Konsekwensinya Alkitab Sebagai Firman Allah

Konsekwensinya Alkitab Sebagai Firman Allah
gadget, education, insurance
Pdt.Budi Asali, M.Div.

I) Kita harus mencari dan mengisi diri dengan Alkitab / Firman Allah.

1) Mencari / mengejar Firman Tuhan.

Kepercayaan terhadap Alkitab sebagai Firman Allah akan sia-sia kalau tidak disertai dengan perwujudan yang sejalan dengan kepercayaan itu. Kalau kita memang percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah, maka kita harus mengejar / mencarinya secara mati-matian.

Amsal 2:1-5 - "(1) Hai anak-anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu, (2) sehingga telingamu memperhatikan hikmat, dan engkau mencenderungkanhatimu kepada kepandaian, (3) ya, jikalau engkau berseru kepada pengertian, dan menujukan suaramu kepada kepandaian, (4) jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, (5) maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah".

Ayat di atas mengatakan bahwa kita harus mencari hikmat / pengertian / kepandaian seperti mencari perak / harta terpendam. Tentu yang dimaksudkan bukan hikmat / pengertian / kepandaian duniawi / sekuler, tetapi yang bersifat rohani, atau Firman Tuhan. Sekarang renungkan: yang mana yang lebih giat saudara lakukan? Mencari uang / harta / kekayaan, atau mencari Firman Tuhan?

Kalau saudara tahu bahwa di suatu tempat ada harta terpendam, apakah saudara akan menunda dalam mencari / menggalinya? Apakah adanya tamu, adanya undangan pernikahan, adanya kesibukan menyebabkan saudara menunda untuk menggali harta terpendam itu? Kalau tidak, maka perhatikan bahwa ayat ini mengatakan bahwa saudara harus mengejar / mencari hikmat / Firman Tuhan seperti mengejar harta terpendam! Bukankah aneh, kalau ternyata adanya tamu, adanya undangan pernikahan, adanya kesibukan, bisa menyebabkan saudara menunda usaha saudara dalam mencari Firman Tuhan? Bukankah aneh, kalau ternyata adanya tamu, adanya undangan pernikahan, adanya kesibukan, bisa menyebabkan saudara menunda / membuang niat saudara dalam mengikuti Pemahaman Alkitab di gereja saudara?

Amsal 23:23 - "Belilah kebenaran dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian".

Membeli kebenaran, berarti kita harus rela mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan kebenaran. Pengorbanan itu bisa berupa:

a) Uang.

Misalnya:

1. Untuk naik taxi / becak.

2. Untuk membeli buku rohani / DVD khotbah.

Kebanyakan orang kristen lebih mau mengeluarkan uang untuk membeli majalah / CD lagu, dari pada untuk membeli buku rohani / DVD khotbah!

3. Untuk membayar biaya Camp / Retreat / Seminar, dsb.

b) Waktu, tenaga.

Misalnya:

1. Menempuh jarak jauh untuk belajar Firman Tuhan. Kalau saudara bisa menghadiri undangan pernikahan di tempat yang jauh, tetapi tidak mau datang ke gereja yang sekalipun jauh tetapi ajarannya bagus, maka saudara lebih mengutamakan manusia dari pada Tuhan! Ingat juga bahwa Yesus rela meninggalkan sorga dan turun ke dunia, demi menyelamatkan saudara!

2. Mengorbankan 'waktu bekerja' untuk mencari Firman Tuhan, dengan catatan saudara bukanlah seorang pegawai, tetapi bekerja sendiri (dokter, toko, dsb).

3. Mengorbankan 'waktu belajar' untuk mencari Firman Tuhan, tetapi tentu dengan catatan bahwa saudara tetap harus bertanggung jawab dalam soal pelajaran.

c) Pikiran.

Maulah memeras otak pada waktu belajar Firman Tuhan. Banyak orang kristen yang dalam bekerja mau memeras otak, dan dalam pelajaran sekolah mau belajar dengan serius / mempelajari hal-hal yang sukar, tetapi keberatan untuk mendengar khotbah yang sukar! Bukankah ini merupakan pengutamaan hal jasmani di atas hal rohani?

2) Mengisi diri dengan Firman Tuhan.

Kita bisa mengisi diri kita dengan Alkitab / Firman Allah dengan cara:

a) Membaca Alkitab dengan rutin (setiap hari).

Perlu diketahui bahwa Kitab Suci menggambarkan Firman Allah sebagai makanan rohani bagi kita (1Korintus 3:2 1Petrus 2:2), dan karena itu harus kita 'makan' setiap hari.

