Allah Sungguh-sungguh Baik
Pendahuluan: God Is So Good
Ungkapan God Is So Good berarti Allah sungguh-sungguh baik. Kalimat sederhana ini mengandung kebenaran teologis yang sangat dalam tentang karakter Allah. Kebaikan bukan sekadar salah satu tindakan Allah, melainkan bagian dari hakikat diri-Nya. Allah tidak pernah menjadi jahat, tidak pernah kehilangan kasih-Nya, dan tidak pernah berubah dalam kesetiaan-Nya terhadap umat pilihan-Nya.
Ketika seseorang mengalami keberhasilan, kesehatan, kelimpahan, dan kebahagiaan, biasanya ia mudah mengatakan bahwa Tuhan itu baik. Namun, bagaimana ketika doa belum dijawab? Bagaimana ketika penyakit datang, pekerjaan hilang, keluarga mengalami pergumulan, atau masa depan terasa tidak pasti? Apakah Allah masih baik ketika kehidupan tidak berjalan sesuai harapan?
Teologi Reformed mengajarkan bahwa kebaikan Allah tidak boleh diukur berdasarkan keadaan manusia. Kebaikan Allah berakar pada karakter-Nya yang sempurna, kekal, kudus, dan tidak berubah. Karena itu, sekalipun keadaan hidup berubah, Allah tetap baik.
Mazmur 34:9 berkata:
"Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!"
Ayat ini mengundang setiap orang percaya untuk mengalami dan mengenal kebaikan Tuhan melalui hubungan pribadi dengan-Nya. Kebaikan Allah bukan sekadar teori yang dipelajari, melainkan kebenaran yang harus dipercaya, direnungkan, dan dialami melalui iman.
1. Kebaikan Adalah Bagian dari Hakikat Allah
Mazmur 100:5 menyatakan:
"Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun."
Alkitab tidak mengatakan bahwa Tuhan hanya melakukan hal-hal baik, tetapi menegaskan bahwa Tuhan itu baik. Artinya, kebaikan merupakan bagian dari karakter-Nya sendiri.
Allah tidak membutuhkan standar moral di luar diri-Nya untuk menentukan apa yang baik. Segala sesuatu yang baik berasal dari Dia karena Dia adalah sumber segala kebaikan.
Dalam teologi Reformed, sifat-sifat Allah merupakan kesempurnaan ilahi yang tidak dapat dipisahkan dari hakikat-Nya. Kebaikan Allah berjalan bersama dengan kekudusan, keadilan, kasih, kemurahan, dan kesetiaan-Nya.
Louis Berkhof, dalam bukunya Systematic Theology, menjelaskan bahwa kebaikan Allah merupakan kesempurnaan yang membuat Dia menjadi sumber segala kebaikan bagi ciptaan-Nya. Allah menunjukkan kebaikan melalui kemurahan, kasih, kesabaran, dan anugerah-Nya.
Dengan demikian, manusia tidak boleh menilai karakter Allah hanya berdasarkan pengalaman hidup yang sementara. Allah tetap baik ketika manusia menerima berkat, dan Allah tetap baik ketika manusia melewati penderitaan.
Kebaikan Allah tidak berubah mengikuti suasana hati manusia. Dia tetap setia karena kesetiaan merupakan bagian dari karakter-Nya.
2. Kebaikan Allah Dinyatakan Melalui Kasih-Nya
Salah satu pernyataan terbesar mengenai kebaikan Allah ditemukan dalam Yohanes 3:16:
"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal..."
Kebaikan Allah mencapai puncaknya melalui karya keselamatan di dalam Yesus Kristus. Allah tidak hanya memberikan kebutuhan jasmani, tetapi memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu Anak-Nya sendiri untuk menyelamatkan manusia berdosa.
Manusia telah jatuh ke dalam dosa dan tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Dosa membuat manusia berada di bawah penghukuman Allah. Namun, Allah menyatakan kasih dan kemurahan-Nya dengan mengutus Kristus untuk menanggung hukuman dosa umat-Nya.
Roma 5:8 berkata:
"Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa."
Perhatikan bahwa Kristus mati bukan ketika manusia sudah menjadi baik, melainkan ketika manusia masih berdosa.
