Jangan Khawatir Akan Hari Esok
.jpg)
Pendahuluan
Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, ketakutan, dan tekanan hidup, firman Tuhan dalam Matius 6:34 menjadi penghiburan luar biasa bagi umat percaya:
“Jadi, jangan khawatir tentang hari esok karena hari esok akan mengkhawatirkan dirinya sendiri. Cukuplah suatu hari dengan kesusahannya sendiri.”
(Matius 6:34, AYT)
Ucapan ini merupakan bagian dari Khotbah di Bukit (Matius 5–7), salah satu pengajaran paling padat dan transformatif dari Yesus. Di dalamnya, Yesus membongkar akar kecemasan dan mengarahkan hati manusia kepada kepercayaan total kepada Allah yang memelihara.
Artikel ini bertujuan mengekspose ayat ini secara mendalam menurut perspektif teologi Reformed, mengaitkannya dengan doktrin tentang providensi Allah, kehidupan iman, dan penerapan praktisnya dalam kehidupan sehari-hari.
1. Konteks Historis dan Literer
a. Bagian dari Khotbah di Bukit
Matius 6:34 merupakan penutup dari bagian yang dimulai dari Matius 6:25 tentang kekhawatiran hidup, khususnya dalam hal kebutuhan dasar: makanan, minuman, dan pakaian.
Yesus tidak menyangkal bahwa hidup memiliki kesulitan, tetapi Ia memanggil para pengikut-Nya untuk hidup dengan iman kepada pemeliharaan Allah.
b. Ditujukan kepada Para Murid
Ayat ini ditujukan kepada para murid—mereka yang telah memilih untuk meninggalkan dunia dan mengikuti Yesus. Pesan ini adalah cara hidup Kerajaan Allah, berbeda dengan cara hidup dunia yang dipenuhi kekhawatiran dan usaha sendiri.
2. Eksposisi Ayat: Matius 6:34
a. “Jadi, jangan khawatir tentang hari esok...”
Yesus memerintahkan “jangan khawatir” (merimnaĆ, Yunani), sebuah kata yang bermakna “terbagi, terpecah” secara batin. Kekhawatiran membuat hati dan pikiran manusia terpecah dari kepercayaan kepada Allah.
John Calvin mengomentari:
“Ketika hati kita terbagi antara percaya dan takut, kita tidak bisa bersandar sepenuhnya pada kebaikan Allah. Kekhawatiran adalah bentuk ketidakpercayaan.”
Dalam teologi Reformed, ini berkaitan erat dengan doktrin providensi Allah: bahwa Allah bukan hanya menciptakan, tetapi memelihara dan mengatur setiap detail kehidupan manusia.
“Segala sesuatu, bahkan hal terkecil sekalipun, tidak terjadi secara kebetulan, tetapi oleh tangan Bapa kita di surga.”
(Heidelberg Catechism Q.27)
b. “...karena hari esok akan mengkhawatirkan dirinya sendiri.”
Yesus tidak mengatakan bahwa hari esok tidak akan sulit, tetapi bahwa kekhawatiran kita hari ini tidak menolong apa-apa tentang esok. Bahkan, Ia menegaskan bahwa hari esok punya kesusahannya sendiri.
Artinya:
-
Tuhan belum memberikan kasih karunia untuk hari esok kepada kita hari ini.
-
Masing-masing hari memiliki anugerah yang cukup untuk menanggung bebannya sendiri.
R.C. Sproul menyatakan:
“Kekhawatiran tentang masa depan adalah pengkhianatan terhadap pengakuan iman kita kepada providensi Allah yang aktif hari ini.”
c. “Cukuplah suatu hari dengan kesusahannya sendiri.”
Yesus menutup bagian ini dengan realisme spiritual: hidup memang memiliki kesusahan, tetapi kita tidak dipanggil untuk memikul beban hari esok sekaligus.
Kesusahan hari ini adalah kesempatan untuk:
-
Mengandalkan Tuhan
-
Berdoa
-
Meninggalkan kecemasan dan mempraktikkan iman
3. Pandangan Teologi Reformed tentang Kekhawatiran dan Providensi
a. Allah Berdaulat atas Masa Depan
Teologi Reformed mengajarkan bahwa Allah adalah berdaulat penuh atas waktu dan sejarah. Masa depan bukan takdir buta, tetapi dirancang oleh Allah yang bijaksana.
