Melihat Hal-Hal yang Luar Biasa: Lukas 5:26
.jpg)
Pendahuluan
Di tengah pelayanan Yesus yang penuh kuasa dan kasih, Lukas 5:26 mencatat respons orang banyak terhadap salah satu tindakan-Nya yang paling mengejutkan: pengampunan dosa dan penyembuhan orang lumpuh yang diturunkan dari atap.
“Semua orang itu merasa takjub dan memuji Allah. Dengan dipenuhi rasa takut yang besar terhadap kuasa Allah, mereka berkata, ‘Hari ini kami melihat hal-hal yang luar biasa!’”
(Lukas 5:26, AYT)
Ayat ini menutup sebuah peristiwa penting yang bukan hanya menunjukkan kuasa penyembuhan Yesus, tetapi juga menyatakan otoritas-Nya untuk mengampuni dosa. Eksposisi ini akan menyoroti kemuliaan Kristus, respons manusia terhadap karya Allah, dan bagaimana Injil menuntut kekaguman yang membawa pertobatan, bukan sekadar keheranan sesaat.
1. Konteks Naratif: Penyembuhan Orang Lumpuh (Lukas 5:17–26)
a. Latar Kejadian
Yesus sedang mengajar di sebuah rumah yang penuh sesak. Empat orang mengusung teman mereka yang lumpuh, dan karena tidak bisa masuk melalui pintu, mereka membongkar atap untuk menurunkannya di depan Yesus.
Yesus melihat iman mereka dan berkata:
“Hai manusia, dosamu sudah diampuni.” (Lukas 5:20)
Ucapan ini mengejutkan para ahli Taurat yang duduk di situ—mereka mulai bertanya dalam hati, “Siapa Dia ini yang mengucapkan hujatan? Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah?”
Lalu Yesus, mengetahui pikiran mereka, menyembuhkan orang itu sebagai bukti otoritas-Nya, dan orang lumpuh itu berjalan pulang sambil memuliakan Allah.
2. Eksposisi Lukas 5:26
“Semua orang itu merasa takjub dan memuji Allah. Dengan dipenuhi rasa takut yang besar terhadap kuasa Allah, mereka berkata, ‘Hari ini kami melihat hal-hal yang luar biasa!’”
a. "Semua orang itu merasa takjub dan memuji Allah..."
Respons pertama adalah kekaguman dan pujian. Takjub (ekstasis, Yunani) di sini bukan sekadar heran, tetapi keterkejutan mendalam yang mencampur aduk emosi, kagum, dan takut.
John Calvin menjelaskan:
“Kekaguman mereka bukan sekadar karena mukjizat, tetapi karena manifestasi kekuasaan Allah melalui seorang manusia.”
Dalam teologi Reformed, ini menjadi bukti inkarnasi ilahi—Allah hadir dalam manusia Yesus Kristus, menyatakan kuasa dan kasih secara nyata.
b. "...dipenuhi rasa takut yang besar terhadap kuasa Allah..."
Kekaguman berubah menjadi takut yang kudus (phobos megas). Ini bukan ketakutan karena ancaman, tetapi rasa gentar karena menyadari kehadiran Allah yang kudus.
Dalam Perjanjian Lama, respons ini sering terjadi ketika manusia menyaksikan kemuliaan Allah (misal: Yesaya 6:5, Keluaran 3:6). Di sini, dalam Perjanjian Baru, orang banyak mulai sadar bahwa apa yang mereka lihat bukan sekadar penyembuhan, tetapi manifestasi ilahi.
Herman Bavinck menekankan:
“Takut akan Tuhan adalah bentuk tertinggi dari hormat—buah dari kesadaran bahwa kita berdiri di hadapan kekudusan yang tak terjangkau.”
c. "...Hari ini kami melihat hal-hal yang luar biasa!"
Kata “luar biasa” dalam teks Yunani adalah paradoxa—hal-hal di luar logika atau biasa. Mereka menyaksikan hal yang tak bisa dijelaskan secara manusia: pengampunan dosa dan penyembuhan dalam satu tindakan.
R.C. Sproul menulis:
“Yesus tidak hanya menunjukkan kuasa supranatural, tetapi menyatakan identitas-Nya sebagai Allah yang mengampuni.”
