Dari Hukum ke Anugerah: Makna Dua Perjanjian dalam Kristus

Dari Hukum ke Anugerah: Makna Dua Perjanjian dalam Kristus

Pendahuluan

Salah satu pilar penting dalam teologi Reformed adalah pemahaman tentang “dua perjanjian” — bukan dalam arti Perjanjian Perbuatan dan Anugerah sebagaimana dalam sistem teologi klasik, melainkan dalam makna yang lebih eksistensial dan rohani sebagaimana dijelaskan oleh Andrew Murray dalam karyanya The Two Covenants (1898).
Bagi Murray, relasi antara Perjanjian Lama (Old Covenant) dan Perjanjian Baru (New Covenant) adalah jantung dari seluruh karya penebusan Allah.

Perjanjian Lama menyingkapkan hukum, simbol, dan janji yang menggambarkan hubungan Allah dengan umat-Nya melalui perantara yang terbatas, sedangkan Perjanjian Baru menyingkapkan kegenapan janji itu di dalam Kristus, Sang Pengantara yang sempurna, yang menulis hukum itu bukan di atas loh batu, melainkan di hati manusia.

Tulisan ini akan menelusuri eksposisi doktrin dua perjanjian berdasarkan ajaran Alkitab, penafsiran teolog-teolog Reformed, dan refleksi rohani dari Andrew Murray, sambil memperlihatkan transformasi mendalam yang terjadi ketika manusia berpindah dari sistem lama menuju kehidupan baru di dalam Roh.

1. Dasar Alkitabiah Dua Perjanjian

a. Janji Allah tentang Perjanjian Baru

Dasar teologis doktrin ini terdapat pada nubuat Yeremia 31:31–33:

“Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka... tetapi inilah perjanjian yang akan Kuadakan: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka.”

Ayat ini menandai transisi besar dalam rencana keselamatan: dari hukum yang tertulis di luar manusia menuju hukum yang diinternalisasi oleh Roh Kudus.

John Calvin menafsirkan nubuat ini dalam Institutes (II.xi.4):

“Perjanjian baru tidak meniadakan hukum, tetapi menulisnya dalam hati. Allah yang sama berbicara dalam kedua perjanjian, tetapi kini Ia mengubah cara-Nya berkomunikasi dari huruf menuju Roh.”

Calvin menekankan kesatuan substansi dari kedua perjanjian (keduanya berasal dari Allah yang sama) namun perbedaan dalam cara penyataan dan efektivitasnya.
Perjanjian Lama adalah bayangan; Perjanjian Baru adalah tubuh yang mewujudkan bayangan itu.

b. Konfirmasi dari Surat Ibrani

Surat Ibrani 8–10 memberikan eksposisi paling teologis tentang dua perjanjian:

“Kristus telah menjadi Pengantara dari perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah dipanggil dapat menerima janji warisan kekal...” (Ibrani 9:15).

Louis Berkhof menulis dalam Systematic Theology:

“Surat Ibrani menunjukkan bahwa perjanjian lama adalah simbolis, lemah, dan sementara, karena hanya menunjuk kepada realitas rohani yang akan datang dalam Kristus. Ia adalah bayangan dari hal-hal yang baik, tetapi bukan hakekatnya.”

Dengan demikian, dua perjanjian ini bukan dua jalan keselamatan, melainkan dua tahap dalam satu rencana keselamatan yang progresif.

2. Karakteristik Perjanjian Lama

a. Berdasarkan Hukum dan Ketaatan Lahiriah

Perjanjian Lama ditandai oleh hukum yang tertulis dan ritual keagamaan yang kompleks. Tujuannya adalah mengajarkan kekudusan Allah dan ketidakmampuan manusia untuk memenuhi standar itu tanpa kasih karunia.

Andrew Murray menulis:

“Perjanjian lama menuntut, tetapi tidak memberi kuasa. Ia mengajar manusia apa yang harus dilakukan, namun tidak mampu mengubah hati yang melakukan.”

Dalam hal ini, hukum Taurat bersifat pedagogis — ia menuntun manusia kepada Kristus.
John Calvin menyebutnya usus elenchticus legis — fungsi hukum yang menyadarkan manusia akan dosanya.

Roma 7:12–14 menegaskan:

“Hukum itu kudus... tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa.”

Di sini Paulus menunjukkan bahwa hukum itu baik, tetapi manusia yang berdosa tidak dapat memenuhinya tanpa karya Roh Kudus.

b. Perantara dan Sistem Kurban

Perjanjian Lama bergantung pada imam, korban, dan bait Allah. Semua ini bersifat simbolis.
Herman Bavinck menulis dalam Reformed Dogmatics (Vol. 3):

“Seluruh sistem korban Perjanjian Lama adalah pedagogi yang menunjuk pada satu korban yang sempurna. Dalam darah binatang, janji keselamatan diperlihatkan tetapi belum diwujudkan.”

