Yesus Adalah Imam Besarku
Pendahuluan: Yesus Adalah Imam Besarku
Dalam kehidupan iman Kristen, kita membutuhkan lebih dari sekadar teladan moral atau guru yang mengajarkan kebenaran. Kita membutuhkan Juruselamat yang membebaskan kita dari dosa, Pengantara yang membawa kita kepada Allah, dan Imam Besar yang senantiasa memelihara umat-Nya. Alkitab menyatakan bahwa semua kebutuhan ini menemukan jawabannya dalam pribadi Yesus Kristus.
Ibrani 4:14-16 memperkenalkan Yesus sebagai Imam Besar Agung yang telah melintasi semua langit. Ia bukan Imam Besar yang tidak memahami kelemahan manusia. Sebaliknya, Ia telah mengalami pencobaan, tetapi tidak berbuat dosa. Karena itu, orang percaya diundang untuk menghampiri takhta kasih karunia dengan penuh keberanian.
Pernyataan "Jesus is my High Priest" atau "Yesus adalah Imam Besarku" bukan sekadar ungkapan penghiburan rohani. Pernyataan ini mengandung pengakuan iman yang mendalam tentang identitas Kristus, karya penebusan-Nya, dan hubungan orang percaya dengan Allah.
Dalam perspektif teologi Reformed, imamat Kristus merupakan bagian penting dari karya Kristus sebagai Pengantara. Melalui kematian-Nya, Yesus mempersembahkan korban yang sempurna bagi dosa. Melalui kebangkitan dan kenaikan-Nya, Ia menjalankan pemerintahan-Nya dan terus menjadi Pengantara bagi umat-Nya.
Lalu, apa makna Yesus sebagai Imam Besar Agung? Mengapa karya-Nya berbeda dari pelayanan imam dalam Perjanjian Lama? Dan bagaimana kebenaran ini mengubah kehidupan orang percaya?
1. Yesus Adalah Imam Besar Agung Menurut Alkitab
Ibrani 4:14-16 menjadi dasar penting untuk memahami imamat Kristus. Penulis Surat Ibrani menegaskan bahwa orang percaya memiliki Imam Besar Agung, yaitu Yesus, Anak Allah.
Dalam Perjanjian Lama, imam bertugas mewakili umat di hadapan Allah. Mereka mempersembahkan korban, menjalankan pelayanan ibadah, dan melaksanakan ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan kekudusan serta pengampunan dosa.
Namun, pelayanan imam manusia memiliki keterbatasan. Mereka sendiri adalah manusia berdosa yang membutuhkan pengampunan. Korban-korban yang mereka persembahkan juga harus dilakukan berulang kali.
Yesus berbeda. Ia adalah Imam Besar yang sempurna, kudus, dan tidak berdosa. Ia tidak datang hanya untuk mempersembahkan korban dari luar diri-Nya, tetapi menyerahkan diri-Nya sendiri sebagai korban penebusan.
Dalam Ibrani 7:26-27, penulis menekankan kekudusan Kristus dan keunikan pengorbanan-Nya. Ia tidak perlu mempersembahkan korban bagi dosa-Nya sendiri, sebab Ia tidak berdosa. Ia telah mempersembahkan diri-Nya satu kali untuk selama-lamanya.
Kebenaran ini sangat penting bagi iman Kristen. Keselamatan kita tidak bergantung pada kesempurnaan usaha manusia, melainkan pada kesempurnaan karya Yesus Kristus.
Yesus adalah Imam Besarku karena Ia telah melakukan bagi umat-Nya apa yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia berdosa: menyediakan jalan pendamaian yang sempurna kepada Allah.
2. Yesus Memahami Kelemahan Manusia
Salah satu penghiburan terbesar dalam Ibrani 4:15 adalah bahwa Imam Besar kita dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita.
Yesus sungguh-sungguh menjadi manusia. Ia mengalami kelaparan, kelelahan, kesedihan, penderitaan, penolakan, dan pencobaan. Ia tidak menyelamatkan manusia dari kejauhan tanpa memasuki pengalaman kehidupan manusia.
Namun, terdapat perbedaan mendasar: Yesus dicobai, tetapi tidak berbuat dosa.