1Kor 3:2 - "Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya".

1Pet 2:2 - "Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan".

Kita bisa membaca setiap hari dengan menggunakan buku-buku Saat Teduh, dan / atau membaca Kitab Sucinya secara langsung. Untuk ini ada hal-hal yang perlu diperhatikan:

1. Pilihlah buku Saat Teduh yang baik.

2. Sebaiknya tetapkan waktu saat teduh itu.

Kalau saudara sudah menetapkannya pada pagi hari, maka sebaiknya lakukan itu selalu pada pagi hari. Mengapa? Karena kalau waktu untuk saat teduh itu diubah-ubah, sebentar pagi, sebentar malam, maka akan ada lebih besar kemungkinan untuk lupa mengadakan Saat Teduh itu.

3. Usahakan supaya bisa berkonsentrasi tanpa terganggu pada saat sedang bersaat teduh. Ini bisa dilakukan dengan:

a. Memberi waktu yang cukup untuk Saat Teduh itu.

Melakukan Saat Teduh dengan tergesa-gesa menyebabkan saudara tidak bisa berkonsentrasi baik dalam doa maupun pembacaan Firman Tuhannya, dan ini akan menyebabkan Saat Teduh itu menjadi sia-sia.

b. Sedapat mungkin cari tempat yang sunyi (bdk. Markus 1:35). Juga matikan hand phone, bahkan telpon biasa, juga radio, TV, dan sebagainya. Beri pesan kepada orang-orang di sekitar saudara untuk tidak mengganggu saudara pada saat sedang bersaat teduh. Pokoknya, usahakan supaya jangan ada gangguan apapun pada saat sedang bersaat teduh. Ini bukan hanya karena Tuhan harus diutamakan lebih dari semua, tetapi juga sangat penting untuk memudahkan konsentrasi dan menjaga konsentrasi pada saat sedang bersaat teduh.

4. Berdoalah sebelum membaca Saat Teduh / Alkitab, untuk meminta Tuhan memberi terang kepada saudara supaya saudara bisa mengerti.

5. Pada waktu membaca Saat Teduh, jangan hanya membaca buku Saat Teduhnya saja. Saudara harus membaca bagian Kitab Suci yang diberikan oleh buku Saat Teduh itu.

6. Kalau saudara membaca Kitab Suci secara langsung tanpa menggunakan buku Saat Teduh, maka sebaiknya saudara tidak membaca berurutan mulai Kejadian sampai Wahyu (kecuali saudara mempunyai tujuan khusus), tetapi membaca dari beberapa bagian Kitab Suci setiap hari. Misalnya, setiap hari membaca satu pasal dari Kitab Kejadian, satu pasal dari kitab Mazmur, dan satu pasal dari Injil Matius. Ini memang bukan peraturan yang mutlak, tetapi hal ini penting dan merupakan sesuatu yang bijaksana, karena:

a. Memberi saudara bacaan yang lebih bervariasi:

" dalam jenis bacaan (Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, cerita, syair, amsal-amsal, peraturan-peraturan, surat, dsb). Ada orang-orang yang tidak senang dengan syair, sehingga kalau ia membaca 3 pasal dan semua termasuk syair, itu akan membosankan bagi dia.

" dalam topik bacaan. Kita bisa mendapatkan teguran, hiburan, janji, perintah berkenaan dengan banyak hal, seperti doa, Firman Tuhan, dosa, pelayanan, penginjilan, persembahan, pujian, dan sebagainya.

Illustrasi: kalau saudara makan, saudara membutuhkan makanan yang bervariasi. Sekalipun daging itu penting, tetapi kalau saudara hanya makan daging, itu tidak baik. Saudara membutuhkan protein, karbohidrat, lemak, serat, vitamin, mineral, air, dan sebagainya.

b. Membaca berurutan mulai dari Kejadian sampai Wahyu bisa menyebabkan kebosanan / rasa frustrasi.

Kalau saudara membaca berurutan mulai Kejadian sampai Wahyu, maka pada hari pertama saudara pada saat saudara membaca Kej 1-3, mungkin tidak apa-apa. Demikian juga dengan hari kedua dimana saudara membaca Kej 4-6. Tetapi setelah saudara menyelesaikan Kitab Kejadian, dan masuk Kitab Keluaran, bagian pertengahan, maka saudara mungkin akan merasa jenuh membaca peraturan-peraturan yang ada di sana. Apalagi kalau saudara sudah memasuki Kitab Imamat, Kitab Bilangan, 1Tawarikh (9 pasal pertama merupakan silsilah!), dsb. Dan bagaimana kalau saudara masuk dalam kitab Wahyu? Setiap hari saudara akan membacanya mungkin tanpa mengertinya sedikitpun! Ini bisa menimbulkan kebosanan / kejenuhan dan bahkan rasa frustrasi, yang bisa membuat saudara berhenti membaca Alkitab!

