Kedaulatan Allah Dalam Kehidupan Manusia

Kedaulatan Allah Dalam Kehidupan Manusia

Berdasarkan Roma 9:15–18

Tema: “A Practical Discourse on God’s Sovereignty – Kedaulatan Allah yang Praktis dalam Hidup Orang Percaya”

“Sebab Ia berfirman kepada Musa: Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati. Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah. Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: Justru untuk itulah Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku menyatakan kuasa-Ku di dalam engkau, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi. Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya.”
(Roma 9:15–18)

Pendahuluan: Kedaulatan Allah dalam Dunia yang Kacau

Di tengah dunia yang dipenuhi ketidakpastian — peperangan, penderitaan, dan kejahatan — pertanyaan klasik terus muncul: Apakah Allah benar-benar berdaulat?

Manusia modern cenderung ingin menjadi penguasa atas hidupnya sendiri. Kita mengagungkan kebebasan, hak, dan otonomi. Namun, Kitab Suci dengan tegas menyatakan bahwa Allah adalah Raja atas segala sesuatu (Mazmur 103:19). Ia berdaulat atas alam semesta, atas sejarah, dan bahkan atas hati manusia.

Kedaulatan Allah bukan sekadar doktrin yang dingin dan abstrak, melainkan kebenaran yang penuh penghiburan dan kekuatan bagi orang percaya. Seperti dikatakan oleh Jonathan Edwards:

“Kedaulatan Allah adalah dasar dari segala pengharapan dan ketenangan hati. Karena jika Allah tidak berdaulat, maka dunia ini hanyalah kekacauan tanpa arah.”
(Jonathan Edwards, A Practical Discourse on God's Sovereignty)

Dalam khotbah ini, kita akan melihat:

  1. Hak Allah untuk berdaulat atas ciptaan-Nya.

  2. Kedaulatan Allah dalam belas kasihan dan penghakiman.

  3. Respons praktis manusia terhadap kedaulatan Allah.

I. HAK ALLAH UNTUK BERDAULAT ATAS CIPTAAN-NYA

1. Allah sebagai Pencipta dan Raja

Segala sesuatu berasal dari Allah dan untuk Allah (Roma 11:36). Sebagai Pencipta, Ia memiliki hak mutlak atas ciptaan-Nya. Kedaulatan Allah bukanlah kekuasaan yang diambil, tetapi kekuasaan yang melekat pada natur-Nya sebagai Allah yang Mahatinggi.

John Calvin menulis:

“Tidak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa izin Allah. Tidak ada atom pun yang bergerak tanpa kehendak-Nya. Semua hal ditata oleh tangan-Nya yang bijaksana.”
(Calvin, Institutes of the Christian Religion, I.xvi.3)

Artinya, tidak ada bagian dari hidup kita — baik keberhasilan, kegagalan, maupun penderitaan — yang di luar kendali Allah. Ia berdaulat penuh, bukan hanya atas bangsa-bangsa, tetapi juga atas detak jantung kita.

2. Kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia

Banyak orang keberatan terhadap doktrin ini karena dianggap meniadakan tanggung jawab manusia. Namun, teologi Reformed tidak mengajarkan fatalisme, melainkan kedaulatan Allah yang harmonis dengan tanggung jawab manusia.

R.C. Sproul berkata:

“Kedaulatan Allah tidak meniadakan kebebasan manusia, tetapi menentukan batasnya. Manusia bebas melakukan apa yang diinginkannya, namun Allah tetap memegang kendali atas segala hasilnya.”
(R.C. Sproul, Chosen by God)

Dengan kata lain, manusia bertanggung jawab atas pilihannya, tetapi Allah tetap mengatur hasil akhirnya menurut rencana kekal-Nya. Tidak ada yang dapat menggagalkan kehendak Allah (Ayub 42:2).

3. Allah berdaulat atas sejarah dan bangsa-bangsa

Dalam Roma 9, Paulus mengingatkan jemaat bahwa Allah berhak memilih Israel dan menolak bangsa lain, bukan berdasarkan jasa, tetapi berdasarkan rencana kasih karunia-Nya. Ia mengangkat Firaun bukan karena kebaikan Firaun, melainkan agar kuasa-Nya dikenal.

A.W. Pink menulis:

“Kedaulatan Allah berarti bahwa Dia memiliki hak penuh untuk melakukan apa pun yang dikehendaki-Nya, kapan pun, di mana pun, dengan siapa pun, tanpa harus meminta izin siapa pun.”
(A.W. Pink, The Sovereignty of God)

Ini bukan tirani, melainkan pemerintahan kasih yang sempurna. Semua sejarah dunia — dari Babel sampai Yerusalem, dari Roma sampai zaman modern — bergerak menuju satu tujuan: meninggikan kemuliaan Allah.

II. KEDAULATAN ALLAH DALAM BELAS KASIHAN DAN PENGHAKIMAN

1. Allah berdaulat dalam memberi belas kasihan

Roma 9:15 berkata,

“Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan.”

