Apa Itu Saintisme? Pandangan Teologi Reformed tentang Sains dan Iman

Pendahuluan:
Di dunia modern, sains memainkan peran yang sangat penting dalam hampir setiap aspek kehidupan manusia. Kemajuan dalam bidang kedokteran, teknologi, dan ilmu pengetahuan telah membawa manfaat besar bagi masyarakat. Namun, ada sebuah pandangan yang dikenal sebagai saintisme (scientism), yang mengklaim bahwa sains adalah satu-satunya sumber pengetahuan yang valid dan dapat diandalkan.
Dari perspektif teologi Reformed, saintisme adalah bentuk pemikiran yang menolak otoritas wahyu Allah dan membatasi realitas hanya pada apa yang dapat dibuktikan secara empiris. Dalam artikel ini, kita akan membahas apa itu saintisme, bagaimana ia berbeda dari sains yang sejati, dan bagaimana pandangan teologi Reformed memberikan jawaban yang lebih seimbang antara iman dan akal.
I. Definisi Saintisme: Lebih dari Sekadar Sains
1. Apa Itu Saintisme?
Saintisme adalah keyakinan bahwa sains adalah satu-satunya sumber pengetahuan yang sah, dan semua bentuk pengetahuan lainnya—termasuk filsafat, moralitas, dan agama—harus ditundukkan kepada metode ilmiah.
Sebagai contoh, pemikir sekuler seperti Richard Dawkins dan Stephen Hawking menolak agama karena menurut mereka kepercayaan kepada Allah tidak dapat dibuktikan melalui eksperimen ilmiah.
John Frame dalam The Doctrine of the Knowledge of God menjelaskan bahwa saintisme bukan sekadar apresiasi terhadap sains, tetapi sebuah ideologi yang menolak semua sumber pengetahuan lain di luar sains.¹
2. Perbedaan antara Saintisme dan Sains Sejati
Penting untuk membedakan antara sains sejati dan saintisme:
-
Sains sejati adalah metode untuk memahami dunia alam dengan menggunakan observasi, eksperimen, dan logika.
-
Saintisme adalah keyakinan filosofis yang menganggap sains sebagai satu-satunya sumber kebenaran.
Herman Bavinck dalam Reformed Dogmatics menegaskan bahwa sains dan iman tidak bertentangan, tetapi saintisme adalah bentuk pemikiran yang mencoba menggantikan otoritas wahyu Allah dengan akal manusia yang terbatas.²
II. Masalah-Masalah dalam Saintisme
1. Saintisme Bertentangan dengan Realitas yang Lebih Luas
Saintisme berasumsi bahwa hanya hal-hal yang dapat diobservasi dan diukur yang benar-benar nyata. Namun, ada banyak aspek kehidupan manusia yang tidak dapat dijelaskan oleh sains, seperti:
-
Moralitas → Sains tidak dapat menjelaskan mengapa sesuatu itu benar atau salah.
-
Logika → Hukum logika itu sendiri tidak dapat diuji secara empiris.
-
Keindahan → Sains tidak dapat menjelaskan mengapa manusia merasakan keindahan dalam seni atau musik.
Alvin Plantinga, seorang filsuf Kristen, dalam Where the Conflict Really Lies, berargumen bahwa jika saintisme benar, maka sains itu sendiri tidak memiliki dasar filosofis, karena metode ilmiah bergantung pada asumsi-asumsi yang tidak dapat dibuktikan oleh sains.³
2. Saintisme Gagal Menjawab Pertanyaan-Pertanyaan Ultimate
Sains dapat menjelaskan bagaimana sesuatu terjadi, tetapi tidak dapat menjelaskan mengapa sesuatu itu ada.
Misalnya, pertanyaan seperti:
-
"Mengapa alam semesta ada?"
-
"Apa tujuan hidup manusia?"
-
"Apakah ada kehidupan setelah kematian?"
Ini adalah pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh sains, tetapi membutuhkan wahyu Allah.
Cornelius Van Til dalam Christian Apologetics menekankan bahwa tanpa Allah sebagai dasar kebenaran, semua pemikiran manusia akan berujung pada relativisme dan ketidakpastian.⁴
3. Saintisme Meremehkan Otoritas Alkitab
Dalam saintisme, Alkitab dianggap sebagai dokumen kuno yang tidak relevan bagi pemahaman modern. Namun, dalam perspektif teologi Reformed, wahyu khusus dalam Alkitab adalah sumber kebenaran tertinggi yang memberikan konteks bagi semua bentuk pengetahuan.