Artinya, Ia memahami beratnya pencobaan tanpa pernah menyerah kepada dosa. Ia dapat bersimpati kepada umat-Nya bukan karena Ia memiliki pengalaman sebagai orang berdosa, melainkan karena Ia sungguh-sungguh mengalami kelemahan dan penderitaan manusia dalam ketaatan yang sempurna.
John Calvin, dalam komentarnya atas Surat Ibrani, menyoroti pentingnya kemanusiaan Kristus bagi penghiburan orang percaya. Kristus bukan Pengantara yang jauh dan tidak peduli terhadap pergumulan umat-Nya. Ia memahami keadaan mereka dan membuka jalan bagi mereka untuk datang kepada Allah.
Dari sudut pandang Reformed, kemanusiaan Kristus bukan sekadar bagian dari kisah kelahiran-Nya. Kemanusiaan-Nya diperlukan dalam karya-Nya sebagai Pengantara. Ia mewakili manusia dan menjalankan ketaatan yang sempurna di hadapan Allah.
Karena itu, ketika orang percaya menghadapi pencobaan, ia tidak perlu menyembunyikan pergumulannya dari Tuhan. Ia dapat datang kepada Kristus dengan jujur, memohon pertolongan, dan mencari kekuatan untuk tetap setia.
Ini tidak berarti bahwa setiap keinginan atau tindakan kita dibenarkan karena Yesus memahami kelemahan kita. Sebaliknya, kasih dan belas kasihan Kristus mendorong kita untuk meninggalkan dosa serta bertumbuh dalam kekudusan.
3. Yesus Mempersembahkan Korban yang Sempurna
Inti pelayanan seorang imam dalam Perjanjian Lama berkaitan dengan persembahan korban. Korban-korban tersebut merupakan bagian dari tata ibadah yang diberikan Allah kepada Israel. Namun, korban-korban itu tidak menjadi penyelesaian final bagi dosa manusia.
Surat Ibrani menjelaskan bahwa Yesus datang untuk menggenapi apa yang dilambangkan oleh sistem korban tersebut.
Ibrani 7:27 menegaskan bahwa Yesus mempersembahkan diri-Nya sendiri satu kali untuk selama-lamanya. Kematian-Nya bukan sekadar kematian seorang martir atau contoh pengorbanan diri. Kematian-Nya merupakan bagian inti dari karya penebusan Allah.
Dalam teologi Reformed, pengorbanan Kristus dipahami sebagai pengorbanan yang sungguh-sungguh menangani persoalan dosa. Di kayu salib, Kristus menanggung hukuman dosa umat-Nya dan mendamaikan mereka dengan Allah.
Herman Bavinck, dalam Reformed Dogmatics, membahas karya Kristus dalam kesatuan jabatan-Nya sebagai Pengantara. Karya Kristus tidak dapat dipisahkan dari pribadi-Nya sebagai Allah sejati dan manusia sejati. Ia adalah Pengantara yang memenuhi kebutuhan manusia sekaligus melaksanakan rencana keselamatan Allah.
Di sini kita melihat perbedaan antara pengorbanan Kristus dan usaha keagamaan manusia. Manusia tidak dapat menghapus kesalahannya sendiri dengan melakukan cukup banyak perbuatan baik. Pelayanan, doa, persembahan, dan ketaatan Kristen tidak dapat menggantikan karya penebusan Kristus.
Perbuatan baik merupakan buah iman dan ungkapan syukur kepada Allah, bukan harga yang dibayarkan untuk memperoleh keselamatan.
Jika Yesus adalah Imam Besarku, aku tidak perlu mencari korban tambahan untuk menyempurnakan pengorbanan-Nya. Aku dipanggil untuk percaya kepada karya-Nya yang sempurna dan hidup dalam ketaatan sebagai respons terhadap kasih karunia-Nya.
4. Yesus Senantiasa Menjadi Pengantara bagi Umat-Nya
Ibrani 7:24-25 mengajarkan bahwa imamat Yesus tidak beralih kepada orang lain karena Ia tetap selama-lamanya. Ia sanggup menyelamatkan dengan sempurna mereka yang datang kepada Allah melalui Dia, sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.
Bagian ini menyingkapkan dimensi penting dari pelayanan Kristus: karya-Nya tidak berhenti pada kematian-Nya di kayu salib.
