Mazmur 9:13–14 - Diselamatkan untuk Memuji Nama Tuhan

Mazmur 9:13–14 - Diselamatkan untuk Memuji Nama Tuhan

“Kasihanilah aku, ya TUHAN, lihatlah sengsaraku karena pembenciku, Engkau yang mengangkat aku dari pintu-pintu maut, supaya aku memaklumkan segala puji-Mu di pintu-pintu gerbang puteri Sion, dan bergembira karena penyelamatan dari pada-Mu.”
(Mazmur 9:13–14)

Pendahuluan

Mazmur 9 merupakan ungkapan hati Daud yang sarat dengan rasa syukur, iman, dan pengharapan di tengah pengalaman penindasan. Dalam pasal ini, Daud menyaksikan bagaimana Allah bertindak sebagai Hakim yang adil terhadap bangsa-bangsa yang jahat, dan sebagai Pelindung bagi umat-Nya yang tertindas. Namun dalam Mazmur 9:13–14, Daud menurunkan nadanya dari sorak kemenangan menjadi permohonan pribadi. Ia berbicara dari kedalaman penderitaan, tetapi bukan tanpa pengharapan.

Mazmur ini memperlihatkan ketegangan antara penderitaan dan pujian, antara kesesakan dan penyelamatan, antara lembah maut dan gerbang Sion. Dan melalui ayat ini, kita belajar bahwa kasih karunia Allah yang menyelamatkan dari maut bertujuan agar umat-Nya hidup untuk memuliakan dan memuji Dia.

Sebagaimana dikatakan oleh John Calvin, Mazmur ini menunjukkan “perpaduan antara doa dan pujian, di mana Daud mengingat kesengsaraannya agar kemuliaan Allah makin nyata dalam keselamatannya.”

I. Permohonan yang Bersumber dari Penderitaan (Mazmur 9:13a)

“Kasihanilah aku, ya TUHAN, lihatlah sengsaraku karena pembenciku…”

Doa Daud dimulai dengan seruan penuh kelemahlembutan dan kerendahan hati: “Kasihanilah aku, ya TUHAN.” Permohonan ini menunjukkan kesadaran yang mendalam akan ketidaklayakan diri dan ketergantungan total kepada belas kasihan Allah.

Menurut Matthew Henry, Daud tidak datang kepada Tuhan dengan tuntutan atas dasar jasa, tetapi dengan permohonan atas dasar rahmat. Ia tidak berkata, “Balaskan musuhku,” tetapi “Kasihanilah aku.” Inilah bahasa seorang yang mengenal anugerah.

1. Kasih karunia sebagai dasar doa

Daud tahu bahwa keselamatannya hanya bergantung pada belas kasihan Tuhan. Dalam konteks teologi Reformed, ini mencerminkan doktrin sola gratia — keselamatan semata-mata oleh kasih karunia. Seperti dikatakan R.C. Sproul, doa yang sejati selalu dimulai dari kesadaran akan ketidaklayakan kita di hadapan Allah yang kudus.

Daud tidak menuntut keadilan untuk dirinya, karena ia tahu bahwa keadilan Allah tanpa kasih karunia akan menghukumnya. Ia memohon belas kasihan, bukan karena layak, tetapi karena Allah penuh kasih setia.

2. Penderitaan sebagai panggilan untuk berseru kepada Tuhan

Kata “lihatlah sengsaraku karena pembenciku” menunjukkan bahwa Daud sedang dikepung oleh musuh-musuh yang mengancam hidupnya. Dalam bahasa aslinya, kata “lihatlah” (Ibrani: ra’eh) menunjukkan seruan kepada Allah agar memerhatikan, memperhatikan dengan kasih dan tindakan.

Sebagaimana dikatakan oleh Charles Spurgeon dalam The Treasury of David, “Ketika manusia berpaling dari kita, kita harus memohon agar Tuhan memandang kita. Tatapan kasih Tuhan lebih berarti daripada ribuan dukungan manusia.”

Penderitaan membuat Daud memandang ke atas. Ia tidak mencari simpati manusia, tetapi perhatian Allah. Dalam penderitaan, iman sejati diuji: apakah kita mencari keadilan di bumi, atau kasih karunia dari surga?

