Pekerja yang Saleh di Hadapan Allah

Pendahuluan: Antara Dunia Bisnis dan Kerohanian
Salah satu tantangan besar bagi umat Kristen sepanjang zaman adalah bagaimana menggabungkan pekerjaan duniawi dengan kesalehan rohani. Banyak orang berpikir bahwa kehidupan rohani hanya terjadi di gereja, sedangkan pekerjaan sehari-hari adalah urusan sekuler yang “biasa saja”. Pandangan ini keliru dan bertentangan dengan ajaran Alkitab.
Richard Steele, dalam karyanya The Religious Tradesman, menulis:
“Orang Kristen sejati harus menjadi religius di dalam toko, di pasar, di kantor, dan di ladangnya, sebagaimana ia religius di dalam gereja. Di setiap pekerjaan, ia melayani Allah.”
Bagi kaum Puritan dan para Reformator, tidak ada pemisahan antara “yang suci” dan “yang sekuler”. Semua pekerjaan, bila dilakukan untuk kemuliaan Allah, adalah ibadah. John Calvin menyebut ini sebagai doktrin panggilan (vocation)—setiap profesi adalah panggilan dari Allah untuk memuliakan-Nya melalui kerja yang jujur, tekun, dan penuh kasih.
Khotbah ini akan menyoroti tiga pokok utama:
-
Pekerjaan sebagai panggilan ilahi (The Divine Calling of Work)
-
Integritas Kristen dalam pekerjaan (The Godly Conduct in Business)
-
Upah dan warisan kekal bagi pekerja saleh (The Eternal Reward of Faithful Labor)
1. Pekerjaan sebagai Panggilan Ilahi
1.1. Allah memanggil setiap orang untuk bekerja
Pekerjaan bukanlah akibat dosa, melainkan rancangan Allah sejak penciptaan. Dalam Kejadian 2:15 tertulis, “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” Artinya, bekerja adalah bagian dari ibadah manusia sebelum kejatuhan dalam dosa.
John Calvin berkata:
“Pekerjaan adalah cara Allah mengatur dunia melalui tangan-tangan manusia. Setiap orang yang bekerja dengan setia adalah alat pemeliharaan Allah.”
Calvin menekankan bahwa panggilan (calling) bukan hanya untuk pendeta, tetapi juga untuk tukang kayu, petani, pedagang, atau guru. Semua pekerjaan, bila dilakukan dalam ketaatan dan iman, adalah pelayanan kepada Allah. Seorang pedagang yang jujur sama berharganya di mata Tuhan dengan seorang pengkhotbah yang setia.
R.C. Sproul menjelaskan:
“Tidak ada pekerjaan yang rendah bila dilakukan untuk kemuliaan Allah. Di hadapan Tuhan, tidak ada pekerjaan biasa.”
Dengan demikian, setiap pekerjaan kita—baik mengajar, berdagang, bertani, merancang, atau melayani—adalah altar tempat kita mempersembahkan hidup kepada Allah.
1.2. Bekerja dengan hati yang beribadah
Dalam Kolose 3:23, Paulus menulis, “Perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan.” Artinya, setiap aktivitas duniawi adalah tindakan penyembahan bila dilakukan dengan motivasi yang benar.
Richard Steele berkata:
“Tanganmu boleh bekerja di bumi, tetapi hatimu harus berlutut di hadapan surga.”
Pekerjaan sehari-hari menjadi ibadah ketika dilakukan:
-
Dengan kesadaran akan hadirat Allah (Coram Deo) — yaitu hidup di hadapan Allah, di bawah otoritas-Nya, dan untuk kemuliaan-Nya.
-
Dengan sukacita, bukan keluhan. Paulus berkata dalam Filipi 2:14–15: “Lakukanlah segala sesuatu tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tidak bercacat dan murni.”
-
Dengan rasa tanggung jawab, karena Tuhanlah Pemilik pekerjaan itu.
Kesalehan sejati terlihat bukan hanya di gereja, tetapi di tempat kerja. Cara kita bekerja mencerminkan siapa Tuhan yang kita sembah.
2. Integritas Kristen dalam Pekerjaan
2.1. Kejujuran adalah bukti iman yang hidup
Seorang pedagang Kristen, menurut Richard Steele, harus dikenal bukan karena kepandaiannya berdagang, tetapi karena ketulusannya di hadapan Allah dan manusia. Ia berkata:
“Lebih baik kehilangan sedikit keuntungan daripada kehilangan hati nurani yang bersih.”
Dalam Amsal 11:1 dikatakan, “Neraca yang serong adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi Ia berkenan kepada batu timbangan yang tepat.” Allah memperhatikan bukan hanya hasil bisnis kita, tetapi juga cara kita mencapainya.
Matthew Henry menafsirkan ayat ini:
“Allah membenci ketidakjujuran karena itu merusak keadilan-Nya dan memalukan nama-Nya di antara bangsa-bangsa.”
