The Ruling Elder (Penatua) Dalam Gereja Modern

Pendahuluan
Dalam teologi Reformed, struktur gereja bukan hanya sebuah sistem organisasi, tetapi juga refleksi dari kehendak Allah sebagaimana diwahyukan dalam Kitab Suci. Salah satu jabatan penting yang ditetapkan dalam Alkitab dan dijunjung tinggi oleh gereja-gereja Reformed adalah jabatan penatua. Istilah ini dalam bahasa Yunani adalah presbyteros, yang secara literal berarti "orang yang lebih tua", tetapi dalam konteks gereja berarti "pemimpin jemaat".
Apa itu Penatua?
Menurut Kamus Alkitab SABDA, penatua dalam konteks Perjanjian Baru adalah “kelompok orang yang dipilih untuk memimpin jemaat. Juga disebut ‘pengawas’ dan ‘gembala’. Mereka bekerja melayani umat Allah” (lih. Kis. 20:28; Ef. 4:11; Tit. 1:7,9). Dalam Wahyu, istilah ini bahkan digunakan untuk menggambarkan figur surgawi yang menyembah Allah.
1. Dasar Biblika dan Sejarah Jabatan Penatua
Akar PL dan PB
Dalam Perjanjian Lama, penatua adalah para kepala suku atau tokoh masyarakat yang berfungsi sebagai pemimpin dan hakim (Kel. 18:13-26). Dalam PB, jabatan ini mengalami perkembangan sebagai pemimpin jemaat lokal, terutama terlihat dalam pelayanan Paulus dan Barnabas (Kis. 14:23).
Menurut R.C. Sproul, “Jabatan penatua adalah bagian dari sistem pemerintahan gereja yang paling dekat dengan contoh Perjanjian Baru. Ini adalah prinsip presbiterial yang mendasari banyak gereja Reformed dan Presbyterian.”
2. Penatua dalam Teologi Reformed: Pemahaman Struktural
a. Dualisme Jabatan: Teaching dan Ruling Elder
John Calvin dalam Institutes of the Christian Religion menyebutkan dua jenis penatua:
“Dalam setiap jemaat hendaknya terdapat penatua yang bertugas mengawasi moral dan kehidupan rohani jemaat. Beberapa akan mengajar, yang lain akan memerintah.”
(Institutes, IV.3.8)
Konsep ini membedakan antara:
-
Teaching Elder: Fokus pada pengajaran dan khotbah (biasanya pendeta).
-
Ruling Elder: Fokus pada pengawasan, disiplin rohani, dan keputusan sinode/gereja.
Menurut Louis Berkhof, jabatan ruling elder “bukan hanya administratif, tetapi rohani. Ia mewakili Kristus sebagai Gembala Jemaat.”
3. Fungsi dan Tanggung Jawab Penatua
a. Mengawasi dan Menggembalakan
Seperti tertulis dalam 1 Petrus 5:1-4, penatua harus menggembalakan kawanan domba Allah dengan kerelaan dan menjadi teladan. Ini bukan jabatan kuasa, tetapi panggilan pelayanan.
“Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai kehendak Allah... Jadilah teladan bagi kawanan domba.” (1 Ptr 5:2-3)
b. Menegakkan Disiplin Gereja
Salah satu aspek penting dalam tradisi Reformed adalah praktik disiplin gerejawi. Menurut Calvin, disiplin adalah “urat nadi kehidupan gereja.” Penatua bertugas menegur dan menasihati anggota jemaat yang menyimpang agar kembali pada iman yang benar.
c. Menjadi Pengambil Keputusan dalam Dewan Gereja
Dalam sistem gereja presbiterial, penatua (ruling elders) memiliki suara yang setara dengan pendeta dalam konsistori atau majelis. Ini mencegah hierarki yang terlalu klerikal dan mencerminkan kepemimpinan kolektif.
4. Kualifikasi Seorang Penatua
Berdasarkan 1 Timotius 3 dan Titus 1
Menurut Alkitab, penatua harus:
-
Tak bercacat
-
Suami dari satu istri
-
Bijaksana dan berdisiplin
-
Cakap mengajar
-
Tidak pemarah atau serakah
John Murray menekankan bahwa “kualifikasi moral lebih penting daripada kemampuan administratif. Penatua adalah model kehidupan Kristen.”
