SUPREMASI YESUS KRISTUS (NABI, IMAM DAN RAJA)

SUPREMASI YESUS KRISTUS (NABI, IMAM DAN RAJA)
Dalam Katekismus Singkat Westminster pasal 23, sebagai Penebus, Kristus melaksanakan tiga jabatan, yaitu sebagai nabi, imam dan raja. (Williamson, 2006, p. 135) 

Lebih lanjut, G. I. Williamson menjelaskan bahwa sebagai nabi, Kristus menyatakan Firman Allah kepada kita ; sebagai imam, Kristus mempersembahkan diri-Nya (pengorbanan) ; dan sebagai raja, Kristus adalah Raja atas segala raja yang berkuasa atas diri kita. Mari kita akan menelusuri ketiga jabatan Kristus ini satu per satu.

1. Kristus Sebagai Nabi

Sebagai nabi, Katekismus Singkat Westminster pasal 24 menyatakan, “Kristus melaksanakan jabatan sebagai seorang nabi, dengan menyatakan kepada kita, (Yohanes 1:18) melalui firman dan Roh-Nya, (1 Korintus 2:13) kehendak Allah bagi keselamatan kita. (2 Timotius 3:15)” (Williamson, 2006, p. 143) 

Sebagaimana telah dibahas pada poin doktrin Allah, maka kita harus mengerti bahwa Kristus adalah Penyataan diri Allah secara khusus dalam bentuk tidak tertulis/langsung hanya kepada umat pilihan-Nya. Melalui Dia, kita mengenal diri Allah beserta atribut-atribut-Nya. 

Oleh karena di dalam Kristus ada jalan dan kebenaran dan hidup (Yohanes 14:6), maka sudah seharusnya orang Kristen dan gereja beriman di dalam Kristus dan firman-Nya, Alkitab, karena di dalam Alkitab, Allah menyatakan diri-Nya secara langsung dan seluruh Alkitab berpusat kepada Kristus. 

Ketika orang Kristen dan gereja tidak lagi memusatkan hidup dan pengajarannya pada Kristus, perlu dipertanyakan iman Kristennya, karena Pdt. Dr. Stephen Tong mengatakan satu prinsip : Christianity is Christ (keKristenan adalah Kristus) ! Tanpa Kristus, keKristenan tak pernah ada. 

Di dalam Kristus sebagai nabi pula lah kita menemukan pengetahuan, karena, “He is our wisdom not only in the sense that he tells us how to get to heaven ; he is our wisdom too in teaching us true knowledge about everything concerning which we should have knowledge.” (Dia adalah Kebijaksanaan/Bijak kita bukan hanya dalam pengertian bahwa Dia memberi tahu kita bagaimana ke Surga ; Dia adalah Kebijaksanaan kita juga dalam mengajar kita pengetahuan sejati tentang segala sesuatu yang mana kita seharusnya memiliki pengetahuan.) (Van Til, 1955, p. 17)

2. Kristus Sebagai Iman

Sebagai imam, Katekismus Singkat Westminster pasal 25 menyatakan, “Kristus melaksanakan jabatan-Nya sebagai imam, dengan mempersembahkan diri-Nya sendiri (cukup hanya) satu kali sebagai korban untuk memuaskan keadilan ilahi, (Ibrani 8:1 ; 9:28) dan mendamaikan kita dengan Allah ; (Ibrani 2:17) dan terus-menerus menjadi Pengantara bagi kita. (Ibrani 7:25)” (Williamson, 2006, p. 151) 

Di dalam pasal 25 ini, sebagai imam, Kristus mempersembahkan diri-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (bukan semua orang). Kristus menebus banyak orang bukan semua orang berarti ada penebusan terbatas yang sepenuhnya tergantung pada kedaulatan Allah yang telah memilih beberapa manusia untuk ditentukan, dipanggil, dibenarkan dan dimuliakan (Roma 8:29-30). 

Hal ini telah dijelaskan pada poin Doktrin Keselamatan. Lalu, pasal ini juga mengajarkan adanya penebusan Kristus yang satu kali untuk selama-lamanya. Berarti, tidak ada penebusan Kristus untuk kedua atau ketiga atau kesekian kalinya. Inilah keunikan penebusan Kristus, sekali untuk selama-lamanya. 