John Calvin, dalam Institutes of the Christian Religion, menekankan bahwa keselamatan manusia sepenuhnya bergantung pada kemurahan Allah. Manusia tidak mempunyai dasar untuk membanggakan kebaikan atau jasa dirinya di hadapan Allah. Keselamatan merupakan pemberian anugerah yang diterima melalui iman kepada Kristus.
Inilah alasan utama orang Kristen dapat berkata, God is so good. Kebaikan terbesar Allah bukanlah kekayaan, jabatan, kesehatan, atau keberhasilan duniawi, melainkan keselamatan yang diberikan melalui Yesus Kristus.
3. Kebaikan Allah Dinyatakan Melalui Anugerah-Nya
Efesus 2:8–9 menjelaskan bahwa manusia diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman, bukan hasil usaha manusia.
Kebenaran ini merupakan salah satu fondasi utama teologi Reformed, yaitu Sola Gratia atau hanya oleh anugerah.
Manusia tidak dapat membeli keselamatan dengan perbuatan baik. Manusia juga tidak dapat memperoleh keselamatan melalui kekuatan moral, kecerdasan, kekayaan, atau kedudukan sosial.
Allah menyelamatkan orang berdosa berdasarkan anugerah-Nya yang berdaulat.
R.C. Sproul, dalam pengajaran-pengajarannya mengenai anugerah Allah, menekankan bahwa manusia yang berdosa membutuhkan kemurahan Allah karena tidak mampu membenarkan dirinya sendiri di hadapan Allah yang kudus.
Anugerah Allah berarti Allah memberikan sesuatu yang tidak layak diterima manusia. Orang berdosa seharusnya menerima hukuman, tetapi di dalam Kristus ia memperoleh pengampunan dan pembenaran.
Roma 8:1 memberikan penghiburan:
"Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus."
Betapa besar kebaikan Tuhan! Orang yang dahulu berada di bawah penghukuman sekarang memperoleh kehidupan baru di dalam Kristus.
Karena itu, orang percaya seharusnya hidup dengan penuh ucapan syukur. Ia tidak boleh memandang keselamatan sebagai hasil kehebatan dirinya, melainkan sebagai karya Allah dari awal sampai akhir.
4. Kebaikan Allah Terlihat dalam Pemeliharaan-Nya
Kebaikan Tuhan tidak berhenti pada keselamatan. Allah juga memelihara kehidupan umat-Nya setiap hari.
Matius 6:26 mengingatkan bahwa burung-burung di udara dipelihara oleh Bapa di surga. Jika Allah memelihara ciptaan-Nya, terlebih lagi Dia mengetahui kebutuhan anak-anak-Nya.
Dalam teologi Reformed, doktrin ini dikenal sebagai Providentia Dei, yaitu pemeliharaan Allah.
Allah bukan hanya menciptakan dunia kemudian membiarkannya berjalan sendiri. Dia terus menopang, mengatur, dan memerintah seluruh ciptaan menurut kehendak-Nya yang berdaulat.
Herman Bavinck, dalam Reformed Dogmatics, menjelaskan bahwa pemeliharaan Allah mencakup pemeliharaan, kerja sama, dan pemerintahan-Nya atas seluruh ciptaan.
Hal ini berarti tidak ada satu pun peristiwa yang berada di luar kedaulatan Allah. Kehidupan manusia, perjalanan sejarah, dan seluruh ciptaan tetap berada dalam pemerintahan-Nya.
Namun, pemeliharaan Allah tidak berarti bahwa orang percaya tidak akan mengalami kesulitan. Justru di tengah kesulitan, orang percaya dapat menemukan penghiburan karena mengetahui bahwa Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya.
Ketika kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok, kita dapat percaya kepada Allah yang memegang hari esok.
5. Allah Tetap Baik di Tengah Penderitaan
Salah satu kesalahpahaman dalam kehidupan Kristen adalah menganggap bahwa kebaikan Allah selalu berarti kehidupan yang bebas dari penderitaan.
Alkitab tidak pernah mengajarkan demikian.
Ayub adalah contoh seseorang yang mengalami penderitaan yang sangat berat. Ia kehilangan harta benda, anak-anak, dan kesehatannya. Namun, di tengah penderitaan tersebut, Ayub tetap berhadapan dengan Allah yang berdaulat.