Integritas berarti keutuhan—hidup yang tidak terbagi antara iman dan bisnis. Dunia mungkin mengukur kesuksesan dari laba dan status, tetapi Allah mengukur dari kesetiaan dan kejujuran. Dalam Lukas 16:10 Yesus berkata, “Barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia setia juga dalam perkara besar.”
2.2. Menolak cinta uang dan keserakahan
Keserakahan adalah Goliat yang menghantui banyak pekerja dan pedagang. Dalam 1 Timotius 6:10, Paulus berkata, “Akar segala kejahatan ialah cinta uang.” Bukan uang itu sendiri yang jahat, tetapi ketika uang menjadi tuan yang menggantikan Kristus.
John Owen memperingatkan:
“Ketika hati manusia lebih tergerak oleh keuntungan dunia daripada kasih kepada Allah, ia sudah menjadi penyembah berhala.”
Seorang religious tradesman bekerja keras, tetapi tidak diperbudak oleh uang. Ia tahu bahwa kekayaan hanyalah sarana, bukan tujuan. Ia mencari Kerajaan Allah terlebih dahulu (Mat. 6:33). Ia menggunakan uang sebagai alat pelayanan, bukan sebagai ilah yang ditakuti.
Richard Steele menulis:
“Jangan biarkan keuntungan dunia menipu jiwamu. Lebih baik memiliki sedikit dengan hati yang damai, daripada kekayaan besar dengan hati yang gelisah.”
2.3. Keadilan dan kasih dalam berbisnis
Iman yang sejati menuntut keadilan dalam setiap transaksi. Seorang Kristen tidak boleh menipu, mengambil keuntungan berlebihan, atau memperlakukan pekerjanya dengan semena-mena. Yakobus 5:4 berkata, “Sesungguhnya upah para pekerja yang telah menuai hasil ladangmu yang tidak kamu bayar, menjerit, dan teriakan mereka telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam.”
John Calvin mengomentari ayat ini:
“Tuhan menjadi pembela bagi mereka yang tertindas oleh ketidakadilan ekonomi. Ia tidak akan membiarkan keserakahan tanpa hukuman.”
Dalam teologi Reformed, keadilan sosial bukan hanya urusan politik, melainkan ekspresi dari kasih Allah yang aktif. Pekerja Kristen harus memperlakukan sesamanya dengan kasih yang sama seperti Kristus memperlakukan dirinya. Ini mencakup:
-
Membayar pekerja dengan adil,
-
Tidak menipu dalam takaran, laporan, atau kontrak,
-
Tidak mencari keuntungan dengan merugikan sesama.
Richard Baxter berkata:
“Orang Kristen yang benar lebih memilih kehilangan uang daripada kehilangan kesaksian.”
2.4. Kesabaran dan ketekunan dalam pekerjaan
Kehidupan kerja sering disertai tekanan, ketidakpastian, dan kegagalan. Namun orang percaya dipanggil untuk sabar dan tekun. Dalam Roma 12:11, Paulus menasihatkan, “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor; biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.”
Spurgeon berkata:
“Tidak ada pekerjaan yang sia-sia bila dilakukan dengan iman. Tuhan menghitung setiap tetes keringat yang menetes karena kesetiaan.”
Kesabaran adalah tanda kita percaya bahwa hasil akhir ada di tangan Tuhan, bukan di tangan manusia. Seorang pekerja Kristen menanam dengan iman, bekerja dengan tekun, dan menyerahkan hasil kepada Tuhan.
3. Upah dan Warisan Kekal bagi Pekerja Saleh
3.1. Tuhan memberi upah kepada kesetiaan
Kolose 3:24 menegaskan: “Dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah.” Upah sejati bukan gaji duniawi, melainkan pengakuan Allah atas kesetiaan kita.
Richard Steele menulis:
“Mereka yang bekerja untuk Tuhan tidak pernah dirugikan. Upah mereka disimpan di surga, meskipun tangan manusia melupakannya.”
Upah kekal ini bukan karena jasa, tetapi karena kasih karunia. Tuhan menghargai setiap pekerjaan yang dilakukan dengan iman, sekecil apa pun itu. Yesus berkata, “Barangsiapa memberi minum seorang yang kecil secangkir air sejuk saja karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Ia tidak akan kehilangan upahnya” (Matius 10:42).
John Calvin menekankan:
“Upah yang dijanjikan Allah bukan karena kita layak, tetapi karena Ia berkenan menghargai kasih karunia-Nya sendiri dalam diri kita.”
3.2. Kristus adalah Tuan yang kita layani
Paulus mengingatkan: “Kristus adalah Tuan yang kamu layani.” Ini adalah inti dari semua pekerjaan Kristen: kita tidak bekerja untuk manusia, tetapi untuk Kristus. Setiap tugas, kecil atau besar, dilakukan di bawah pengawasan dan bagi kemuliaan-Nya.
Martyn Lloyd-Jones menulis:
“Kehidupan Kristen yang sejati adalah hidup yang menyadari bahwa setiap tindakan adalah pelayanan kepada Kristus.”
