Eskatologis dalam Perjanjian Baru

Eskatologis dalam Perjanjian Baru

Pendahuluan

Sejak manusia jatuh dalam dosa, dunia ini berjalan menuju suatu akhir. Pertanyaan besar selalu muncul: bagaimana sejarah dunia ini akan berakhir? Apakah ada masa depan setelah kematian? Apakah Allah akan menggenapi janji-Nya untuk menciptakan langit dan bumi yang baru?

Alkitab, khususnya Perjanjian Baru, memberikan jawaban yang jelas dan pasti. Tema besar dari Perjanjian Baru adalah penggenapan janji Allah dalam Kristus Yesus, dan salah satu aspek terpenting adalah eskatologi—doktrin tentang hal-hal terakhir.

Dalam pandangan Reformed, eskatologi bukan hanya berbicara tentang peristiwa masa depan, tetapi juga tentang karya Kristus yang sudah dimulai sejak kebangkitan-Nya, dan yang akan mencapai kepenuhannya pada kedatangan-Nya kembali.

Herman Bavinck berkata:

“Eskatologi bukanlah lampiran terakhir dalam dogmatika, tetapi inti dari Injil itu sendiri, karena seluruh iman Kristen adalah iman yang berpengharapan.”

Hari ini kita akan merenungkan Eskapologi Perjanjian Baru dalam tiga aspek besar:

  1. Kedatangan Kristus yang pertama dan penggenapan awal janji Allah

  2. Masa kini yang berada di antara ‘sudah’ dan ‘belum’

  3. Kedatangan Kristus yang kedua dan kepenuhan pengharapan orang percaya

Pada akhirnya, kita akan melihat bagaimana kebenaran ini mengubah cara kita hidup sebagai umat Allah di dunia.

1. Kedatangan Kristus yang Pertama dan Penggenapan Awal Janji Allah

Eskatologi Perjanjian Baru tidak bisa dipisahkan dari pribadi dan karya Yesus Kristus. Segala nubuat Perjanjian Lama tentang akhir zaman menemukan penggenapan awal dalam kedatangan Kristus yang pertama.

Yesus memulai pelayanan-Nya dengan berkata:

“Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Markus 1:15)

Dengan pernyataan ini, Yesus menegaskan bahwa zaman akhir sudah dimulai. Bukan berarti seluruh janji sudah digenapi, tetapi bahwa kerajaan Allah sudah hadir secara nyata di dalam diri-Nya.

George Eldon Ladd, seorang teolog injili yang juga memengaruhi tradisi Reformed, menyebut konsep ini sebagai “inaugurated eschatology”—eskatologi yang telah dimulai. Ada dimensi “sudah” (already) tetapi sekaligus “belum” (not yet).

John Calvin menjelaskan dalam komentarnya:

“Kedatangan Kristus adalah awal dari pemulihan segala sesuatu. Walau kepenuhan masih menanti, namun di dalam Kristus kita sudah merasakan buah sulung dari dunia yang akan datang.”

Dengan kata lain, eskatologi Perjanjian Baru bukanlah sekadar menunggu masa depan, melainkan sudah dimulai sejak kebangkitan Kristus. Kebangkitan itu adalah jaminan dan tanda awal dari kebangkitan kita kelak.

2. Masa Kini: Hidup di Antara “Sudah” dan “Belum”

Salah satu ciri khas eskatologi Perjanjian Baru adalah ketegangan antara apa yang sudah digenapi dan apa yang belum. Paulus, Petrus, Yohanes, semuanya menulis dengan kesadaran bahwa kita hidup di antara dua zaman:

  • Zaman sekarang yang masih ditandai oleh dosa, penderitaan, dan maut.

  • Zaman yang akan datang, yaitu kepenuhan kerajaan Allah.

a. Dimensi “Sudah”

  • Kita sudah dibenarkan melalui iman dalam Kristus (Roma 5:1).

  • Kita sudah diangkat menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12).

  • Kita sudah menerima Roh Kudus sebagai jaminan (Efesus 1:13-14).

b. Dimensi “Belum”

  • Kita masih menantikan penggenapan adopsi kita, yaitu penebusan tubuh kita (Roma 8:23).

  • Kita masih menantikan langit dan bumi yang baru (2 Petrus 3:13).

