Teologi Proper: Mengenal Allah

Teologi Proper: Mengenal Allah

Pendahuluan

Dalam studi teologi sistematika, Teologi Proper adalah cabang yang membahas doktrin tentang Allah—siapa Dia, sifat-Nya, dan bagaimana Dia berhubungan dengan ciptaan-Nya. Teologi Reformed, yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran tokoh-tokoh seperti John Calvin, Herman Bavinck, Louis Berkhof, Cornelius Van Til, John Frame, dan R.C. Sproul, menekankan bahwa pengetahuan tentang Allah harus bersumber dari wahyu-Nya, baik dalam alam maupun secara khusus melalui Kitab Suci.

Pemahaman yang benar tentang Allah bukan hanya penting untuk membangun iman yang kokoh, tetapi juga menjadi dasar bagi setiap aspek kehidupan Kristen. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi Teologi Proper dalam perspektif Reformed, dengan membahas sifat-sifat Allah, keberadaan-Nya, dan bagaimana kita bisa mengenal Dia dengan benar.

1. Keberadaan Allah: Apakah Allah Bisa Diketahui?

Pandangan Teologi Reformed

Dalam Teologi Reformed, keberadaan Allah bukanlah sesuatu yang perlu dibuktikan secara rasional semata, tetapi sesuatu yang telah dinyatakan oleh Allah sendiri. John Calvin dalam Institutes of the Christian Religion menyatakan bahwa manusia memiliki sensus divinitatis (kesadaran akan keberadaan Allah) yang tertanam dalam hati mereka (Roma 1:19-20).

Namun, karena dosa, manusia secara alami menolak kebenaran tentang Allah (Roma 1:21-23). Oleh karena itu, kita memerlukan wahyu khusus dari Kitab Suci untuk mengenal Allah secara benar.

Dasar Alkitabiah

Mazmur 19:1-2: "Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya."
Roma 1:20: "Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih."

Implikasi bagi Kehidupan Kristen

Orang Kristen harus menyadari bahwa pengetahuan tentang Allah bukan hanya diperoleh melalui filsafat atau observasi, tetapi terutama melalui wahyu Allah dalam Kitab Suci. Oleh karena itu, kita harus tunduk kepada otoritas Firman Tuhan dalam mengenal Allah.

2. Sifat-Sifat Allah dalam Teologi Reformed

Pandangan Teologi Reformed

Teologi Reformed membedakan antara dua jenis sifat Allah:

  1. Sifat Incommunicable (sifat yang tidak dapat dibagikan kepada manusia)

    • Kekekalan (Mazmur 90:2)

    • Kemahakuasaan (Yeremia 32:17)

    • Ketidakterbatasan (1 Raja-raja 8:27)

    • Kedaulatan (Efesus 1:11)

  2. Sifat Communicable (sifat yang dapat tercermin dalam manusia)

    • Kasih (1 Yohanes 4:8)

    • Keadilan (Mazmur 89:14)

    • Kebaikan (Mazmur 34:8)

    • Kesetiaan (2 Timotius 2:13)

Herman Bavinck dalam Reformed Dogmatics menegaskan bahwa meskipun kita bisa memahami sifat Allah, kita tetap tidak dapat sepenuhnya memahami Allah karena keterbatasan manusia.

Dasar Alkitabiah

Yesaya 55:8-9: "Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN."

Implikasi bagi Kehidupan Kristen

Kita harus menyembah Allah sebagaimana Dia menyatakan diri-Nya dalam Kitab Suci, bukan berdasarkan spekulasi manusia. Kita juga dipanggil untuk meniru sifat Allah yang communicable, seperti kasih dan keadilan dalam kehidupan sehari-hari.

3. Doktrin Tritunggal: Allah yang Esa dalam Tiga Pribadi

Pandangan Teologi Reformed

Salah satu aspek fundamental dari Teologi Proper adalah doktrin Tritunggal: Allah yang esa dalam tiga pribadi—Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Louis Berkhof dalam Systematic Theology menjelaskan bahwa doktrin Tritunggal bukanlah konsep yang dibuat oleh manusia, tetapi adalah realitas yang dinyatakan dalam Kitab Suci.

Dasar Alkitabiah

Matius 28:19: "Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus."
2 Korintus 13:14: "Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian."

Implikasi bagi Kehidupan Kristen

Doktrin Tritunggal mengajarkan bahwa hubungan dan kasih adalah bagian esensial dari natur Allah. Oleh karena itu, kita sebagai umat-Nya dipanggil untuk hidup dalam kasih dan komunitas, mencerminkan hubungan antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

4. Kedaulatan Allah dalam Penciptaan dan Pemeliharaan Dunia

Pandangan Teologi Reformed

Teologi Reformed menegaskan bahwa Allah tidak hanya menciptakan dunia, tetapi juga menopang dan mengendalikan segala sesuatu sesuai dengan rencana kekal-Nya. John Frame dalam The Doctrine of God menegaskan bahwa tidak ada satu pun kejadian di alam semesta ini yang terjadi di luar kehendak Allah.

Dasar Alkitabiah

Kolose 1:16-17: "Segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia."
Ibrani 1:3: "Ia menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan."

Implikasi bagi Kehidupan Kristen

Karena Allah berdaulat atas segala sesuatu, kita dapat hidup dalam kepastian bahwa tidak ada satu pun kejadian yang berada di luar kendali-Nya, termasuk penderitaan dan pergumulan hidup kita.

5. Bagaimana Kita Mengenal Allah?

Pandangan Teologi Reformed

Teologi Reformed mengajarkan bahwa pengetahuan sejati tentang Allah hanya mungkin melalui wahyu-Nya. Cornelius Van Til dalam apologetika Reformed menegaskan bahwa manusia tidak dapat mengenal Allah dengan benar hanya melalui akal budi, tetapi perlu dipimpin oleh Roh Kudus dan Firman Allah.

Dasar Alkitabiah

1 Korintus 2:14: "Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah kebodohan."

Implikasi bagi Kehidupan Kristen

Kita dipanggil untuk mengenal Allah melalui Firman-Nya, doa, dan hidup dalam ketaatan, bukan hanya melalui spekulasi teologis atau pengalaman subjektif semata.

Kesimpulan

Teologi Proper dalam perspektif Reformed menegaskan bahwa Allah adalah Tuhan yang berdaulat, tidak berubah, kudus, dan penuh kasih. Kita mengenal Dia bukan melalui usaha manusia, tetapi melalui wahyu-Nya dalam Kitab Suci.

Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menyembah Allah yang sejati sebagaimana dinyatakan dalam Firman-Nya, hidup dalam ketaatan kepada kehendak-Nya, dan menyerahkan segala sesuatu kepada kedaulatan-Nya.

"Soli Deo Gloria!"

Next Post Previous Post