Mengikut Yesus: Harga yang Harus Dibayar (Lukas 14:26)

Pendahuluan
Lukas 14:26 merupakan salah satu pernyataan Yesus yang paling menantang dalam Injil. Ayat ini berbunyi:
“Jika seseorang datang kepada-Ku, tetapi tidak membenci ayah dan ibunya, istri dan anak-anaknya, saudara laki-laki dan saudara perempuannya, bahkan hidupnya sendiri, ia tidak bisa menjadi murid-Ku.” (Lukas 14:26, AYT)
Pada pandangan pertama, ayat ini tampak kontradiktif dengan ajaran kasih yang Yesus ajarkan di bagian lain dari Alkitab. Namun, dalam tradisi teologi Reformed, ayat ini dipahami dalam konteks murid sejati yang menempatkan Kristus di atas segalanya. Dalam artikel ini, kita akan membahas eksposisi ayat ini berdasarkan pemikiran para pakar teologi Reformed seperti John Calvin, R.C. Sproul, dan Martyn Lloyd-Jones.
I. Konteks Historis dan Latar Belakang
Lukas 14:26 berada dalam bagian di mana Yesus mengajarkan tentang harga menjadi murid-Nya. Konteks ini diawali dengan perumpamaan tentang perjamuan besar (Lukas 14:15-24), di mana banyak orang menolak undangan untuk mengikuti Tuhan karena alasan-alasan duniawi. Setelah itu, Yesus beralih untuk berbicara tentang komitmen radikal yang diperlukan untuk menjadi murid-Nya.
Pada zaman Yesus, mengikuti seorang rabi bukan hanya berarti belajar dari-Nya, tetapi juga mengadopsi seluruh gaya hidup dan ajarannya. Dalam budaya Yahudi, loyalitas kepada keluarga adalah salah satu nilai tertinggi, sehingga pernyataan Yesus yang meminta seseorang untuk "membenci" keluarganya tentu mengejutkan pendengarnya.
II. Eksposisi Lukas 14:26 Menurut Teologi Reformed
1. Makna "Membenci" dalam Konteks Ibrani
Dalam bahasa Ibrani dan Aram, kata "benci" sering kali tidak memiliki arti harfiah seperti dalam bahasa modern. Sebaliknya, kata ini sering digunakan dalam arti komparatif, yaitu "mengasihi sesuatu lebih sedikit dibandingkan yang lain."
John Calvin dalam "Commentary on a Harmony of the Evangelists" menjelaskan bahwa pernyataan Yesus ini harus dipahami dalam konteks prioritas. Menurut Calvin:
“Kristus tidak memerintahkan kita untuk membenci orang tua kita dalam arti kebencian yang sesungguhnya, tetapi hanya dalam arti bahwa jika kasih kita kepada mereka menghalangi ketaatan kita kepada Kristus, maka kita harus mendahulukan Dia.”
Dengan kata lain, Yesus tidak meminta murid-Nya untuk secara harfiah membenci keluarga mereka, tetapi untuk mengasihi Kristus lebih daripada siapa pun, termasuk keluarga sendiri.
2. Murid Sejati Harus Menempatkan Kristus di Atas Segalanya
R.C. Sproul dalam bukunya "Following Christ" menyoroti bahwa Yesus menuntut totalitas dari pengikut-Nya. Baginya, tidak ada setengah hati dalam mengikut Kristus. Sproul menulis:
“Yesus menuntut kasih yang paling utama. Jika ada sesuatu atau seseorang yang lebih kita kasihi daripada Kristus, kita tidak bisa menjadi murid-Nya.”
Kehidupan Kristen bukan hanya tentang percaya kepada Yesus, tetapi juga tentang menyerahkan seluruh aspek kehidupan kita kepada-Nya.
Martyn Lloyd-Jones menambahkan bahwa pengorbanan adalah tanda utama dari seorang murid sejati. Ia menulis:
“Salib bukanlah hanya simbol keselamatan, tetapi juga tanda kehidupan seorang Kristen. Kita dipanggil untuk memikul salib kita, yang berarti menyangkal diri dan tunduk sepenuhnya kepada Kristus.”
3. Membenci "Hidupnya Sendiri" sebagai Tanda Murid Sejati
Bagian terakhir dari Lukas 14:26 mengatakan bahwa seseorang juga harus membenci hidupnya sendiri untuk menjadi murid Yesus.
