Sukacita yang Lahir dari Persekutuan dengan Allah

Pendahuluan
Mazmur 37 ditulis oleh Daud sebagai mazmur hikmat untuk menguatkan orang benar yang hidup di tengah ketidakadilan dunia. Ayat ke-4, “Dan bergembiralah karena TUHAN, maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu,” mengandung rahasia mendalam tentang kehidupan rohani yang penuh damai dan sukacita di dalam Allah.
Charles Haddon Spurgeon, dalam bukunya Gleanings Among the Sheaves, menulis bahwa ayat ini adalah “mutiara dari kebun janji Allah.” Ia melihatnya bukan sebagai janji untuk memuaskan keinginan egois manusia, melainkan sebagai janji transformasi hati — bahwa ketika seseorang benar-benar bersukacita dalam Tuhan, maka keinginannya pun diubah menjadi keinginan yang selaras dengan hati Allah sendiri.
Khotbah ini akan menelusuri ayat ini dalam tiga bagian besar:
-
Arti sejati dari “bergembira karena TUHAN”
-
Hubungan antara kesukaan rohani dan kehendak Allah
-
Janji ilahi: “Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu”
Seluruh penjelasan ini akan kita gali berdasarkan pandangan Spurgeon dalam Gleanings Among the Sheaves, dengan peneguhan dari teolog-teolog Reformed seperti John Calvin, Jonathan Edwards, Herman Bavinck, dan John Piper.
I. Bergembira karena TUHAN: Sumber Sukacita yang Murni
1. Sukacita sejati lahir dari hubungan, bukan keadaan
Spurgeon menulis:
“Delight yourself not merely in what the Lord gives, but in who the Lord is. Joy in the Giver, not in the gifts.”
(“Bergembiralah bukan hanya atas apa yang Tuhan berikan, tetapi atas siapa Tuhan itu sendiri. Bersukacitalah dalam Pemberi, bukan dalam pemberian.”)
Menurut Spurgeon, banyak orang Kristen mencari sukacita dari berkat duniawi, padahal sukacita sejati adalah hasil dari persekutuan intim dengan Allah. Mazmur 37:4 menekankan objek sukacita — “karena TUHAN,” bukan karena berkat-Nya.
John Calvin dalam tafsirnya atas Mazmur ini menulis bahwa Daud mengundang umat untuk menempatkan seluruh kesenangan mereka dalam Allah, bukan dalam keberhasilan duniawi. Calvin berkata:
“Our joy must be founded upon God’s favor, not upon earthly prosperity.”
(“Sukacita kita harus berdiri di atas kasih karunia Allah, bukan pada kemakmuran duniawi.”)
Artinya, ketika hati manusia disandarkan pada Tuhan, maka kebahagiaan tidak tergantung pada situasi luar. Inilah kebahagiaan yang kekal dan tidak dapat dicuri oleh penderitaan.
2. Sukacita sebagai ekspresi iman yang hidup
Dalam pandangan Reformed, iman sejati selalu menghasilkan sukacita rohani. Jonathan Edwards dalam Religious Affections menulis bahwa tanda utama seseorang dilahirkan kembali adalah affection yang baru terhadap Allah — hati yang mencintai, menikmati, dan bersukacita dalam Dia.
Ia menulis:
“True religion, in great part, consists in holy affections.”
(“Agama sejati, pada dasarnya, terdiri dari kasih dan sukacita kudus terhadap Allah.”)
Jadi, ketika Mazmur 37:4 memerintahkan kita “bergembira karena Tuhan”, itu bukan sekadar dorongan moral, tetapi tanda kehidupan rohani yang sejati. Orang yang telah mengalami kasih karunia tidak bisa tidak bersukacita dalam Pribadi Allah yang menjadi sumber hidupnya.
3. Sukacita dalam Tuhan menumbuhkan ketenangan di tengah dunia
Spurgeon dalam Gleanings Among the Sheaves mengaitkan Mazmur 37:4 dengan ayat 1–3 dari pasal yang sama: “Jangan marah karena orang yang berbuat jahat.” Ia menulis bahwa kegelisahan terhadap dunia akan hilang bila hati kita dipenuhi oleh kesukaan akan Tuhan.
“When your heart is full of the Lord, there is no room for fretfulness.”
(“Ketika hatimu dipenuhi oleh Tuhan, tidak ada ruang bagi kegelisahan.”)
Inilah salah satu prinsip kehidupan Kristen yang dalam: damai dan sukacita bukan hasil menghindari masalah, tetapi hasil memusatkan hati kepada Allah yang kekal.
