serius.

Namun akar persoalan manusia adalah dosa.

Roma 3:23 menyatakan:

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.”

Teologi Reformed menekankan doktrin kerusakan total (total depravity).

Doktrin ini tidak berarti manusia sejahat mungkin.

Sebaliknya, doktrin ini mengajarkan bahwa dosa telah memengaruhi seluruh keberadaan manusia:

  • Pikiran
  • Kehendak
  • Perasaan
  • Hati
  • Relasi

R.C. Sproul menjelaskan bahwa manusia tidak hanya melakukan dosa; manusia adalah pendosa secara natur.

Karena itu manusia tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri.

Kekudusan Allah dan Kebutuhan Akan Penebusan

Injil menjadi kabar baik karena Allah adalah Allah yang kudus.

Banyak orang modern lebih suka berbicara tentang kasih Allah daripada kekudusan-Nya.

Namun Alkitab mengajarkan keduanya.

Allah adalah kasih.

Allah juga kudus.

Kekudusan Allah berarti Ia sepenuhnya murni dan terpisah dari dosa.

Karena itu dosa tidak dapat dianggap remeh.

Jonathan Edwards menulis bahwa beratnya dosa hanya dapat dipahami ketika seseorang melihat kemuliaan dan kekudusan Allah.

Inilah alasan mengapa manusia membutuhkan Juruselamat.

Masalah manusia bukan sekadar rasa bersalah subjektif.

Masalah manusia adalah kesalahannya yang nyata di hadapan Allah yang kudus.

Kristus sebagai Pusat Injil

Di tengah ketidakmampuan manusia, Allah mengutus Anak-Nya.

Yesus Kristus datang ke dunia sebagai Allah sejati dan manusia sejati.

Ia hidup tanpa dosa.

Ia menaati hukum Allah secara sempurna.

Ia melakukan apa yang gagal dilakukan manusia.

Kemudian Ia mati di kayu salib sebagai pengganti umat-Nya.

John Calvin menyebut Kristus sebagai Mediator yang menjembatani jurang antara Allah dan manusia.

Di atas salib, Kristus menanggung hukuman yang seharusnya diterima orang berdosa.

Melalui kematian-Nya, keadilan Allah dipuaskan.

Melalui kebangkitan-Nya, kemenangan atas dosa dan maut dinyatakan.

Inilah inti Injil.

Doktrin Pembenaran oleh Iman

Salah satu penemuan kembali terbesar Reformasi adalah doktrin pembenaran oleh iman.

Martin Luther menyebutnya sebagai “artikel yang membuat gereja berdiri atau jatuh.”

Pembenaran berarti Allah menyatakan orang berdosa benar di hadapan-Nya.

Pernyataan ini bukan berdasarkan perbuatan manusia.

Pernyataan ini didasarkan pada kebenaran Kristus yang diperhitungkan kepada orang percaya.

John Calvin menyebut pembenaran sebagai “engsel utama” agama Kristen.

Menurut Calvin, keselamatan tidak diperoleh melalui usaha manusia.

Keselamatan adalah anugerah murni.

Orang percaya dibenarkan hanya oleh iman kepada Kristus.

Anugerah yang Tidak Layak Diterima

Salah satu tema terbesar dalam Injil adalah anugerah.

Anugerah berarti kebaikan Allah yang diberikan kepada mereka yang tidak layak menerimanya.

Jika keselamatan didasarkan pada prestasi manusia, maka tidak seorang pun dapat diselamatkan.

Namun Allah memilih menyelamatkan berdasarkan kasih karunia-Nya.

Herman Bavinck menulis bahwa seluruh karya keselamatan berasal dari awal sampai akhir oleh anugerah.

Keselamatan tidak dimulai oleh manusia.

Keselamatan tidak dipelihara oleh manusia.

Keselamatan tidak disempurnakan oleh manusia.

Segalanya berasal dari Allah.

Kedaulatan Allah dalam Keselamatan

Teologi Reformed sangat menekankan kedaulatan Allah.

Efesus 1 mengajarkan bahwa Allah memilih umat-Nya sebelum dunia dijadikan.

Doktrin ini sering disebut sebagai pemilihan (election).

Tujuan doktrin ini bukan untuk menciptakan kesombongan.

Sebaliknya, doktrin ini menghasilkan kerendahan hati.

Jika keselamatan berasal sepenuhnya dari Allah, maka tidak ada ruang untuk membanggakan diri.

