Mazmur 21:1-7: Raja yang Bersukacita dalam Kekuatan Tuhan

Mazmur 21:1-7: Raja yang Bersukacita dalam Kekuatan Tuhan

Pendahuluan

Mazmur 21:1-7 merupakan nyanyian kemenangan dan syukur yang dinyanyikan oleh Raja Daud setelah mengalami pembebasan dan kemenangan besar dari Allah. Jika Mazmur 20 adalah doa sebelum pertempuran, maka Mazmur 21 adalah pujian setelah kemenangan. Dalam pasal ini, Daud tidak bermegah dalam kekuatannya sendiri, tetapi dalam kekuatan dan keselamatan dari Tuhan.

Bagi teologi Reformed, Mazmur 21 bukan hanya ekspresi sukacita raja Israel, melainkan cerminan Kristus sebagai Raja Mesianik — Raja sejati yang kemenangannya sempurna dan kekal. Mazmur ini sekaligus menggambarkan prinsip dasar teologi Reformed: bahwa segala berkat, kemenangan, dan kemuliaan manusia hanyalah hasil dari anugerah kedaulatan Allah (sovereign grace).

1. Sukacita dalam Kekuatan Allah (Mazmur 21:1)

“Ya TUHAN, dalam kekuatan-Mu raja bersukacita; dalam keselamatan-Mu betapa dia sangat gembira.”

Daud membuka mazmur ini dengan penekanan yang indah: sumber sukacita bukanlah kemenangan itu sendiri, tetapi Allah yang memberi kemenangan.

John Calvin dalam tafsirannya menulis:

“Daud tidak menyebut pedangnya atau tentaranya, melainkan kekuatan Tuhan sebagai sebab utama kemenangannya. Ia mengakui bahwa bahkan keberaniannya adalah anugerah.”

Dalam teologi Reformed, sukacita Daud mencerminkan sikap hati seorang yang hidup di bawah kedaulatan Allah. Reformed menolak gagasan bahwa keberhasilan manusia bersumber dari kemampuan diri, sebab segala sesuatu berasal dari Allah (Yakobus 1:17).

R.C. Sproul menjelaskan:

“Kekudusan Allah berarti Ia adalah sumber segala kekuatan. Maka, sukacita sejati hanya muncul ketika manusia berhenti bergantung pada kekuatannya sendiri.”

Mazmur ini mengajar kita bahwa iman yang benar selalu menghasilkan sukacita, bukan karena keadaan hidup, tetapi karena relasi dengan Tuhan yang berkuasa.

2. Anugerah yang Menjawab Doa (Mazmur 21:2)

“Engkau telah mengaruniakan kepadanya keinginan hatinya, dan Engkau tidak menahan permohonan bibirnya.”

Kemenangan Daud adalah hasil doa yang dijawab. Dalam Mazmur 20, bangsa Israel berdoa agar Tuhan mengabulkan permohonan raja mereka. Di Mazmur 21, doa itu dijawab sepenuhnya.

Dalam teologi Reformed, ayat ini menegaskan doktrin providensia dan kedaulatan doa. Doa tidak mengubah kehendak Allah, tetapi merupakan alat yang Allah pakai untuk menggenapi rencana-Nya.

John Owen berkata:

“Ketika Allah menjawab doa umat-Nya, itu bukan karena Allah diubah oleh doa, melainkan karena doa adalah bagian dari kehendak kekal-Nya.”

Keinginan Daud selaras dengan kehendak Allah, dan di situlah rahasia jawaban doa.
Doa yang sejati bukan memaksa Allah melakukan kehendak kita, tetapi menyelaraskan hati kita dengan kehendak-Nya.

Matthew Henry menambahkan:

“Doa yang dijawab adalah tanda bahwa hati telah diatur oleh kasih karunia. Allah tidak menolak keinginan hati yang telah Dia bentuk sendiri.”

Ayat ini mengajarkan bahwa setiap keberhasilan rohani sejati dimulai dari doa yang tunduk pada kedaulatan Allah.

3. Mahkota dan Berkat Kebaikan (Mazmur 21:3)

“Sebab, Engkau menyambutnya dengan berkat-berkat kebaikan; Engkau meletakkan mahkota emas murni di atas kepalanya.”

Mahkota emas melambangkan pengukuhan kerajaan dan kemenangan yang dianugerahkan oleh Allah sendiri.
Dalam konteks sejarah, Daud menerima pengakuan atas kemenangannya. Namun secara tipologis, ini menunjuk kepada Kristus Sang Raja Mesianik yang dimahkotai dengan kemuliaan setelah melalui penderitaan.

Ibrani 2:9 berkata:

“Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari malaikat-malaikat—yaitu Yesus—kita lihat, bahwa karena penderitaan maut, Ia telah dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat.”

Herman Bavinck menjelaskan:

“Kemuliaan Kristus adalah hasil dari ketaatan-Nya yang sempurna. Mahkota-Nya bukan karena kebetulan sejarah, melainkan janji Allah yang digenapi.”

Dalam kerangka Reformed, mahkota Daud hanyalah bayangan dari mahkota kemenangan Kristus yang diberikan oleh Bapa. Daud menjadi tipe dari Raja Sejati yang akan datang.