5. Tantangan Penatua di Era Modern
a. Krisis Kepemimpinan Gerejawi
Banyak gereja modern menghadapi kekosongan kepemimpinan rohani. Jabatan penatua sering dianggap administratif semata. Padahal, tugas ini mencakup penggembalaan aktif dan keterlibatan spiritual yang mendalam.
Albert Mohler dalam tulisannya mengatakan:
“Kebangkitan kembali jabatan penatua yang kuat adalah langkah penting dalam membangun gereja yang setia pada kebenaran Alkitab.”
b. Sekularisasi dan Tantangan Budaya
Penatua masa kini juga harus menghadapi tantangan dari luar: relativisme moral, budaya konsumtif, dan digitalisasi. Oleh karena itu, pelatihan dan pertumbuhan rohani berkelanjutan sangat diperlukan.
6. Pelayanan Penatua dan Pola Pelatihan Reformed
a. Pengangkatan Penatua: Proses dan Doa
Dalam Kisah Para Rasul 14:23, dikatakan bahwa Paulus dan Barnabas “mengangkat penatua-penatua di setiap jemaat dengan berdoa dan berpuasa.” Proses ini bukan hanya administratif, tetapi bersifat spiritual.
b. Pelatihan Teologis dan Praktis
Gereja Reformed menekankan pentingnya pelatihan bagi penatua, mencakup:
-
Pengajaran dasar teologi Reformed
-
Hermeneutika dasar
-
Etika pastoral dan konseling
7. Ruling Elder sebagai Penjaga Kemurnian Gereja
a. Menjaga Ajaran Sehat
Penatua berperan melindungi gereja dari ajaran sesat. Mereka harus memahami doktrin seperti sola scriptura, sola fide, dan doktrin anugerah Allah.
Michael Horton berkata:
“Ruling elders adalah pengawal doktrin dan disiplin. Mereka harus diperlengkapi untuk membedakan antara Injil dan palsu-injil.”
b. Menjadi Rekan Kerja Injil
Penatua bukanlah manajer organisasi, tetapi rekan sekerja Injil bersama pendeta. Mereka harus menolong pendeta dalam menjaga kehidupan rohani jemaat, mendoakan umat, dan menginjili dunia.
8. Penatua dalam Sinode dan Struktur Gereja Reformed
Dalam sistem Reformed (Presbyterian), penatua juga mengambil bagian dalam sidang sinode dan keputusan strategis gereja. Ini menjamin representasi umat dalam tubuh gereja.
Charles Hodge, teolog Princeton Reformed abad ke-19, berkata:
“Gereja tidak diperintah oleh satu orang, tetapi oleh presbiteri—kumpulan tua-tua yang dipanggil Allah.”
9. Refleksi dan Aplikasi untuk Gereja Indonesia
a. Pemulihan Jabatan Penatua
Gereja-gereja Reformed di Indonesia perlu mendorong pengangkatan penatua yang sesuai standar Alkitab dan teologi Reformed. Proses ini harus dilakukan dengan ketekunan, bukan sekadar administratif.
b. Penatua sebagai Pionir Etika dan Spiritualitas
Di tengah krisis moral dan rohani, penatua harus menjadi teladan dan mentor bagi jemaat. Pelayanan mereka mencakup keluarga, kaum muda, hingga pelayanan sosial.
Kesimpulan
Jabatan penatua (ruling elder) bukanlah jabatan sembarangan. Dalam terang teologi Reformed, jabatan ini adalah bagian dari mandat ilahi untuk menggembalakan umat Allah dengan kasih, kebenaran, dan disiplin. Dalam dunia modern yang semakin kompleks, gereja Reformed dipanggil untuk menghidupkan kembali makna jabatan penatua sesuai dengan prinsip Kitab Suci dan warisan reformasi.
Penatua yang setia, teologis, dan rendah hati akan menjadi pilar kebangunan rohani dan reformasi gereja masa kini.