1 Petrus 1:23 Diperanakkan Kembali oleh Firman yang Hidup dan Kekal

1 Petrus 1:23 Diperanakkan Kembali oleh Firman yang Hidup dan Kekal

Pendahuluan: Kelahiran Baru, Fondasi Hidup Kristen

Saudara-saudara yang dikasihi di dalam Kristus, salah satu doktrin paling mendasar dalam iman Kristen adalah kelahiran baru — atau dalam bahasa teologis, regenerasi. Tanpa kelahiran baru, seseorang tidak dapat mengerti, mengasihi, atau menaati Allah. Rasul Petrus menulis dalam 1 Petrus 1:23:

“Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah yang hidup dan yang kekal.”

Ayat ini menegaskan bahwa kehidupan baru orang percaya bukanlah hasil usaha manusia, melainkan hasil karya Firman Allah yang hidup dan kekal melalui kuasa Roh Kudus. Ini adalah inti dari transformasi sejati yang terjadi di dalam hati setiap orang percaya.

Dalam khotbah ini, kita akan merenungkan secara ekspositori dan teologis isi dari ayat ini, dengan memperhatikan pandangan beberapa pakar teologi Reformed seperti John Calvin, R.C. Sproul, John Stott, Herman Bavinck, dan Louis Berkhof.

1. “Kamu telah dilahirkan kembali” — Karya Allah dalam Kelahiran Baru

Frasa ini menegaskan identitas orang percaya sebagai mereka yang telah “dilahirkan kembali” (anagennaō dalam bahasa Yunani). Petrus sebelumnya telah menyinggung tema ini dalam 1 Petrus 1:3:

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati.”

1.1. Kelahiran baru adalah karya Allah, bukan usaha manusia

Menurut John Calvin, kelahiran baru adalah opus Dei — karya Allah yang dikerjakan oleh Roh Kudus di dalam hati manusia. Calvin menulis:

“Manusia tidak memiliki kemampuan sedikit pun untuk melahirkan dirinya sendiri ke dalam kehidupan rohani. Hanya Roh Allah yang dapat menciptakan kehidupan dari kematian.”

Artinya, kelahiran baru bukan hasil pendidikan, keputusan moral, atau perbuatan baik, melainkan inisiatif kasih karunia Allah semata.

R.C. Sproul menegaskan bahwa kelahiran baru bukan akibat dari iman, tetapi penyebab dari iman. Ia berkata:

“Kita tidak percaya untuk dilahirkan kembali; kita dilahirkan kembali agar kita bisa percaya.”

Kelahiran baru adalah pekerjaan Roh Kudus yang membuka mata rohani manusia sehingga ia dapat melihat dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

1.2. Kelahiran baru menghasilkan kehidupan yang baru

Petrus berbicara kepada orang-orang percaya yang sedang mengalami penderitaan. Dalam konteks ini, kelahiran baru menjadi dasar penghiburan dan pengharapan mereka. Mereka telah menerima hidup yang baru — bukan hanya secara moral, tetapi secara eksistensial.

John Stott menulis:

“Kelahiran baru bukanlah sekadar perubahan etika, melainkan perubahan status dan natur. Orang yang dilahirkan kembali menjadi ciptaan baru di bawah pemerintahan Kristus.”

Dengan kelahiran baru, manusia tidak lagi diperhamba oleh dosa, tetapi dipanggil untuk hidup dalam ketaatan kepada Firman Allah.

2. “Bukan dari benih yang fana, tetapi dari yang tidak fana” — Sumber Kehidupan Baru

Bagian ini memperlihatkan kontras yang kuat antara yang fana (phthartos) dan yang tidak fana (aphthartos). Petrus menggunakan istilah “benih” (sporas) untuk menggambarkan asal kehidupan rohani orang percaya.

2.1. Kehidupan duniawi bersumber dari yang fana

Setiap manusia secara biologis berasal dari benih yang fana — yang memiliki akhir, yang akan mati. Semua yang berasal dari dunia ini, termasuk kebanggaan, harta, dan kuasa, akan berlalu.

Namun kehidupan rohani memiliki asal yang berbeda. Ia berasal dari sumber yang kekal — Allah sendiri melalui Firman-Nya.

