Sejak Kapan Alkitab Itu Tidak Pernah Salah?

𝐏𝐝𝐭. 𝐃𝐫. 𝐒𝐚𝐦𝐮𝐞𝐥 𝐓𝐞𝐫𝐞𝐬𝐢𝐚 𝐆𝐮𝐧𝐚𝐰𝐚𝐧, 𝐌.𝐓𝐡
𝐏𝐄𝐑𝐓𝐀𝐍𝐘𝐀𝐀𝐍 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐌𝐄𝐍𝐘𝐄𝐍𝐓𝐔𝐇 𝐈𝐍𝐓𝐈 𝐁𝐈𝐁𝐋𝐈𝐎𝐋𝐎𝐆𝐈 𝐈𝐍𝐉𝐈𝐋𝐈
Pertanyaan salah satu mahasiswa dalam diskusi teologis Mata Kuliah Teologi Kharismatik-Pentakostal, Program Magister Teologi Jurusan Teologi Sistematika STT RAI Batam, “Sejak kapan Alkitab itu tidak pernah salah?”, merupakan pertanyaan yang sangat mendasar dan penting dalam studi Bibliologi, karena menyentuh inti dari doktrin ketidakbersalahan Alkitab (inerrancy of Scripture). Pertanyaan ini tidak sekadar bersifat apologetis, tetapi juga menyentuh dimensi ontologis dan historis dari pewahyuan ilahi.
Dalam konteks teologi Injili, khususnya dalam tradisi Dispensasional Kharismatik, keyakinan akan ketidakbersalahan Alkitab berakar pada pengakuan bahwa firman Allah adalah penyataan diri Allah yang benar, tidak berubah, dan diilhamkan oleh Roh Kudus. Karena Allah itu benar adanya (Titus 1:2; Bilangan 23:19), maka firman-Nya pun tidak mungkin salah.
𝐊𝐄𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊𝐁𝐄𝐑𝐒𝐀𝐋𝐀𝐇𝐀𝐍 𝐏𝐀𝐃𝐀 𝐒𝐀𝐀𝐓 𝐏𝐄𝐖𝐀𝐇𝐘𝐔𝐀𝐍 𝐃𝐀𝐍 𝐏𝐄𝐍𝐔𝐋𝐈𝐒𝐀𝐍 𝐀𝐒𝐋𝐈 (𝐀𝐔𝐓𝐎𝐆𝐑𝐀𝐏𝐇𝐀)
Ketika para penulis Alkitab menulis firman Tuhan, mereka tidak menulis atas kehendak sendiri, melainkan diilhami (inspired) oleh Roh Kudus. Rasul Paulus menyatakan, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Timotius 3:16).
Kata Yunani yang digunakan di sini adalah θεόπνευστος (theopneustos), yang secara harfiah berarti “dihembuskan oleh Allah”. Ini menandakan bahwa Allah sendiri merupakan sumber dan penjamin kebenaran setiap kata yang diilhamkan. Rasul Petrus menegaskan hal yang sama: “...oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah” (2 Petrus 1:21).
Karena itu, pada saat pewahyuan dan penulisan asli (autographa), Alkitab sepenuhnya benar dan tidak mengandung kesalahan sedikit pun, baik dalam aspek rohani, moral, maupun historis. Mazmur 12:7 menyatakan, “Firman TUHAN itu murni, bagaikan perak yang dimurnikan tujuh kali dalam dapur peleburan.”
Dengan demikian, sejak firman Allah itu dihembuskan Allah dan ditulis pertama kali, Alkitab sudah dan tetap benar sepenuhnya, sebab Allah yang menjadi sumbernya tidak dapat salah (Deus non potest errare).
𝐊𝐄𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊𝐁𝐄𝐑𝐒𝐀𝐋𝐀𝐇𝐀𝐍 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐃𝐈𝐉𝐀𝐆𝐀 𝐎𝐋𝐄𝐇 𝐏𝐄𝐌𝐄𝐋𝐈𝐇𝐀𝐑𝐀𝐀𝐍 𝐈𝐋𝐀𝐇𝐈
Meskipun naskah asli (autographs) tidak lagi ada, Allah memelihara isi dan pesan firman-Nya melalui ribuan naskah salinan (manuskrip) yang masih kita miliki hingga hari ini. Disiplin kritik teks (textual criticism) menunjukkan bahwa perbedaan antar-manuskrip bersifat minor dan tidak mengubah pesan teologis inti Alkitab.
Pemeliharaan ilahi (divine preservation) ini menjadi bukti bahwa Roh Kudus bukan hanya mengilhamkan penulisan Firman, tetapi juga menjaga kemurniannya sepanjang sejarah penyalinan dan penerjemahan. Karena itu, ketidakbersalahan Alkitab tetap berlaku secara fungsional bagi naskah-naskah yang kita miliki sekarang, sejauh penerjemahannya setia terhadap teks asli.
Dengan demikian, doktrin ketidakbersalahan tidak hanya menunjuk pada masa lalu (autographa), tetapi juga pada karya pemeliharaan Allah yang aktif di sepanjang sejarah kanon dan tradisi penyalinan firman-Nya.
