Mazmur 9:11–12 - Tuhan yang Tidak Melupakan Orang Tertindas

“Bernyanyilah bagi TUHAN, yang bersemayam di Sion, masyhurkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa, sebab Ia yang menuntut balas karena darah, mengingat mereka, dan tidak melupakan teriakan orang-orang yang tertindas.” (Mazmur 9:11–12)
Pendahuluan
Mazmur 9 merupakan salah satu mazmur pujian Daud yang sarat dengan teologi tentang keadilan Allah. Di tengah konteks dunia yang penuh dengan ketidakadilan, penderitaan orang benar, dan keangkuhan musuh, Daud memuji Tuhan sebagai Hakim yang adil dan Penebus bagi yang tertindas.
Dalam dua ayat ini, yaitu Mazmur 9:11–12, Daud mengundang umat Allah untuk menyanyikan pujian bagi TUHAN karena dua alasan besar:
-
Allah bersemayam di Sion—menunjukkan pemerintahan dan kehadiran-Nya di tengah umat-Nya.
-
Allah mengingat dan menuntut balas atas darah orang tertindas—menunjukkan keadilan dan kesetiaan-Nya terhadap umat yang menderita.
Kedua hal ini menyingkapkan dua sisi dari karakter Allah: keagungan-Nya sebagai Raja yang berdaulat, dan belas kasihan-Nya terhadap umat yang lemah.
Mazmur ini bukan hanya nyanyian kemenangan atas musuh, tetapi juga seruan iman yang meneguhkan bahwa Allah tidak pernah melupakan orang yang berseru kepada-Nya.
Mari kita menelusuri ayat-ayat ini dengan pendekatan ekspositori dan pandangan teologi Reformed agar kita mengenal lebih dalam siapa Allah yang kita sembah.
I. Allah yang Layak Dipuji: “Bernyanyilah bagi TUHAN yang bersemayam di Sion” (Mazmur 9:11a)
“Bernyanyilah bagi TUHAN, yang bersemayam di Sion…”
Daud memulai dengan seruan perintah: Bernyanyilah! (Ibrani: zammeru). Ini adalah ajakan untuk menyembah Tuhan dengan sukacita, bukan sekadar secara pribadi, tetapi secara komunal—seluruh umat dipanggil untuk meninggikan nama Tuhan.
1. Allah yang Bersemayam di Sion
“Sion” dalam Mazmur adalah simbol kehadiran Allah di tengah umat-Nya. Di sana berdiri tabut perjanjian, tempat kemuliaan Allah berdiam. Sion bukan sekadar lokasi geografis, melainkan lambang pemerintahan Allah yang berdaulat atas seluruh bumi.
John Calvin menulis dalam Commentary on the Psalms:
“Ketika Daud berkata bahwa Tuhan bersemayam di Sion, ia ingin menegaskan bahwa walaupun Allah memerintah seluruh dunia, Ia memilih untuk menyatakan diri-Nya secara istimewa di tengah umat perjanjian-Nya. Kehadiran-Nya di Sion adalah jaminan bahwa Ia dekat dengan mereka yang memanggil nama-Nya.”
Dalam teologi Reformed, ini berbicara tentang inkarnasi hadirat Allah dalam persekutuan umat pilihan. Sion dalam Perjanjian Lama menunjuk pada gereja dalam Perjanjian Baru—komunitas orang percaya di mana Allah hadir melalui Roh Kudus dan firman-Nya.
Matthew Henry menambahkan:
“Allah bersemayam di Sion bukan hanya untuk disembah, tetapi juga untuk memerintah. Setiap nyanyian bagi-Nya adalah pengakuan bahwa Dialah Raja yang sah atas segala bangsa.”
Ketika kita menyanyikan pujian kepada Tuhan, kita sedang mengakui bahwa Dia adalah Raja yang memerintah dari takhta surgawi, tetapi juga hadir di tengah umat-Nya.
2. Pujian sebagai Respons atas Pemerintahan Allah
Pujian dalam Mazmur ini bukan sekadar ungkapan emosional, tetapi pengakuan iman. Dalam teologi Reformed, pujian adalah respons teologis terhadap wahyu Allah. Kita menyembah bukan karena keadaan, tetapi karena siapa Allah itu sendiri.