3. Tema-Thema Teologis Utama dalam Lukas 5:26
a. Kristus sebagai Allah yang Berotoritas
Yesus tidak hanya menyembuhkan tubuh, tetapi juga mengampuni dosa. Ini adalah deklarasi implisit bahwa Dia adalah Allah—karena hanya Allah yang bisa mengampuni.
Dalam Reformed Christology, ini adalah bukti kuat bahwa Yesus bukan hanya nabi besar atau guru moral, tetapi Allah yang berinkarnasi.
b. Penyembuhan Fisik sebagai Simbol Penyembuhan Rohani
Mukjizat penyembuhan bukan tujuan utama, tetapi tanda bahwa pengampunan dosa telah terjadi. Tubuh yang lumpuh adalah lambang dari jiwa manusia yang mati karena dosa (Efesus 2:1).
Yesus menyembuhkan bukan untuk pertunjukan, tetapi untuk menyatakan bahwa Dia berkuasa atas dosa dan maut.
c. Respons Manusia terhadap Kemuliaan Allah
Ayat ini menunjukkan bahwa pengalaman dengan kuasa Allah menimbulkan dua hal:
-
Pujian yang tulus
-
Rasa takut yang kudus
John Calvin menekankan pentingnya respons ini:
“Kekaguman sejati tidak berhenti pada emosi, tetapi membawa manusia pada penyembahan dan pertobatan.”
4. Aplikasi Praktis bagi Kehidupan Kristen
a. Jangan Takjub Saja, Bertobatlah
Banyak orang hari ini mengejar pengalaman rohani yang “menakjubkan”—mukjizat, nubuat, atau tanda-tanda. Tetapi tujuan kekaguman adalah pertobatan, bukan hiburan rohani.
Yesus menyatakan kuasa-Nya bukan agar kita terpesona, tetapi agar kita bertobat dan percaya.
b. Sadar Akan Hadirat Allah dalam Ibadah
Ketika kita berkumpul untuk menyembah, kita harus melakukannya dengan rasa hormat dan kesadaran akan kekudusan Allah. Ayat ini mengajarkan kita bahwa menyadari kehadiran Allah seharusnya menimbulkan rasa takut yang kudus, bukan sikap sembarangan.
R.C. Sproul menekankan bahwa:
“Kekudusan Allah harus membuat kita gentar, bukan santai.”
c. Ingat Bahwa Injil Menyembuhkan Jiwa yang Lumpuh
Masalah utama manusia bukan lumpuh fisik, tetapi mati secara rohani. Hanya Kristus yang bisa membangkitkan jiwa dari kematian. Sebagai gereja, kita dipanggil untuk:
-
Memberitakan Injil, bukan sekadar motivasi moral
-
Menunjukkan Kristus, bukan hanya aktivitas sosial
-
Membawa orang pada iman yang menyelamatkan, bukan kekaguman kosong
5. Perspektif Reformed tentang Mukjizat dan Iman
a. Mukjizat Mendukung Firman, Bukan Menggantinya
Dalam sejarah keselamatan, mukjizat selalu disertai dan mendukung wahyu Allah, bukan menjadi alat utama iman.
Teologi Reformed menekankan bahwa iman sejati datang melalui Firman (Roma 10:17), bukan melalui tanda dan mukjizat.
b. Iman Lahir dari Kesadaran Dosa dan Pengampunan
Respons orang lumpuh bukan hanya berjalan, tapi memuliakan Allah (ayat 25). Iman yang sejati terlihat dari:
-
Kerendahan hati menerima pengampunan
-
Keinginan untuk memuliakan Tuhan dalam hidup
6. Kesimpulan: Dari Kekaguman Menuju Penyembahan
Lukas 5:26 menunjukkan kepada kita bahwa melihat kuasa Allah seharusnya:
-
Membangkitkan kekaguman
-
Melahirkan rasa takut akan Tuhan
-
Menghasilkan pujian dan penyembahan
Yesus tidak hanya menyembuhkan tubuh yang lumpuh, tetapi menyatakan bahwa Dia berkuasa untuk mengampuni dosa—hal yang hanya bisa dilakukan oleh Allah sendiri.
Sebagai orang percaya, kita tidak cukup hanya berkata “luar biasa!” Kita harus berlutut dalam penyembahan, mengakui dosa, dan bersandar pada kasih karunia Kristus yang menyelamatkan.