𝐊𝐄𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊𝐁𝐄𝐑𝐒𝐀𝐋𝐀𝐇𝐀𝐍 𝐃𝐀𝐋𝐀𝐌 𝐒𝐄𝐌𝐔𝐀 𝐊𝐄𝐁𝐄𝐍𝐀𝐑𝐀𝐍 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐃𝐈𝐍𝐘𝐀𝐓𝐀𝐊𝐀𝐍𝐍𝐘𝐀
Ketidakbersalahan Alkitab tidak terbatas hanya pada hal-hal rohani atau soteriologis, tetapi mencakup seluruh aspek kebenaran yang dinyatakan, baik teologis, moral, maupun historis. Fakta-fakta yang disajikan Alkitab adalah benar; prinsip-prinsip etika yang diajarkannya adalah benar; dan nubuat-nubuat yang diucapkannya terbukti benar ketika digenapi.
Yesus Kristus sendiri menegaskan otoritas dan kebenaran Alkitab dengan berkata: “Firman-Mu adalah kebenaran” (Yohanes 17:17).
Dengan demikian, ketidakbersalahan Alkitab bersifat menyeluruh (plenary inerrancy), artinya semua bagian Kitab Suci (baik sejarah, ajaran, maupun nubuat) dinyatakan benar sejauh dimengerti dalam konteksnya masing-masing.
𝐊𝐀𝐏𝐀𝐍 𝐀𝐋𝐊𝐈𝐓𝐀𝐁 𝐃𝐀𝐏𝐀𝐓 𝐃𝐈𝐒𝐀𝐋𝐀𝐇𝐏𝐀𝐇𝐀𝐌𝐈
Penting untuk membedakan antara Alkitab yang tidak pernah salah dan manusia yang dapat salah dalam menafsirkan Alkitab. Kesalahan muncul bukan dari teks ilahi, tetapi dari cara kita memahami dan menafsirkannya. Kesalahpahaman teologis dapat terjadi karena:
(1) Pembacaan teks yang keluar dari konteks historis dan sastra.
(2) Pengabaian terhadap genre dan gaya bahasa Alkitab (naratif, puisi, apokaliptik, dan sebagainya). (3) Penafsiran yang tidak bergantung pada bimbingan Roh Kudus (1 Korintus 2:13-14).
Dalam teologi Kharismatik-Pentakostal, iluminasi Roh Kudus adalah aspek penting untuk memahami firman Allah yang tidak salah itu. Roh Kudus bukan hanya sumber inspirasi, tetapi juga Penuntun yang menyingkapkan kebenaran kepada Gereja agar tidak salah menafsirkan kebenaran yang tidak pernah salah.
𝐊𝐄𝐒𝐈𝐌𝐏𝐔𝐋𝐀𝐍 𝐓𝐄𝐎𝐋𝐎𝐆𝐈𝐒
Dari keseluruhan penjelasan di atas dapat disimpulkan:
(1) Alkitab tidak pernah salah sejak saat ditulis pertama kali (autographa), karena diilhami oleh Roh Kudus dan dihembuskan oleh Allah sendiri.
(2) Pemeliharaan ilahi memastikan bahwa pesan dan makna firman Allah tetap murni meskipun melalui proses penyalinan dan penerjemahan.
(3) Ketidakbersalahan Alkitab mencakup seluruh kebenaran yang diajarkannya, baik spiritual, moral, historis, maupun teologis. (4) Kesalahan hanya dapat muncul dalam penafsiran manusia, bukan dalam Firman itu sendiri.
Dengan demikian, sejak awal pewahyuan ilahi hingga kini, Alkitab tetap benar, berotoritas, dan dapat dipercaya sepenuhnya. Ketidakbersalahan Alkitab bukanlah sekadar doktrin formal, tetapi pernyataan iman bahwa Allah yang menyatakan diri-Nya dalam firman adalah Allah yang tidak pernah salah dan setia memelihara kebenaran-Nya bagi setiap generasi.
𝐈𝐌𝐏𝐋𝐈𝐊𝐀𝐒𝐈 𝐁𝐀𝐆𝐈 𝐓𝐄𝐎𝐋𝐎𝐆𝐈 𝐊𝐇𝐀𝐑𝐈𝐒𝐌𝐀𝐓𝐈𝐊-𝐏𝐄𝐍𝐓𝐀𝐊𝐎𝐒𝐓𝐀𝐋
Dalam tradisi Injili Dispensasional Kharismatik, keyakinan akan ketidakbersalahan Alkitab memiliki implikasi praktis yang sangat penting. Roh Kudus yang sama yang mengilhamkan penulis Alkitab juga tinggal di dalam Gereja, menuntun umat Allah untuk menghidupi firman Allah yang tidak salah itu dalam kuasa-Nya.
Otoritas tertinggi dalam kehidupan Gereja bukanlah pengalaman, tradisi, atau karunia rohani, tetapi firman Allah yang tertulis. Semua pengalaman rohani harus diuji berdasarkan Alkitab yang tidak pernah salah. Sebab hanya firman Allah yang tertulis itulah dasar iman yang kokoh dan penuntun bagi Gereja di setiap zaman. “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi firman-Ku tidak akan berlalu.” (Matius 24:35)