Yesus Memerintah
Pendahuluan: Raja yang Tidak Pernah Kehilangan Takhta-Nya
Jesus Reigns — Yesus memerintah. Tiga kata ini mengandung pengakuan iman yang mendalam tentang identitas Kristus, otoritas-Nya atas sejarah, dan pengharapan gereja di tengah dunia yang terus berubah. Ketika peperangan terjadi, ketidakadilan merajalela, krisis mengguncang kehidupan manusia, dan masa depan tampak tidak menentu, orang percaya perlu kembali kepada satu kebenaran mendasar: Yesus Kristus tetap bertakhta.
Dunia sering mengukur kekuasaan melalui jabatan, kekayaan, pengaruh politik, kekuatan militer, dan kemampuan mengendalikan keadaan. Namun, pemerintahan Kristus tidak bergantung pada pengakuan manusia, dukungan mayoritas, atau stabilitas dunia. Ia adalah Tuhan yang bangkit dari kematian, naik ke surga, dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Takhta-Nya bukan hasil perebutan kekuasaan, melainkan bagian dari kemuliaan dan otoritas-Nya sebagai Anak Allah yang berinkarnasi, mati, bangkit, dan dimuliakan.
Dalam perspektif teologi Reformed, pengakuan bahwa Yesus memerintah bukan sekadar slogan rohani untuk membangkitkan semangat. Pengakuan ini berakar pada Alkitab, berhubungan dengan doktrin Kristus, kedaulatan Allah, penebusan, pemeliharaan ilahi, dan penggenapan kerajaan Allah. Jika Yesus benar-benar memerintah, tidak ada bagian kehidupan yang berada di luar otoritas-Nya.
1. Yesus Memerintah sebagai Raja yang Ditetapkan Allah
Mazmur 110:1 menyatakan, “Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu.” Ayat ini mendapat tempat penting dalam kesaksian Perjanjian Baru mengenai kedudukan Kristus yang ditinggikan. Demikian pula, Efesus 1:20–22 menjelaskan bahwa Allah membangkitkan Kristus dari antara orang mati dan mendudukkan-Nya di sebelah kanan-Nya, jauh di atas segala pemerintah, penguasa, kekuasaan, dan kerajaan.
Kenaikan Yesus bukanlah tanda bahwa Ia meninggalkan dunia tanpa kendali. Sebaliknya, kenaikan-Nya menyatakan pemuliaan dan pemerintahan-Nya. Kristus yang pernah direndahkan, ditolak, disalibkan, dan dikuburkan kini dinyatakan sebagai Tuhan yang berkuasa. Salib tidak membuktikan kegagalan misi-Nya; kebangkitan dan kenaikan-Nya menyatakan kemenangan Allah melalui karya penebusan Sang Anak.
Dalam pengertian ini, pemerintahan Yesus bukan sekadar kenyataan yang baru akan dimulai pada akhir zaman. Ia telah memerintah, meskipun kepenuhan kerajaan-Nya belum dinyatakan secara sempurna. Gereja hidup dalam ketegangan antara pemerintahan Kristus yang sudah nyata dan penggenapan akhir yang masih dinantikan.
Kebenaran ini menolong orang percaya menghadapi kenyataan bahwa dunia belum sepenuhnya mencerminkan keadilan dan damai sejahtera Allah. Kejahatan masih terjadi, orang benar dapat menderita, dan gereja dapat mengalami tekanan. Namun, keadaan tersebut tidak berarti Kristus kehilangan kuasa. Kita tidak boleh menyamakan apa yang tampak di permukaan sejarah dengan keseluruhan rencana Allah.
Yesus memerintah bahkan ketika mata manusia belum dapat melihat seluruh maksud pemerintahan-Nya.
2. John Calvin: Kristus sebagai Nabi, Imam, dan Raja
John Calvin memberikan kontribusi penting bagi pemahaman Reformed tentang karya Kristus melalui doktrin tiga jabatan Kristus: Nabi, Imam, dan Raja. Dalam Institutes of the Christian Religion, Buku II, Bab 15, Calvin membahas ketiga jabatan tersebut sebagai cara memahami identitas dan pekerjaan Kristus bagi keselamatan umat-Nya.