Herman Bavinck dalam Reformed Dogmatics menulis:
“Providensi Allah mencakup semua hal—dari pergerakan planet sampai rambut di kepala kita. Maka tidak ada alasan untuk takut, bahkan terhadap hari esok.”
b. Kekhawatiran adalah Bentuk Penolakan terhadap Pemeliharaan Ilahi
John Calvin menekankan bahwa kekhawatiran sering kali muncul karena kita tidak mempercayai janji-janji Allah secara mendalam.
Ia menulis:
“Kita harus menganggap bahwa Allah, yang memberi hari ini makanan, tidak akan lupa memberi kita makanan besok.”
Kekhawatiran adalah pengakuan iman negatif, yakni percaya bahwa Allah tidak akan cukup baik besok, padahal Dia setia kemarin dan hari ini.
4. Aplikasi Praktis bagi Kehidupan Orang Percaya
a. Mengandalkan Tuhan Hari Ini
Yesus memanggil umat-Nya untuk hidup dari hari ke hari, bukan dalam ketakutan akan masa depan.
Berdoalah untuk kebutuhan hari ini (lih. Matius 6:11)
Bekerjalah hari ini dengan penuh kesungguhan
Percayakan masa depan kepada tangan Tuhan
b. Mengelola Rasa Cemas dengan Firman
Rasa cemas harus diarahkan kepada perenungan janji-janji Allah, bukan asumsi masa depan.
Cara-cara praktis:
-
Hafalkan ayat-ayat tentang pemeliharaan Tuhan
-
Buat jurnal ucapan syukur harian
-
Libatkan doa dalam pengambilan keputusan
c. Jangan Menunda Sukacita Karena Takut
Banyak orang percaya menunda sukacita hari ini karena takut akan masalah esok. Namun Matius 6:34 mengajarkan bahwa kesusahan esok biarlah esok, dan sukacita hari ini adalah pemberian Tuhan.
5. Refleksi dari Teolog Reformed
John Calvin
“Kita sering kali ingin mengendalikan apa yang hanya Tuhan bisa atur. Maka Yesus mengingatkan kita untuk percaya pada kasih karunia yang cukup hari ini.”
Herman Bavinck
“Iman bukanlah jaminan bahwa kita tahu apa yang akan terjadi, melainkan keyakinan bahwa Allah akan tetap menjadi Allah bagi kita.”
R.C. Sproul
“Satu-satunya alasan untuk tidak khawatir adalah karena Allah memegang masa depan dan Dia baik.”
6. Tantangan bagi Gereja dan Penggembalaan Masa Kini
a. Menggembalakan Jemaat yang Hidup dalam Kecemasan
Dalam era modern yang penuh tekanan—krisis ekonomi, penyakit, dan ketidakpastian global—gereja dipanggil untuk meneguhkan jemaat bahwa Allah tetap memelihara.
Ajaran tentang providensi harus menjadi bagian dari pemuridan.
Konseling pastoral perlu mengarahkan hati kepada janji Allah, bukan sekadar solusi praktis.
b. Menghindari Injil Sukses
Gereja harus berhati-hati untuk tidak menggantikan pengharapan kepada Allah dengan janji keberhasilan dan kenyamanan duniawi.
Matius 6:34 bukan tentang bebas dari kesusahan, melainkan kebebasan dari ketakutan akan kesusahan—karena Tuhan sudah tahu dan menyediakan.
7. Kesimpulan: Damai dalam Ketidakpastian
Matius 6:34 menegaskan satu prinsip utama dalam kehidupan Kristen:
-
Kita tidak bisa mengendalikan masa depan.
-
Kita tidak perlu menanggung hari esok hari ini.
-
Tuhan mencukupkan kasih karunia-Nya hari ini, dan akan mencukupkan besok.
Sebagai orang percaya, kita tidak dijanjikan jalan yang mudah, tetapi janji bahwa Tuhan akan berjalan bersama kita. Maka, kita bisa melepaskan kekhawatiran, dan hidup dalam damai, syukur, dan iman—hari demi hari.