Kolose 3:2: Memusatkan Pikiran pada Hal-Hal yang di Atas

Kolose 3:2: Memusatkan Pikiran pada Hal-Hal yang di Atas

Pendahuluan

Kolose 3:2 adalah salah satu ayat yang memberikan pedoman praktis bagi kehidupan orang percaya. Ayat ini berbunyi:

"Pikirkanlah hal-hal yang di atas, bukan hal-hal yang di bumi." (Kolose 3:2, AYT)

Ayat ini adalah bagian dari nasihat Rasul Paulus kepada jemaat di Kolose tentang bagaimana hidup sebagai orang yang telah ditebus dalam Kristus. Paulus mendorong mereka untuk memiliki perspektif surgawi dan tidak terikat dengan nilai-nilai duniawi yang fana.

Dalam artikel ini, kita akan mengupas ayat ini berdasarkan eksposisi dari beberapa teolog Reformed serta melihat implikasi teologis dan aplikatifnya bagi kehidupan Kristen.

1. Konteks Historis dan Latar Belakang Surat Kolose

Surat Kolose ditulis oleh Rasul Paulus ketika ia berada dalam penjara, kemungkinan besar di Roma sekitar tahun 60-62 M. Jemaat Kolose menghadapi pengaruh ajaran sesat, termasuk sinkretisme antara filsafat Yunani, mistisisme Yahudi, dan penyembahan malaikat. Oleh karena itu, Paulus menulis surat ini untuk menegaskan supremasi Kristus atas segala sesuatu dan bagaimana orang percaya harus hidup sesuai dengan identitas mereka dalam Kristus.

Kolose 3 adalah bagian dari bagian praktis surat ini, di mana Paulus mengajarkan jemaat tentang kehidupan baru dalam Kristus. Ayat 2 adalah bagian dari seruan untuk meninggalkan kehidupan lama dan memusatkan pikiran pada perkara-perkara surgawi.

2. Eksposisi Teologis Kolose 3:2

a. "Pikirkanlah hal-hal yang di atas..."

John Calvin dalam komentarnya terhadap Kolose menjelaskan bahwa frasa ini menunjukkan bahwa kehidupan Kristen bukanlah sekadar perubahan moral, tetapi perubahan fundamental dalam cara berpikir.

Dalam Institutes of the Christian Religion, Calvin menekankan bahwa manusia cenderung terpikat oleh hal-hal duniawi karena natur dosanya. Oleh karena itu, pertobatan sejati melibatkan pembaruan pikiran, di mana orang percaya mulai melihat segala sesuatu dari perspektif kekekalan.

R.C. Sproul dalam bukunya The Holiness of God menjelaskan bahwa berpikir tentang hal-hal yang di atas bukan berarti mengabaikan dunia ini, tetapi melihat segala sesuatu dalam terang kedaulatan Allah dan rencana keselamatan-Nya.

b. "Bukan hal-hal yang di bumi."

Jonathan Edwards dalam khotbahnya The End for Which God Created the World menyoroti bahwa manusia sering kali terjebak dalam kesenangan duniawi yang sementara. Paulus menegaskan bahwa hidup orang percaya tidak boleh didasarkan pada nilai-nilai dunia yang sementara, tetapi harus terfokus pada tujuan kekal.

John Piper dalam Desiring God menjelaskan bahwa "hal-hal di bumi" di sini bukan hanya berarti dosa, tetapi juga termasuk segala sesuatu yang bisa mengalihkan fokus kita dari kemuliaan Allah, seperti ambisi duniawi yang berlebihan dan materialisme.

3. Implikasi Teologis dalam Teologi Reformed

a. Teologi Pembaruan Pikiran

Paulus dalam Kolose 3:2 menegaskan bahwa kehidupan Kristen dimulai dengan pembaruan pikiran (renewing of the mind). Dalam teologi Reformed, ini berkaitan erat dengan sanctification (pengudusan), di mana Roh Kudus bekerja dalam kehidupan orang percaya untuk mengarahkan mereka kepada hal-hal yang kekal.

b. Perspektif Kekekalan dalam Kehidupan Kristen

Teologi Reformed menekankan bahwa dunia ini bukan tujuan akhir kita. Pemikiran tentang hal-hal surgawi berarti hidup dengan perspektif kekekalan, di mana kita menilai setiap tindakan berdasarkan dampaknya bagi kerajaan Allah.

c. Pemisahan dari Dunia yang Berdosa

Kolose 3:2 menegaskan bahwa kehidupan orang percaya harus berbeda dari dunia. Ini bukan berarti kita harus menjauhi segala aspek kehidupan duniawi, tetapi kita tidak boleh terikat oleh nilai-nilai yang bertentangan dengan kehendak Allah.

4. Aplikasi Praktis bagi Orang Percaya

  1. Menjaga Pikiran agar Selalu Berfokus pada Kristus
    Setiap hari, kita dihadapkan pada berbagai hal yang bisa mengalihkan fokus kita dari Kristus. Kita harus secara sadar mengarahkan pikiran kita kepada hal-hal yang membangun iman.

  2. Menilai Prioritas Hidup Berdasarkan Perspektif Kekekalan
    Kita perlu bertanya: Apakah keputusan-keputusan yang kita buat memiliki dampak bagi kemuliaan Allah?

  3. Menjauhi Materialisme dan Kesia-siaan Duniawi
    Kita harus berhati-hati agar tidak diperbudak oleh kesenangan dunia yang sementara dan melupakan tujuan hidup kita yang sejati.

  4. Hidup dengan Kesadaran Akan Kedaulatan Allah
    Ketika kita memusatkan pikiran pada hal-hal surgawi, kita akan lebih tenang dalam menghadapi masalah karena kita tahu bahwa segala sesuatu ada dalam kendali Tuhan.

Kesimpulan

Kolose 3:2 adalah panggilan bagi orang percaya untuk hidup dengan perspektif surgawi. Paulus mengingatkan kita bahwa kehidupan Kristen bukan hanya soal perbuatan, tetapi juga pembaruan pikiran dan fokus kepada Kristus.

Eksposisi ini mengajarkan kita untuk tidak terjebak dalam nilai-nilai dunia yang sementara, tetapi hidup dengan tujuan kekal yang memuliakan Allah.

Next Post Previous Post