Sebagai Nabi, Kristus menyatakan kehendak Allah dan membawa kebenaran yang diperlukan manusia untuk mengenal Bapa. Sebagai Imam, Ia mempersembahkan diri-Nya sebagai korban penebusan dan menjadi Pengantara bagi umat-Nya. Sebagai Raja, Ia memerintah, melindungi, dan memelihara gereja-Nya. Ketiga jabatan tersebut bukan pekerjaan yang saling bertentangan, melainkan aspek-aspek yang saling berkaitan dari karya Kristus sebagai Juruselamat. [1]
Pemikiran Calvin menolong kita melihat bahwa pengakuan Jesus Reigns tidak dapat dipisahkan dari salib. Kristus bukan Raja yang menuntut kesetiaan tanpa terlebih dahulu mengerjakan keselamatan bagi umat-Nya. Ia adalah Raja yang datang untuk melayani, menyerahkan nyawa-Nya, mengalahkan kuasa dosa dan maut, lalu memerintah umat yang telah ditebus-Nya.
Di sini terdapat perbedaan mendasar antara kerajaan Kristus dan model kekuasaan manusia yang berdosa. Kekuasaan manusia kerap dipakai untuk mempertahankan kepentingan diri, sedangkan pemerintahan Kristus tidak terpisahkan dari kekudusan, kebenaran, keadilan, dan kasih-Nya.
Bagi orang percaya, hal ini juga berarti bahwa mengakui Yesus sebagai Raja bukan hanya menerima penghiburan dari kuasa-Nya. Kita dipanggil untuk tunduk kepada firman-Nya, mempercayai karya keselamatan-Nya, dan menjalani hidup di bawah otoritas-Nya.
Kita tidak dapat mengatakan bahwa Yesus adalah Raja kita sambil dengan sengaja menolak pemerintahan-Nya atas pikiran, perkataan, dan tindakan kita.
3. Kedaulatan Kristus dan Pemeliharaan Allah
Salah satu penekanan utama teologi Reformed adalah kedaulatan Allah atas ciptaan dan sejarah. Allah bukan sekadar Pencipta yang memulai segala sesuatu lalu membiarkan dunia berjalan sendiri. Ia menopang dan memelihara ciptaan-Nya. Dalam kerangka iman Kristen, pemerintahan Kristus harus dipahami dalam kesatuan dengan karya Allah Tritunggal.
Kolose 1:16–17 menyatakan bahwa segala sesuatu diciptakan melalui Kristus dan untuk Kristus, dan bahwa segala sesuatu ada di dalam Dia. Selanjutnya, Kolose 1:18 menyebut Kristus sebagai kepala tubuh, yaitu jemaat, dan yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati.
Teks ini memberikan cakrawala yang luas: Kristus bukan hanya relevan bagi kehidupan pribadi atau kegiatan keagamaan. Seluruh ciptaan memiliki hubungan dengan Dia sebagai Pencipta, Penopang, dan tujuan akhirnya.
Namun, kedaulatan Allah tidak berarti bahwa segala tindakan manusia otomatis benar atau bahwa penderitaan tidak perlu ditangisi. Alkitab tetap menyebut kejahatan sebagai kejahatan, memanggil manusia untuk bertobat, dan mengajarkan umat Allah untuk berdoa serta bertindak demi keadilan. Pemerintahan Allah tidak menghapus tanggung jawab manusia.
Sebaliknya, keyakinan bahwa Kristus memerintah memberikan dasar bagi tanggung jawab tersebut. Kita dapat menolak korupsi karena Kristus mengasihi kebenaran. Kita dapat membela orang yang tertindas karena manusia diciptakan menurut gambar Allah. Kita dapat bekerja dengan jujur karena pekerjaan kita dilakukan di hadapan Tuhan, bukan hanya untuk memperoleh pujian manusia.
Dengan demikian, kedaulatan Kristus bukan alasan untuk bersikap pasif. Kedaulatan-Nya menjadi dasar bagi ketekunan, keberanian, dan kesetiaan.
4. Abraham Kuyper: Tidak Ada Satu Bidang Kehidupan di Luar Kristus
Teolog dan pemikir Reformed Belanda Abraham Kuyper terkenal melalui pernyataannya bahwa tidak ada satu inci pun dalam seluruh wilayah kehidupan manusia yang tidak menjadi milik Kristus, Sang Penguasa atas segala sesuatu. Gagasan ini disampaikan dalam pidato pembukaan Vrije Universiteit Amsterdam pada tahun 1880 dan menjadi salah satu ungkapan penting dalam tradisi Neo-Calvinisme. [2]
Pernyataan Kuyper memiliki implikasi yang luas. Kekristenan tidak boleh dipersempit menjadi kegiatan ibadah hari Minggu, doa pribadi, atau pelayanan di dalam gedung gereja. Kristus juga berdaulat atas keluarga, pendidikan, ilmu pengetahuan, seni, ekonomi, pekerjaan, kehidupan bermasyarakat, dan tanggung jawab kewargaan.