II. Kuasa Allah yang Menyelamatkan dari Pintu-Pintu Maut (Mazmur 9:13b)

“Engkau yang mengangkat aku dari pintu-pintu maut…”

Ungkapan ini adalah metafora yang sangat kuat. “Pintu-pintu maut” menggambarkan kondisi hampir mati, situasi tanpa harapan, atau keadaan di ambang kehancuran. Tetapi dari situ, Allah “mengangkat” Daud — sebuah tindakan penyelamatan yang penuh kuasa.

1. Allah yang berdaulat atas kehidupan dan kematian

Dalam teologi Reformed, Allah adalah Tuhan yang berdaulat penuh atas segala sesuatu, termasuk kehidupan dan kematian. Louis Berkhof menulis, “Kedaulatan Allah mencakup setiap aspek kehidupan manusia. Tidak ada kematian tanpa izin-Nya, dan tidak ada hidup yang terlepas dari tangan-Nya.”

Ketika Daud berkata bahwa Allah mengangkatnya dari pintu maut, itu berarti Allah bukan hanya menyelamatkan dari bahaya fisik, tetapi juga menunjukkan kedaulatan-Nya atas hidup Daud secara total. Ia adalah Allah yang memberi hidup dan memelihara hidup hamba-Nya sesuai rencana kekal-Nya.

2. Kasih karunia yang membangkitkan dari kematian rohani

Kata “mengangkat” (Ibrani: dalah) juga berarti menarik keluar dari kedalaman — seperti menimba air dari sumur. Ini menjadi gambaran rohani yang indah tentang karya Allah yang membangkitkan umat-Nya dari kematian dosa kepada kehidupan baru.

John Owen, teolog Puritan besar, menulis bahwa penyelamatan dari maut dalam Perjanjian Lama sering menjadi bayangan dari kebangkitan rohani yang digenapi dalam Kristus. Seperti Daud diselamatkan dari pintu maut, demikian pula kita diangkat dari kematian dosa melalui karya penebusan Kristus.

Karya keselamatan ini bersifat anugerah semata. Tidak ada kekuatan manusia yang bisa mengangkat dirinya dari maut. Seperti Daud, kita hanya bisa berseru, “Kasihanilah aku, ya Tuhan.”

III. Tujuan Keselamatan: Memaklumkan Puji-Pujian kepada Tuhan (Mazmur 9:14a)

“Supaya aku memaklumkan segala puji-Mu di pintu-pintu gerbang puteri Sion...”

Daud memahami bahwa tujuan keselamatan bukan sekadar untuk dirinya sendiri, melainkan agar ia dapat memuliakan Tuhan. Inilah inti teologi Reformed — bahwa segala sesuatu dilakukan soli Deo gloria (hanya bagi kemuliaan Allah).

1. Keselamatan menghasilkan pujian

Menurut John Calvin, “Tidak ada anugerah yang diberikan kepada kita tanpa tujuan agar kita bersyukur kepada Allah.” Dengan kata lain, keselamatan yang sejati pasti menghasilkan ibadah dan pujian.

Daud diselamatkan bukan agar ia berdiam diri, tetapi agar ia menjadi saksi dan penyembah. “Pintu-pintu gerbang puteri Sion” menunjuk kepada tempat berkumpulnya umat Tuhan di Yerusalem. Ini adalah simbol dari komunitas perjanjian — gereja Allah di mana pujian harus dinyatakan secara terbuka.

Charles Spurgeon menambahkan bahwa pujian kepada Allah haruslah publik, bukan hanya pribadi. “Ia yang telah diselamatkan dari maut harus memuji Tuhan di hadapan umat-Nya, agar kasih karunia Allah dikenal luas dan orang lain turut percaya.”

2. Gereja sebagai tempat penyaksian kasih karunia

“Gerbang puteri Sion” juga melambangkan tempat di mana keadilan dan ibadah dinyatakan (lih. Rut 4:1; Amsal 31:23). Di sanalah umat Tuhan menyatakan iman mereka melalui ibadah, firman, dan kesaksian.

Herman Bavinck menulis bahwa ibadah jemaat adalah ekspresi tertinggi dari kehidupan yang ditebus — karena di sanalah kasih karunia Allah dijawab dengan pujian yang penuh syukur.

Dengan demikian, tujuan utama Allah menyelamatkan umat-Nya bukan hanya agar mereka diselamatkan dari bahaya, tetapi agar mereka menjadi alat kemuliaan-Nya di dunia ini.

