Segala Sesuatu untuk Kebaikan: Pemahaman Tentang Rencana Allah

Pendahuluan
Doktrin bahwa "segala sesuatu bekerja untuk kebaikan" adalah salah satu kebenaran yang paling menghibur dalam Kekristenan. Ajaran ini berakar dalam Roma 8:28, yang mengatakan:
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
Konsep ini menjadi dasar utama dalam teologi Reformed, yang menekankan kedaulatan Allah atas segala sesuatu, termasuk penderitaan, tantangan, dan bahkan kejahatan yang terjadi dalam dunia ini.
Thomas Watson, seorang teolog Puritan abad ke-17, menulis sebuah buku berjudul "All Things for Good", yang menjelaskan bagaimana Allah menggunakan setiap peristiwa—baik atau buruk—untuk mencapai tujuan-Nya yang mulia. Pemikiran Watson ini sejalan dengan para teolog Reformed lainnya, seperti John Calvin, Herman Bavinck, Louis Berkhof, dan R.C. Sproul, yang menegaskan bahwa Allah mengatur segala sesuatu sesuai dengan rencana-Nya yang sempurna dan tidak pernah gagal.
Dalam artikel ini, kita akan membahas bagaimana segala sesuatu bekerja untuk kebaikan berdasarkan perspektif teologi Reformed, dasar Alkitabnya, serta implikasinya bagi kehidupan Kristen.
1. Dasar Alkitab tentang Kedaulatan Allah dalam Segala Hal
A. Allah Berdaulat atas Seluruh Ciptaan
Dalam teologi Reformed, Allah tidak hanya menciptakan dunia tetapi juga terus memelihara dan mengatur segala sesuatu yang terjadi di dalamnya.
Ayat pendukung:
- Daniel 4:35 – “Ia bertindak menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara di langit dan penduduk bumi; tidak ada seorang pun yang dapat menahan tangan-Nya.”
- Efesus 1:11 – “Di dalam Dia kami juga telah ditentukan menjadi ahli waris, yang telah ditetapkan sebelumnya sesuai dengan maksud Dia yang mengerjakan segala sesuatu menurut keputusan kehendak-Nya.”
John Calvin dalam Institutes of the Christian Religion menjelaskan bahwa tidak ada satu hal pun yang terjadi di luar kehendak Allah. Semua peristiwa, baik yang tampak positif maupun negatif, berada di bawah kendali dan tujuan-Nya yang sempurna.
B. Semua Peristiwa Dikendalikan untuk Kebaikan Orang Percaya
Allah tidak hanya berdaulat, tetapi Ia juga mengatur segala sesuatu untuk kebaikan umat pilihan-Nya.
Ayat pendukung:
- Mazmur 23:1-4 – “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.”
- Yakobus 1:2-3 – “Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, saudara-saudaraku, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.”
Thomas Watson menyatakan bahwa bahkan penderitaan yang tampaknya buruk pun, pada akhirnya akan mendatangkan kebaikan bagi umat Allah.
2. Bagaimana Segala Sesuatu Mendatangkan Kebaikan bagi Orang Percaya?
A. Penderitaan Menghasilkan Kekudusan
Allah sering menggunakan penderitaan untuk menguduskan umat-Nya, membentuk karakter mereka agar lebih serupa dengan Kristus.
Ayat pendukung:
- Ibrani 12:10-11 – “Tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.”
- Roma 5:3-5 – “Kita malah bermegah dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan.”
Herman Bavinck dalam Reformed Dogmatics menegaskan bahwa Allah tidak pernah mengizinkan penderitaan tanpa tujuan. Semua penderitaan yang dialami orang percaya memiliki nilai kekal dalam membentuk iman dan ketaatan mereka kepada Allah.
B. Rencana Allah Tidak Dapat Digagalkan
Karena Allah berdaulat, tidak ada satu pun yang dapat menggagalkan rencana-Nya bagi umat-Nya.
Ayat pendukung:
- Ayub 42:2 – “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.”
- Yesaya 46:9-10 – “Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan hal-hal yang kemudian dari mulanya, dan dari zaman purbakala hal-hal yang belum terlaksana.”
Louis Berkhof menulis bahwa ketika kita memahami bahwa Allah berdaulat atas segalanya, kita dapat hidup dengan damai, mengetahui bahwa setiap peristiwa dalam hidup kita memiliki tujuan ilahi.
C. Kejahatan Digunakan untuk Kebaikan
Allah tidak menciptakan kejahatan, tetapi Ia dapat menggunakan bahkan perbuatan jahat manusia untuk mencapai rencana-Nya.
Contoh Alkitab:
- Yusuf dan saudara-saudaranya
- Kejadian 50:20 – “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan.”
- Salib Kristus
- Kisah Para Rasul 2:23 – “Dia yang diserahkan menurut maksud dan rencana Allah yang telah ditentukan, telah kamu salibkan dan kamu bunuh.”
R.C. Sproul dalam The Holiness of God menyatakan bahwa tidak ada satu atom pun di alam semesta yang bergerak di luar kendali Allah. Bahkan dalam tragedi, kehendak-Nya tetap berlaku.
3. Implikasi dalam Kehidupan Kristen
A. Jaminan Keselamatan
Karena Allah berdaulat, orang percaya memiliki jaminan keselamatan yang kekal.
Ayat pendukung:
- Roma 8:29-30 – “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya.”
- Filipi 1:6 – “Ia yang telah memulai pekerjaan yang baik di dalam kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.”
Calvin menekankan bahwa keselamatan tidak bergantung pada kehendak manusia, tetapi pada rencana kekal Allah yang tidak dapat gagal.
B. Hidup dalam Pengharapan dan Kepercayaan kepada Allah
Orang percaya dapat hidup dalam pengharapan karena mereka tahu bahwa Allah sedang mengatur segala sesuatu untuk kebaikan mereka.
Ayat pendukung:
- Mazmur 37:5 – “Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak.”
- Amsal 3:5-6 – “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar pada pengertianmu sendiri.”
Thomas Watson menulis bahwa tidak ada satu pun penderitaan yang sia-sia dalam hidup orang percaya. Semua itu adalah bagian dari rencana Allah yang besar dan sempurna.
C. Panggilan untuk Bersyukur dalam Segala Hal
Karena Allah mengatur segala sesuatu untuk kebaikan, orang percaya dipanggil untuk bersyukur dalam segala situasi.
Ayat pendukung:
- 1 Tesalonika 5:18 – “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”
Kesimpulan
Dalam teologi Reformed, ajaran bahwa segala sesuatu bekerja untuk kebaikan orang percaya adalah dasar dari keyakinan kita akan kedaulatan dan kasih Allah. Thomas Watson, John Calvin, dan para teolog Reformed lainnya mengajarkan bahwa Allah tidak pernah kehilangan kendali atas dunia ini, dan setiap peristiwa memiliki tujuan ilahi.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk percaya kepada Allah, bersyukur dalam segala keadaan, dan hidup dalam pengharapan bahwa rencana-Nya yang sempurna sedang digenapi dalam hidup kita.