Artinya, seorang guru Kristen tidak hanya melayani Kristus ketika memimpin doa, tetapi juga ketika mengajar dengan jujur, memperlakukan murid secara adil, dan mengembangkan kemampuan mereka. Seorang pengusaha tidak hanya memuliakan Tuhan melalui persembahan, tetapi juga melalui upah yang layak, kejujuran dalam transaksi, dan penolakan terhadap praktik yang merugikan orang lain. Seorang pemimpin tidak sekadar menyebut nama Tuhan dalam pidato, tetapi menunjukkan tanggung jawab, integritas, dan kepedulian kepada masyarakat.
Tentu saja, pengakuan bahwa Kristus berdaulat atas seluruh kehidupan tidak berarti gereja harus menguasai semua lembaga sosial atau bahwa setiap kebijakan politik tertentu otomatis mewakili kehendak Allah. Justru, manusia dan lembaga-lembaganya harus bertanggung jawab di hadapan Tuhan sesuai dengan panggilan dan batas kewenangannya.
Kuyper menolong gereja memahami bahwa iman bukan pelarian dari dunia. Iman adalah panggilan untuk hidup di dalam dunia milik Allah dengan kesetiaan kepada Kristus.
Karena itu, Jesus Reigns harus terlihat bukan hanya dalam liturgi, tetapi juga dalam etika kerja, penggunaan uang, cara memperlakukan sesama, pengelolaan kekuasaan, dan kepedulian terhadap ciptaan.
5. R. C. Sproul: Kerajaan Allah dan Pemerintahan Sang Raja
R. C. Sproul, teolog Reformed yang dikenal melalui pengajarannya tentang kekudusan Allah dan doktrin Kristen, menekankan bahwa pengertian kerajaan Allah berkaitan dengan pemerintahan-Nya. Dalam artikelnya tentang kerajaan Allah, Sproul membedakan pengertian luas kerajaan sebagai wilayah pemerintahan Allah dari penekanan Perjanjian Baru pada kedatangan kerajaan yang diberitakan oleh Yohanes Pembaptis dan Yesus. [3]
Pembedaan ini berguna untuk memahami mengapa Alkitab dapat menyatakan bahwa Allah berdaulat atas segala sesuatu sekaligus menyerukan pertobatan karena kerajaan-Nya sudah dekat. Allah tidak pernah kehilangan kedaulatan-Nya, tetapi manusia berdosa tetap perlu diperdamaikan dengan-Nya dan dipanggil untuk hidup di bawah pemerintahan-Nya.
Ketika Yesus memberitakan Injil kerajaan, Ia tidak sekadar menawarkan pengalaman religius yang membuat manusia merasa lebih baik. Ia memanggil manusia untuk bertobat, percaya kepada kabar baik, dan menerima otoritas Allah. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Kristus mengalahkan kuasa dosa dan membuka jalan keselamatan bagi umat-Nya.
Kerajaan Allah juga memiliki dimensi masa depan. Kita masih menantikan kedatangan Kristus kembali, kebangkitan orang mati, penghakiman yang adil, dan pembaruan segala sesuatu. Pengharapan ini bukan penyangkalan terhadap masalah dunia, melainkan keyakinan bahwa kejahatan tidak akan menjadi kata terakhir dalam sejarah.
Oleh sebab itu, gereja harus memberitakan Kristus sebagai Juruselamat dan Raja. Injil tidak boleh direduksi menjadi janji keberhasilan materi, kesehatan tanpa penderitaan, atau kehidupan tanpa kesulitan. Injil menyatakan bahwa orang berdosa dapat diperdamaikan dengan Allah melalui Kristus dan menerima pengharapan yang tidak dapat dihancurkan oleh kematian.
Jika Yesus memerintah, pertobatan bukan ancaman terhadap kebebasan sejati. Pertobatan adalah respons yang tepat terhadap Raja yang benar dan penuh kasih.
6. Michael Horton dan Makna Kristus bagi Kehidupan Gereja
Dalam tradisi Reformed kontemporer, Michael Horton dikenal melalui penekanannya pada sentralitas Kristus, anugerah, perjanjian, dan karya keselamatan Allah. Kerangka teologi semacam ini mengingatkan gereja bahwa kehidupan Kristen bermula dari apa yang telah Allah kerjakan di dalam Kristus, bukan dari usaha manusia untuk membangun identitas rohani melalui pencapaian moralnya sendiri.
