Kisah Para Rasul 8:5 - Pemberitaan Kristus yang Sejati di Samaria

Kisah Para Rasul 8:5 - Pemberitaan Kristus yang Sejati di Samaria

“Dan Filipus pergi ke kota Samaria dan memberitakan Mesias kepada mereka.”
(Kisah Para Rasul 8:5)

Pendahuluan

Kisah Para Rasul pasal 8 menandai salah satu titik balik penting dalam sejarah Gereja mula-mula. Setelah kemartiran Stefanus dan penganiayaan besar di Yerusalem, para murid tersebar ke berbagai daerah (Kis. 8:1). Namun, dari kehancuran dan penderitaan itu, Allah menumbuhkan benih Injil yang baru di tanah-tanah yang sebelumnya gersang. Salah satu tokoh yang muncul dengan penuh kuasa adalah Filipus, seorang diaken yang penuh dengan Roh Kudus dan hikmat (Kis. 6:3,5).

Ayat 5 menyatakan: “Filipus pergi ke kota Samaria dan memberitakan Mesias kepada mereka.” Ini adalah momen yang sangat signifikan, bukan hanya karena Injil diberitakan di luar batas geografis Yerusalem, tetapi juga karena tembok pemisah antara orang Yahudi dan Samaria mulai runtuh oleh kuasa Injil Kristus.

Di sini kita melihat tiga unsur utama yang menjadi inti dari misi Kristen Reformed sejati:

  1. Ketaatan misioner terhadap panggilan Allah.

  2. Pusat pemberitaan yang Kristosentris.

  3. Kuasa Injil yang menembus batas sosial dan budaya.

I. KETAATAN MISIONER FILIPUS (Kisah 8:5a)

“Dan Filipus pergi ke kota Samaria...”

1. Konteks historis dan teologis

Sebelum peristiwa ini, para murid mengalami penganiayaan hebat setelah kematian Stefanus. Banyak yang melarikan diri dari Yerusalem. Namun, di dalam rencana kedaulatan Allah, penderitaan itu bukanlah akhir, melainkan sarana untuk memperluas Kerajaan Allah.

John Calvin dalam komentarnya menulis:

“Ketika orang-orang percaya dihamburkan oleh badai penganiayaan, Allah menabur mereka sebagai benih Injil di tanah-tanah baru.”
(Calvin, Commentary on Acts 8:5)

Dalam pandangan Reformed, semua peristiwa dalam sejarah—termasuk penderitaan—berada di bawah providensia Allah yang berdaulat. Filipus tidak pergi karena ambisi pribadi, tetapi karena tangan Allah yang menuntunnya melalui situasi yang tampak tragis.

R.C. Sproul menegaskan,

“Tidak ada bagian dari sejarah keselamatan yang terjadi secara kebetulan. Setiap langkah penginjilan adalah bagian dari rencana penebusan Allah yang kekal.”

Dengan demikian, keberangkatan Filipus ke Samaria adalah bukti nyata bahwa misi Allah melampaui batas kenyamanan manusia. Allah sering kali mengguncang kita keluar dari zona aman agar kita menjadi saksi Kristus di tempat yang Ia kehendaki.

2. Karakter Filipus sebagai pelayan Injil

Filipus bukan rasul utama, bukan tokoh besar seperti Petrus atau Yohanes, namun ia adalah seorang diaken yang setia dan dipenuhi Roh Kudus. Ini menunjukkan bahwa pelayanan Injil bukan monopoli pejabat rohani tertentu, tetapi tanggung jawab setiap orang percaya yang hidup di bawah kuasa Roh Kudus.

Matthew Henry berkata:

“Filipus tidak menunggu panggilan resmi dari Yerusalem, karena ia sudah menerima panggilan dari Sorga melalui Roh Kudus yang mendorongnya untuk bersaksi.”
(Matthew Henry, Commentary on Acts 8:5)

Dalam teologi Reformed, hal ini menegaskan prinsip “vocatio interna” — panggilan batin yang berasal dari Roh Kudus kepada hamba-hamba-Nya untuk melayani. Filipus bukan bergerak oleh inisiatif manusia, melainkan oleh dorongan ilahi.

3. Ketaatan yang mengatasi prasangka

Samaria bukanlah tempat yang mudah untuk dikunjungi oleh orang Yahudi. Hubungan antara orang Yahudi dan Samaria penuh dengan kebencian turun-temurun. Tetapi Filipus menembus tembok permusuhan itu karena ia mengerti bahwa Injil adalah untuk semua bangsa.

John Stott menulis:

“Filipus mengerti bahwa Injil Yesus Kristus adalah kabar baik untuk semua orang, bukan hanya untuk kelompok etnis atau religius tertentu.”
(John Stott, The Message of Acts)

Ketaatan sejati tidak memilih-milih ladang pelayanan. Filipus menjadi contoh bagi kita bahwa kesetiaan kepada Kristus menuntut keberanian untuk pergi kepada mereka yang dianggap “tidak layak” oleh dunia.