Tetapi kalau saudara membaca dari 3 bagian Kitab Suci, maka kalau pada satu bagian saudara tidak mendapatkan apa-apa, maka saudara masih bisa mendapatkan sesuatu dari bagian-bagian yang lain.

7. Kalau saudara membaca Kitab Sucinya langsung dan saudara tidak bisa mengertinya, jangan itu membuat saudara frustrasi dan lalu berhenti. Sambil banyak berdoa untuk meminta pimpinan dan terang dari Tuhan, teruskanlah membaca, karena sekalipun ada bagian-bagian yang tidak bisa saudara mengerti, tetapi pasti juga akan ada bagian-bagian yang bisa saudara mengerti.

Tentang bagian-bagian yang tidak saudara mengerti itu, saudara bisa mencari pengertiannya, dengan:

a. Menanyakannya kepada pendeta saudara atau kepada orang kristen yang mempunyai pengertian Kitab Suci yang baik.

b. Membaca buku-buku yang baik, yang menjelaskan ayat-ayat itu.

c. Mencari jawabannya di internet.

8. Setelah selesai membaca Kitab Suci / Saat Teduh, berdoalah lagi untuk menanggapi apa yang sudah saudara baca.

b) Belajar Kitab Suci.

Yak 1:25 - "Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya".

Yakobus 1:25 ini menggunakan kata 'meneliti'. Ini bukan sekedar membaca, tetapi mempelajari secara lebih serius / mendalam. Ini bisa saudara lakukan dengan mendengar khotbah / mengikuti Pemahaman Alkitab yang mendalam, mengikuti Seminar / Camp / Retreat, atau dengan membaca buku-buku rohani (tetapi awas, memilihnya harus hati-hati karena ada banyak buku yang sesat!).

Dalam belajar Kitab Suci, kita harus mau belajar dari orang lain, baik dengan mendengar khotbah / ajarannya ataupun membaca bukunya. Ada banyak orang yang cuma mau belajar langsung dari Tuhan, dan tidak mau belajar dari manusia. Ini adalah sikap bodoh dan sombong yang tidak pada tempatnya. Sekalipun Tuhan memang bisa mengajar langsung melalui Roh Kudusnya, tetapi Tuhan juga mengangkat hamba-hamba Tuhan untuk mengajar jemaat.

Efesus 4:11-15 - "(11) Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, (12) untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, (13) sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, (14) sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, (15) tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala".

c) Merenungkan Kitab Suci.

Mazmur 1:2 - "tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam".

Mazmur 119:99 - "Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatanMu kurenungkan".

Merenungkan Firman membuat kita lebih menghayatinya, dan juga membuat kita bisa lebih menyadari dosa-dosa kita.

Misalnya:

1. Kalau kita mendengar / belajar tentang penderitaan dan kematian yang mengerikan yang Yesus alami bagi kita, maka dengan merenungkan hal itu, kita bisa makin merasakan cinta Tuhan kepada kita.

2. Pada waktu Firman Tuhan menegur kita dari dosa tertentu, misalnya dalam persoalan kebencian, maka kita perlu merenungkan siapa orang yang kita benci, dan kita perlu bertobat dari hal itu.

d) Menghafalkan Kitab Suci.

Yak 1:25 - "Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya".

Yakobus 1:25 ini mengatakan 'bukan hanya mendengar untuk melupakannya'. Ini menunjukkan bahwa kita juga harus menghafalkan ayat-ayat penting dalam Kitab Suci. Menurut saya, cara yang terbaik dalam menghafalkan Kitab Suci adalah dengan memberitakannya / mengajarkannya. Dengan memberitakan / mengajarkannya, saudara akan secara otomatis menghafalkan Kitab Suci.

Menghafalkan Kitab Suci ini penting dalam menghadapi serangan setan berupa godaan untuk melakukan dosa tertentu, ataupun ajaran sesat. Bandingkan dengan Yesus yang menggunakan ayat Kitab Suci untuk menangkis serangan setan. 3 x setan menyerang, dan 3 x juga Yesus menggunakan senjata yang sama, yaitu Firman Tuhan! (bdk. Matius 4:1-11).