IV. Sukacita dalam Penyelamatan Tuhan (Mazmur 9:14b)

“...dan bergembira karena penyelamatan daripada-Mu.”

Ayat ini mengakhiri bagian doa Daud dengan nada kemenangan dan sukacita. Setelah diselamatkan dari penderitaan, Daud tidak memuji dirinya atau kekuatannya, tetapi ia bergembira karena penyelamatan dari Tuhan.

1. Sukacita yang berpusat pada Allah

Sukacita Daud bukan karena situasi yang membaik, tetapi karena ia mengenal sumber keselamatannya. Dalam teologi Reformed, sukacita sejati bukanlah emosi sementara yang bergantung pada keadaan, tetapi hasil dari relasi yang benar dengan Allah.

Jonathan Edwards mengatakan bahwa sukacita orang percaya adalah “kenikmatan rohani yang timbul dari keindahan Allah dan karya penebusan-Nya.” Daud bersukacita karena ia telah melihat tangan Tuhan bekerja dalam hidupnya.

2. Sukacita yang melimpah karena anugerah

Sukacita dalam keselamatan tidak bisa dipisahkan dari pengenalan akan anugerah. Semakin seseorang sadar bahwa ia diselamatkan bukan karena layak, semakin besar sukacitanya.

Martyn Lloyd-Jones menulis, “Tidak ada sukacita yang lebih besar bagi jiwa manusia selain menyadari bahwa ia telah diselamatkan oleh kasih karunia yang tidak layak ia terima.”

Daud merasakan kebahagiaan sejati — bukan karena musuhnya binasa, melainkan karena Tuhan menunjukkan kasih setia-Nya yang kekal.

V. Aplikasi Teologis dan Praktis

1. Doa yang sejati dimulai dari kerendahan hati

Mazmur 9:13 mengajarkan bahwa doa sejati selalu dimulai dari permohonan akan belas kasihan. Dalam kehidupan rohani, kita tidak pernah bisa berdiri di hadapan Allah dengan dasar perbuatan baik, melainkan hanya melalui kasih karunia di dalam Kristus.

2. Setiap penderitaan adalah undangan untuk melihat kasih setia Tuhan

Penderitaan bukan tanda bahwa Allah meninggalkan kita, melainkan sarana agar kita makin bergantung kepada-Nya. Seperti Daud, kita dipanggil untuk melihat Tuhan di tengah kesengsaraan.

John Piper sering mengatakan bahwa “Allah paling dimuliakan ketika kita paling puas di dalam-Nya, bahkan di tengah penderitaan.”

3. Tujuan keselamatan adalah kemuliaan Allah, bukan kenyamanan manusia

Daud diselamatkan supaya ia memuji Tuhan. Begitu pula kita ditebus agar hidup kita menjadi pujian bagi kemuliaan-Nya (Efesus 1:12).

Setiap anugerah yang kita terima harus mendorong kita untuk melayani, bersaksi, dan memuliakan Tuhan dalam segala aspek hidup.

4. Sukacita sejati hanya ada dalam keselamatan Allah

Banyak orang mencari kebahagiaan dalam kesuksesan, hubungan, atau kekayaan. Namun sukacita yang sejati hanya ditemukan dalam pengalaman diselamatkan oleh kasih karunia Kristus.

Kesimpulan

Mazmur 9:13–14 membawa kita pada inti kehidupan iman yang sejati. Daud berseru dalam penderitaan, tetapi tidak berhenti di situ. Ia diangkat oleh Allah dari lembah maut, dan keselamatan itu mengubahnya menjadi penyembah dan saksi yang bersukacita.

Inilah jalan hidup orang percaya:

  • Dari penderitaan menuju belas kasihan,

  • Dari lembah maut menuju penyelamatan,

  • Dari ratapan menuju pujian,

  • Dari kegelapan menuju sukacita dalam Tuhan.

Sebagaimana Daud berseru, demikian pula setiap orang yang telah mengalami kasih karunia Kristus dipanggil untuk menyatakan kemuliaan Tuhan di hadapan dunia.

“Kasihanilah aku, ya Tuhan… supaya aku memaklumkan segala puji-Mu di pintu-pintu gerbang puteri Sion.”
Kiranya doa dan pujian Daud menjadi napas hidup setiap anak Allah yang telah diselamatkan oleh kasih karunia-Nya.

Next Post Previous Post