Imamat Lewi hanya melambangkan Kristus sebagai Imam Besar yang kekal. Maka, perjanjian lama berfungsi seperti cermin — menunjukkan kebutuhan manusia akan pengantara sejati.

c. Hubungan Lahiriah dan Nasional

Perjanjian Lama juga bersifat nasional dan eksternal: Allah membuat perjanjian dengan bangsa Israel sebagai umat pilihan secara kolektif.
Namun tidak semua Israel sejati — hanya mereka yang beriman yang menjadi bagian sejati dari perjanjian itu (Roma 9:6–8).

Charles Hodge menyebut perjanjian ini sebagai “typical dispensation” — suatu tata pemerintahan ilahi yang bersifat bayangan, menunjuk kepada sesuatu yang lebih rohani dan universal di masa depan.

3. Karakteristik Perjanjian Baru

a. Berdasarkan Kasih Karunia dan Karya Roh Kudus

Perjanjian Baru berpusat pada anugerah Allah yang bekerja melalui Kristus, bukan pada usaha manusia.
Yeremia berkata, “Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka.”
Artinya, hukum kini diinternalisasi oleh Roh Kudus.

Andrew Murray menjelaskan:

“Perjanjian lama adalah perjanjian yang berpusat pada manusia; perjanjian baru adalah perjanjian yang berpusat pada Allah. Di dalam yang lama, manusia berjanji untuk taat; di dalam yang baru, Allah berjanji untuk membuat manusia taat.”

Perbedaan mendasar ini menggambarkan transisi dari legalisme ke transformasi rohani.

R.C. Sproul menegaskan:

“Kasih karunia bukan hanya pengampunan, tetapi kekuatan ilahi yang mengubah hati untuk mengasihi hukum Allah.”

b. Kristus sebagai Pengantara yang Kekal

Ibrani 8:6 menyatakan:

“Kristus telah mendapat pelayanan yang jauh lebih agung, karena Ia menjadi Pengantara dari perjanjian yang lebih mulia, yang didasarkan atas janji yang lebih baik.”

Di sini perbedaan fundamental terlihat: pengantara perjanjian lama adalah manusia (Musa, para imam), sedangkan pengantara perjanjian baru adalah Anak Allah sendiri.

John Owen menjelaskan dalam komentarnya atas Ibrani:

“Perjanjian baru memiliki jaminan yang kekal karena Kristus sendiri adalah Jaminan itu. Ia bukan hanya pemberita janji, tetapi penggenapan janji itu.”

Dengan demikian, perjanjian baru tidak dapat gagal, karena fondasinya bukan pada ketaatan manusia, melainkan pada kesetiaan Kristus.

c. Relasi Pribadi dan Rohani

Perjanjian Baru bersifat batiniah dan pribadi — bukan lagi berdasarkan keanggotaan bangsa, tetapi pada kelahiran baru melalui Roh Kudus.
Yesus berkata:

“Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.” (Matius 26:28)

Di sini darah Kristus menjadi meterai rohani yang mengikat umat kepada Allah dalam hubungan kasih yang kekal.

Herman Ridderbos menyebut ini sebagai “transformasi redemptif dalam sejarah penebusan”: perjanjian baru bukan tambahan terhadap yang lama, melainkan pemenuhannya yang esensial.

4. Hubungan antara Kedua Perjanjian

a. Kesatuan dalam Rencana Allah

Meskipun berbeda dalam bentuk, kedua perjanjian ini adalah bagian dari satu rencana keselamatan yang progresif.
Calvin menolak pemisahan radikal antara keduanya dan menegaskan prinsip unitas substantiae foederis:

“Substansi kedua perjanjian itu satu dan sama — yaitu janji akan kehidupan di dalam Allah; perbedaannya hanya dalam cara penyataan.” (Institutes II.x.2).

Artinya, janji Injil sudah terkandung dalam Perjanjian Lama secara benih (proleptik), dan digenapi dalam Perjanjian Baru secara penuh.

b. Kontras: Huruf dan Roh

Paulus menulis dalam 2 Korintus 3:6:

“Sebab, surat itu mematikan, tetapi Roh memberi hidup.”

Ini bukan berarti Taurat jahat, melainkan bahwa tanpa Roh, hukum hanya menghasilkan penghukuman.
Andrew Murray menyebut ini “transisi dari eksternal menuju internal”:

“Perjanjian lama menulis hukum di atas batu; perjanjian baru menulis hukum di hati. Yang satu menuntut, yang lain mengaruniakan.”

Dengan demikian, esensi perjanjian baru adalah kehadiran Roh Kudus dalam hati orang percaya.

c. Dari Bayangan Menuju Kepenuhan

Ibrani 10:1 menyebut hukum sebagai “bayangan dari hal-hal yang baik yang akan datang.”
Semua sistem ibadah lama — korban, imam, Bait Suci — adalah tipologi Kristus.
Geerhardus Vos menjelaskan dalam Biblical Theology:

“Seluruh sejarah penebusan adalah seperti matahari yang terbit; perjanjian lama adalah fajar, dan perjanjian baru adalah tengah hari ketika terang Kristus bersinar penuh.”

Dengan demikian, Perjanjian Baru bukan antitesis terhadap yang lama, tetapi puncak penggenapan progresif dari wahyu Allah.