II. PEMBERITAAN YANG KRISTOSENTRIS (Kisah 8:5b)

“...dan memberitakan Mesias kepada mereka.”

1. Isi pemberitaan: Kristus

Bagian ini sangat penting: Filipus tidak memberitakan moralitas, tidak memberitakan hukum, tidak memberitakan pengalaman pribadi, tetapi memberitakan Kristus.

F. F. Bruce menegaskan:

“Pesan utama Gereja mula-mula bukanlah etika atau reformasi sosial, tetapi pribadi dan karya Yesus Kristus sebagai Mesias.”
(F.F. Bruce, The Book of Acts)

Ini adalah inti teologi Reformed: Kristosentrisme. Injil bukan sekadar ajaran moral, melainkan pewartaan tentang pribadi Yesus Kristus yang mati dan bangkit untuk menebus manusia berdosa.

Calvin menulis:

“Kristus adalah pusat dari seluruh Kitab Suci. Maka pemberitaan yang sejati harus membawa manusia kepada Dia.”
(Calvin, Institutes, II.xvi.19)

2. Arti “memberitakan Mesias”

Kata Yunani yang digunakan di sini adalah kerusso ton Christon — artinya “memproklamasikan Kristus”. Ini bukan sekadar mengajar, melainkan menyatakan dengan otoritas bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan.

John Owen menulis bahwa tugas utama gereja adalah “mengangkat Kristus di atas segala nama, agar setiap hati tunduk pada otoritas-Nya yang ilahi.”

Filipus tidak menyesuaikan pesan Injil untuk menyenangkan pendengar Samaria. Ia tidak menurunkan standar kebenaran demi diterima. Ia memberitakan Kristus sebagaimana adanya — Juruselamat yang datang untuk menebus orang berdosa.

3. Kristus sebagai penggenapan seluruh janji Allah

Orang Samaria memiliki tradisi religius yang bercampur antara Yudaisme dan penyembahan berhala. Namun mereka tetap menantikan Mesias (Yoh. 4:25). Maka, ketika Filipus memberitakan Yesus sebagai Mesias, ia sedang menggenapi kerinduan rohani mereka dengan kebenaran Injil.

Matthew Henry mencatat:

“Filipus tidak membawa agama baru, melainkan penggenapan dari janji-janji Allah yang telah lama mereka nantikan.”

Dalam terang teologi Reformed, Kristus adalah pusat dari seluruh rencana penebusan. Ia adalah “Yesus dari Nazaret” yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama, Anak Allah yang datang untuk mendamaikan manusia dengan Bapa.

Dengan demikian, pemberitaan Filipus bukan sekadar informasi religius, melainkan revelasi redemptif — wahyu tentang karya penebusan Allah yang digenapi dalam Kristus.

4. Prinsip teologis Reformed dalam pemberitaan Injil

Teologi Reformed menegaskan bahwa pemberitaan Kristus adalah sarana utama keselamatan. Paulus berkata:

“Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17)

R.C. Sproul menjelaskan:

“Tidak ada keselamatan tanpa pewartaan Injil. Karena itu, pusat dari setiap pelayanan gereja haruslah khotbah Kristosentris.”

Filipus bukan sekadar menyampaikan ide, tetapi menyalurkan kuasa Roh Kudus melalui pemberitaan Firman. Di sinilah kita melihat harmoni antara Firman dan Roh, dua aspek yang selalu berjalan bersama dalam pandangan Reformed.

III. KUASA INJIL YANG MENEMBUS BATAS (Kisah 8:6-8)

“Orang banyak dengan bulat hati mendengarkan apa yang dikatakan oleh Filipus ketika mereka mendengar dan melihat tanda-tanda yang diadakannya.” (Kis. 8:6)

1. Respons orang Samaria terhadap Injil

Kuasa Injil terbukti nyata. Orang Samaria mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan banyak yang percaya. Dalam konteks sosial, ini adalah mujizat besar. Bangsa yang terpecah karena kebencian kini disatukan oleh Injil Kristus.

John Stott menulis:

“Ketika Injil diberitakan dengan setia, tembok permusuhan sosial dan etnis akan runtuh oleh kasih karunia Allah.”

Kuasa Injil bukan hanya menyembuhkan tubuh (melalui mujizat Filipus), tetapi juga menyembuhkan hubungan yang rusak dan hati yang keras. Injil selalu membawa rekonsiliasi, baik secara vertikal dengan Allah maupun horizontal dengan sesama.

2. Mujizat sebagai konfirmasi Firman

Tanda-tanda yang dilakukan Filipus bukanlah tujuan, melainkan sarana konfirmasi bahwa pesannya berasal dari Allah. F.F. Bruce menyebut mujizat-mujizat ini sebagai divine credentials — bukti ilahi yang mengesahkan pewartaan Injil.