Sangat disayangkan, gereja Katolik Roma khususnya di Filipina dalam memperingati Jumat Agung, banyak jemaatnya “ikut merasakan penderitaan Kristus” dengan ikut-ikutan disalib sungguhan. Bagi saya, itu adalah penghinaan terhadap pengorbanan Kristus di salib, bukan ikut merasakan penderitaan Kristus. 

Selanjutnya, di dalam pasal 25 ini, kita mendapati adanya tiga sifat di dalam penebusan Kristus. 

Pertama, mempersembahkan diri-Nya untuk menggantikan manusia pilihan-Nya yang berdosa (Substitusi). Ini berarti kematian manusia yang harus ditanggung oleh semua manusia yang berdosa telah ditanggungkan/digantikan oleh Kristus dengan mati disalib untuk menebus dosa manusia pilihan-Nya. 

Kedua, memuaskan keadilan Ilahi/meredakan murka Allah. Semua dosa manusia harus ditanggung oleh manusia sendiri. Itulah keadilan yang dituntut Allah bagi manusia. Tetapi Ia sendiri sadar bahwa manusia tidak mampu melakukannya, maka Kristus diutus untuk menebus dosa manusia. mendamaikan manusia yang berdosa dengan Allah yang dahulu terputus akibat dosa. 

Ketiga, mendamaikan manusia dengan Allah (Propisiasi). Artinya, penebusan Kristus merekatkan kembali hubungan Allah yang Mahakudus dengan manusia yang berdosa yang dahulu terputus akibat dosa. Sehingga kematian Kristus mengembalikan fungsi asli manusia sebagai peta teladan Allah yang dahulu sudah terpolusi oleh dosa. 

Kematian Kristus juga membuka peluang manusia dapat berkomunikasi dengan Allah secara langsung di mana sebelumnya manusia berkomunikasi dengan Allah melalui para nabi-Nya. Hal ini dinyatakan dengan terbelahnya tirai Bait Allah menjadi dua ketika Kristus mati (Matius 27:51).

3. Kristus sebagai Raja

Sebagai raja, Katekismus Singkat Westminster pasal 26 menyatakan, “Kristus melaksanakan jabatan-Nya sebagai raja, dengan menaklukkan kita kepada diri-Nya, (Mazmur 110:3) memerintah serta melindungi kita, (Yesaya 33:22 ; 32:1-2) dan mengekang serta menaklukkan semua musuh-Nya maupun musuh kita. (1 Korintus 15:25)” (Williamson, 2006, p. 159) 

Dari pasal ini, kita menemukan tiga tindakan Kristus sebagai Raja, yaitu: 

Pertama, menaklukkan kita kepada diri-Nya. Dalam hal ini, Rev. Prof. Cornelius Van Til, Ph.D. di dalam bukunya The Defense of The Faith memaparkan tentang hubungan jabatan Kristus sebagai imam, raja dan nabi, “He died for us to subdue us and thus gave us wisdom.” (Dia mati bagi kita untuk menundukkan kita dan kemudian memberikan kita kebijaksanaan.) (Van Til, 1955, p. 17) 

Kedua, memerintah serta melindungi kita. Selain menaklukkan kita, Kristus juga memelihara hidup kita dengan memerintah dan melindungi kita. Ada providensia (pemeliharaan) Kristus di dalam hidup anak-anak Tuhan meskipun mereka harus menanggung penderitaan dan penganiayaan karena nama-Nya (Matius 16:24). 

Ketiga, menaklukkan para musuh-Nya dan musuh kita. Kristus memelihara hidup kita bukan hanya melindungi kita tetapi juga menghajar, mengalahkan dan menaklukkan para musuh-Nya dan musuh kita, yaitu iblis dan kroni-kroninya. Pemerintahan Kristus sebagai Raja atas segala raja menghancurkan kuasa iblis. Oleh karena itu, sebagai anak-anak-Nya, kita harus bersatu padu menghadirkan Kerajaan Allah di dalam kehidupan kita sehari-hari selama Kerajaan 1000 tahun (bukan dimengerti secara harafiah) ini untuk kemuliaan Allah saja. 