Catatan: Sekalipun pemberitaan Firman Tuhan yang bersifat insidentil (seperti Camp, Retreat, Seminar, KKR, dsb) itu penting, tetapi Firman Tuhan yang bersifat rutin (Kebaktian, Pemahaman Alkitab, Saat Teduh) jauh lebih penting dan berguna bagi pertumbuhan iman kita. Firman Tuhan yang bersifat insidentil hanya menjadi pelengkap, bukan dimaksudkan untuk berdiri sendiri.

Illustrasi: Ada 2 orang anak, yang pertama diberi makan biasa secara rutin (3 x sehari), yang kedua diberi makanan istimewa (di restoran yang termahal) tetapi hanya 3 bulan sekali. Yang mana yang bertumbuh?

II) Kita harus menghargai dan meninggikan otoritas Alkitab lebih dari apapun.

1) Karena Kitab Suci adalah Firman Allah, maka otoritasnya harus ditinggikan melebihi apapun, seperti:

a) Hukum / undang-undang negara.

b) Perintah / larangan orang tua, sekolah, suami / istri, pendeta / majelis / gereja, boss, dan sebagainya.

Bdk. Kis 5:29 - "Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: 'Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia".

c) Pengakuan iman ataupun doktrin / dogma gereja.

d) Logika / pikiran kita.

d) 'Ilmu pengetahuan'.

Sebetulnya ilmu pengetahuan yang benar, dan Alkitab yang ditafsirkan secara benar, tidak mungkin bertentangan, karena 2 kebenaran memang tidak mungkin bertentangan. Tetapi Alkitab bisa bertentangan dengan 'ilmu pengetahuan' yang sebetulnya bukanlah ilmu pengetahuan.

Contoh:

Pertentangan antara Alkitab dengan 'teori evolusi'. Dalam Kejadian 1:24-25 dikatakan bahwa Allah menciptakan binatang darat, dan dalam Kejadian 1:26-31 dikatakan bahwa Allah menciptakan manusia. Jadi jelas bahwa penciptaan binatang darat dan manusia adalah 2 penciptaan yang berbeda / terpisah, sekalipun terjadi dalam satu hari! Ini jelas bertentangan dengan teori evolusi, yang mengatakan bahwa manusia berasal dari binatang / monyet yang mengalami evolusi / perubahan sedikit demi sedikit sehingga akhirnya (setelah jutaan tahun) menjadi manusia! Pertentangan ini menyebabkan kita hanya bisa menerima salah satu, atau Alkitab atau teori evolusi. Kalau saudara adalah orang Kristen yang percaya pada kebenaran Alkitab / Firman Tuhan, saudara harus menolak teori evolusi!

Ingat bahwa teori evolusi ini hanyalah suatu hipotesa / dugaan, tetapi tidak punya bukti, dan karenanya sebetulnya tidak bisa disebut sebagai ilmu pengetahuan. Tetapi dimana-mana, baik dalam siaran TV, majalah, dan bahkan dalam pelajaran sekolah, teori evolusi diperlakukan seakan-akan teori ini betul-betul merupakan ilmu pengetahuan.

Dalam Koran 'Surya' hari Minggu, tanggal 22 November 1998, ada sebuah artikel yang berjudul "Coelacanth 'ikan fosil' yang masih hidup". Dikatakan bahwa di perairan Indonesia (sekitar Manado) ditemukan ikan Coelacanth (baca: silakan), yang disebutkan sebagai 'mbahnya komodo', dan yang oleh ahli-ahli ilmu pengetahuan dianggap sudah punah pada sekitar 70 atau 80 juta tahun yang lalu. Ternyata pada waktu tulang-tulang dari ikan yang baru ditangkap itu dibandingkan dengan fosil ikan yang dianggap sudah berumur 80 juta tahun itu, ternyata bahwa: "kita hampir tidak dapat membedakan kerangka tulang mana yang purba (80 juta tahun lalu) dengan yang sekarang. Dan ini menimbulkan pertanyaan mengapa? Mengapa organ ikan ini tetap statis untuk jangka waktu yang demikian lamanya tanpa mengalami evolusi?".

Saya berpendapat pertanyaan ini mudah sekali jawabannya, yaitu: karena evolusi tidak pernah ada!

2) Otoritas Kitab Suci juga harus ditinggikan dalam mendengar suatu ajaran.

a) Jangan mempercayai ajaran dari tokoh yang manapun, kalau ajarannya tidak mempunyai dasar Kitab Suci, apalagi bertentangan dengan Kitab Suci.

Banyak orang salah dalam hal ini, karena mereka menerima / menelan begitu saja ajaran dari tokoh tertentu atau dogma gerejanya, padahal tidak ada dasar Kitab Sucinya.

