10 Hal yang Perlu Anda Ketahui tentang Kekacauan dan Kosmos dalam Penciptaan Tuhan

Pendahuluan:
Penciptaan Tuhan sering kali dipahami sebagai sesuatu yang indah, tertata, dan penuh harmoni. Namun, dalam Alkitab, kita juga melihat unsur kekacauan (chaos) yang muncul dalam narasi penciptaan dan sejarah keselamatan. Bagaimana hubungan antara kekacauan dan keteraturan (cosmos) dalam rencana Tuhan? Apakah kekacauan adalah bagian dari rancangan ilahi?
Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi 10 hal penting tentang bagaimana teologi Reformed memahami kekacauan dan kosmos dalam penciptaan Tuhan.
1. Alkitab Memulai Penciptaan dengan Kekacauan
Dalam Kejadian 1:2, kita membaca bahwa sebelum dunia diciptakan, bumi "belum berbentuk dan kosong" (tohu wabohu dalam bahasa Ibrani). Ini menggambarkan keadaan yang kacau, tidak teratur, dan belum terstruktur. Namun, kekacauan ini bukan di luar kendali Tuhan—sebaliknya, itu adalah bagian dari proses penciptaan.
Dr. John Frame, seorang teolog Reformed, menjelaskan bahwa keadaan awal ini menunjukkan bahwa Tuhan menciptakan dari ketiadaan (ex nihilo), tetapi Dia juga membentuk dan mengatur ciptaan-Nya dengan tujuan yang jelas. Tuhan bukan hanya Pencipta, tetapi juga Pengatur (Sustainer) yang membawa keteraturan dari kekacauan.
2. Tuhan Mengubah Kekacauan Menjadi Kosmos
Kata kosmos dalam bahasa Yunani berarti "tatanan" atau "keteraturan." Dalam enam hari penciptaan (Kejadian 1), kita melihat bagaimana Tuhan secara progresif mengatur ciptaan-Nya—memisahkan terang dari gelap, air dari daratan, dan memberikan fungsi pada setiap unsur alam.
Menurut Dr. R.C. Sproul, penciptaan adalah tindakan ilahi di mana Tuhan menetapkan hukum-hukum alam dan menciptakan dunia yang berfungsi sesuai dengan rancangan-Nya. Dia tidak hanya menciptakan materi, tetapi juga menetapkan tatanan bagi ciptaan tersebut agar berjalan dengan harmonis.
3. Kejatuhan Manusia Membawa Kekacauan ke Dunia
Meskipun Tuhan menciptakan dunia dengan keteraturan, dosa manusia membawa kembali elemen kekacauan ke dalam ciptaan. Kejadian 3 menjelaskan bagaimana kejatuhan manusia membawa akibat serius:
-
Alam menjadi rusak dan penuh kesulitan (Kejadian 3:17-18).
-
Relasi manusia dengan Tuhan dan sesama menjadi terganggu.
-
Penyakit, bencana, dan penderitaan mulai masuk ke dalam dunia.
Dr. Cornelius Van Til, seorang filsuf dan teolog Reformed, menegaskan bahwa "kejatuhan tidak hanya merusak moralitas manusia tetapi juga membawa efek yang luas pada seluruh ciptaan." Kekacauan dalam dunia yang kita alami saat ini adalah akibat dari dosa yang telah mencemari tatanan ilahi.
4. Air Bah sebagai Simbol Kekacauan dan Penghakiman Tuhan
Dalam Kejadian 6-9, kita melihat bagaimana air bah pada zaman Nuh digunakan Tuhan sebagai alat penghakiman atas dosa manusia. Air, yang dalam budaya Ibrani sering dikaitkan dengan kekacauan dan kehancuran, digunakan untuk menghapus kejahatan dan memulai kembali tatanan yang baru.
Dr. Meredith Kline, seorang teolog Perjanjian Lama Reformed, menekankan bahwa air bah adalah gambaran bagaimana Tuhan berkuasa atas kekacauan dan menggunakan penghakiman-Nya untuk mengembalikan dunia kepada kehendak-Nya. Ini juga merupakan bayangan dari baptisan, di mana air melambangkan kematian terhadap dosa dan awal kehidupan baru (1 Petrus 3:20-21).
5. Eksodus: Tuhan Membelah Laut untuk Menciptakan Jalan Baru
Kisah keluarnya bangsa Israel dari Mesir (Keluaran 14) kembali menegaskan bahwa Tuhan berkuasa atas kekacauan. Laut Merah yang menjadi ancaman besar bagi bangsa Israel dibelah oleh Tuhan, menciptakan jalan keselamatan bagi umat-Nya.