Yesus telah bangkit dan naik ke surga. Ia hidup dan memegang imamat yang tidak berakhir. Karena itu, keselamatan orang percaya tidak bertumpu pada usaha manusia untuk mempertahankan dirinya di hadapan Allah, tetapi pada karya Kristus yang sempurna dan terus berlangsung sebagai Pengantara.
John Calvin menekankan bahwa pengharapan orang percaya terletak pada Kristus yang hidup dan menjalankan pelayanan-Nya bagi umat-Nya. Melalui Dia, orang percaya memiliki akses kepada Allah.
Dalam tradisi Reformed, doa syafaat Kristus tidak berarti bahwa Ia terus-menerus mengulangi pengorbanan di kayu salib. Pengorbanan-Nya sudah sempurna dan tidak perlu diulang. Doa syafaat-Nya berkaitan dengan pelayanan-Nya sebagai Pengantara yang hidup, berdasarkan penebusan yang telah diselesaikan-Nya.
Kebenaran ini membawa penghiburan besar.
Ketika kita merasa lemah dalam doa, Kristus tetap hidup. Ketika kita bergumul melawan dosa, keselamatan kita tidak bergantung pada kekuatan tekad kita sendiri. Ketika kita menghadapi penderitaan, kita tidak ditinggalkan tanpa Pengantara.
Hal ini bukan alasan untuk hidup sembarangan. Sebaliknya, karena Kristus memelihara umat-Nya, kita dapat terus datang kepada-Nya dalam pertobatan dan iman.
5. Yesus Membuka Jalan Menuju Takhta Kasih Karunia
Ibrani 4:16 mengundang orang percaya untuk menghampiri takhta kasih karunia dengan penuh keberanian, supaya menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapatkan pertolongan pada waktunya.
Perhatikan bahwa penulis Surat Ibrani tidak mengatakan bahwa kita dapat datang kepada Allah karena diri kita sendiri sudah layak. Keberanian orang percaya didasarkan pada keberadaan Yesus sebagai Imam Besar Agung.
Kita datang bukan dengan membanggakan kebaikan diri, melainkan dengan bersandar pada Kristus.
Dalam teologi Reformed, akses kepada Allah melalui Kristus berkaitan erat dengan doktrin pembenaran. Orang berdosa dibenarkan bukan karena perbuatan baiknya, melainkan karena kebenaran Kristus yang diterima melalui iman.
Herman Bavinck menempatkan karya Kristus sebagai pusat keselamatan. Manusia diperdamaikan dengan Allah bukan dengan membangun jalan keselamatan melalui usahanya sendiri, melainkan melalui karya Pengantara yang ditetapkan Allah.
Dengan demikian, doa Kristen bukan usaha untuk membujuk Allah agar mulai mengasihi kita. Doa merupakan respons iman kepada Allah yang telah membuka jalan melalui Kristus.
Kita boleh datang membawa ketakutan, penyesalan, kebingungan, dan kebutuhan kita. Kita boleh memohon pengampunan ketika jatuh ke dalam dosa dan meminta kekuatan untuk menjalani kehendak Allah.
Takhta yang kita hampiri disebut takhta kasih karunia. Di sana kita mencari rahmat dan pertolongan, bukan karena kita tidak pernah gagal, tetapi karena Kristus adalah Imam Besar kita.
6. Imamat Kristus dalam Perspektif Teologi Reformed
Teologi Reformed secara klasik menjelaskan karya Kristus melalui tiga jabatan: Nabi, Imam, dan Raja. Ketiganya bukan tiga pekerjaan yang terpisah, melainkan cara untuk memahami kekayaan karya Kristus sebagai Pengantara.
Sebagai Nabi, Kristus menyatakan kebenaran Allah dan kehendak-Nya.
Sebagai Imam, Kristus mempersembahkan diri-Nya sebagai korban penebusan dan menjadi Pengantara umat-Nya.
Sebagai Raja, Kristus memerintah, melindungi, dan memelihara umat-Nya.
John Calvin mengembangkan kerangka tiga jabatan ini dalam Institutes of the Christian Religion. Kerangka tersebut menolong gereja memahami bahwa Kristus memenuhi seluruh kebutuhan manusia sebagai Pengantara.
Geerhardus Vos, melalui pendekatannya terhadap teologi biblika, menekankan pentingnya memahami karya keselamatan dalam perkembangan sejarah penebusan. Pelayanan imam dalam Perjanjian Lama tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari sejarah yang bergerak menuju penggenapan di dalam Kristus.