Bdk. Kis 17:11 - "Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian".

Perhatikan dan teladanilah orang-orang Yahudi di Berea ini, yang bahkan pada saat mendengar khotbah dari rasul Paulus, tetap mengecheknya dengan menggunakan Kitab Suci / Firman Tuhan!

b) Sebaliknya, terimalah ajaran dari anak kecil sekalipun, kalau ajarannya memang sesuai dengan Kitab Suci. Kalau anak saudara melihat / mendengar saudara berdusta, dan lalu menegur saudara, dengan mengatakan bahwa tindakan saudara itu adalah dosa, apa reaksi saudara? Marah? Mengabaikannya? Tunduk pada teguran itu?

c) Juga, jangan menolak suatu ajaran yang mempunyai dasar-dasar Kitab Suci, kecuali saudara bisa menggugurkan semua dasar Kitab Suci dari ajaran tersebut.

III) Kita harus melakukan / mentaati Kitab Suci.

Yakobus 1:22 - "Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri".

Tidak ada gunanya banyak belajar Kitab Suci, kalau kita tidak mentaatinya. Kalau saudara memang mempercayai bahwa Alkitab adalah Firman Allah, maka setelah mempelajarinya saudara harus mentaati ajaran Alkitab. Tidak mentaati ajaran Alkitab sama dengan tidak mentaati Allah. Tidak mempedulikan ajaran Alkitab sama dengan tidak mempedulikan Allah.

Baca Juga: Pernahkah Yesus Mengatakan: Akulah Yang Mewahyukan Alkitab, Aku Pula Yang Menjaganya (MOKO 4)

IV) Kita harus memberitakan Kitab Suci.

Matius 28:19-20 - "(19) Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, (20) dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.'".

Memang tidak setiap orang dipanggil menjadi pendeta / pengkhotbah, tetapi setidaknya saudara bisa melakukan hal-hal di bawah ini:

1) Memberitakan Injil secara pribadi.

2) Mengajar secara pribadi, misalnya pada waktu mendengar ada teman yang mempunyai pandangan yang salah.

3) Membagikan traktat.

4) Mendukung gereja / pendeta yang betul-betul memberitakan Injil / Firman Tuhan, baik melalui doa, uang, tenaga, pikiran, dsb.

Seorang yang bernama Daniel Webster berkata sebagai berikut:

"If religious books are not widely circulated among the masses in this country, I do not know what is going to become of us as a nation. If truth be not diffused, error will be; if God and His Word are not known and received, the devil and his works will gain the ascendancy; if the evangelical volume does not reach every hamlet, the pages of a corrupt and licentious literature will; if the power of the Gospel is not felt throughout the length and breadth of the land, anarchy and misrule, degradation and misery, corruption and darkness, will reign without mitigation or end" (= Jika buku-buku agama / rohani tidak beredar secara luas di antara rakyat dalam negara ini, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita sebagai bangsa. Jika kebenaran tidak dise-barkan, maka kesalahanlah yang akan tersebar; jika Allah dan FirmanNya tidak diketahui / dikenal dan diterima, setan dan pekerjaannya akan mendapatkan kekuasaan / pengaruh; jika buku-buku injili tidak mencapai setiap desa, halaman-halaman yang jahat dan literatur yang tidak bermoral akan mencapainya; jika kuasa Injil tidak dirasakan diseluruh lebar dan panjang negara ini, maka anarkhi dan pemerintahan yang salah, keburukan dan kesengsaraan, korupsi / kejahatan / kecurangan dan kegelapan, akan memerintah tanpa pengurangan atau akhir).

Seorang yang bernama Edmund Burke berkata:

"All that is necessary for the triumph of evil is that good men do nothing" (= Semua yang dibutuhkan supaya kejahatan menang adalah bahwa orang-orang yang baik tidak melakukan apa-apa) - dikutip dari buku Saat Teduh 'Streams in the Desert', vol 2, June 13.
Semoga kedua kutipan di atas ini bisa mendorong setiap orang kristen, terlebih lagi setiap hamba Tuhan, untuk lebih giat dalam memberitakan Injil / Firman Tuhan. Mengapa? Karena memang salah satu alasan yang menyebabkan ajaran-ajaran sesat bisa tersebar dan kejahatan bisa menang, adalah karena banyak orang kristen maupun hamba Tuhan yang tidak / kurang memberitakan Injil / Firman Tuhan! 

Catatan: Pdt. Budi Asali, M.Div:  meraih gelar Master of Divinity (M.Div) dari Reformed Theological Seminary (RTS), Jackson, Mississippi, United States of America
Next Post Previous Post