Keluaran 3:11 - Ketika Kelemahan Manusia Menemukan Kekuatan Allah

Keluaran 3:11 - Ketika Kelemahan Manusia Menemukan Kekuatan Allah

Teks Utama: Keluaran 3:11 (TB)

“Tetapi Musa berkata kepada Allah: ‘Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?’”

Pendahuluan

Dalam Keluaran pasal 3, kita menemukan salah satu peristiwa paling luar biasa dalam sejarah penebusan: panggilan Allah kepada Musa melalui semak yang menyala tetapi tidak hangus. Di tengah padang gurun Midian, seorang gembala tua berusia delapan puluh tahun dipanggil untuk menghadapi kerajaan paling kuat di dunia pada zamannya—Mesir—dan memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan menuju tanah perjanjian.

Namun reaksi pertama Musa bukanlah kegembiraan, bukan juga keberanian, melainkan keraguan yang dalam. Ia berkata, “Siapakah aku ini?

Pertanyaan sederhana ini mengandung makna yang dalam: perasaan tidak layak, ketakutan, dan kesadaran akan ketidakmampuan diri di hadapan tugas ilahi.

Dalam konteks teologi Reformed, ayat ini menyingkapkan kebenaran mendasar tentang kerendahan manusia dan kebesaran anugerah Allah.
Melalui dialog ini, kita akan belajar bahwa panggilan Allah tidak bergantung pada kelayakan manusia, tetapi pada kehadiran dan kuasa Allah sendiri.

1. Latar Belakang Historis: Musa dan Panggilan Allah

Sebelum kita masuk ke ayat 11, mari kita lihat latar belakang kisah ini.

Musa telah hidup empat puluh tahun pertama di istana Mesir, dididik dalam segala hikmat orang Mesir (Kisah 7:22). Namun, setelah membunuh seorang Mesir, ia melarikan diri ke Midian, dan empat puluh tahun berikutnya ia hidup sebagai gembala di padang gurun.

Dari pangeran menjadi gembala—itulah perjalanan Allah membentuk hamba-Nya.
Ketika manusia melupakan Musa, Allah justru menyiapkannya untuk rencana besar.

John Calvin menulis dalam Commentary on Exodus:

“Allah sering menyiapkan para pelayan-Nya dalam kesunyian dan penderitaan, agar mereka belajar mengandalkan kuasa-Nya, bukan kemampuan mereka sendiri.”

Semak yang menyala tetapi tidak hangus menjadi simbol kehadiran Allah yang suci. Di sana Allah memperkenalkan diri-Nya kepada Musa sebagai:

“Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub.” (Keluaran 3:6)

Dan kemudian Allah memberikan perintah besar:

“Aku akan mengutus engkau kepada Firaun, supaya engkau dapat membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir.” (Keluaran 3:10)

Tugas ini sangat besar, dan reaksi Musa pun sangat manusiawi.

2. Reaksi Musa: “Siapakah Aku Ini?”

Ayat 11 berkata:

“Tetapi Musa berkata kepada Allah: ‘Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?’”

Pertanyaan Musa menunjukkan dua hal:

  1. Kesadaran akan ketidaklayakan diri.

  2. Kekhawatiran terhadap tanggung jawab besar.

Ini bukan sekadar kerendahan hati biasa, tetapi perasaan tidak mampu yang lahir dari trauma masa lalu dan pandangan diri yang rapuh.

Empat puluh tahun sebelumnya, Musa berusaha menolong bangsanya dengan kekuatan sendiri—dan gagal. Sekarang, ketika Allah sendiri memanggilnya, ia merasa terlalu kecil untuk tugas itu.

Matthew Henry menulis:

“Musa, yang dulu terlalu berani, sekarang terlalu takut. Tetapi Allah lebih senang memakai hamba yang merasa tidak mampu, daripada yang mengandalkan dirinya sendiri.”

R.C. Sproul dalam The Holiness of God menjelaskan bahwa ketika Musa berkata “Siapakah aku?”, ia sedang menyadari perbedaan antara dirinya yang fana dan Allah yang kudus.
Pertemuan dengan kekudusan Allah menyingkapkan kebusukan manusia dan ketidakmampuannya untuk berdiri di hadapan kemuliaan Ilahi.

Ini adalah momen di mana kesombongan manusia dihancurkan, agar kasih karunia Allah bisa ditinggikan.

3. Pandangan Teologi Reformed: Kesadaran Diri dan Anugerah Allah

Pertanyaan “Siapakah aku ini?” mencerminkan pandangan Reformed tentang kondisi manusia di hadapan panggilan Allah.
Menurut Calvin, “Pengetahuan sejati tentang Allah selalu membawa kepada pengetahuan sejati tentang diri.”
Dalam Institutes of the Christian Religion (I.1.1), Calvin menulis:

“Tanpa mengenal Allah, manusia tidak akan mengenal dirinya sendiri.”

Musa belajar bahwa panggilan Allah bukanlah panggilan berdasarkan potensi manusia, tetapi berdasarkan kuasa dan anugerah Allah.