Herman Bavinck juga menempatkan pribadi dan karya Kristus sebagai pusat doktrin keselamatan. Dalam diri Kristus, Allah menyediakan Pengantara yang sungguh-sungguh dapat mewakili manusia dan menyelesaikan persoalan dosa.
Ketiga perspektif ini membantu kita melihat bahwa Yesus bukan hanya Imam Besar yang mempersembahkan korban. Ia adalah Pengantara yang karya-Nya mencakup penebusan, pendamaian, dan pemeliharaan umat Allah.
Karena itu, pengakuan "Yesus adalah Imam Besarku" berarti kita mengakui ketergantungan penuh kepada karya Kristus. Kita tidak datang kepada Allah melalui jasa diri sendiri, melainkan melalui Dia yang telah membuka jalan keselamatan.
7. Apa Artinya bagi Kehidupan Orang Percaya?
Doktrin tentang Yesus sebagai Imam Besar Agung bukan hanya bahan diskusi teologi. Kebenaran ini membentuk kehidupan sehari-hari orang Kristen.
Pertama, kita memiliki dasar pengharapan ketika jatuh dalam dosa.
Orang percaya tetap dipanggil untuk hidup kudus. Namun, ketika jatuh, ia tidak perlu tenggelam dalam keputusasaan seolah-olah tidak ada jalan kembali kepada Allah. Ia dipanggil untuk bertobat dan datang kepada Allah melalui Kristus.
Kedua, kita dapat berdoa dengan keyakinan.
Doa bukan bergantung pada kefasihan kata atau kesempurnaan emosi. Kita datang kepada Bapa melalui Kristus, dengan percaya bahwa kasih karunia dan pertolongan-Nya cukup bagi kebutuhan kita.
Ketiga, kita belajar mengandalkan kasih karunia, bukan kesombongan rohani.
Pelayanan dan ketaatan tidak menjadikan kita penyelamat bagi diri sendiri. Semakin kita memahami imamat Kristus, semakin kita menyadari bahwa keselamatan adalah anugerah Allah.
Keempat, kita memperoleh kekuatan untuk bertekun.
Ibrani 7:25 menegaskan bahwa Kristus sanggup menyelamatkan dengan sempurna mereka yang datang kepada Allah melalui Dia. Pengharapan ini mendorong kita untuk tetap beriman, bahkan ketika perjalanan hidup terasa berat.
Kelima, kita dipanggil untuk hidup dalam kekudusan dan ucapan syukur.
Kasih karunia bukan izin untuk terus hidup dalam dosa. Karena Kristus telah menebus umat-Nya, mereka dipanggil untuk menjalani kehidupan yang memuliakan Allah.
Kesimpulan: Yesus Adalah Imam Besarku untuk Selama-lamanya
Pernyataan "Jesus is my High Priest" mengungkapkan inti pengharapan Kristen. Yesus Kristus adalah Imam Besar Agung yang memahami kelemahan manusia, tetapi tidak berdosa. Ia telah mempersembahkan diri-Nya sebagai korban yang sempurna, bangkit dari kematian, dan hidup selama-lamanya sebagai Pengantara umat-Nya.
Menurut kesaksian Surat Ibrani, melalui Yesus kita dapat datang kepada Allah dengan penuh keberanian untuk menerima rahmat dan kasih karunia. Dalam perspektif Reformed, keselamatan ini sepenuhnya berakar pada karya Kristus, bukan pada jasa atau kesempurnaan manusia.
Karena itu, ketika hati kita dituduh oleh dosa, kita dipanggil untuk bertobat dan bersandar kepada Kristus. Ketika kita menghadapi kelemahan, kita dapat mencari pertolongan-Nya. Ketika masa depan tampak tidak pasti, kita dapat bertekun dalam iman karena Pengantara kita hidup selama-lamanya.
Yesus bukan hanya Imam Besar dalam pengajaran Alkitab. Ia adalah Imam Besar Agung yang menjadi dasar pengharapan setiap orang yang datang kepada Allah melalui Dia.
Yesus adalah Imam Besarku. Di dalam Dia, aku memiliki Pengantara, pengharapan, dan dasar untuk menghampiri takhta kasih karunia.
.jpg)