John Piper — seorang teolog Reformed kontemporer — sering merangkum ini dalam teologi “Christian Hedonism”-nya:
“God is most glorified in us when we are most satisfied in Him.”
(“Allah paling dimuliakan dalam diri kita ketika kita paling puas dalam Dia.”)
Mazmur 37:4, bagi Piper, adalah dasar dari konsep itu: sukacita dalam Tuhan bukan pilihan tambahan, tetapi tugas utama orang percaya — sebab hanya melalui itu Allah dimuliakan sepenuhnya.
II. Sukacita yang Menyelaraskan Keinginan Hati dengan Kehendak Allah
1. Hati manusia diubahkan oleh apa yang ia nikmati
Ketika seseorang bersukacita dalam Tuhan, sesuatu yang radikal terjadi: objek kesenangannya berubah. Ia tidak lagi mengejar kesenangan dosa, melainkan menginginkan hal-hal yang memuliakan Tuhan.
Spurgeon berkata:
“To delight in God is to have a heart that loves what He loves.”
(“Bergembira dalam Allah berarti memiliki hati yang mengasihi apa yang Ia kasihi.”)
Inilah inti dari janji Mazmur 37:4 — bukan bahwa Tuhan akan memenuhi semua keinginan kita yang lama, melainkan bahwa Ia mengubah keinginan itu.
Herman Bavinck dalam Reformed Dogmatics menjelaskan bahwa kasih karunia tidak hanya mengampuni dosa, tetapi juga memperbarui seluruh disposisi batin manusia. Sukacita dalam Tuhan berarti hati yang selaras dengan kehendak Allah.
“Grace does not destroy nature, but renews it to love what is truly good.”
(“Kasih karunia tidak menghancurkan kodrat manusia, tetapi memperbaruinya untuk mengasihi apa yang sungguh baik.”)
2. Sukacita dalam Tuhan sebagai bentuk ketaatan aktif
Mazmur 37:4 bukanlah janji pasif, melainkan perintah aktif. Kata “bergembiralah” (Ibrani: ‘anag’) berarti “menikmati dengan kelembutan, berkenan dengan kasih.” Jadi ini bukan sekadar perasaan, tetapi tindakan kehendak — memilih untuk berpusat pada Tuhan sebagai kesenangan tertinggi.
John Owen dalam Communion with God menulis bahwa persekutuan dengan Allah melibatkan tiga aspek: pengenalan, kasih, dan kesukaan. Kesukaan (delight) adalah buah tertinggi dari persekutuan itu. Tanpa sukacita, iman menjadi dingin; dengan sukacita, ketaatan menjadi manis.
“He who delights in God will find obedience no burden.”
(“Siapa yang bersukacita dalam Allah akan menemukan bahwa ketaatan bukan beban.”)
3. Keinginan yang diubahkan membawa keselarasan rohani
Ketika hati seseorang dipenuhi sukacita ilahi, keinginannya pun menjadi refleksi dari hati Allah. Ia tidak lagi memohon demi hawa nafsu (Yakobus 4:3), melainkan karena ia rindu kehendak Tuhan jadi di bumi seperti di surga.
Spurgeon menulis dalam Gleanings Among the Sheaves:
“He who delights in God will ask nothing that is contrary to God’s will, for God’s will has become his delight.”
(“Ia yang bergembira dalam Allah tidak akan meminta sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah, sebab kehendak Allah telah menjadi kesukaannya.”)
Inilah alasan mengapa janji berikutnya — “Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu” — tidak bisa disalahpahami sebagai jaminan materi, tetapi janji bahwa hati yang diubahkan akan menerima penggenapan keinginannya dalam Tuhan sendiri.
III. Janji Ilahi: Allah Memberikan Keinginan Hati yang Selaras dengan-Nya
1. Allah tidak sekadar memberi apa yang kita mau — Ia memberi diri-Nya
Mazmur 37:4 bukan hanya janji berkat, tetapi janji persekutuan. Ketika seseorang bergembira dalam Tuhan, Tuhan memberikan keinginan hatinya, karena keinginan itu sekarang adalah Allah sendiri.
Spurgeon berkata:
“The desires of the renewed heart are the desires of God’s heart; hence they shall surely be fulfilled.”
(“Keinginan hati yang diperbarui adalah keinginan hati Allah; sebab itu pasti akan digenapi.”)
Ini selaras dengan doa Agustinus yang terkenal:
“Ama Deum et fac quod vis” — “Kasihilah Tuhan dan lakukanlah apa yang engkau kehendaki.”
Sebab ketika hati sudah dipenuhi kasih kepada Tuhan, maka apa yang dikehendaki pasti sejalan dengan kehendak-Nya.