Ingatlah, kemenangan ada di pihak Allah, bukan di pihak iblis, oleh karena itu, “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.” (1 Petrus 5:8-9)
----
Catatan: - Eric J. Alexander -.

Tidak masalah betapa banyak musuh yang berkomplot untuk menggulingkan gereja, mereka tidak memilik kekuatan yang cukup untuk menang atas ketetapan Allah yang kekal, dimana dengan ketetapan itu. Dia menunjuk Putra-Nya sebagai Raja yang kekal. -John Calvin.

Sinclair B. Ferguson telah meringkaskan dengan baik supremasi Yesus Kristus dalam theologı Calvin dalam kata-kata ini: -Segala sesuatu yang kurang dalam diri kita, diberikan oleh Kistus kepada kita: segala hal yang berdosa di dalam diri kita diperhitungkan (diimputasikan) kepada Kristus dan seluruh penghakiman yang pantas untuk kita, ditanggung oleh Kristus."

Paul Wells menuliskan bahwa -John Calvin tidak diragukan adalah seorang theolog terbesar. Dia menambahkan,Cavin-lah yang mengembangkan jabatan tiga rangkap Kristus sebagai nabi. iman dan raja, sebagai cara untuk menghadirkan berbagai segi yang berbeda dari pencapaian keselamatan. Tentu saja, Perjanjian Lama adalah persemaian dari tiga jabatan perantaraan ini, masing-masing di antaranya mendapatkan kepenuhannya dalam Yesus Kristus. Berdasarkan nama dan aktivitas Allah sendiri, Dia adalah "yang Diurapi."

JABATAN KRISTUS SEBAGAI NABI

Ketika kita mulai memahami ruang lingkup penuh dari karya Kristus sebagai Pengantara, kita siap untuk memiliki pemahaman Calvin akan kebesaran dan kemuliaan yang menjadi milik Kristus. Calvin menuliskan, "Pekerjaan yang ditampilkan oleh pengantara tidak memiliki deskripsi yang biasa: yang memulihkan kita kepada kebaikan ilahi sehingga menjadikan kita sebagai anak-anak Allah dan bukan anak-anak manusia; menjadikan kita ahli waris kerajaan sorga dan bukan ahli waris neraka. 

Siapa yang bisa melakukan hal ini, kecuali Anak Allah yang juga harus menjadi Anak Manusia, sehingga Dia bisa menerima apa yang menjadi milik kita dan memindahkan kepada kita apa yang menjadi milik-Nya, membuat apa yang secara alami adalah milk-Nya. menjadi milik kita melalui anugerah. 

Peristiwa klasik dimana Yesus Kristus diangkat dan dinyatakan sebagai Nabi adalah pengurapan dan pembaptisan-Nya. Calvin mengomentari, "Suara yang bergemuruh dari sorga, Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan. memberi-Nya keistimewaan yang khusus di atas guru-guru lain. Lalu darinya, yang adalah kepala, pengurapan ini disebarkan melalui para anggota, seperti yang diramalkan oleh Yoel, - maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat.

Pada permulaan pelayanan-Nya, Kristus mengumumkan panggilan kenabian-Nya ketika berada di sinagoge dan selama ibadah, Dia menyampaikan isi gulungan Kitab Yesaya., Penting untuk di perhatikan bahwa Dia membacakan ayat mesianik:'Roh Tuhan ada pada-Ku. olehh sebab la telah mengurapi AKU, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang orang tertawan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang (Lukas 4:18-19). 

Ketika dia menutup gulungan kitab itu, Dia mengembalikannya kepada si pelayan dan kemudian duduk. Lalu dengan memandang semua orang yang ada di sinagoge yang juga memandang Dia, Dia berkata, "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya" (Lukas 4:21), dan jemaat kagum akan kata-kata indah yang keluar dari mulut-Nya. Calvin menjelaskan:

Tujuan dari martabat kenabian dalam diri Kristus adalah untuk mengajari kita bahwa dalam doktrin yang Dia sampaikan, pada hakikatnya terkandung hikmat yang sempurna di setiap bagian-nya. Di luar diri-Nya, tidak ada sesuatu pun yang bernilai untuk diketahui dan meraka yang dengan imannya memahamı karakter sejati-Nya memiliki keluasan berkat-berkat sorga yang tak terbatas.