Herman Bavinck menambahkan:

“Dalam setiap karya penebusan, Allah selalu mengambil inisiatif; manusia hanyalah alat di tangan-Nya.”

Dengan demikian, pertanyaan Musa “Siapakah aku ini?” adalah langkah awal menuju iman yang sejati—karena iman sejati dimulai dari kesadaran bahwa kita tidak bisa tanpa Allah.

4. Allah Menjawab dengan Kehadiran-Nya (Keluaran 3:12)

Menariknya, Allah tidak menjawab pertanyaan Musa dengan penjelasan tentang siapa Musa, melainkan dengan penegasan tentang siapa Allah.

“Bukankah Aku akan menyertai engkau?” (Keluaran 3:12)

Allah tidak menghibur Musa dengan kata-kata seperti “Engkau mampu, Musa!” atau “Percayalah pada dirimu sendiri.”
Sebaliknya, Ia berkata, “Aku akan menyertaimu.”
Dengan kata lain, identitas Musa tidak penting dibandingkan kehadiran Allah.

John Piper mengulas ayat ini dengan indah:

“Pertanyaan Musa ‘Siapakah aku?’ dijawab oleh Allah dengan ‘Aku besertamu.’ Tuhan tidak ingin Musa menatap dirinya, tetapi memandang kepada Dia yang memanggil.”

Inilah prinsip utama pelayanan Kristen:
Tugas besar dapat dikerjakan oleh orang lemah, karena Allah yang menyertai mereka adalah Mahakuasa.

Dalam seluruh sejarah Alkitab, Allah selalu memilih yang lemah untuk mempermalukan yang kuat:

  • Abraham yang sudah tua menjadi bapak bangsa.

  • Daud, seorang gembala muda, mengalahkan Goliat.

  • Para rasul, orang biasa, mengguncang dunia dengan Injil.

Charles Spurgeon pernah berkata:

“Tuhan tidak mencari orang yang kuat, tetapi Ia menguatkan orang yang Ia panggil.”

5. “Siapakah Aku” dan Krisis Identitas Rohani

Pertanyaan Musa juga mencerminkan krisis identitas rohani yang sering dialami orang percaya ketika Allah memanggil mereka untuk tugas besar.

Kita pun sering berkata:

  • “Tuhan, siapa aku ini untuk menjadi pelayan-Mu?”

  • “Aku tidak layak, aku terlalu berdosa, aku tidak pandai berbicara.”

Namun Allah tidak mencari orang sempurna; Ia mencari orang yang bergantung penuh pada-Nya.

Calvin menulis:

“Ketika Allah memanggil seseorang, Ia sekaligus memberikan kemampuan melalui Roh-Nya untuk memenuhi panggilan itu.”

Musa berpikir panggilan itu menuntut kemampuan manusia, tetapi Allah ingin ia belajar bahwa keberhasilan rohani bergantung pada ketaatan dan kehadiran ilahi.

6. Perspektif Ekspositori: Arti “Menghadap Firaun”

Mari kita perhatikan bagian kedua dari ayat ini:

“... maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?”

Kata “menghadap” (bo’ el) dalam bahasa Ibrani menunjukkan tindakan mendekati otoritas dengan keberanian. Firaun pada masa itu adalah penguasa absolut, dianggap dewa hidup di Mesir.

Musa merasa tidak pantas karena dulu ia melarikan diri dari Firaun setelah membunuh orang Mesir. Kini, Allah menyuruhnya kembali ke tempat di mana ia pernah gagal dan dipermalukan.

R.C. Sproul menekankan bahwa ini menunjukkan kedaulatan Allah atas sejarah manusia:

“Allah sering mengutus kita kembali ke tempat kegagalan kita, agar kita belajar bahwa kemenangan bukan karena kita lebih kuat, tetapi karena Dia yang kini menyertai.”

Dengan demikian, panggilan Musa bukan hanya tugas misi, tetapi juga pemulihan rohani.
Allah sedang menebus masa lalunya dengan mengubah aib menjadi alat kemuliaan.

7. Kelemahan yang Dipakai Allah

Allah tidak menolak pertanyaan Musa, tetapi melalui dialog panjang (Kel. 3–4), Ia membentuk Musa untuk menyadari bahwa kelemahan bukan penghalang bagi rencana Allah.

Paulus berkata dalam 2 Korintus 12:9:

“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”

Prinsip yang sama berlaku bagi Musa:

  • Allah tidak memerlukan kekuatan Musa, tetapi ketaatannya.

  • Allah tidak mencari kefasihan Musa, tetapi kesediaannya.

  • Allah tidak menuntut kesempurnaan Musa, tetapi kepercayaannya.

John MacArthur menulis:

“Kelemahan adalah tempat di mana kuasa Allah berdiam. Allah senang memuliakan diri-Nya melalui ketidakmampuan manusia.”

8. Perspektif Reformed: Panggilan Efektif dan Kedaulatan Allah

Dalam teologi Reformed, panggilan Allah kepada Musa adalah contoh dari panggilan efektif (effectual calling)—yaitu panggilan yang bukan hanya mengundang, tetapi mengubah hati orang yang dipanggil untuk taat.