Charles Spurgeon, dalam The Treasury of David, berkata:
“Bernyanyilah bagi Tuhan—bukan karena engkau merasa baik, tetapi karena Ia bersemayam di Sion. Pemerintahan-Nya tidak pernah goyah, bahkan ketika dunia gemetar.”
Artinya, meskipun keadaan hidup kita penuh tekanan, kita tetap dapat memuji Tuhan karena pemerintahan-Nya tidak berubah. Allah tetap berdaulat di atas segalanya.
Aplikasi:
Kita sering memuji Tuhan hanya saat keadaan baik. Namun Daud mengajarkan, nyanyian sejati justru keluar di tengah penderitaan. Pujian sejati adalah tindakan iman yang mengakui Allah tetap bersemayam di atas takhta-Nya meski hidup kita goyah.
II. Masyhurkan Perbuatan-Nya di Antara Bangsa-bangsa (Mazmur 9:11b)
“...masyhurkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa.”
Setelah menyerukan pujian, Daud memerintahkan umat untuk memberitakan perbuatan Allah. Kata “masyhurkanlah” (Ibrani: haggîdu) berarti mengumumkan, memberitahukan dengan lantang, seperti pemberitaan Injil.
1. Kesaksian Umat Allah kepada Dunia
Daud tidak ingin pujian bagi Tuhan berhenti di Israel; ia ingin semua bangsa mendengar tentang Allah Israel. Ini menggambarkan dimensi misioner dari ibadah.
John Calvin menulis:
“Ketika umat Allah menyaksikan karya-Nya, mereka menjadi alat untuk memperluas kemuliaan-Nya di seluruh bumi. Pujian sejati tidak berhenti pada bibir, tetapi memancar dalam kesaksian kepada dunia.”
Dalam terang teologi Reformed, ini sejalan dengan doktrin misi universal Allah. Dari awal, tujuan Allah bukan hanya menyelamatkan Israel, tetapi menjadikan bangsa-bangsa mengetahui kemuliaan-Nya (Mazmur 67:2–4).
Spurgeon juga menekankan aspek ini:
“Bagi mereka yang telah melihat karya penebusan Allah, diam berarti dosa. Lidah yang diselamatkan harus menjadi alat untuk memasyhurkan nama Tuhan.”
2. Pujian yang Menjadi Pekabaran Injil
Di dalam Kristus, panggilan ini menemukan puncaknya. Pujian gereja bukan hanya liturgi, tetapi juga kesaksian Injil. Ketika gereja memuji Tuhan dengan hidup yang kudus, dunia melihat keagungan Allah melalui mereka.
R.C. Sproul menulis, “Kekudusan yang terpancar dari umat Allah adalah bentuk tertinggi dari kesaksian. Dunia harus melihat bahwa Allah yang bersemayam di gereja adalah Allah yang benar dan hidup.”
Aplikasi:
Apakah kehidupan kita telah menjadi nyanyian yang membuat nama Tuhan masyhur di antara bangsa-bangsa? Pujian tanpa kesaksian adalah hampa. Sebaliknya, kesaksian tanpa pujian adalah kering. Gereja yang sejati adalah gereja yang memuji dan memasyhurkan Allah melalui firman dan perbuatan.
III. Allah yang Menuntut Balas Karena Darah (Mazmur 9:12a)
“Sebab Ia yang menuntut balas karena darah, mengingat mereka...”
Ini adalah pernyataan teologis yang dalam. Allah bukan hanya Raja yang layak dipuji, tetapi juga Hakim yang adil. Istilah “menuntut balas karena darah” (Ibrani: doresh damim) menunjukkan bahwa Allah memperhatikan setiap tumpahan darah yang tidak bersalah, dan Ia akan menuntut pertanggungjawaban atasnya.
1. Allah sebagai Hakim yang Adil
John Calvin menjelaskan:
“Daud ingin menghibur umat Allah yang tertindas dengan mengingatkan bahwa Allah tidak membiarkan darah orang benar tumpah tanpa pembalasan. Keadilan-Nya menuntut agar setiap kejahatan dibalas setimpal.”