2. Pemenuhan janji ini bersifat progresif dan eskatologis
Menurut teolog Reformed Geerhardus Vos, sukacita dan pemenuhan janji Allah selalu memiliki dua dimensi: kini dan nanti (already and not yet). Allah sudah memenuhi sebagian keinginan kita melalui persekutuan dengan Kristus di dunia ini, namun kepenuhan sejatinya baru terjadi di kekekalan.
Jadi, Mazmur 37:4 adalah janji yang dimulai di bumi tetapi disempurnakan di surga. Orang yang bergembira dalam Tuhan akan menikmati kebahagiaan sejati — meskipun sementara masih berjuang, ia memiliki “cicipan sorga” di dunia ini.
3. Penggenapan tertinggi: Kristus sebagai jawaban dari semua kerinduan
Spurgeon menulis dalam Gleanings Among the Sheaves:
“All the desires of the sanctified soul find their center in Christ; He is the joy, the portion, the heaven of the believer.”
(“Segala keinginan jiwa yang disucikan menemukan pusatnya dalam Kristus; Dialah sukacita, bagian, dan surga bagi orang percaya.”)
Ketika Tuhan berkata Ia akan memberikan keinginan hati kita, Ia sebenarnya memberikan Kristus sendiri — Pribadi yang menjadi jawaban atas segala kerinduan terdalam manusia.
Seperti dikatakan oleh Paulus:
“Sebab bagiku hidup adalah Kristus” (Filipi 1:21).
Itulah inti dari iman Reformed — bahwa semua janji Allah “ya” dan “amin” di dalam Kristus (2 Korintus 1:20).
IV. Aplikasi Praktis Bagi Kehidupan Kristen
1. Periksa di mana sumber sukacitamu
Pertanyaan pertama bagi setiap orang percaya adalah: Di mana aku mencari kesenangan?
Apakah sukacitamu bergantung pada situasi, keberhasilan, atau penerimaan manusia? Mazmur 37:4 memanggil kita untuk menukar semua sumber sukacita palsu itu dengan satu sumber sejati — Tuhan sendiri.
Spurgeon menulis:
“You will never find rest till you find your all in God.”
(“Engkau tidak akan pernah menemukan ketenangan sampai engkau menemukan segalanya dalam Allah.”)
2. Latih diri untuk bersukacita dalam Tuhan setiap hari
Sukacita rohani bukan perasaan spontan, tetapi hasil latihan rohani: membaca Firman, berdoa, menyembah, dan merenungkan kasih setia Tuhan. Ketika kita menatap Kristus, hati kita akan perlahan diubah untuk menikmati Dia.
John Owen menyebut ini sebagai “the work of contemplation” — pekerjaan batin untuk mengarahkan hati kepada keindahan Kristus.
3. Jangan takut jika keinginanmu tidak segera dikabulkan
Ketika Allah menunda jawaban doa, Ia sedang mengajar kita menikmati Dia lebih dulu. Sering kali Allah tidak memberi yang kita minta karena Ia ingin memberi yang lebih besar — diri-Nya sendiri.
Spurgeon berkata:
“God’s delays are not denials; they are the strengthening of desire.”
(“Penundaan Allah bukan penolakan; itu cara-Nya memperdalam kerinduan.”)
4. Jadilah saksi sukacita ilahi di dunia yang gelap
Dunia kita haus akan sukacita sejati, tetapi mencarinya dalam kesenangan yang fana. Orang Kristen yang bergembira dalam Tuhan menjadi saksi hidup bahwa hanya di dalam Kristus ada kepuasan sejati.
R.C. Sproul pernah berkata:
“The happiest people are those who have made God their treasure.”
(“Orang yang paling bahagia adalah mereka yang menjadikan Allah sebagai harta mereka.”)
V. Penutup: Sukacita yang Tidak Dapat Dirampas
Mazmur 37:4 bukan sekadar nasihat untuk bahagia, tetapi panggilan untuk menemukan pusat kebahagiaan sejati dalam Allah sendiri.
Spurgeon menulis di akhir salah satu renungannya:
“When the Lord is your delight, your desires are already fulfilled; for you have found the Fountain of all good.”
(“Ketika Tuhan menjadi kesukaanmu, keinginanmu sebenarnya sudah terpenuhi; sebab engkau telah menemukan Sumber dari segala kebaikan.”)
Inilah puncak dari kehidupan rohani menurut teologi Reformed: Allah adalah tujuan, bukan sarana. Dan ketika kita belajar menikmati Dia, maka seluruh hidup — baik penderitaan maupun berkat — menjadi jalan menuju kemuliaan yang lebih besar.