Prinsip ini penting ketika berbicara tentang pemerintahan Yesus. Gereja bukanlah komunitas orang yang telah berhasil menyelamatkan dirinya sendiri, melainkan umat yang dipanggil, ditebus, dan dipelihara oleh anugerah Allah. Ketaatan Kristen bukan harga yang dibayarkan agar Kristus bersedia menjadi Raja. Ketaatan adalah buah dari iman dan rasa syukur kepada Raja yang telah menyelamatkan umat-Nya.
Karena itu, gereja harus berhati-hati agar tidak menggantikan Injil dengan pemujaan terhadap pemimpin, popularitas, strategi organisasi, atau keberhasilan yang dapat diukur secara manusiawi. Semua hal tersebut dapat memiliki tempat yang tepat, tetapi tidak boleh mengambil posisi yang hanya layak bagi Kristus.
Kristuslah kepala gereja. Firman-Nya menjadi norma bagi pengajaran gereja, sedangkan kasih dan kekudusan-Nya harus membentuk kehidupan komunitas orang percaya.
Gereja yang mengakui Jesus Reigns akan berani mengevaluasi dirinya sendiri di bawah firman Tuhan. Gereja tidak kebal terhadap kesalahan, tidak berhak menyalahgunakan kuasa, dan tidak boleh menganggap pertumbuhan jumlah anggota sebagai bukti otomatis bahwa segala sesuatu yang dilakukannya benar.
Kesetiaan gereja pertama-tama diukur melalui kesetiaannya kepada Kristus dan Injil-Nya.
7. Ketika Hidup Tidak Berjalan Sesuai Harapan
Salah satu ujian terbesar bagi pengakuan Jesus Reigns muncul ketika doa belum dijawab sesuai harapan, penyakit tidak segera sembuh, pekerjaan hilang, keluarga mengalami konflik, atau ketidakadilan berlangsung lama.
Dalam keadaan seperti itu, kita mungkin bertanya: Jika Yesus memerintah, mengapa semua ini terjadi?
Alkitab tidak selalu memberikan penjelasan terperinci mengenai alasan di balik setiap penderitaan. Karena itu, kita harus berhati-hati untuk tidak mengklaim mengetahui alasan khusus Allah bagi setiap peristiwa. Namun, Alkitab memberikan dasar yang kokoh untuk percaya bahwa penderitaan tidak membatalkan kasih Allah dan bahwa kuasa kejahatan tidak akan menang pada akhirnya.
Roma 8:38–39 menegaskan bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan orang percaya dari kasih Allah di dalam Kristus Yesus. Pengharapan ini bukan janji bahwa setiap persoalan akan selesai dengan cepat atau bahwa semua orang percaya akan selalu memperoleh hasil yang mereka inginkan. Pengharapan itu berakar pada kesetiaan Allah dan karya Kristus yang telah bangkit.
Di tengah penderitaan, iman Reformed mengajar kita untuk berpegang pada janji Allah tanpa berpura-pura bahwa rasa sakit tidak ada. Kita boleh menangis, berdoa memohon pertolongan, mencari nasihat yang bijaksana, menerima perawatan yang diperlukan, dan meminta dukungan dari komunitas gereja.
Iman bukan berarti selalu memahami jalan Tuhan. Iman berarti mempercayai Dia yang tetap setia ketika jalan-Nya belum kita pahami.
Yesus memerintah bukan karena hidup kita selalu mudah, melainkan karena hidup dan masa depan kita berada dalam tangan Raja yang telah mengalahkan maut.
8. Menantikan Raja yang Akan Datang Kembali
Pengakuan Jesus Reigns mengarahkan gereja kepada masa depan. Dalam Wahyu 11:15 terdengar pengumuman bahwa pemerintahan atas dunia berada di bawah Tuhan dan Kristus-Nya, dan bahwa Ia akan memerintah sampai selama-lamanya.
Pemerintahan Kristus yang sekarang nyata akan dinyatakan secara penuh ketika Ia datang kembali. Pada saat itu, keadilan Allah tidak lagi dipertanyakan, maut tidak lagi berkuasa, dan umat-Nya akan menikmati kepenuhan hidup dalam hadirat-Nya.
Pengharapan eskatologis ini membentuk cara gereja menjalani masa kini. Karena Kristus akan datang kembali, gereja tidak boleh menyerah kepada keputusasaan. Karena Kristus adalah Hakim yang adil, gereja tidak boleh membalas kejahatan dengan kebencian atau mengambil alih hak penghakiman Allah. Karena Kristus akan memperbarui segala sesuatu, umat-Nya dapat bekerja untuk kebaikan sesama tanpa menganggap bahwa usaha manusia akan dengan sendirinya mendatangkan kerajaan Allah dalam kepenuhannya.