2.2. Benih yang tidak fana: Firman yang memberi kehidupan

Herman Bavinck dalam Reformed Dogmatics menulis:

“Firman Allah adalah benih ilahi yang membawa kehidupan yang tidak akan pernah mati. Ia tidak hanya menanam pengetahuan, tetapi menanam kehidupan rohani di dalam hati manusia.”

Firman Allah bekerja seperti benih yang ditanam dalam tanah hati manusia. Namun, benih ini tidak akan mati — ia terus hidup, tumbuh, dan berbuah kekal.

Dalam Yohanes 3:5, Yesus berkata kepada Nikodemus:

“Sesungguhnya, jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

Air dan Roh menunjuk kepada Firman dan karya Roh Kudus. Roh Kudus menggunakan Firman Allah untuk menumbuhkan kehidupan rohani yang baru.

Louis Berkhof menegaskan bahwa regenerasi adalah “perubahan radikal dalam natur manusia, di mana Roh Kudus menanam kehidupan baru di dalam hati melalui Firman Allah.”

3. “Oleh firman Allah yang hidup dan yang kekal” — Alat yang Dipakai Roh Kudus

Petrus menyebut Firman Allah sebagai hidup (zōntos) dan kekal (menontos). Dua sifat ini menunjukkan kekuatan transformatif dan ketahanan Firman terhadap segala zaman.

3.1. Firman Allah hidup

Firman Allah tidak mati atau statis, melainkan dinamis dan aktif bekerja di dalam hati manusia. Ibrani 4:12 berkata:

“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati.”

John Calvin menyebut Firman sebagai instrumentum Spiritus Sancti — alat yang dipakai Roh Kudus untuk menanamkan iman dan memperbarui hati. Tanpa Firman, regenerasi tidak terjadi, karena Roh bekerja melalui Firman, bukan terpisah dari Firman.

R.C. Sproul menambahkan:

“Firman Allah tidak hanya memberi informasi, tetapi menciptakan transformasi. Ia mengubah hati yang mati menjadi hidup.”

3.2. Firman Allah kekal

Firman Allah tidak berubah. Dunia ini akan berlalu, tetapi Firman Allah tetap selamanya (Matius 24:35). Hal ini menjadi jaminan bagi orang percaya bahwa kehidupan rohani mereka tidak akan lenyap, karena berasal dari sumber yang kekal.

Herman Bavinck menjelaskan bahwa sifat kekal Firman berarti kebenaran Allah tidak pernah pudar, dan karenanya, orang percaya memiliki jaminan keselamatan yang pasti.

Firman ini bukan sekadar teks kuno, tetapi kekuatan ilahi yang menghidupkan, menegur, dan meneguhkan umat Allah sepanjang zaman.

4. Regenerasi dan Pengudusan: Dua Aspek yang Tidak Terpisahkan

Kelahiran baru bukanlah akhir dari perjalanan rohani, melainkan awal dari kehidupan baru yang harus terus bertumbuh. Orang yang telah dilahirkan kembali oleh Firman yang hidup dipanggil untuk hidup dalam kekudusan dan ketaatan.

4.1. Regenerasi menghasilkan perubahan moral dan spiritual

John Owen, teolog Reformed Puritan, menulis:

“Di dalam kelahiran baru, Allah tidak hanya mengubah perilaku, tetapi mengganti hati yang lama dengan hati yang baru.”

Perubahan ini tampak dalam cara berpikir, mengasihi, dan merespons kehidupan. Orang yang telah diperanakkan kembali tidak lagi mencintai dosa, tetapi mencintai kebenaran.

4.2. Firman sebagai sarana pengudusan

Yohanes 17:17 mencatat doa Yesus:

“Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.”

Firman yang melahirkan kita juga adalah Firman yang menguduskan kita setiap hari. R.C. Sproul berkata bahwa proses pengudusan adalah “kelanjutan dari kelahiran baru” di mana Roh Kudus terus menanam dan menumbuhkan benih iman melalui Firman.

Dengan demikian, orang percaya tidak hanya diselamatkan oleh Firman, tetapi juga dibentuk oleh Firman setiap hari.

5. Perspektif Beberapa Pakar Teologi Reformed

5.1. John Calvin

Calvin menegaskan bahwa Firman Allah adalah benih ilahi yang menanam kehidupan baru. Ia berkata dalam Institutes:

“Kelahiran baru adalah pekerjaan rahasia Roh Kudus yang menghidupkan Firman di dalam hati manusia, sehingga mereka menjadi anak-anak Allah yang sejati.”