Ayub 1:21 berkata:
"TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"
Pernyataan ini bukan berarti Ayub tidak mengalami kesedihan. Sebaliknya, Ayub sungguh-sungguh berdukacita. Namun, ia menyadari bahwa Allah tetap berdaulat atas kehidupannya.
John Piper, dalam berbagai pengajarannya tentang kedaulatan dan kebaikan Allah, menekankan bahwa Allah bekerja bahkan melalui penderitaan untuk menggenapi tujuan-Nya yang mulia bagi umat-Nya.
Roma 8:28 menyatakan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.
Perhatikan bahwa ayat ini tidak mengatakan semua peristiwa itu sendiri baik. Kejahatan tetap merupakan kejahatan, penderitaan tetap menyakitkan, dan kehilangan tetap membawa dukacita. Namun, Allah berkuasa memakai segala sesuatu untuk menggenapi tujuan-Nya.
Kebaikan terbesar yang dimaksud dalam konteks Roma 8:29 adalah keserupaan dengan Kristus.
Jadi, terkadang Allah tidak segera mengubah keadaan kita karena Dia sedang membentuk kehidupan rohani kita. Dia mengajar kita bergantung kepada-Nya, bertumbuh dalam iman, dan semakin menyerupai Kristus.
6. Kebaikan Allah Tidak Pernah Berubah
Manusia mudah berubah. Perasaan dapat berubah, keadaan ekonomi dapat berubah, kesehatan dapat menurun, dan hubungan antarmanusia dapat mengalami kegagalan.
Namun, Allah tidak berubah.
Maleakhi 3:6 berkata:
"Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah..."
Doktrin ini dikenal dalam teologi sebagai Immutabilitas Dei, yaitu ketidakberubahan Allah.
Herman Bavinck menjelaskan bahwa ketidakberubahan Allah berkaitan dengan kesempurnaan hakikat-Nya. Allah tidak berkembang menjadi lebih baik karena Dia sudah sempurna. Dia juga tidak mengalami kemunduran atau kehilangan kesempurnaan-Nya.
Kebenaran ini memberikan penghiburan yang luar biasa bagi orang percaya.
Ketika manusia mengecewakan kita, Allah tetap setia. Ketika dunia berubah, firman-Nya tetap benar. Ketika masa depan terlihat tidak pasti, janji-Nya tetap dapat dipercaya.
Ratapan 3:22–23 berkata:
"Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!"
Setiap pagi merupakan kesempatan baru untuk mengingat kesetiaan Tuhan. Kita mungkin tidak mengetahui semua jawaban atas persoalan kehidupan, tetapi kita mengetahui siapa Allah yang memegang kehidupan kita.
7. Kebaikan Allah Menghasilkan Kehidupan yang Penuh Syukur
Jika Allah begitu baik kepada kita, bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan?
Jawabannya adalah dengan hidup dalam ucapan syukur, ketaatan, dan kesetiaan kepada-Nya.
Kolose 3:17 mengajarkan agar segala sesuatu yang dilakukan, baik perkataan maupun perbuatan, dilakukan dalam nama Tuhan Yesus sambil mengucap syukur kepada Allah Bapa.
Ucapan syukur bukan hanya dilakukan ketika menerima berkat yang menyenangkan. Ucapan syukur juga merupakan sikap iman ketika kita sedang menantikan pertolongan Tuhan.
Jonathan Edwards, dalam pemikirannya tentang kemuliaan Allah dan kehidupan Kristen, menekankan pentingnya orientasi hidup manusia kepada kemuliaan Allah. Kehidupan yang benar tidak berpusat pada kepuasan diri, melainkan pada Allah sebagai tujuan tertinggi manusia.
Dengan demikian, orang yang memahami kebaikan Allah tidak akan menggunakan berkat hanya untuk kepentingan dirinya sendiri.
Ia akan belajar:
Mengasihi Tuhan lebih daripada berkat yang diterima.
Menggunakan waktu dan talenta untuk memuliakan Allah.
Menolong sesama sebagai ungkapan kasih Kristus.
Tetap setia ketika mengalami penderitaan.
Mengutamakan kehendak Allah daripada keinginan pribadi.
Memberitakan Injil kepada orang yang belum mengenal Kristus.