Di sini, Allah menegaskan bahwa kasih karunia bukanlah hak, melainkan anugerah. Tidak ada seorang pun yang dapat menuntut belas kasihan. Allah bebas untuk mengasihani siapa pun yang Ia kehendaki, dan itu tidak membuat-Nya tidak adil — karena tidak seorang pun layak menerima kasih karunia itu.

John Stott menulis:

“Jika keselamatan tergantung pada usaha manusia, maka kasih karunia berhenti menjadi kasih karunia. Tetapi jika keselamatan tergantung pada belas kasihan Allah, maka segala kemuliaan kembali kepada-Nya.”
(John Stott, The Message of Romans)

Dalam pandangan Reformed, inilah inti doktrin predestinasi. Kasih karunia tidak berdasarkan perbuatan, melainkan pada kehendak bebas Allah yang penuh kasih. Ini bukan doktrin untuk menakut-nakuti, tetapi untuk meneguhkan: karena keselamatan kita aman di tangan Allah yang tidak berubah.

2. Allah juga berdaulat dalam mengeraskan hati

Ayat 17–18 berbicara tentang Firaun:

“Justru untuk itulah Aku membangkitkan engkau, supaya Aku menyatakan kuasa-Ku di dalam engkau.”

Bagi banyak orang, ini terdengar keras. Mengapa Allah mengeraskan hati seseorang? Jawabannya bukan karena Allah menciptakan kejahatan, melainkan karena Ia menyerahkan orang berdosa kepada keinginan hatinya sendiri (Roma 1:24).

Calvin menjelaskan:

“Ketika Allah mengeraskan hati seseorang, Ia tidak menaruh kejahatan baru ke dalam hati itu, tetapi membiarkan dosa yang sudah ada bekerja menurut natur aslinya.”

Jadi, penghakiman Allah terhadap Firaun bukan tindakan sewenang-wenang, melainkan keadilan atas hati yang memang menolak kebenaran.

A.W. Pink menambahkan:

“Jika Allah menahan sebagian manusia dari kehancuran dengan kasih karunia-Nya, itu adalah rahmat. Tetapi jika Ia membiarkan sebagian lain dalam jalan mereka sendiri, itu adalah keadilan.”

Kedaulatan Allah tidak meniadakan keadilan-Nya; justru menegaskan bahwa Allah adalah hakim yang benar dan penuh belas kasihan.

3. Kedaulatan Allah di dalam salib Kristus

Kedaulatan Allah mencapai puncaknya di salib. Di sanalah kejahatan terbesar manusia — penyaliban Anak Allah — digunakan Allah untuk tujuan penebusan terbesar.

Petrus berkata:

“Yesus yang diserahkan menurut maksud dan rencana Allah yang telah ditentukan, kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan orang-orang durhaka.” (Kisah Para Rasul 2:23)

Di satu sisi, manusia bertanggung jawab atas dosa itu; di sisi lain, Allah memegang kendali penuh. Inilah misteri agung kedaulatan dan anugerah.

John Piper menulis:

“Allah paling berdaulat ketika manusia paling berdosa. Salib menunjukkan bahwa tidak ada kejahatan yang dapat menggagalkan rencana penebusan Allah.”
(John Piper, Desiring God)

Maka, kedaulatan Allah bukanlah ancaman, melainkan jaminan bahwa tidak ada peristiwa buruk pun yang di luar kuasa kasih-Nya.

III. RESPON PRAKTIS TERHADAP KEDAULATAN ALLAH

Kedaulatan Allah bukan hanya doktrin untuk diperdebatkan, tetapi untuk dihidupi. Bagaimana kita merespons kedaulatan Allah secara praktis?

1. Merendahkan diri di bawah tangan Allah

Pemahaman akan kedaulatan Allah menghancurkan kesombongan manusia. Kita sadar bahwa semua yang kita miliki berasal dari Dia.

Jonathan Edwards menulis:

“Kesadaran akan kedaulatan Allah menempatkan manusia di debu dan memuliakan Allah di takhta-Nya.”

Sikap rendah hati ini adalah buah dari kasih karunia sejati. Orang yang mengenal kedaulatan Allah tidak mudah mengeluh, karena ia tahu bahwa segala sesuatu datang dari tangan Allah yang penuh kasih.

2. Hidup dalam ketenangan dan kepercayaan penuh

Jika Allah berdaulat, maka tidak ada yang terjadi di luar kendali-Nya.
R.C. Sproul berkata:

“Jika ada satu molekul pun di alam semesta yang tidak berada di bawah kendali Allah, maka kita tidak punya jaminan apa pun bahwa janji-janji-Nya akan digenapi.”

Kebenaran ini memberikan kedamaian batin yang mendalam. Orang Kristen dapat berkata bersama pemazmur:

“Aku akan berbaring dan tidur dengan tenang, sebab Engkau, ya TUHAN, yang membuat aku diam dengan aman.” (Mazmur 4:9)

Kedaulatan Allah adalah dasar dari ketenangan hati di tengah badai hidup.