5. Transformasi Rohani di Bawah Perjanjian Baru

a. Hati yang Diperbarui

Yeremia 31 dan Yehezkiel 36 menubuatkan perubahan batiniah: “Aku akan memberikan hati yang baru dan menaruh Roh-Ku di dalam batinmu.”
Ini digenapi pada Pentakosta (Kis. 2), ketika Roh Kudus dicurahkan.

Andrew Murray menulis:

“Roh Kudus adalah karunia utama dari perjanjian baru. Semua berkat lainnya mengalir darinya. Di dalam Roh, Allah menulis hukum-Nya, mengubah kehendak kita, dan menjadikan kita anak-anak yang taat.”

Bagi Murray, kehidupan Kristen sejati bukan sekadar pengampunan dosa, tetapi persekutuan hidup dengan Kristus melalui Roh.

b. Kasih sebagai Penggenapan Hukum

Paulus berkata:

“Kasih adalah kegenapan hukum Taurat.” (Roma 13:10)

Dalam perjanjian lama, ketaatan adalah kewajiban; dalam perjanjian baru, ketaatan menjadi hasil kasih.
Jonathan Edwards menjelaskan:

“Hati baru mencintai apa yang dulu dibenci. Kasih karunia tidak hanya mengampuni dosa, tetapi mengubah selera rohani.”

Dengan demikian, ketaatan dalam perjanjian baru bukan lagi hasil paksaan hukum, melainkan buah kasih karunia yang berdiam dalam hati.

c. Persekutuan yang Intim dengan Allah

Ibrani 10:19–22 menegaskan bahwa melalui darah Kristus, kita “dapat menghampiri Allah dengan hati yang tulus dan iman yang teguh.”
Ini adalah puncak berkat perjanjian baru: persekutuan langsung dengan Allah tanpa perantara manusia.

John Owen menulis:

“Inilah keistimewaan perjanjian baru: umat Allah tidak lagi bergantung pada imam atau tempat suci duniawi, karena mereka sendiri menjadi bait Roh Kudus.”

Perjanjian Baru bukan sekadar perubahan sistem, tetapi perubahan status dan esensi umat Allah.

6. Pandangan Para Teolog Reformed

TokohPandangan Utama tentang Dua Perjanjian
John CalvinKesatuan substansi dan perbedaan dalam administrasi; hukum ditulis di hati.
Herman BavinckProgresivitas wahyu: PL sebagai janji, PB sebagai penggenapan.
Louis BerkhofPL bersifat simbolis, PB bersifat rohani dan kekal.
Andrew MurrayPerjanjian lama menuntut, PB memberi kuasa. Fokus pada transformasi hati.
Geerhardus VosPL adalah tahap awal dalam sejarah keselamatan yang mencapai klimaks di Kristus.
R.C. SproulPB menggenapi PL, bukan meniadakannya; hukum dipenuhi di dalam kasih karunia.

Kesemua pandangan ini mengarah pada satu simpulan besar: dua perjanjian mencerminkan dua cara Allah bekerja — dari luar menuju dalam, dari simbol menuju substansi, dari janji menuju penggenapan.

7. Aplikasi Teologis dan Rohani

  1. Jangan hidup dalam sistem lama.
    Banyak orang Kristen masih hidup seolah-olah berada di bawah hukum: berusaha menyenangkan Allah dengan kekuatan sendiri. Padahal, di bawah perjanjian baru, kita hidup dalam anugerah yang memberi kuasa.

  2. Izinkan Roh Kudus menulis hukum di hati.
    Ketaatan sejati lahir bukan dari rasa takut, tetapi dari hati yang diubah.

  3. Nikmati persekutuan langsung dengan Allah.
    Kristus telah membuka jalan ke hadirat Allah; tidak ada tabir lagi. Iman berarti hidup di hadapan Allah setiap saat.

  4. Hidup dalam sukacita Injil.
    Perjanjian baru membawa kebebasan — bukan untuk berbuat dosa, tetapi untuk mengasihi dan melayani Allah dengan sukacita.

8. Kesimpulan: Dari Huruf ke Roh, dari Bayangan ke Realitas

Doktrin dua perjanjian menunjukkan perjalanan panjang rencana keselamatan Allah:
dari Perjanjian Lama yang mengajar dan menuntun, menuju Perjanjian Baru yang memberi kehidupan dan kuasa.

Dalam Kristus, segala simbol menemukan maknanya, segala janji menemukan ya dan amin-nya (2 Korintus 1:20).
Seperti kata Andrew Murray:

“Perjanjian Baru bukan sekadar berkat yang lebih besar, tetapi hidup yang baru — hidup di mana Allah sendiri tinggal di dalam manusia.”

Inilah rahasia besar Injil: hukum yang dulu menuduh kini menjadi sukacita hati, karena Roh Kudus menulisnya dari dalam.
Dua perjanjian ini akhirnya bukan dua sistem yang terpisah, melainkan dua tahap perjalanan kasih karunia — dari huruf menuju Roh, dari bayangan menuju kemuliaan, dari Musa menuju Kristus.

Next Post Previous Post