Kejadian 5:28–31 - Penghiburan di Tengah Kutuk

I. PENDAHULUAN: KETURUNAN YANG MEMBAWA PENGHARAPAN
Kitab Kejadian pasal 5 sering kali dianggap membosankan karena hanya berisi silsilah panjang dari Adam hingga Nuh. Namun bagi teologi Reformed, silsilah ini bukan sekadar daftar nama, melainkan rantai keselamatan yang menunjukkan kesinambungan janji Allah.
Setelah kejatuhan manusia dalam dosa (Kejadian 3), bumi dan segala ciptaannya terkutuk. Adam bekerja dengan susah payah, Hawa melahirkan dengan kesakitan, dan dosa berkembang begitu cepat hingga mencapai puncaknya pada zaman Nuh (Kejadian 6:5). Namun di tengah kondisi ini, Tuhan tidak meninggalkan umat-Nya. Ia menumbuhkan pengharapan melalui keturunan—sebuah benih yang akan membawa pemulihan.
Lamekh, keturunan dari Set melalui Enos, menjadi tokoh penting karena melalui dia lahirlah Nuh, seorang yang akan menjadi alat Allah untuk menyatakan kasih karunia dan permulaan baru bagi dunia.
John Calvin menulis dalam Commentaries on Genesis bahwa:
“Silsilah dalam Kejadian 5 bukan sekadar catatan sejarah, melainkan kesaksian akan pemeliharaan ilahi yang mengarah kepada penggenapan janji Mesianik.”
Artinya, setiap nama di sini bukan kebetulan, tetapi bagian dari rencana penebusan Allah yang berdaulat.
II. EKSPLORASI KONTEKS: DUNIA DALAM BAYANGAN KUTUK
Sebelum memahami kelahiran Nuh, kita perlu mengingat konteks besar Kejadian 3–5. Setelah Adam dan Hawa diusir dari Taman Eden, dunia berada di bawah kutuk dosa. Tanah yang semula penuh berkat kini menghasilkan semak duri (Kejadian 3:17–19).
Namun, Allah memberikan satu janji besar:
“Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu...” (Kejadian 3:15).
Janji ini menjadi dasar dari seluruh narasi Alkitab. Di tengah penderitaan dan keputusasaan, umat Allah terus menantikan keturunan yang akan memulihkan relasi yang rusak.
Keturunan Set berbeda dari keturunan Kain. Jika garis Kain menggambarkan kebudayaan yang berkembang tanpa takut akan Allah (Kejadian 4:17–24), maka garis Set menunjukkan iman yang diwariskan:
“Pada waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN” (Kejadian 4:26).
Dengan demikian, Lamekh dari garis Set bukanlah Lamekh yang jahat dari garis Kain (yang membanggakan pembunuhan dalam Kej. 4:23–24), melainkan seorang yang mengenal Allah dan menantikan janji-Nya.
III. EKSPOISI AYAT DEMI AYAT
1. Kejadian 5:28: “Lamekh hidup seratus delapan puluh dua tahun, lalu ia memperanakkan seorang anak laki-laki.”
Pada ayat ini kita melihat kesinambungan sejarah keselamatan. Lamekh bukan sekadar nama, tetapi wakil umat Allah yang masih beriman di tengah dunia yang jahat.
James Montgomery Boice menjelaskan dalam Genesis: An Expositional Commentary:
“Setiap generasi dalam silsilah Set berfungsi sebagai pengingat bahwa Allah tidak melupakan janji-Nya. Ia tetap memelihara satu garis keturunan yang setia.”
Umur panjang para leluhur ini bukan hanya mencerminkan kondisi biologis zaman purba, tetapi melambangkan kesabaran Allah. Seperti dikatakan Petrus:
“Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya… tetapi Ia sabar terhadap kamu” (2 Petrus 3:9).
Dalam konteks Reformed, umur panjang ini adalah bukti anugerah umum Allah—bahwa bahkan dalam dunia berdosa, Allah menahan murka-Nya demi rencana penebusan yang lebih besar.
2. Kejadian 5:29: “Dan memberi nama Nuh kepadanya, katanya: Anak ini akan memberi kepada kita penghiburan dalam pekerjaan kita dan dalam hasil tangan kita yang melelahkan tanah yang telah terkutuk oleh TUHAN.”