Sebuah aplikasi penting dari jabatan kenabian Kristus dalam kehidupan Calvin adalah komitmen totalnya kepada pengajaran dan khotbah teks Kitab Suci. Eksposisinya terhadap sebagian besar Alkitab telah meninggalkan kekayaan yang tak terkira untuk gereja kristen sejak Reformasi. Namun hal yang lebih penting adalah ketaatan mutlaknya kepada wibawa akhir Kitab Suci. 

Dalam uraiannya atas penglihatan Yesaya dalam pasal 6, Calvin mengatakan,"Saya tidak berspekulasi untuk memberikan pernyataan yang tegas, jika Kitab Suci tidak mengatakan apa pun. Dia juga mencapai kesimpulan dalam diskusi tentang penghakiman, dengan pernyataan yang menarik ini:"Hikmat kita harus terdiri dari cakupan ketaatan yang lembut terhadap semua hal yang disampaikan dalam Kitab Suci yang kudus , tarnpa terkecuali.

Posisi Kristus sebagai Guru kita yang diurapi dan dipilih memiliki berbagai implikasi yang dalam untuk sikap kita terhadap Kiab Suci. Memisahkan supremasi absolut Kristus dari supremasi absolut Kitab Suci (yang Dia pertahankan dengan teguh), menurut Calvin, adalah hal yang tidak masuk akal dan mustahil. Malahan, dia menggambarkan Kitab Suci sebagal "tongkat kerajaan Kristus."" dengan mengimplikasikan bahwa Kristus memerintah kita dengan tongkat itu. Dengan demikian, Calvin secara rutin menyimpulkan "Engkau harus datang kepada Firman".

JABATAN KRISTUS SEBAGAI IMAM

Jabatan kedua dari tiga jabatan yang baginya Kristus diurapi adalah Imam. Imam adalah seseorang yang dipiliíh oleh Allah untuk bertindak bagi orang lain, berkaitan dengan berbagai perkara yang berhubungan dengan Allah. Dengan kata lain, Dia adalah perantara antara Allah dan manusia. 

Perjanjian Lama membuat persiapan yang cukup untuk konsep ini, dan Surat Ibrani mengembangkan gagasan ini secara intensif. Calvin menjelaskan tugas imam dalam kata-kata yang paling khidmat: "Fungsí-Nya adalah agar dia bisa 'mendapatkan kebaikan Allah bagi kíta." Namun karena kutukan yang patut diterima telah merintangi jalan masuk dan Allah dalam karakter-Nya sebagai Hakim adalah musuh kita, perlu ada penebusan, sehingga seorang imam dipilih untuk meredakan murka Allah, dia akan mengembalikan lagi kebaikan-Nya untuk kita.

Aspek unik dari Keimaman Kristus adalah bahwa Dia tidak hanya Imam tetapi juga adalah korban - bukan hanya subjek dari pekerjaan pengantara, tetapi juga sebagai alatnya. Dia tidak hanya mempersembahkan korban persembahan, tetapi Dia juga menjadi korban persembahan itu, dan dengan demikian Día berhadapan dengan manusta bagi Allah dan dengan Allah bagi manusia.

Ada tiga kekurangan fatal dalam keimaman Perjanjian Lama. 

Pertama, imam yang berseru memohonkan penebusan, memiliki dosa mereka sendiri. Namun bagaimanapun, karena ketidaksem purnannrya, maka dia tidak bisa menebus dirinya sendiri, apalagi orang lain. 

Kedua, "Sebab tidak mungkin darah lembu Jantan atau darah domba Jantan menghapuskan dosa (Ibr. 10:4). Meskipun darah mengajarkan jalan keselamatan melalui kematian Domba yang tak bernoda, tetapi hal tersebut tidak bisa dan tidak menganugrahkan realitas keselamatan. 