Ini tidak berarti Allah haus akan pembalasan dalam arti manusiawi, tetapi bahwa keadilan-Nya kudus dan sempurna. Tidak ada dosa yang luput dari penghakiman, kecuali yang ditanggung dalam darah Kristus.
Dalam teologi Reformed, keadilan Allah adalah salah satu atribut utama yang menunjukkan kekudusan-Nya. Ia tidak bisa mengabaikan kejahatan, sebab itu bertentangan dengan natur-Nya. Karena itu, dalam Injil, Allah sendiri menuntut balas terhadap dosa di dalam diri Kristus yang disalibkan.
R.C. Sproul dalam The Holiness of God menulis:
“Kita tidak akan memahami kasih karunia Allah sebelum kita memahami betapa seriusnya keadilan-Nya. Salib Kristus adalah bukti bahwa Allah menuntut balas atas dosa, tetapi Ia sendiri yang menanggungnya.”
2. Allah yang Mengingat Mereka yang Tertindas
Frasa berikutnya, “Ia mengingat mereka,” menegaskan bahwa Allah tidak melupakan umat-Nya yang menderita. Dalam Alkitab, “mengingat” berarti bertindak dengan setia terhadap janji perjanjian-Nya. Ketika Allah mengingat, Ia bertindak.
Matthew Henry berkata:
“Allah mengingat bukan karena Ia pernah lupa, tetapi karena waktunya telah tiba untuk bertindak demi umat-Nya. Dalam penderitaan, orang benar boleh yakin bahwa Allah tidak pernah melupakan mereka.”
Ini menjadi penghiburan besar bagi semua orang percaya. Dunia mungkin melupakan korban ketidakadilan, tetapi Allah tidak. Setiap air mata disimpan dalam kirbat-Nya (Mazmur 56:9).
Aplikasi:
Ketika kita melihat ketidakadilan di dunia, kita sering bertanya, “Mengapa Allah diam?” Tetapi Mazmur ini menegaskan bahwa Allah tidak diam. Ia mencatat setiap kejahatan, dan pada waktu yang tepat, Ia akan menuntut balas. Itu sebabnya orang percaya tidak perlu membalas dendam, sebab Tuhanlah Hakim yang adil.
IV. Allah yang Tidak Melupakan Teriakan Orang-orang Tertindas (Mazmur 9:12b)
“...dan tidak melupakan teriakan orang-orang yang tertindas.”
Ayat ini adalah puncak penghiburan bagi umat Tuhan. Allah bukan hanya menuntut keadilan, tetapi juga mendengar jeritan orang yang menderita.
1. Teriakan Orang Benar Didengar oleh Allah
Kata “teriakan” (Ibrani: tsa‘aqah) menunjukkan seruan yang lahir dari penderitaan yang dalam. Ini bukan doa formal, melainkan tangisan hati. Allah tidak tuli terhadap tangisan seperti itu.
Spurgeon menulis:
“Jeritan orang tertindas mungkin tidak terdengar oleh manusia, tetapi ia menembus ke surga. Allah yang adil memiliki telinga yang peka terhadap air mata.”
Dalam Perjanjian Lama, hal ini berulang kali terbukti: Allah mendengar jeritan Israel di Mesir (Keluaran 2:23–25). Begitu juga dalam hidup kita, Allah mendengar setiap seruan iman, bahkan ketika kita tidak mampu berkata-kata.
2. Kasih Setia Allah bagi Orang Lemah
John Calvin menjelaskan bahwa bagian ini menunjukkan kasih setia Allah (covenantal love) terhadap umat perjanjian-Nya. Allah memihak kepada yang lemah bukan karena mereka layak, tetapi karena Ia setia terhadap janji-Nya.
Dalam teologi Reformed, ini disebut “Divine Compassion in Covenant.” Keadilan dan kasih Allah berjalan seiring. Ia menghakimi musuh dengan adil, tetapi menyelamatkan umat-Nya dengan belas kasih.
Aplikasi:
Dalam penderitaan, kita sering merasa doa kita tidak didengar. Tetapi Mazmur 9:12 meneguhkan bahwa tidak ada doa yang sia-sia di hadapan Allah yang hidup. Ia mungkin menunda jawaban-Nya, tetapi Ia tidak pernah melupakan seruan umat-Nya.