Dalam perspektif Reformed, ini adalah tindakan ilahi yang menunjukkan bagaimana Tuhan mengendalikan kekacauan untuk tujuan keselamatan. Dr. G.K. Beale mencatat bahwa pembelahan Laut Merah adalah gambaran eskatologis dari bagaimana Tuhan akan menebus umat-Nya dari kuasa dosa dan membawa mereka ke dalam keteraturan kerajaan-Nya.
6. Ayub dan Misteri Kekacauan dalam Hidup Orang Benar
Kitab Ayub adalah salah satu contoh terbaik bagaimana orang percaya menghadapi kekacauan yang tampaknya tidak memiliki alasan yang jelas. Ayub mengalami penderitaan hebat, kehilangan harta, keluarga, dan kesehatannya, meskipun dia adalah orang yang saleh.
Teolog Reformed seperti Dr. John Piper menekankan bahwa Ayub adalah contoh bagaimana Tuhan mengizinkan kekacauan terjadi dalam kehidupan orang benar untuk menguji iman mereka dan memperlihatkan kemuliaan-Nya. Dalam akhir kisahnya, Tuhan memulihkan Ayub, menunjukkan bahwa bahkan dalam kekacauan, Tuhan tetap berdaulat dan bekerja untuk kebaikan umat-Nya (Roma 8:28).
7. Yesus Mengendalikan Kekacauan Alam
Salah satu momen penting dalam pelayanan Yesus adalah ketika Dia meredakan badai di laut (Markus 4:35-41). Ketika murid-murid-Nya ketakutan karena ombak besar, Yesus hanya berkata, "Diam! Tenanglah!"—dan seketika badai berhenti.
Dr. Sinclair Ferguson menjelaskan bahwa mukjizat ini menegaskan bahwa Yesus memiliki otoritas atas ciptaan, sama seperti Tuhan dalam Perjanjian Lama. Kekacauan alam tunduk di bawah kuasa Kristus, membuktikan bahwa Dia adalah Allah yang berinkarnasi.
8. Salib Kristus: Kekacauan yang Membawa Keselamatan
Dari perspektif manusia, penyaliban Yesus tampak sebagai kekacauan total—ketidakadilan, penderitaan, dan kematian yang tragis. Namun, dari perspektif ilahi, salib adalah bagian dari rencana Tuhan yang sempurna untuk menyelamatkan umat-Nya.
Dr. Timothy Keller menyatakan bahwa "melalui kegelapan dan penderitaan salib, Tuhan sedang membangun jalan bagi keselamatan dunia." Kekacauan dosa ditanggung oleh Kristus, sehingga umat-Nya dapat menerima keteraturan dan kehidupan baru dalam kerajaan Allah.
9. Janji Pemulihan: Tuhan Akan Menciptakan Langit dan Bumi yang Baru
Dalam Wahyu 21-22, Tuhan berjanji untuk menciptakan langit dan bumi yang baru, di mana tidak ada lagi penderitaan, dosa, atau kekacauan. Ini adalah penggenapan dari janji Tuhan bahwa suatu hari nanti, kosmos akan dipulihkan sepenuhnya sesuai dengan kehendak-Nya.
Dr. Richard Bauckham, seorang teolog Reformed, menekankan bahwa visi ini bukan hanya simbolis, tetapi merupakan realitas eskatologis di mana Tuhan akan menghapus segala bentuk kekacauan dan membawa ciptaan-Nya kembali kepada kemuliaan yang sempurna.
10. Kita Dipanggil untuk Membangun Kosmos dalam Dunia yang Kacau
Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menjadi agen Tuhan dalam membawa keteraturan dan keadilan ke dunia yang penuh kekacauan. Melalui pekerjaan, keluarga, pelayanan, dan kesaksian kita, kita dipanggil untuk mencerminkan nilai-nilai kerajaan Allah.
Dr. Abraham Kuyper, seorang teolog Reformed Belanda, menekankan bahwa "tidak ada satu inci pun dalam ciptaan ini yang tidak berada di bawah otoritas Kristus." Artinya, sebagai umat Tuhan, kita harus terlibat dalam membangun keteraturan dalam segala aspek kehidupan—baik dalam bidang pendidikan, politik, seni, maupun ekonomi.
Kesimpulan
Dunia ini masih penuh dengan kekacauan, tetapi kita dapat memiliki keyakinan bahwa Tuhan tetap berdaulat atas segalanya. Dari penciptaan hingga penebusan, Tuhan bekerja untuk membawa keteraturan ke dalam ciptaan-Nya. Sebagai umat-Nya, kita dipanggil untuk mempercayai rencana-Nya dan ikut serta dalam membangun kerajaan-Nya di tengah dunia yang kacau.
Soli Deo Gloria!