3. Menyembah Allah dengan penuh hormat dan kagum

Kesadaran akan kedaulatan Allah menuntun kita kepada penyembahan sejati. Kita tidak dapat berhadapan dengan Allah yang Mahakuasa tanpa rasa gentar dan hormat.

John Calvin menegaskan:

“Tidak ada yang lebih menumbuhkan penyembahan sejati selain kesadaran bahwa hidup kita sepenuhnya berada di bawah kendali Allah.”

Maka setiap ibadah bukanlah rutinitas, melainkan respons kagum terhadap kemuliaan Allah yang berdaulat. Gereja Reformed memahami penyembahan sebagai reverentia cum fiducia — kekaguman yang disertai kepercayaan.

4. Menguatkan penginjilan dan doa

Ironisnya, sebagian orang berpikir bahwa kedaulatan Allah membuat doa dan penginjilan tidak perlu. Namun, justru sebaliknya — karena Allah berdaulat, maka kita memiliki jaminan bahwa pelayanan kita tidak sia-sia.

Charles Spurgeon berkata:

“Doktrin pilihan ilahi bukanlah penghalang bagi penginjilan, melainkan pendorongnya. Karena kita tahu Allah akan menyelamatkan umat pilihan-Nya, maka kita memberitakan Injil dengan penuh keyakinan.”

Demikian pula dalam doa: kita berdoa bukan untuk mengubah kehendak Allah, melainkan untuk menyelaraskan hati kita dengan-Nya.

5. Bersyukur dalam segala hal

Orang yang mengerti kedaulatan Allah dapat mengucap syukur di tengah segala situasi, karena ia tahu bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan orang-orang yang mengasihi-Nya (Roma 8:28).

A.W. Pink berkata:

“Iman yang sejati melihat tangan Allah dalam setiap detail kehidupan — dalam suka maupun duka — dan berkata: ‘Jadilah kehendak-Mu.’”

Inilah buah praktis dari doktrin yang agung: sukacita yang kokoh dalam anugerah Allah.

IV. KEDAULATAN ALLAH SEBAGAI PENGHIBURAN BAGI ORANG PERCAYA

1. Dalam penderitaan

Tidak ada penderitaan yang di luar kendali Allah. Setiap air mata dicatat oleh-Nya (Mazmur 56:9). Kedaulatan Allah tidak menjauhkan kita dari penderitaan, tetapi memberi arti di dalamnya.

John Piper berkata:

“Allah tidak pernah mengizinkan penderitaan tanpa maksud untuk membawa kemuliaan yang lebih besar.”

Maka, ketika kita mengalami sakit, kehilangan, atau penganiayaan, kita bisa berkata seperti Ayub:

“Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan.” (Ayub 1:21)

2. Dalam kematian

Bahkan kematian pun tunduk kepada kedaulatan Allah. Tidak satu napas pun berhenti tanpa izin-Nya. Bagi orang percaya, kematian bukan kebetulan, melainkan pintu menuju kemuliaan.

Jonathan Edwards menulis:

“Bagi orang yang mengenal Allah yang berdaulat, kematian bukanlah musuh, tetapi utusan yang membawa jiwa ke rumah Bapa.”

Kedaulatan Allah meniadakan ketakutan akan kematian, karena kita tahu bahwa segala sesuatu berada di bawah kendali kasih-Nya yang kekal.

3. Dalam keselamatan

Akhirnya, kedaulatan Allah menjadi sumber penghiburan terbesar dalam keselamatan.
Jika keselamatan bergantung pada kehendak manusia, maka kita akan kehilangan harapan. Tetapi karena keselamatan bergantung pada kehendak Allah yang kekal, maka kita dapat yakin bahwa kasih karunia-Nya tidak akan gagal.

R.C. Sproul menulis:

“Keselamatan yang dimulai oleh Allah pasti akan diselesaikan oleh Allah. Karena itu, orang percaya dapat beristirahat dalam kepastian kasih karunia.”

Penutup: Allah yang Berdaulat, Kita yang Berserah

Kedaulatan Allah bukanlah alasan untuk pasif, melainkan panggilan untuk percaya dan taat. Allah memerintah atas segala sesuatu, dan kita dipanggil untuk tunduk kepada-Nya dengan iman yang penuh pengharapan.

Sebagaimana Jonathan Edwards menutup khotbah klasiknya:

“Kedaulatan Allah adalah mahkota di atas kepala-Nya dan bantal bagi kepala umat-Nya.”

Ketika dunia tampak kacau, ketika doa-doa kita belum dijawab, ketika hidup terasa tak adil — ingatlah bahwa Allah masih di takhta-Nya. Ia berdaulat, Ia bijaksana, Ia penuh kasih.

Maka, marilah kita berkata bersama Mazmur 115:3:

“Allah kita di sorga, Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya.”

Next Post Previous Post