Menghormati dan Merawat Janda: 1 Timotius 5:9

Menghormati dan Merawat Janda: 1 Timotius 5:9

Pendahuluan

Kesejahteraan janda adalah salah satu topik penting dalam Perjanjian Baru, dan mendapat perhatian khusus dalam surat-surat pastoral, terutama dalam surat Paulus kepada Timotius. Dalam 1 Timotius 5:9, Paulus memberikan arahan spesifik tentang siapa yang boleh dimasukkan dalam daftar janda gereja yang menerima dukungan dari komunitas:

Janda yang dimasukkan dalam daftar hanyalah perempuan yang berumur paling sedikit enam puluh tahun, menjadi istri dari satu suami,”
(1 Timotius 5:9, AYT)

Ayat ini mungkin tampak teknis dan administratif pada pandangan pertama, namun di baliknya terdapat prinsip-prinsip penting tentang kasih dalam komunitas iman, tanggung jawab sosial gereja, karakter Kristen, dan juga struktur pelayanan dalam tubuh Kristus.

Dalam artikel ini, kita akan membahas eksposisi ayat ini secara mendalam berdasarkan sudut pandang para teolog Reformed seperti John Calvin, Herman Bavinck, dan tokoh-tokoh kontemporer seperti R.C. Sproul dan Sinclair Ferguson. Kita juga akan membahas bagaimana prinsip ini diterapkan dalam kehidupan gereja modern.

1. Konteks Surat 1 Timotius

Surat ini ditulis oleh Rasul Paulus kepada Timotius, seorang pemimpin muda gereja di Efesus, untuk mengatur tata laksana gereja. Salah satu masalah yang dihadapi gereja mula-mula adalah bagaimana merawat kelompok yang rentan, khususnya janda.

Dalam budaya kuno, janda sering berada dalam posisi sangat rentan. Tanpa sistem jaminan sosial seperti zaman sekarang, janda yang tidak memiliki keluarga untuk menopang hidupnya bisa jatuh ke dalam kemiskinan dan marginalisasi. Gereja mula-mula, yang bertumbuh di tengah-tengah dunia yang tidak peduli pada yang lemah, dipanggil untuk menjadi komunitas kasih yang menampung dan melindungi mereka.

2. Eksposisi 1 Timotius 5:9

Mari kita telusuri bagian per bagian dari ayat ini secara ekspositori.

a. “Janda yang dimasukkan dalam daftar...”

Frasa ini menunjukkan bahwa gereja memiliki daftar resmi atau semacam catatan administrasi untuk janda-janda yang menerima dukungan gerejawi. Ini bukan sekadar bantuan informal, tetapi program sistematis. Banyak teolog Reformed melihat ini sebagai dasar historis dari diakonia gereja.

John Calvin dalam komentarnya menulis:

The church is not a place of disorder or confusion. There must be order in charity, and thus the list of widows is an example of wise ecclesiastical administration.”

Gereja Reformed menekankan keteraturan (ordo) dalam pelayanan sosial, menolak kemurahan hati yang tidak teratur yang bisa menyebabkan penyalahgunaan atau ketergantungan yang salah.

b. “...hanyalah perempuan yang berumur paling sedikit enam puluh tahun...”

Batas usia 60 tahun pada masa itu menandakan seseorang yang tidak lagi terlibat aktif dalam kegiatan produktif atau memiliki kemungkinan kecil untuk menikah kembali.

Secara pastoral, ini menunjukkan bahwa gereja tidak hanya memberi secara sembarangan, tetapi dengan hikmat, menimbang siapa yang benar-benar membutuhkan. Gereja dipanggil untuk bijaksana, bukan hanya baik hati.

Dalam teologi Reformed, ini menyiratkan prinsip kewajiban pribadi dan keluarga terlebih dahulu, dan bahwa bantuan gerejawi adalah langkah terakhir setelah upaya pribadi dan keluarga dilakukan (lihat juga 1 Tim. 5:4,8).

c. “...menjadi istri dari satu suami.”

Frasa ini dalam bahasa Yunani adalah henos andros gynē (ἑνὸς ἀνδρὸς γυνή), secara harfiah berarti “perempuan dari satu suami.” Ini menggambarkan karakter moral dari janda tersebut—seorang yang setia dalam pernikahannya.

Para teolog Reformed menafsirkan ini sebagai indikator hidup yang kudus dan tak tercela, bukan syarat teknis bahwa dia hanya pernah menikah sekali, melainkan karakter kesetiaannya.

R.C. Sproul mencatat bahwa frasa ini paralel dengan syarat pemimpin gereja di 1 Timotius 3:2, dan mencerminkan bahwa penerima dukungan gerejawi juga harus menunjukkan buah-buah iman.