  • Kita masih berperang melawan dosa dan kuasa kegelapan (Efesus 6:12).

Louis Berkhof menulis:

“Kehidupan orang percaya berada dalam ketegangan eskatologis. Kita telah menerima keselamatan, namun masih menantikan kepenuhannya. Inilah yang memberi makna pada kehidupan Kristen: hidup dalam iman, pengharapan, dan kasih.”

Itulah sebabnya orang Kristen disebut sebagai umat pengharapan. Kita bukan sekadar menunggu pasif, tetapi dipanggil untuk hidup setia, berjaga-jaga, dan melayani di tengah dunia yang masih jatuh dalam dosa.

3. Kedatangan Kristus yang Kedua dan Kepenuhan Pengharapan

Puncak eskatologi Perjanjian Baru adalah janji bahwa Kristus akan datang kembali. Ini adalah janji yang ditegaskan berulang kali oleh Yesus sendiri, para rasul, dan seluruh kitab-kitab Perjanjian Baru.

Yesus berkata dalam Yohanes 14:3:

“Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.”

Paulus menulis dalam 1 Tesalonika 4:16-17:

“Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.”

a. Kepastian Kedatangan Kristus

Eskatologi Perjanjian Baru menekankan bahwa kedatangan Kristus yang kedua adalah pasti, tetapi waktunya tidak diketahui (Matius 24:36). Oleh karena itu, orang percaya dipanggil untuk berjaga-jaga.

b. Kebangkitan Tubuh dan Penghakiman

Pada saat itu akan terjadi kebangkitan tubuh, baik orang benar maupun orang fasik (Yohanes 5:28-29). Semua orang akan dihakimi menurut perbuatannya.

Herman Ridderbos menulis:

“Kedatangan Kristus kedua kali adalah klimaks dari sejarah penebusan. Pada saat itu, keselamatan yang sudah dimulai dalam kebangkitan Kristus akan mencapai kepenuhannya, dan semua kuasa dosa akan dimusnahkan.”

c. Langit dan Bumi yang Baru

Akhir dari eskatologi Perjanjian Baru adalah janji tentang langit dan bumi yang baru (Wahyu 21-22). Inilah puncak pengharapan Kristen: bukan sekadar melarikan diri ke surga, tetapi pemulihan seluruh ciptaan.

Bavinck menulis:

“Eskatologi Alkitab bukanlah akhir dari dunia, melainkan pembaruan dunia. Allah tidak meninggalkan ciptaan-Nya, tetapi menebus dan menyempurnakannya.”

4. Implikasi Praktis Eskatologi Perjanjian Baru

Doktrin eskatologi tidak dimaksudkan untuk memuaskan rasa ingin tahu, melainkan untuk mengubahkan hidup kita.

a. Hidup dalam pengharapan

Orang percaya menghadapi penderitaan dengan pengharapan yang teguh. Kita tahu bahwa penderitaan sekarang tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan datang (Roma 8:18).

b. Hidup dalam kekudusan

Karena kita menantikan langit dan bumi yang baru, Petrus menasihatkan:

“Jadi, jikalau segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup.” (2 Petrus 3:11)

c. Hidup dalam penginjilan dan misi

Pengharapan akan kedatangan Kristus mendorong kita untuk giat memberitakan Injil, sebab kita tahu bahwa Allah sedang mengumpulkan umat-Nya dari segala bangsa.

d. Hidup dalam kesiapan

Yesus berulang kali mengingatkan: “Berjaga-jagalah, sebab Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan.” (Matius 24:44).

Eskatologi menuntun kita untuk hidup dengan hati yang siap, tidak terikat dunia, tetapi mengarahkan pandangan kepada Kristus.

Penutup

Saudara-saudara, Eskatologi Perjanjian Baru adalah kabar sukacita besar:

  • Kristus sudah datang untuk memulai zaman baru.

  • Kita hidup di tengah ketegangan antara “sudah” dan “belum.”

  • Kristus akan datang kembali untuk membawa kepenuhan keselamatan.

Kebenaran ini memberi kita keyakinan, penghiburan, dan dorongan untuk hidup setia sampai akhir.

Kiranya kita semua dapat berkata bersama Rasul Yohanes:

“Amin, datanglah, Tuhan Yesus!” (Wahyu 22:20).

Soli Deo Gloria.

Next Post Previous Post