Ini adalah ayat kunci. Nama Nuh (Noach) berasal dari akar kata Ibrani nuach, yang berarti “beristirahat” atau “menenangkan.” Lamekh menamai anaknya demikian karena ia menantikan penghiburan di tengah penderitaan akibat kutuk dosa.
Calvin menafsirkan:
“Lamekh bukan hanya berbicara sebagai ayah, tetapi sebagai nabi. Roh Kudus menggerakkan dia untuk menyatakan harapan akan pemulihan dari kutuk tanah melalui anak ini.”
Namun penghiburan yang dimaksud Lamekh bukan sekadar pembebasan fisik dari kerja keras, melainkan pengharapan rohani akan karya Allah yang akan datang. Dalam pengertian tipologis, Nuh menjadi gambaran Kristus, yang kelak memberi kelegaan sejati bagi umat-Nya:
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28)
Nuh akan menjadi alat Allah untuk membawa istirahat sementara dari murka Allah melalui bahtera keselamatan, sedangkan Kristus menjadi Nuh yang sejati, yang membawa istirahat kekal melalui salib-Nya.
3. Kejadian 5:30: “Setelah Nuh lahir, Lamekh hidup lima ratus sembilan puluh lima tahun lagi dan memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan.”
Ayat ini menunjukkan keberlanjutan kehidupan, tetapi juga mengingatkan bahwa semua manusia tetap hidup di bawah bayang-bayang kematian.
Matthew Henry menulis:
“Setiap kelahiran baru adalah tanda bahwa Allah masih bekerja; setiap kematian adalah pengingat bahwa dosa masih berkuasa.”
Lamekh hidup panjang dan memiliki banyak keturunan, tetapi hanya satu nama yang disebut—Nuh—karena Allah sedang menyiapkan rencana besar melalui dia. Ini menggambarkan doktrin pemilihan Allah (divine election): bukan semua keturunan manusia yang menjadi alat keselamatan, melainkan mereka yang dipilih Allah untuk tujuan khusus-Nya (Efesus 1:4–5).
4. Kejadian 5:31: “Jadi Lamekh mencapai umur tujuh ratus tujuh puluh tujuh tahun, lalu ia mati.”
Kalimat “lalu ia mati” menjadi refrain tragis dalam Kejadian 5. Meskipun mereka hidup panjang, akhirnya semua berakhir dengan kematian. Ini adalah penggenapan dari peringatan Allah kepada Adam:
“Pada hari engkau memakannya, engkau pasti mati.” (Kejadian 2:17)
Namun di balik refrains ini, terdapat satu pengecualian—Henokh—yang tidak mati, melainkan diangkat Allah. (Kejadian 5:24) Ini menandakan bahwa sekalipun maut berkuasa, anugerah Allah lebih besar daripada dosa.
Lamekh meninggal, tetapi sebelum ia mati, Allah telah memberinya pengharapan melalui kelahiran Nuh—sebuah simbol bahwa Allah masih bekerja menyiapkan pemulihan bagi ciptaan-Nya.
IV. TEOLOGI REFORMED DALAM KEJADIAN 5:28–31
1. Providensi Allah dalam sejarah keselamatan
Menurut Herman Bavinck (Reformed Dogmatics), sejarah manusia bukan rangkaian peristiwa acak, melainkan “koreografi ilahi yang bergerak menuju Kristus.” Lamekh dan Nuh adalah bagian dari rantai providensi ini.
Providensi berarti bahwa Allah mengatur, menopang, dan mengarahkan semua hal menuju tujuan penebusan. Bahkan di tengah dunia yang semakin rusak, Allah memelihara satu garis keturunan yang setia.
2. Anugerah Allah di tengah kutuk
Di dalam Kejadian 3, kutuk diucapkan atas tanah. Tetapi di dalam Kejadian 5, penghiburan diucapkan melalui kelahiran Nuh. Ini menggambarkan prinsip Reformed bahwa anugerah selalu lebih besar daripada dosa.