Bagi Calvin, tidak ada regenerasi tanpa Firman, karena Roh Kudus tidak bekerja secara mistik, melainkan melalui pewahyuan Allah yang tertulis.

5.2. R.C. Sproul

Sproul menyoroti hubungan antara regenerasi dan iman. Menurutnya, iman sejati tidak mungkin muncul tanpa kelahiran baru. Ia berkata:

“Orang mati tidak bisa beriman. Hanya setelah Roh membangkitkan hati yang mati, iman menjadi mungkin.”

Kelahiran baru adalah tindakan Allah yang mengubah hati keras menjadi lembut, membuka telinga rohani, dan menanam benih kebenaran.

5.3. Herman Bavinck

Bavinck menekankan aspek ketuhanan Firman — bahwa Firman itu hidup karena bersumber dari Allah sendiri. Ia menulis:

“Firman yang melahirkan kita bukan sekadar suara, tetapi kuasa Allah yang menciptakan kembali manusia menurut gambar-Nya.”

5.4. John Stott

Stott menekankan aspek etis dari kelahiran baru. Ia berkata bahwa orang yang lahir dari Firman harus mencerminkan karakter Kristus dalam hidupnya.

“Kelahiran baru bukan hanya memberi hidup, tetapi juga memanggil kita untuk hidup suci.”

5.5. Louis Berkhof

Berkhof menekankan dimensi permanen dari kelahiran baru. Ia berkata:

“Kelahiran baru tidak dapat dibatalkan, karena kehidupan yang lahir dari benih ilahi tidak mungkin mati.”

Orang yang benar-benar dilahirkan kembali akan menunjukkan buah iman dan ketekunan sampai akhir.

6. Aplikasi Praktis bagi Kehidupan Orang Percaya

6.1. Hargai Firman sebagai sumber kehidupan

Orang Kristen harus memperlakukan Firman bukan sekadar bacaan rohani, tetapi sumber kehidupan. Firman ini adalah makanan rohani yang menumbuhkan iman dan menjaga kehidupan baru kita.

6.2. Hidup dalam kesadaran bahwa kita adalah ciptaan baru

Kita bukan lagi manusia lama. Hati yang telah diperbarui harus memancarkan kasih, kebenaran, dan kekudusan. Dunia harus melihat Kristus melalui cara kita hidup.

6.3. Bertekun dalam Firman

Kelahiran baru tidak berhenti pada pengalaman awal; ia terus diperkuat melalui disiplin rohani: membaca, merenungkan, dan menaati Firman setiap hari.

John Owen berkata:

“Firman yang menanam kehidupan harus terus disiram dengan doa dan ketaatan agar tetap bertumbuh.”

6.4. Jangan mencemarkan kehidupan baru dengan dosa

Orang yang telah diperanakkan dari benih yang tidak fana tidak boleh hidup dalam kompromi dengan dosa. Dosa mematikan sensitivitas rohani terhadap suara Roh Kudus.

6.5. Bersyukur atas karya Roh Kudus

Kelahiran baru adalah bukti kasih karunia yang luar biasa. Kita dipanggil untuk terus bersyukur dan memuji Allah atas anugerah yang menempatkan kita dalam keluarga-Nya.

7. Penutup: Hidup dari Firman yang Kekal

Saudara-saudara, 1 Petrus 1:23 adalah pengingat yang indah bahwa hidup kita sekarang bukan berasal dari dunia ini, tetapi dari Allah sendiri. Kita telah dilahirkan kembali dari benih yang tidak fana, melalui Firman Allah yang hidup dan kekal.

Kita tidak lagi milik kegelapan, melainkan milik terang. Hidup kita sekarang bukan hasil pendidikan atau moralitas, tetapi hasil karya Roh Kudus melalui Firman.

Sebagaimana benih ilahi telah ditanam dalam hati kita, mari kita pelihara dengan ketaatan, kasih, dan kesetiaan. Dunia boleh berubah, tetapi Firman Allah tidak berubah. Karena itu, orang yang hidup oleh Firman akan tetap berdiri teguh bahkan di tengah badai kehidupan.

Next Post Previous Post