3. Perspektif Teologi Reformed: Kasih dan Keadilan dalam Komunitas Allah

a. Pelayanan Sosial yang Berlandaskan Injil

Dalam kerangka Reformed, pelayanan sosial bukan sekadar bentuk filantropi, tetapi refleksi dari Injil itu sendiri. Allah yang mengasihi dan merawat yang lemah mengutus gereja-Nya untuk mencerminkan kasih itu dalam tindakan nyata.

Herman Bavinck menulis dalam Reformed Dogmatics:

The church as the body of Christ must reflect His care, especially to those who are weak, broken, and destitute. Not as charity, but as covenantal responsibility.”

Janda yang setia adalah bagian dari umat perjanjian, dan gereja bertanggung jawab untuk menopang anggota tubuh yang membutuhkan.

b. Tanggung Jawab Keluarga dan Prioritas Pelayanan

Paulus secara jelas menulis bahwa keluarga janda adalah pihak pertama yang harus bertanggung jawab (1 Timotius 5:4, 8). Dalam Reformed Theology, ini sejalan dengan prinsip subsidiaritas: tanggung jawab dimulai dari unit terkecil ke yang lebih besar.

Gereja hanya terlibat jika keluarga gagal menjalankan tanggung jawabnya.

c. Disiplin dan Ketertiban dalam Kasih

Gereja tidak boleh memberdayakan kemalasan atau menyuburkan ketergantungan. Ini ditegaskan kembali oleh Paulus dalam 2 Tesalonika 3:10 — Jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.”

Sinclair Ferguson menyatakan:

True grace does not cancel responsibility. Grace empowers responsibility in love.”

Jadi, pelayanan kepada janda bukanlah belas kasihan tanpa batas, tetapi tindakan kasih yang disertai hikmat dan ketertiban.

4. Aplikasi dalam Kehidupan Gereja Masa Kini

a. Merawat Janda dan Lansia dalam Gereja

Gereja masa kini sering kali gagal merawat janda dan lansia secara aktif. Ayat ini mengingatkan kita bahwa salah satu panggilan utama gereja adalah merawat mereka yang secara sosial terabaikan.

Pelayanan kepada lansia tidak hanya bersifat finansial, tetapi juga mencakup:

  • Kunjungan rutin

  • Pelayanan doa dan pendampingan rohani

  • Keterlibatan mereka dalam pelayanan doa dan kesaksian

b. Menyaring dan Membina Penerima Bantuan

Seperti gereja mula-mula, gereja masa kini perlu memilah siapa yang layak menerima bantuan jangka panjang. Ini bisa diwujudkan dengan:

  • Pengkajian kondisi sosial dan ekonomi

  • Pendampingan rohani dan moral

  • Mengembangkan sistem daftar penerima yang transparan

c. Menekankan Etika Kristen dalam Pelayanan Sosial

Gereja harus menunjukkan bahwa karakter Kristen adalah bagian dari tanggung jawab iman. Seorang janda yang setia, saleh, dan aktif dalam pelayanan menjadi teladan, bukan sekadar penerima belas kasihan.

5. Refleksi dari Tokoh-Tokoh Reformed

John Calvin

Calvin menekankan bahwa pelayanan terhadap janda bukan hanya belas kasihan, tetapi juga penghormatan kepada Allah yang adalah Bapa bagi yatim piatu dan pelindung janda.

God commands us to care for widows because He Himself defends their cause.”

Herman Bavinck

Bavinck melihat pelayanan sosial sebagai cermin dari kerajaan Allah. Gereja harus menjadi saksi dari keadilan Allah, dan itu dimulai dengan memperhatikan kelompok yang rentan.

R.C. Sproul

Dalam pengajarannya, Sproul menekankan bahwa kasih sejati kepada Allah akan selalu diikuti oleh kasih yang nyata kepada sesama, terutama kepada mereka yang tidak mampu membalas.

6. Kesimpulan: Mengasihi Janda adalah Mengasihi Allah

1 Timotius 5:9 tidak hanya berbicara tentang usia atau status pernikahan seorang janda, tetapi juga menyatakan prinsip besar tentang kasih, ketertiban, dan tanggung jawab gerejawi.

Dalam terang teologi Reformed, kita melihat bahwa:

  • Gereja adalah keluarga Allah yang bertanggung jawab merawat anggotanya

  • Kasih sejati tidak buta, tetapi bijaksana dan teratur

  • Karakter dan iman tetap menjadi dasar dalam pelayanan sosial

  • Tuhan menghormati dan memperhatikan mereka yang dunia anggap kecil

Janda yang setia bukan hanya penerima bantuan, tetapi saksi kasih Allah dalam komunitas umat-Nya.

Next Post Previous Post