V. Implikasi Teologis dari Mazmur 9:11–12
Dari eksposisi ini, kita dapat menarik beberapa doktrin penting yang menjadi pilar teologi Reformed:
1. Allah Berdaulat di Atas Segala Bangsa
Kata “bersemayam di Sion” menunjukkan kedaulatan universal Allah. Ia memerintah bukan hanya atas Israel, tetapi atas semua bangsa. Tidak ada wilayah kehidupan yang di luar kendali-Nya.
2. Allah Adil dan Tidak Akan Membiarkan Kejahatan Tanpa Hukuman
Konsep “menuntut balas karena darah” menunjukkan bahwa keadilan ilahi akan ditegakkan sepenuhnya. Dalam Kristus, keadilan dan kasih bertemu: dosa dihukum, dan umat Allah dibenarkan (Roma 3:26).
3. Allah Setia Mengingat Umat-Nya
Kata “mengingat” dan “tidak melupakan” menunjukkan sifat Allah yang setia terhadap perjanjian-Nya (faithfulness of God). Umat pilihan tidak akan pernah ditinggalkan, bahkan dalam penderitaan.
4. Pujian dan Kesaksian Adalah Tanggapan Iman
Umat Allah tidak hanya dipanggil untuk menerima kasih karunia, tetapi juga untuk menyaksikan kemuliaan-Nya kepada bangsa-bangsa. Gereja dipanggil menjadi “Sion rohani” yang memuji dan memberitakan Allah yang hidup.
VI. Penerapan bagi Gereja Masa Kini
-
Dalam Ibadah:
Setiap kali gereja memuji Tuhan, kita sedang mengakui bahwa Allah tetap bersemayam di tengah dunia yang kacau. Ibadah sejati adalah pernyataan iman kepada kedaulatan Allah. -
Dalam Penderitaan:
Ketika kita merasa tertindas atau tidak adil, ingatlah bahwa Allah tidak melupakan jeritan kita. Keadilan mungkin tertunda, tetapi tidak pernah dibatalkan. -
Dalam Pelayanan Misi:
Gereja harus memasyhurkan perbuatan Tuhan di antara bangsa-bangsa. Pujian kita harus menjadi kesaksian tentang Injil Kristus. -
Dalam Etika Kristen:
Karena Allah menuntut balas atas darah orang tidak bersalah, kita dipanggil untuk menegakkan keadilan dan menolong yang tertindas—sebagai refleksi karakter Allah dalam dunia.
VII. Kristus, Pemenuhan Mazmur 9
Seluruh Mazmur ini menemukan pemenuhannya di dalam Yesus Kristus.
-
Ia adalah Raja yang bersemayam di Sion (Ibrani 12:22–24).
-
Ia adalah Hakim yang adil yang akan datang menuntut balas atas segala kejahatan (2 Tesalonika 1:6–10).
-
Ia adalah Penebus yang mengingat dan menolong orang tertindas, karena Ia sendiri pernah ditindas dan disalibkan bagi kita (Yesaya 53:7).
R.C. Sproul menulis:
“Keadilan Allah yang dinyatakan dalam Mazmur 9 mencapai puncaknya di salib. Di sana darah tertumpah, tetapi bukan darah orang jahat—melainkan darah Anak Domba Allah untuk menebus umat yang tertindas oleh dosa.”
Melalui Kristus, Allah telah membuktikan bahwa Ia benar-benar “mengingat mereka” dan “tidak melupakan teriakan orang tertindas.” Salib adalah jawaban Allah terhadap jeritan manusia berdosa, dan kebangkitan adalah jaminan bahwa keadilan akan ditegakkan.
VIII. Penutup: Nyanyian Iman di Tengah Ketidakadilan
Mazmur 9:11–12 mengajarkan kita untuk menyanyi di tengah penderitaan dan memuji di tengah ketidakadilan.
Kita dipanggil untuk memuji karena Allah bersemayam di Sion—Dia berdaulat. Kita bersaksi karena Ia adil dan penuh kasih. Kita berpengharapan karena Ia tidak melupakan seruan umat-Nya.
Kiranya iman kita dikuatkan untuk tetap bernyanyi meski dunia tampak gelap, sebab Allah tetap memerintah dan akan menegakkan keadilan-Nya.