Ketiga, korban-korban yang dipersembahkan oleh iman dilakukan terus-menerus, terjadi setiap hari di bait Allah. Pekerjaan iman Perjanjian Lama tidah pernah selesai.

Calvin mengontraskan semua hal ini dengan kesempurnaan Keimanan Kristus seperti digambarkan dalam Ibrani 9:12-14. Dia menuliskan," "Dan sang rasul.. .menjelaskan seluruh masalah ini dalam  Surat untuk orang-orang Ibrani, menunjukkan bahwa tanpa pencurahan darah, maka tidak ada pengampunan  (Ibrani 9:22)...seluruh beban penghukuman di mana kila bebaskan darinya, diletakkan pada-Nya.

BACA JUGA: TUJUAN KEDATANGAN YESUS KRISTUS KE DALAM DUNIA

Namun bagaimanapun, Calvin meminta perhatian kita untuk berbagai implikasi lebih lanjut akan Keimaman Kristus. Keimaman-Nya bersifat permanen dan kekal, bukan sementara atau terkungkung pada posisi inkarnasi-Nya. Saat ini, Dia tampil di sisi kanan Bapa, duduk untuk menandai pekerjaan-Nya yang sempurna di atas salib, namun tetap aktif sebagai Pembela dan Pengantara kita. Calvin menuliskan:

Iman merasakan bahwa kedudukan-Nya di sebelah Bapa bukanlah tanpa keuntungan yang besar bagi kita. Dengan memasuki bait suci yang bukan dibuat oleh tangan manusia, Dia terus-menerus tampil sebagai pembela dan pengantara kita di hadapan Bapa; mengarahkan perhatian kepada kebajilkan-Nya sendiri, menjauhkan kita dari dosa-dosa kita: mendamaikan Dia dengan kita. di mana dengan pengantaraan-Nya, Dia membuka jalan masuk bagi kita kepada takhta-Nya, menghadirkannya bagi orang-orang berdosa yang menderita, yang dulunya adalah objek ketakutan. dengan amugerah dan kemurahan hati yang penuh. 

Calvin menyebutkan sejumlah contoh pengantaraan Kristus dalam Injil. yang salah satunya menjadi jaminan pribadi Kristus bagi Rasul Petrus di mana. di hadapan serangan Iblis, Petrus akan bergantung pada pengantaraan Kristus demi kebaikannya. Namun  contoh yang prinsipil adalah doa syafaat  Kristus yang luar biasa dalam Yohanes 17. Nilai tertinggi dari doa ini adalah bahwa Yesus meyakinkan murid-murid-Nya bahva Dia adalah pengatara yang agung bagi mereka, tidak hanya di dunia ini, tetapı bahkan  ketika Dia naik ke sorga. ke sisi kanan Bapa. Berkaitan dengan fakta bahwa orang-orang percaya memiliki akses kepada Bapa, kita sendiri memiliki pelayanan keimaman melalui doa juga. 

JABATAN KRISTUS SEBAGAI RAJA

Tentu saja jabatan rajawi Kristus juga memiliki hubungan yang dekat dengan karya keimaman-Nya untuk mempersembahkan korban yang cukup di salib, sedemikian besarnya sehingga Calvin berkata "Kerajaan Kristus tidak terpisah dari keimaman-Nya.

Kerajaan itu belumlah sempurna, tetapi telah dimulai melalui Kemenangan Kristus atas dosa dan Iblis di atas kayu salib. Ini adalah gambaran yang luar biasa akan Christus Victor ("Kristus sang Pemenang) yang Calvin berikan kepada kita ketika menafsirkan Kolose 2:14-15: "Bukan tanpa alasan maka Paulus secara luar biasa merayakan kemenangan yang Kristus dapatkan di atas salib, di mana salib, simbol dari aib, telah diubahkan menjadi kereta perang kemenangan.

Kerajaan ini sudah diteguhkan dalam satu pemahaman. Seperti yang R. C. Sproul tuliskan: "Ini adalah kenyataan masa kini. Namun Kristus Sekarang hal ini masih belum terlihat bagi dunia. Namun Kristus sudah naik ke sorga... Pada saat ini juga Dia memerintah sebagai Raja atas segala raja dan Tuhan atas segala tuhan..Raja-raja dunia ini dan seluruh pemerintahan duniawi bisa mengabaikan ke nyataan ini, tetapi mereka tidak bisa membatalkannya.