Kita bekerja, melayani, menginjili, mengasihi, dan memperjuangkan keadilan bukan untuk menjadikan diri kita penyelamat dunia, melainkan karena kita setia kepada Raja yang telah menyelamatkan umat-Nya dan yang akan menyempurnakan karya-Nya.
Di sinilah pengharapan Kristen berbeda dari optimisme yang hanya bergantung pada keadaan. Optimisme manusia dapat runtuh ketika keadaan memburuk, tetapi pengharapan Kristen berakar pada pribadi dan janji Kristus.
Kesimpulan: Hidup di Bawah Pemerintahan Kristus
Jesus Reigns bukan sekadar kalimat yang indah untuk diucapkan dalam ibadah atau dituliskan pada sebuah spanduk. Ini adalah pengakuan iman bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan yang bangkit, Raja yang memerintah, Kepala gereja, dan Penguasa yang akan datang kembali dalam kemuliaan.
John Calvin menolong kita memahami Kristus sebagai Nabi, Imam, dan Raja. Abraham Kuyper memperluas implikasi pemerintahan Kristus ke seluruh bidang kehidupan. R. C. Sproul membantu menjelaskan hubungan antara pemerintahan Allah dan kedatangan kerajaan-Nya. Penekanan teologi Reformed pada anugerah dan karya Kristus juga mengingatkan kita bahwa ketaatan bukan jalan untuk membeli keselamatan, melainkan buah dari keselamatan yang telah dianugerahkan Allah.
Semua penekanan tersebut mengarahkan kita kepada satu kesimpulan: tidak ada bagian kehidupan yang terlalu kecil untuk dijalani di hadapan Kristus dan tidak ada keadaan yang terlalu besar untuk menggagalkan rencana penebusan-Nya.
Karena itu, ketika kita bekerja, biarlah kita bekerja bagi kemuliaan-Nya. Ketika kita memimpin, biarlah kita memimpin dengan integritas. Ketika kita menderita, biarlah kita berpegang pada janji-Nya. Ketika kita melayani, biarlah kita melayani dengan rendah hati. Dan ketika kita menghadapi masa depan yang tidak pasti, biarlah kita tetap percaya bahwa sejarah bukan berjalan menuju kekacauan tanpa tujuan, melainkan menuju penggenapan rencana Allah di dalam Kristus.
Dunia mungkin berubah. Pemerintahan manusia mungkin berganti. Kekuatan yang tampak perkasa mungkin runtuh. Namun, Kristus tidak berubah dan firman-Nya tetap teguh.
Jesus reigns. Yesus memerintah. Bukan hanya di dalam gereja, bukan hanya dalam pengalaman rohani pribadi, melainkan sebagai Tuhan yang berdaulat atas seluruh ciptaan dan sejarah.
Kiranya pengakuan ini tidak berhenti di bibir kita, tetapi menjadi dasar iman, sumber pengharapan, dan arah kehidupan kita setiap hari.
Sebab Raja yang kita beritakan adalah Raja yang telah mati bagi umat-Nya, bangkit untuk kemenangan mereka, memelihara gereja-Nya, dan akan datang kembali dalam kemuliaan.
Bagi Dialah kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.
Referensi teologis
- Calvin, John. Institutes of the Christian Religion, Buku II, Bab 15, “The Three Things Briefly to Be Regarded in Christ—Viz. His Offices of Prophet, King, and Priest.” Christian Classics Ethereal Library. https://ccel.org/ccel/calvin/institutes/institutes.iv.xvi.html
- Kuyper, Abraham. Sphere Sovereignty (pidato pembukaan Vrije Universiteit Amsterdam, 1880). Lihat pembahasan historis di Calvin Theological Seminary, “Why Abraham Kuyper’s Vision Still Shapes Reformed Theology and Education.” https://theforum.calvinseminary.edu/media/why-abraham-kuypers-vision-still-shapes-reformed-theology-and-education
- Sproul, R. C. “What Is the Kingdom of God?” Ligonier Ministries. https://learn.ligonier.org/articles/what-is-kingdom-god
- Alkitab: Mazmur 110:1; Matius 28:18–20; Efesus 1:20–23; Kolose 1:15–20; Roma 8:31–39; Wahyu 11:15.
.jpg)