Seperti yang dikatakan Paulus:
“Di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah.” (Roma 5:20)
Nuh adalah tanda kasih karunia umum dan khusus Allah:
-
Kasih karunia umum: dunia tetap eksis, manusia tetap bisa bekerja dan berkembang.
-
Kasih karunia khusus: Allah menyelamatkan umat pilihan-Nya dari murka melalui bahtera, yang menjadi gambaran salib Kristus.
3. Tipologi Nuh sebagai bayangan Kristus
Teologi Reformed melihat Nuh sebagai tipe (gambaran) Kristus:
-
Nuh membawa penghiburan sementara dari kutuk tanah.
-
Kristus membawa penghiburan kekal dari kutuk dosa.
-
Nuh menjadi penyelamat keluarga melalui bahtera.
-
Kristus menjadi penyelamat umat-Nya melalui salib.
-
Nuh memulai dunia baru setelah air bah.
-
Kristus memulai ciptaan baru melalui kebangkitan-Nya.
John Owen menulis:
“Seperti air bah yang menghapus dunia lama, demikian pula darah Kristus menghapus dosa dan membuka jalan bagi dunia baru di dalam Dia.”
4. Pewarisan iman di tengah generasi yang jahat
Garis keturunan Set hingga Nuh menunjukkan bahwa iman dapat diwariskan secara turun-temurun di tengah dunia yang semakin jahat. Ini bukan hasil kekuatan manusia, tetapi pekerjaan Roh Kudus yang menjaga benih iman.
Dalam konteks keluarga Kristen, ini menjadi panggilan bagi setiap orang tua untuk menanamkan iman yang hidup kepada anak-anaknya—seperti Lamekh menanamkan pengharapan kepada Nuh.
Theodore Beza menulis:
“Kesalehan dalam keluarga adalah benteng pertama dari gereja Allah.”
V. APLIKASI PRAKTIS BAGI ORANG PERCAYA
-
Hiduplah dengan pengharapan meski dunia terkutuk oleh dosa.
Sama seperti Lamekh menantikan penghiburan dari Allah, orang percaya harus menantikan penggenapan janji Kristus yang akan memulihkan segala sesuatu. -
Pandanglah setiap penderitaan sebagai bagian dari rencana penebusan Allah.
Kutuk atas tanah membuat manusia bekerja keras, tetapi melalui Kristus, pekerjaan menjadi bagian dari ibadah dan alat pemuliaan Allah (Kolose 3:23). -
Ajarkan iman kepada generasi berikutnya.
Lamekh berbicara iman kepada anaknya, dan melalui Nuh, dunia mendapat kesempatan baru. Orang tua Kristen dipanggil menjadi pewaris iman, bukan hanya pewaris harta. -
Ingatlah bahwa kematian bukan akhir bagi umat Allah.
Meskipun “lalu ia mati” menjadi refrains sejarah manusia, bagi mereka yang di dalam Kristus, kematian adalah pintu menuju hidup kekal. -
Bersyukurlah karena Kristus adalah Nuh sejati.
Jika Nuh menyelamatkan melalui bahtera dari air bah, maka Kristus menyelamatkan melalui kayu salib dari murka kekal. Dalam Dia, kita menemukan “penghiburan dalam pekerjaan kita dan tanah yang terkutuk.”
VI. PENUTUP: PENGHARAPAN DI BAWAH BAYANG-BAYANG KEMATIAN
Kejadian 5:28–31 menutup satu babak penting dalam sejarah manusia: keturunan yang masih setia menantikan janji Allah. Di tengah dunia yang terkutuk, Allah menumbuhkan penghiburan melalui kelahiran seorang anak—Nuh.
Namun sejarah ini menunjuk kepada penggenapan yang lebih besar dalam Kristus. Dialah Nuh yang sejati, yang memberi penghiburan bagi dunia yang lelah oleh dosa. Ia memulihkan tanah yang terkutuk, memberi istirahat bagi yang letih lesu, dan membuka jalan menuju ciptaan baru.
Seperti Lamekh menantikan penghiburan dari anaknya, demikian pula kita menantikan kedatangan kembali Kristus, yang akan menghapus setiap air mata dan menjadikan segala sesuatu baru (Why. 21:5).