Roma 8:30 menegaskan:

“Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka juga dibenarkan.”

Herman Bavinck menulis:

“Ketika Allah memanggil seseorang, Ia tidak hanya memerintahkan dari luar, tetapi bekerja dari dalam untuk memampukan orang itu menanggapi panggilan-Nya.”

Musa awalnya menolak, tetapi panggilan Allah yang efektif mengalahkan ketakutannya dan mengubahnya menjadi alat penebusan.

Begitu juga dengan kita. Ketika Allah memanggil, Ia memberi kita kuasa untuk taat.
Ketaatan sejati bukan hasil keberanian alami, tetapi hasil anugerah yang menguatkan.

9. “Siapakah Aku?” dalam Cahaya Kristus

Menariknya, Musa sebagai pembebas Israel adalah bayangan (tipe) dari Kristus, Pembebas sejati umat Allah.
Namun kontrasnya jelas:

  • Musa ragu, tetapi Yesus taat tanpa ragu.

  • Musa berkata, “Siapakah aku?” tetapi Yesus berkata, “Aku adalah Aku” (Yohanes 8:58).

  • Musa merasa tidak layak menghadap Firaun, tetapi Yesus dengan berani menghadap salib.

Dalam Kristus, kita menemukan jawaban penuh atas kelemahan Musa dan kelemahan kita.
Karena di dalam Kristus, kelemahan manusia dipenuhi oleh kekuatan Allah.

Spurgeon menulis:

“Ketika kita bertanya ‘Siapakah aku?’, Allah menunjuk kepada Kristus dan berkata, ‘Lihatlah kepada Dia—Dia cukup bagimu.’”

Maka panggilan Musa adalah bayangan dari panggilan kita di dalam Injil: menjadi alat keselamatan bukan karena layak, tetapi karena disertai oleh Kristus yang hidup.

10. Aplikasi bagi Kehidupan Orang Percaya

a. Kenali Ketidaklayakanmu, tetapi Jangan Berhenti di Sana

Kerendahan hati adalah awal dari ketaatan, tetapi keraguan yang berlebihan dapat menjadi ketidaktaatan.
Tuhan tidak ingin kita memuliakan kelemahan, melainkan mengakui kelemahan agar kemuliaan diberikan kepada-Nya.

b. Fokus pada Allah, Bukan Diri

Ketika Musa berkata, “Siapakah aku?”, Allah menjawab, “Aku akan menyertai engkau.”
Jangan biarkan rasa tidak layak menutupi pandanganmu terhadap kebesaran Allah yang memanggilmu.

c. Percayalah bahwa Allah Menebus Masa Lalumu

Seperti Musa yang diutus kembali ke Mesir—tempat kegagalannya—Allah pun sering mengutus kita kembali untuk menghadapi masa lalu dengan anugerah yang baru.
Allah menebus kegagalan menjadi kesaksian.

d. Hidup dalam Ketergantungan yang Kudus

Allah tidak memanggil orang yang “siap,” tetapi Ia mempersiapkan orang yang Ia panggil.
Tugas kita bukan menjadi cukup kuat, tetapi cukup berserah.

e. Ingat Bahwa Panggilan Itu Bersifat Ilahi

Panggilan pelayanan, panggilan keluarga, panggilan hidup—semuanya berasal dari Allah.
Ketika kita berkata, “Aku tidak sanggup,” Allah berkata, “Aku akan menyertaimu.”

11. Prinsip-prinsip Teologis dari Keluaran 3:11

  1. Kesadaran diri yang benar lahir dari kesadaran akan kekudusan Allah.

  2. Kerendahan hati adalah pintu bagi anugerah Allah untuk bekerja.

  3. Panggilan Allah tidak berdasarkan kelayakan manusia.

  4. Kehadiran Allah menjamin keberhasilan rohani, bukan kemampuan manusia.

  5. Kelemahan bukan alasan untuk menolak panggilan, tetapi tempat bagi kuasa Allah dinyatakan.

12. Penutup: Dari “Siapakah Aku” Menuju “Aku Akan Pergi”

Setelah dialog panjang dengan Allah (Keluaran 3–4), akhirnya Musa tunduk dan pergi ke Mesir.
Ia masih merasa lemah, tetapi kini ia tahu satu hal: Allah besertanya.

Begitulah perjalanan iman kita—dari keraguan menuju ketaatan.
Kita belajar bahwa pertanyaan “Siapakah aku?” hanya bisa dijawab dengan “Siapa Allah.”
Dan ketika kita mengenal Allah yang hidup, kita dapat berkata seperti Rasul Paulus:

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13)

Musa akhirnya mengerti:

  • Ia bukan siapa-siapa tanpa Allah.

  • Tetapi bersama Allah, ia menjadi alat pembebasan bangsa.

Demikian pula kita—kita mungkin merasa kecil, tidak layak, dan lemah. Tetapi ketika Allah memanggil, Ia juga memampukan.
Kita hanya perlu menjawab dengan iman:

“Ya Tuhan, kirimlah aku.” (Yesaya 6:8)

Next Post Previous Post