Jonathan Edwards, dalam teologinya tentang kasih dan kemuliaan Allah, mengajarkan bahwa salah satu tanda kelahiran baru adalah ketika seseorang lebih menghargai Tuhan daripada hidupnya sendiri. Ia menulis:
“Mereka yang telah benar-benar bertemu dengan Allah akan melihat bahwa tidak ada yang lebih berharga daripada Dia. Bahkan hidup mereka sendiri tidak sebanding dengan kemuliaan-Nya.”
Dalam tradisi Reformed, konsep ini erat kaitannya dengan doktrin pengudusan. Orang Kristen dipanggil untuk mematikan dosa dan hidup bagi Kristus (Roma 6:11). Dengan kata lain, mereka yang ingin mengikuti Yesus harus rela menyerahkan ambisi duniawi mereka dan hidup untuk kemuliaan-Nya.
III. Implikasi Praktis bagi Orang Kristen Masa Kini
1. Prioritas dalam Kehidupan Sehari-hari
Ayat ini menantang setiap orang percaya untuk mengevaluasi apakah mereka benar-benar menempatkan Kristus sebagai pusat kehidupan mereka. Beberapa pertanyaan reflektif yang bisa kita tanyakan kepada diri sendiri adalah:
- Apakah saya lebih mengutamakan keluarga, pekerjaan, atau hobi saya daripada Kristus?
- Apakah saya bersedia menaati Tuhan meskipun itu berarti harus kehilangan kenyamanan hidup?
- Apakah saya lebih takut kehilangan relasi manusia daripada kehilangan relasi dengan Kristus?
John Piper menekankan bahwa Kristus harus menjadi harta terbesar dalam kehidupan kita. Ia berkata:
“Kita menunjukkan nilai Kristus dalam hidup kita bukan hanya dengan apa yang kita katakan, tetapi dengan bagaimana kita hidup.”
2. Panggilan untuk Misi dan Pengorbanan
Lukas 14:26 juga menantang kita untuk melihat misi Kristen sebagai panggilan yang serius. Mengikut Yesus berarti siap untuk kehilangan kenyamanan, reputasi, dan bahkan relasi demi Injil.
David Platt dalam bukunya "Radical" menyatakan bahwa:
“Mengikut Yesus bukanlah panggilan menuju hidup yang nyaman. Itu adalah panggilan menuju hidup yang dikorbankan bagi Kerajaan-Nya.”
Banyak misionaris sepanjang sejarah telah meneladani prinsip ini. Misalnya, William Carey, bapak misi modern, meninggalkan keluarganya dan kehidupan yang nyaman untuk memberitakan Injil di India. Demikian juga, Adoniram Judson menanggung banyak penderitaan untuk membawa Injil ke Burma.
3. Pemuridan yang Serius dalam Gereja
Gereja harus menegaskan kembali pentingnya pemuridan yang sejati. Banyak gereja modern berfokus pada kekristenan yang nyaman dan tidak menuntut komitmen penuh. Namun, Yesus tidak pernah menawarkan jalan yang mudah. Gereja perlu kembali menekankan pemuridan yang serius, yang melibatkan:
- Pengajaran yang mendalam tentang Firman Tuhan
- Komunitas yang mendukung dalam pertumbuhan iman
- Kesediaan untuk berkorban demi Kristus
Charles Spurgeon pernah berkata:
“Murid sejati adalah mereka yang siap untuk mati demi Kristus, bukan hanya hidup bagi-Nya.”
Kesimpulan
. Para teolog Reformed seperti Calvin, Sproul, Lloyd-Jones, dan Edwards mengajarkan bahwa murid sejati adalah mereka yang siap untuk menyerahkan segalanya bagi Kristus.
Sebagai orang percaya, kita harus mengevaluasi apakah kita benar-benar mengasihi Kristus lebih dari siapa pun atau apa pun. Kekristenan bukan sekadar percaya, tetapi juga hidup yang sepenuhnya diserahkan kepada Tuhan.
Seperti kata Yesus dalam Lukas 9:23:
“Jika seseorang ingin mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari, dan mengikut Aku.”
Mari kita menjadi murid yang sejati, yang menempatkan Kristus sebagai pusat segalanya!