Kebaikan Allah seharusnya menghasilkan kehidupan yang memuliakan Allah.
8. Yesus Kristus adalah Bukti Terbesar Kebaikan Allah
Seluruh kebaikan Allah mencapai penyataan yang paling jelas melalui pribadi dan karya Yesus Kristus.
Titus 3:4–5 menjelaskan bahwa ketika nyata kemurahan Allah dan kasih-Nya kepada manusia, Dia menyelamatkan kita bukan karena perbuatan benar yang telah kita lakukan, melainkan karena rahmat-Nya.
Yesus Kristus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa. Dia menjalani kehidupan yang sempurna, mati di kayu salib, dikuburkan, dan bangkit pada hari ketiga.
Melalui kematian-Nya, Kristus menanggung hukuman dosa. Melalui kebangkitan-Nya, Dia menyatakan kemenangan atas dosa dan maut.
Inilah inti Injil.
John Calvin menekankan bahwa Kristus adalah pusat keselamatan. Seluruh berkat rohani yang diperlukan manusia ditemukan di dalam persatuan dengan Kristus.
Karena itu, kita tidak boleh mencari kebaikan Tuhan hanya melalui berkat sementara. Kita harus melihat kepada Kristus, sebab di dalam Dia kita menerima pengampunan, pembenaran, pengangkatan sebagai anak Allah, pengudusan, dan pengharapan hidup kekal.
Dunia dapat mengambil banyak hal dari kehidupan manusia, tetapi tidak ada yang dapat memisahkan orang percaya dari kasih Allah di dalam Kristus Yesus (Roma 8:38–39).
9. Kebaikan Allah Memberikan Pengharapan untuk Masa Depan
Kebaikan Allah tidak hanya berbicara tentang masa lalu dan masa sekarang, tetapi juga memberikan pengharapan bagi masa depan.
Orang percaya memiliki pengharapan akan kedatangan Kristus kembali, kebangkitan tubuh, penghakiman terakhir, dan kehidupan kekal bersama Allah.
Wahyu 21:4 memberikan janji bahwa Allah akan menghapus segala air mata dari mata umat-Nya. Tidak akan ada lagi maut, perkabungan, ratap tangis, atau dukacita.
Inilah pengharapan yang tidak dapat diberikan oleh dunia.
Kehidupan sekarang mungkin penuh pergumulan. Namun, penderitaan dunia ini tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada orang percaya (Roma 8:18).
Kebaikan Allah akan dinikmati secara sempurna dalam kehidupan kekal. Pada saat itu, umat Allah akan menikmati hadirat-Nya tanpa dosa, penderitaan, dan kematian.
Karena itu, orang Kristen tidak menjalani kehidupan dengan keputusasaan. Kita mempunyai pengharapan yang pasti karena Allah yang menjanjikannya adalah Allah yang setia.
Kesimpulan: God Is So Good, All the Time
God Is So Good: Allah Sungguh-sungguh Baik bukan sekadar ungkapan pujian, melainkan pengakuan iman yang berakar pada karakter Allah dan karya keselamatan-Nya.
Allah baik karena Dia kudus, sempurna, penuh kasih, dan tidak berubah. Dia menyatakan kebaikan-Nya melalui penciptaan, pemeliharaan, anugerah keselamatan, pengampunan dosa, dan janji kehidupan kekal.
Teologi Reformed mengingatkan kita bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, berlangsung di bawah kedaulatan-Nya, dan harus dikembalikan bagi kemuliaan-Nya.
Kita tidak selalu memahami alasan di balik setiap peristiwa kehidupan. Namun, kita dapat tetap percaya bahwa Allah tidak pernah kehilangan kendali dan tidak pernah berhenti menjadi Allah yang baik.
Ketika kita mengalami berkat, pujilah Tuhan. Ketika kita mengalami penderitaan, tetaplah percaya kepada-Nya. Ketika doa belum dijawab, jangan berhenti berharap. Ketika masa depan terlihat gelap, pandanglah kepada Yesus Kristus.
God is so good, bukan karena kehidupan kita selalu baik, tetapi karena Allah sendiri selalu baik.
Soli Deo Gloria — Segala kemuliaan hanya bagi Allah!
.jpg)