Namun dalam kehidupan sekarang ini selalu ada sesuatu yang"belum dipahami" dalam pemikiran kita tentang kerajaan. Kita tidak hanya bangga atas inaugurasi kerajaan yang tidak terlihat. Kita akan memiliki sukacita yang tak terucapkan pada hari itu ketika hal yang tidak terlihat menjadi terlihat dan setiap lutut akan bertelut di hadapan "yang berhak menerima segala yang ada"(Ibrani 1:2). 

Sementara itu. kita perlu mengakui kebenaran masa kini dari pernyataan Calvin "Seluruh kerajaan Ibils adalah subjek dari wibawa Kristus."Sekali lagi dalam khotbahnya yang pertama atas Yesaya 53, Calvin memperingatkan kita: "Kiranya kita tidak membatasi diri kita kepada berbagai penderitan.Nya semata, tetapi kiranya kita menghubungkan kebangkitan dengan kematian dan mengetahui bahwa Dia, yang telah disalibkan, dengan demikian duduk sebagar Letnan Allah, Bapa-Nya, untuk menjalan
kan kekuasaan yang berdaulat dan memiliki seluruh kuasa disorga dan bumi.

Calvin menekankan beberapa ciri jabatan rajawi Kristus berikut ini:

= Kerajaan itu bersifat rohani dan bukan material. Calvin menjelaskan penyatan ini dengan mengutip kata-kata Yesus yang dicatat dalam Injil Yohanes: "Kerajaaan-Ku bukan dari dunia ini (18:36). Calvin menuliskan. "Karena kita melihat bahwa segala hal yang bersifat duniawi dan berasal dari dunia adalah sementara dan akan sirna. 

Calvin menekankan kebenaran akan hal ini dengan menambahkan, "Oleh karena itu. kita harus mengetahui bahwa kebahagiaan yang dijanjikan bagi kita dalam Kristus. tidak terkandung dalam berbagai berkat lahiriah - seperti memiliki kehidupan yang bahagia dan tenteram, berlimpah-limpah dalam kekayaan, aman dari segala bahaya, dan memiliki kemakmuran yang nikmat. segala hal seperti yang diinginkan oleh kedagingan - tetapi secara tepat memiliki kehidupan sorgawi.

= Kerajaan Allah ada di dalam dirimu (Lukas 17:21). Calvin berpikir bahwa mungkin Yesus di sini memberikan tanggapan pada orang-orang Farisi, yang menanyai Dia dengan olokan untuk memperlihatkan tanda kebesaran-Nya, Oleh karena itu, Calvin menulis:

Kita tidak boleh ragu bahwa kita harus senantiasa menang atas kejahatan, dunia dan segala yang membahayakan kita...untuk mencegah agar orang-orang yang sudah sedemikian condong terhadap keduniawian untuk tidak tinggal dalam kemegahanya, dia meminta mereka untuk memasuki hati nurani mereka."kerajaan Allah adalah kebaikan, kedamaian, dan sukacita dalam Roh Kudus." Kata-kata ini secara singkat mengajarkan apa yang Kerajaan Allah anugerahkan kepada kita. Dengan tidak menjadi duniawi atau jasmaniah, sehingga menjadi korban kerusakan, tetapi menjadi rohani sehingga hal tersebut membangkitkan kita  bahkan sampai kehidupan kekal sehingga kita bisa dengan sabar hidup pada masa sekarang, menghadapi kerja keras, kelaparan, kedinginan, penghinaan, aib, dan berbagai gangguan lainnya: bersamaan dengan hal ini, Raja kita tidak akan pernah meninggalkan kita. tetapi akan menyediakan berbagai kebutuhan kita, sampai peperangan kita berakhir dan kita dipanggil untuk mengalami kemenangan... Sejak saat itu, Dia mempersenjatai dan memperlengkapi kita dengan kuasa-Nya, menghiasiki kita dengan semarak dan kebesaran, memperkaya kita dengan kekayaan, di sini kita menemukan alasan kebanggaan yang paling melimpah.