Charles Spurgeon berkata:

“Aku percaya doktrin anugerah karena aku tahu bahwa jika Allah tidak memilihku, aku tidak akan pernah memilih Dia.”

Kedaulatan Allah menjadi sumber penghiburan besar bagi orang percaya.

Persatuan dengan Kristus

John Murray menyebut persatuan dengan Kristus sebagai pusat keselamatan.

Melalui iman, orang percaya dipersatukan dengan Kristus.

Karena itu:

  • Kematian Kristus menjadi kematian kita.
  • Kebangkitan Kristus menjadi jaminan kebangkitan kita.
  • Kebenaran Kristus menjadi kebenaran kita.

Semua berkat keselamatan mengalir dari persatuan ini.

Tanpa Kristus, tidak ada keselamatan.

Di dalam Kristus, tersedia segala sesuatu yang dibutuhkan orang percaya.

Injil dan Pertobatan

Injil selalu menghasilkan pertobatan.

Pertobatan bukan sekadar penyesalan.

Pertobatan adalah perubahan hati yang menghasilkan perubahan arah hidup.

Thomas Watson, seorang teolog Puritan, menjelaskan bahwa pertobatan sejati melibatkan:

  • Pengakuan dosa.
  • Dukacita atas dosa.
  • Kebencian terhadap dosa.
  • Berbalik kepada Allah.

Pertobatan bukan dasar keselamatan.

Pertobatan adalah buah dari karya anugerah Allah.

Injil dan Pengudusan

Kesalahan umum yang sering terjadi adalah memisahkan Injil dari kehidupan sehari-hari.

Padahal Injil tidak hanya menyelamatkan.

Injil juga mengubah.

Pengudusan adalah proses di mana Roh Kudus membentuk orang percaya semakin serupa dengan Kristus.

J.I. Packer menjelaskan bahwa Injil menghasilkan kehidupan yang terus-menerus diperbarui oleh kasih karunia.

Pertumbuhan rohani bukan usaha manusia semata.

Pertumbuhan rohani adalah hasil karya Roh Kudus melalui firman Allah.

Mengapa Orang Percaya Harus Merenungkan Injil Setiap Hari?

Judul “Tiga Puluh Satu Renungan tentang Injil” mengandung sebuah prinsip penting.

Injil bukan untuk direnungkan sesekali.

Injil perlu direnungkan setiap hari.

Mengapa?

Karena hati manusia mudah lupa.

Bangsa Israel melupakan karya Allah.

Gereja mula-mula harus terus diingatkan akan Injil.

Orang percaya masa kini pun demikian.

Tim Keller sering menekankan bahwa orang Kristen perlu “memberitakan Injil kepada diri sendiri setiap hari.”

Bukan karena Injil berubah.

Tetapi karena hati manusia mudah berpaling.

Injil dan Kerendahan Hati

Injil menghancurkan kesombongan.

Jika keselamatan diperoleh oleh anugerah, maka tidak ada alasan untuk membanggakan diri.

Tidak ada orang yang lebih layak diselamatkan daripada orang lain.

Semua orang berdosa.

Semua membutuhkan kasih karunia.

Jonathan Edwards menulis bahwa semakin seseorang memahami Injil, semakin rendah hati ia menjadi.

Kerendahan hati Kristen lahir dari pemahaman bahwa semua yang dimiliki berasal dari Allah.

Injil dan Pengampunan

Salah satu berkat terbesar Injil adalah pengampunan dosa.

Banyak orang hidup di bawah beban rasa bersalah.

Mereka terus dihantui kegagalan masa lalu.

Namun Injil menyatakan bahwa darah Kristus cukup untuk menghapus dosa.

John Owen menulis bahwa pengampunan Allah tidak setengah-setengah.

Allah tidak mengampuni sebagian dosa lalu menyimpan sisanya.

Melalui Kristus, orang percaya menerima pengampunan yang penuh.

Injil dan Identitas Orang Percaya

Dunia sering mendefinisikan manusia berdasarkan:

  • Prestasi
  • Kekayaan
  • Jabatan
  • Pendidikan
  • Popularitas

Injil memberikan identitas yang berbeda.

Orang percaya adalah:

  • Anak Allah.
  • Ahli waris Kerajaan Allah.
  • Umat tebusan Kristus.
  • Bait Roh Kudus.

Identitas ini tidak bergantung pada keberhasilan duniawi.