Mazmur 111:10 berkata:
"Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya memiliki pengertian yang baik." (AYT)
R.C. Sproul dalam The Consequences of Ideas menjelaskan bahwa sains hanya dapat berfungsi dengan benar jika kita mengakui bahwa dunia diciptakan oleh Allah yang rasional dan teratur.⁵
III. Bagaimana Teologi Reformed Menjawab Saintisme?
1. Iman dan Sains Tidak Bertentangan
Banyak orang menganggap bahwa iman dan sains berada dalam konflik, tetapi ini adalah kesalahpahaman.
John Calvin dalam Institutes of the Christian Religion menulis bahwa alam semesta adalah "teater kemuliaan Allah," yang berarti bahwa sains adalah alat untuk memahami karya tangan-Nya.⁶
Roma 1:20 berkata:
"Sebab sifat-sifat-Nya yang tidak kelihatan, yaitu kuasa-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat dipahami melalui ciptaan-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak mempunyai alasan." (AYT)
Artinya, sains seharusnya mengarahkan kita kepada penyembahan, bukan kepada ateisme.
2. Sains Harus Dilihat dalam Terang Wahyu Allah
Teologi Reformed menekankan bahwa sains hanya dapat berfungsi dalam kerangka pemikiran Kristen.
Misalnya, sains mengasumsikan bahwa:
-
Alam semesta memiliki keteraturan (karena Allah yang menciptakannya).
-
Pikiran manusia mampu memahami alam semesta (karena manusia diciptakan menurut gambar Allah).
-
Hukum-hukum alam bersifat tetap (karena Allah menopang ciptaan-Nya).
Tanpa asumsi ini, metode ilmiah tidak akan masuk akal.
Michael Horton dalam The Christian Faith menegaskan bahwa hanya dalam kerangka teologi Kristen, sains dapat memiliki dasar yang logis dan konsisten.⁷
3. Saintisme Tidak Bisa Menyediakan Fondasi Moral
Sains tidak bisa memberi tahu kita apa yang baik dan jahat.
Misalnya, sains dapat menjelaskan bagaimana manusia membunuh, tetapi tidak dapat menentukan mengapa pembunuhan itu salah.
C.S. Lewis dalam Mere Christianity menulis:
"Jika tidak ada standar moral yang lebih tinggi dari manusia, maka tidak ada alasan mengapa seseorang harus mengikuti moralitas tertentu."⁸
Hanya wahyu Allah yang memberikan dasar objektif bagi moralitas.
IV. Bagaimana Orang Kristen Harus Merespons Saintisme?
1. Menghargai Sains, tetapi Menolak Saintisme
Kita harus menghormati sains sebagai alat yang diberikan Allah untuk memahami dunia, tetapi menolak saintisme sebagai filosofi yang mencoba menggantikan Allah dengan sains.
Kolose 2:8 memperingatkan kita:
"Hati-hatilah supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafat dan tipu muslihat kosong menurut tradisi manusia." (AYT)
2. Menggunakan Sains untuk Kemuliaan Allah
Seorang ilmuwan Kristen harus melihat pekerjaannya sebagai bagian dari mandat budaya untuk menaklukkan bumi (Kejadian 1:28).
Artinya, sains seharusnya dipakai untuk memuliakan Allah, bukan menggantikan-Nya.
3. Memberikan Jawaban Alkitabiah kepada Dunia
1 Petrus 3:15 berkata:
"Siap sedialah memberikan jawaban kepada setiap orang yang meminta pertanggungjawaban tentang pengharapan yang ada padamu." (AYT)
Orang Kristen harus bisa menjawab tantangan saintisme dengan pemikiran yang berbasis firman Tuhan.
Kesimpulan: Sains Bukan Tuhan, Allah-lah yang Berdaulat
Saintisme adalah ideologi yang mencoba menggantikan wahyu Allah dengan metode ilmiah. Namun, dari perspektif teologi Reformed:
-
Sains dan iman tidak bertentangan, tetapi saling melengkapi.
-
Sains hanya dapat berjalan dengan benar jika diakui dalam terang wahyu Allah.
-
Saintisme adalah bentuk pemikiran yang terbatas dan tidak dapat memberikan jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan ultimate manusia.
Sebagai orang percaya, kita harus menggunakan sains dengan bijaksana dan menolak segala bentuk saintisme yang mencoba menggantikan Tuhan.
Soli Deo Gloria!
Catatan:
¹ John Frame, The Doctrine of the Knowledge of God
² Herman Bavinck, Reformed Dogmatics
³ Alvin Plantinga, Where the Conflict Really Lies
⁴ Cornelius Van Til, Christian Apologetics
⁵ R.C. Sproul, The Consequences of Ideas
⁶ John Calvin, Institutes of the Christian Religion
⁷ Michael Horton, The Christian Faith
⁸ C.S. Lewis, Mere Christianity