Seluruh konsep jabatan rangkap tiga Kristus diterapkan oleh Calvin untuk kebutuhan rohani manusia. Karena telah dibutakan oleh sifat  ketidaktahuan akan kebenaran, kita membutuhkan pewahyuan yang datang dalam Yesus Kristus, karena Dia adalah Nabi dan Guru kita. 

Di atas segalanya, Dia menunjukkan kepada Kita di mana kita bisa menemukan kebenaran tentang diri-Nya dan diri kita sendiri, dosa dan keselamatan, pengampunan dari dosa dan perdamaian dengan Allah, dan semua hal ini ada dalam Kitab Suci. J. F. Jansen berkata, "Calvin, seperti Luther, tidak pernah melupakan bahwa seluruh Alkitab adalah palung di mana Yesus Kristus bisa ditemukan.

Namun kondisi manusia bukan hanya bahwa kita tidak mengetahui tentang Allah dan kebenaran. Kita juga berdosa, bersalah dan menjadi objek murka Allah, tanpa harapan untuk menyelamatkan diri kita sendiri. Dalam keadaan ini, di mana kita tidak memiliki akses kepada Allah, Yesus Kristus datang sebagai Pengantara kita, membawa kita dengan cara yang baru dan hidup kepada Bapa, mempersembahkan diri-Nya sebagai korban yang sempurna dan dengan demikian menebus dosa kita. 

Perbedaan yang Calvin nyatakan adalah bahwa keimaman sebelumnya hanya bisa melambangkan penebusan melalui korban-korban binatang. tetapi Kristus menghasilkan penebusan dengan mengorbankan diri-Nya sendiri.

BACA JUGA: ALLAH YANG TIDAK BERUBAH

Akhirnya, yang dibutuhkan oleh orang berdosa bukan hanya pengetahuan akan kebenaran dan perdamaian dengan Allah melalui kematian Anak-Nya yang penuh pengorbanan. Namun yang dibutuhkan oleh manusia juga adalah kebebasan dari kuasa Iblis dan dipindahkan dalam kerajaan Allah. Kita membutuhkan kedaulatan tangan Raja di atas segala raja atas kehidupan kita, untuk menuntun kita, memerintah kita, dan setiap hari menundukkan hal-hal dalam diri kita yang mendukakan Dia.

Ringkasan dari seluruh masalahnya adalah bahwa Calvin risau di sepanjang seluruh tulisan, khotbah, doa, dan kehidupannya dengan apa yang disebut oleh Abrañam Kuyper sebagai "Sistem kehidupan'. Sistem tersebut mengambil kuasa dari Kristus di dalam kehidupan dimana Dia memiliki supremasi total. 

Calvin hidup, berkhotbah, mengajar, berdoa dan mati - segalanya agar Kristus diagungkan dan dimuliakan. "Bagi Dia. yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam, imam bagi Allah, Bapa-Nya . - bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin" (Wahyu. 1:5b-6).

Saya selalu mendapatı bahwa tidak ada sesuatu pun yang bisa meringkaskan pemikiran Calvin dengan sedemikian mengagumkan seperti dua bait himne "Salutation to Jesus Christ. yang dipertalikan dengan dirinya:

Kusambut Engkau, Penebusku yang pasti
Satu-satunya kepercayaan dan Juruselamat hatiku,
Yang menjalani begitu banyak jerih lelah, sengsara dan penderitaan,
Demi diriku yang malang dan tak berarti;
Dan kami berdoa dari hati kami kepada-Mu,
Agar dibuang seluruh kedukaan, kepandaian hidup, dan kebodohan.

Engkau adalah Raja atas belas kasihan dan anugerah.
Memerintah dengan mahakuasa di setiap tempat;
Datanglah, oh Raja! Dan berkenanlah memerintah dalam hati kami
Dan seluruh keberadaan kami diubahkan;
sinarilah kami dengan terang-Mu dan pimpinlah kami Sampai ke puncak
Hari-Mu yang murni dan menyenangkan.
Next Post Previous Post