Identitas ini berakar pada karya Kristus.

Injil dan Penderitaan

Salah satu kesalahpahaman terbesar adalah anggapan bahwa Injil menjamin hidup bebas penderitaan.

Alkitab tidak pernah mengajarkan hal itu.

Sebaliknya, Injil memberikan makna bagi penderitaan.

Roma 8 mengajarkan bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi umat-Nya.

Herman Bavinck menjelaskan bahwa penderitaan dalam kehidupan orang percaya berada di bawah providensia Allah.

Tidak ada air mata yang sia-sia.

Tidak ada penderitaan yang terlepas dari tujuan Allah.

Injil dan Pengharapan

Dunia menawarkan banyak harapan yang rapuh.

Harapan pada kekayaan.

Harapan pada kesehatan.

Harapan pada stabilitas politik.

Semua itu dapat hilang.

Injil memberikan harapan yang tidak dapat dihancurkan.

Kristus telah bangkit.

Karena itu maut telah dikalahkan.

Karena itu masa depan umat Allah aman.

Geerhardus Vos menekankan bahwa seluruh sejarah bergerak menuju penggenapan Kerajaan Allah yang sempurna.

Pengharapan Kristen berakar pada janji Allah yang pasti.

Injil dan Kemuliaan Allah

Tujuan tertinggi Injil bukan pertama-tama kebahagiaan manusia.

Tujuan tertinggi Injil adalah kemuliaan Allah.

Allah menyelamatkan umat-Nya untuk memuliakan nama-Nya.

John Piper sering mengingatkan bahwa Allah paling dimuliakan ketika umat-Nya menemukan kepuasan tertinggi di dalam Dia.

Injil membawa manusia kembali kepada tujuan penciptaannya:

memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya.

Pandangan Beberapa Pakar Teologi Reformed

John Calvin

Calvin melihat Injil sebagai penyataan kasih karunia Allah yang sempurna di dalam Kristus. Menurutnya, tidak ada bagian keselamatan yang berasal dari usaha manusia.

Herman Bavinck

Bavinck menegaskan bahwa Injil adalah pusat seluruh wahyu Allah dan jawaban terhadap kebutuhan terdalam manusia yang telah jatuh ke dalam dosa.

Geerhardus Vos

Vos melihat Injil sebagai puncak sejarah penebusan yang telah dinyatakan secara bertahap sejak Kejadian hingga Perjanjian Baru.

R.C. Sproul

Sproul menekankan bahwa Injil hanya dapat dipahami dengan benar jika seseorang memahami kekudusan Allah dan keseriusan dosa.

J.I. Packer

Packer menegaskan bahwa mengenal Injil berarti mengenal Allah secara pribadi melalui Kristus.

John Murray

Murray menyoroti pentingnya persatuan dengan Kristus sebagai inti dari seluruh berkat keselamatan yang diberitakan Injil.

Sinclair Ferguson

Ferguson menjelaskan bahwa Injil bukan hanya pintu masuk kehidupan Kristen, tetapi juga jalan yang harus ditempuh sepanjang kehidupan orang percaya.

Penutup

“Thirty-One Meditations on the Gospel” (Tiga Puluh Satu Renungan tentang Injil) mengingatkan kita bahwa Injil bukan sekadar doktrin yang dipelajari, melainkan kebenaran yang harus direnungkan terus-menerus. Injil menyatakan kasih Allah kepada orang berdosa, karya penebusan Kristus di kayu salib, pengampunan dosa, pembenaran oleh iman, dan pengharapan akan kemuliaan yang akan datang.

Para teolog Reformed sepanjang sejarah sepakat bahwa kehidupan Kristen tidak pernah bergerak melampaui Injil. Semakin seseorang bertumbuh dalam iman, semakin ia menyadari bahwa seluruh hidupnya bergantung pada kasih karunia Allah yang dinyatakan di dalam Kristus.

Karena itu, merenungkan Injil setiap hari bukanlah aktivitas tambahan dalam kehidupan Kristen. Merenungkan Injil adalah kebutuhan rohani yang mendasar. Di dalam Injil kita menemukan identitas, penghiburan, pengampunan, pengharapan, dan sukacita yang sejati. Dan semakin kita memahami Injil, semakin kita terdorong untuk memuliakan Allah yang telah mengasihi kita terlebih dahulu melalui Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus.

Next Post Previous Post