Dengan perspektif ini, pekerjaan menjadi kesempatan untuk bersaksi. Cara kita melayani, menghormati waktu, berbicara dengan sopan, dan memperlakukan orang lain menjadi kesaksian tentang Injil yang kita percaya. Dunia melihat Kristus melalui cara kita bekerja.
3.3. Warisan kekal: Pekerjaan yang tidak sia-sia
1 Korintus 15:58 berkata: “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”
Bagi pekerja Kristen, tidak ada yang sia-sia. Meskipun pekerjaan duniawi akan berlalu, buah rohani dari kesetiaan akan tetap kekal. Integritas yang ditanam hari ini mungkin tidak langsung berbuah dalam bentuk keuntungan materi, tetapi akan menghasilkan pahala surgawi.
R.C. Sproul menulis:
“Apa pun yang dilakukan dengan iman kepada Kristus menjadi bagian dari kekekalan. Tuhan menenun pekerjaan kita ke dalam rencana kekal-Nya.”
4. Aplikasi Praktis untuk Pekerja Kristen Zaman Ini
4.1. Bekerjalah dengan kesadaran akan hadirat Allah (Coram Deo)
Dalam setiap transaksi, rapat, atau proyek, ingatlah bahwa Anda berdiri di hadapan Allah. Jangan bekerja untuk sekadar menyenangkan manusia, tetapi untuk menyenangkan Tuhan.
Tanyakan setiap hari: Apakah saya melakukan ini untuk kemuliaan Kristus?
Kehadiran Allah memberi makna pada setiap rutinitas. Seorang kasir yang jujur, seorang guru yang sabar, seorang petani yang rajin—semuanya melayani Tuhan dengan cara yang sama seperti seorang misionaris di ladang pelayanan.
4.2. Jadilah saksi Kristus melalui etika kerja
Dunia modern penuh dengan korupsi, kebohongan, dan penyalahgunaan kekuasaan. Pekerja Kristen dipanggil untuk menjadi terang. Cara kita bekerja harus berbeda:
-
Kita datang tepat waktu, bukan karena takut pada atasan, tetapi karena menghormati Tuhan.
-
Kita berbicara dengan kebenaran, bukan untuk mencari keuntungan, tetapi untuk menjaga kesucian nama Allah.
-
Kita memperlakukan rekan kerja dengan hormat, bukan karena ingin disukai, tetapi karena kita melihat gambar Allah di dalam diri mereka.
Spurgeon berkata:
“Satu pekerja Kristen yang setia lebih berkhotbah daripada seratus kata di mimbar.”
4.3. Gunakan kekayaan untuk kemuliaan Allah
Jika Tuhan memberkati dengan kekayaan, gunakanlah untuk pelayanan. Allah tidak melarang kita memiliki harta, tetapi Ia melarang kita diperbudak olehnya.
Gunakan harta untuk:
-
Menolong yang miskin,
-
Mendukung pelayanan Injil,
-
Menjadi berkat bagi keluarga dan sesama.
Richard Steele menulis:
“Harta duniawi adalah alat ujian hati. Jika engkau setia dalam menggunakannya bagi Allah, engkau menunjukkan bahwa hatimu lebih mencintai surga daripada bumi.”
4.4. Bersandar pada kasih karunia, bukan pada hasil kerja
Kita bekerja keras, tetapi keselamatan tidak diperoleh dari kerja. Pekerjaan kita, sebaik apa pun, tidak dapat menebus dosa. Kita diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman (Efesus 2:8–9). Namun, iman yang sejati selalu menghasilkan kerja yang setia. Ayat berikutnya menegaskan: “Kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik” (Efesus 2:10).
Kerja yang saleh adalah buah dari keselamatan, bukan akar keselamatan. Kita bekerja bukan untuk memperoleh kasih Allah, tetapi karena kita sudah dikasihi Allah.
Penutup: Pekerja yang Religius di Dunia yang Sekuler
Seorang religious tradesman—pekerja atau pedagang yang saleh—adalah seseorang yang memadukan iman dan pekerjaan. Ia melihat pekerjaan bukan sekadar cara mencari nafkah, tetapi sebagai kesempatan untuk memuliakan Allah dan memberkati sesama.
Richard Steele menulis:
“Seorang pedagang yang takut akan Allah akan berdagang dengan hati nurani, dan menutup tokonya dengan doa.”
Kita hidup di dunia yang menilai manusia berdasarkan kesuksesan ekonomi, tetapi Allah menilai berdasarkan kesetiaan rohani. Ketika kita bekerja dengan hati yang takut akan Tuhan, dengan integritas, kasih, dan iman, kita sedang mempersembahkan ibadah sejati di tengah dunia.
Marilah kita bekerja bukan untuk membangun kerajaan pribadi, tetapi untuk memperluas kerajaan Kristus. Dan kelak, ketika pekerjaan dunia ini berakhir, Tuhan akan berkata kepada kita:
“Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba-Ku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberi kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25:21)