Calvin menulis:

“Mujizat adalah segel dari Firman, bukan penggantinya. Roh Kudus memakai tanda-tanda itu untuk meneguhkan hati manusia terhadap kebenaran Injil.”

Dengan demikian, Reformed menolak segala bentuk pelayanan yang berfokus pada mujizat tanpa Firman. Mujizat sejati selalu menunjuk kepada Kristus, bukan kepada pelayannya.

3. Sukacita sejati sebagai buah Injil

Ayat 8 berkata, “Dan ada banyak sukacita dalam kota itu.”
Ini bukan sukacita duniawi, melainkan sukacita rohani karena keselamatan yang diterima. Sukacita ini adalah bukti karya Roh Kudus di hati orang percaya.

John Owen menulis:

“Sukacita sejati muncul ketika Kristus berdiam dalam hati seseorang melalui iman. Dunia tidak dapat memberikannya, dan dunia tidak dapat mengambilnya.”

Inilah buah Injil yang sejati — bukan kemakmuran, bukan keberhasilan materi, tetapi sukacita yang kekal dalam persekutuan dengan Kristus.

IV. APLIKASI TEOLOGIS DAN PRAKTIS

1. Allah memakai penderitaan untuk memperluas Kerajaan-Nya

Seperti Filipus yang diutus karena penganiayaan, demikian pula Allah sering memakai penderitaan untuk mengarahkan Gereja kepada misi yang lebih besar. Dalam providensia-Nya, tidak ada peristiwa sia-sia.

Seorang teolog Reformed modern, Sinclair Ferguson, berkata:

“Sering kali, Allah menulis rencana misi-Nya di atas halaman penderitaan umat-Nya.”

Maka, ketika gereja menghadapi kesulitan, jangan mengira Allah meninggalkan kita. Justru di saat itulah Ia sedang menumbuhkan sesuatu yang lebih besar dari yang dapat kita lihat.

2. Pusat dari pelayanan gereja haruslah Kristus

Kisah Filipus mengingatkan kita bahwa pelayanan sejati bukanlah tentang program, popularitas, atau pengalaman spiritual, tetapi tentang Kristus yang diberitakan.

Jika gereja kehilangan fokus Kristosentrisnya, maka ia kehilangan identitas sejatinya. R.C. Sproul berkata dengan tegas:

“Gereja tanpa Kristus bukanlah gereja, melainkan sekadar organisasi religius.”

Kita harus kembali pada prinsip Reformasi: Sola Scriptura, Solus Christus, Sola Gratia, Sola Fide, Soli Deo Gloria.

3. Injil harus menembus batas sosial dan etnis

Filipus pergi ke Samaria, melampaui batas kebudayaan dan sejarah permusuhan. Injil tidak boleh dibatasi oleh prasangka. Gereja dipanggil untuk melayani semua orang tanpa pandang bulu.

John Stott menegaskan:

“Gereja yang menolak keluar dari tembok sosialnya sendiri belum mengerti Injil.”

Setiap orang percaya dipanggil menjadi saksi Kristus di tempat kerja, di lingkungan, dan bahkan di tengah kelompok yang berbeda dari dirinya.

4. Tanda kuasa Roh Kudus adalah transformasi hidup, bukan sekadar mujizat

Filipus melakukan mujizat, tetapi yang paling besar adalah perubahan hati orang Samaria. Reformed menekankan bahwa bukti utama kehadiran Roh Kudus adalah kelahiran baru dan pertobatan sejati, bukan manifestasi spektakuler.

5. Sukacita Injil sebagai tanda kehidupan baru

Sukacita rohani adalah tanda bahwa seseorang telah mengalami anugerah keselamatan. Dunia mencari kebahagiaan dalam hal-hal fana, tetapi orang percaya menemukan sukacita dalam Kristus yang hidup.

Thomas Watson, seorang Puritan Reformed, menulis:

“Orang berdosa tertawa menuju kebinasaan, tetapi orang kudus menangis menuju sukacita kekal.”

V. PENUTUP

Kisah Para Rasul 8:5 bukan sekadar catatan sejarah, tetapi cermin dari panggilan misi gereja sepanjang masa. Dari ayat ini kita belajar bahwa:

  • Filipus taat kepada panggilan Allah, bahkan di tengah penganiayaan.

  • Ia memberitakan Kristus, bukan hal lain.

  • Injil menembus batas, membawa sukacita dan keselamatan sejati.

Calvin menutup komentarnya atas bagian ini dengan kalimat yang agung:

“Ketika Kristus diberitakan, kerajaan-Nya pasti akan meluas, karena Firman-Nya adalah benih kehidupan yang tidak dapat mati.”

Kiranya kita, seperti Filipus, menjadi pelayan yang setia memberitakan Kristus di tengah dunia yang haus akan kebenaran.

Next Post Previous Post