John Calvin menulis:

“Mahkota yang diletakkan di kepala Daud bukan sekadar simbol politik, tetapi tanda bahwa Allah memerintah melalui tangan seorang hamba.”

Mazmur ini menegaskan bahwa kemuliaan manusia yang sejati bukan hasil usaha, melainkan pemberian Allah.

4. Kehidupan dan Umur Panjang (Mazmur 21:4)

“Dia meminta kehidupan dari-Mu dan Engkau memberikannya kepadanya; dan umur panjang sampai selama-lamanya.”

Ayat ini menyingkapkan tema yang lebih dalam dari sekadar umur panjang duniawi. Dalam konteks Daud, Allah melindungi hidupnya dari musuh. Namun dalam terang Kristus, ayat ini mengandung nada profetis tentang kebangkitan.

Jonathan Edwards menulis:

“Doa untuk hidup tidak berhenti pada keberlanjutan jasmani, melainkan pada kehidupan kekal yang hanya ada di dalam Kristus.”

Kristus juga “meminta kehidupan” kepada Bapa (bdk. Yohanes 17:5), dan melalui kebangkitan-Nya, Ia memperoleh hidup kekal, bukan hanya bagi diri-Nya, tetapi bagi semua orang percaya.

R.C. Sproul menghubungkan ayat ini dengan doktrin union with Christ:

“Karena kita bersatu dengan Kristus, kehidupan-Nya menjadi kehidupan kita. Apa yang diminta Kristus, kita nikmati melalui anugerah.”

Jadi, bagi orang percaya, doa untuk kehidupan yang sejati bukanlah sekadar memohon umur panjang, tetapi kehidupan yang kekal di hadapan Allah.

5. Kemuliaan dan Kehormatan (Mazmur 21:5)

“Kemuliaannya besar oleh karena keselamatan-Mu; kehormatan dan keagungan Kautaruh padanya.”

Segala kemuliaan Daud bersumber dari keselamatan Allah. Ini adalah prinsip utama teologi Reformed: soli Deo gloria — hanya bagi Allah segala kemuliaan.

Daud tidak memuji dirinya sendiri, melainkan Allah yang telah meninggikan dia.
John Calvin berkomentar:

“Daud tidak menemukan kebanggaan dalam kejayaannya sendiri, tetapi dalam anugerah Allah yang memuliakannya.”

Ayat ini menolak gagasan bahwa manusia bisa meninggikan dirinya tanpa Allah.
Louis Berkhof menulis:

“Segala kemuliaan manusia hanyalah pantulan kecil dari kemuliaan Allah yang lebih besar.”

Kemuliaan dan kehormatan dalam ayat ini mengingatkan kita pada kemuliaan Kristus yang diberikan oleh Bapa setelah kebangkitan.
Filipi 2:9 menyatakan:

“Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama.”

Seperti Daud dimuliakan karena keselamatan Allah, Kristus dimuliakan karena penebusan yang Ia genapi.

6. Sukacita di Hadapan Allah (Mazmur 21:6)

“Sebab, Engkau mengaruniakan berkat baginya untuk selamanya; Engkau membuatnya bersukacita dalam kegembiraan di hadapan-Mu.”

Ayat ini menyingkapkan inti relasi perjanjian antara Allah dan umat-Nya — sukacita yang kekal di hadapan wajah Allah.

Bagi teologi Reformed, tujuan akhir keselamatan bukanlah kebahagiaan materi, melainkan persekutuan dengan Allah sendiri.
Jonathan Edwards dalam The End for Which God Created the World menulis:

“Kebahagiaan tertinggi manusia adalah memandang kemuliaan Allah dan bersukacita di dalamnya.”

Berkat yang “untuk selamanya” dalam ayat ini melampaui dunia fana. Ini menunjuk kepada kebahagiaan kekal di hadapan Allah — gambaran surgawi dari persekutuan abadi.

John Piper, yang sering disebut sebagai Reformed kontemporer, menyebut ini sebagai Christian Hedonism:

“Allah dimuliakan ketika kita paling puas di dalam Dia.”

Mazmur ini mengingatkan bahwa sukacita sejati hanya ditemukan di hadapan Tuhan, bukan di hadapan manusia.

7. Iman dan Keteguhan (Mazmur 21:7)

“Sebab, raja percaya akan TUHAN, dan oleh karena kesetiaan Yang Mahatinggi, dia takkan goyah.”

Ayat penutup ini menyatakan fondasi dari semua kemenangan dan sukacita: iman yang teguh kepada Tuhan.

Keberhasilan Daud bukan karena kekuatan militernya, melainkan karena iman kepada Allah yang setia.
Iman adalah pusat kehidupan rohani dalam teologi Reformed — bukan sekadar perasaan percaya, tetapi penyerahan diri total pada janji Allah.

John Calvin menulis:

“Iman adalah tangan kosong yang menerima segala yang diberikan Allah.”

Herman Bavinck menambahkan:

“Iman sejati berakar pada kesetiaan Allah. Karena Dia tidak berubah, maka iman tidak akan goyah.”

Daud percaya bukan pada hasil, melainkan pada karakter Allah.
Kata “kesetiaan” dalam teks Ibrani berasal dari kata chesed — kasih setia perjanjian Allah. Karena chesed Allah yang abadi, raja “tidak akan goyah.”

Bagi orang percaya, janji ini digenapi secara sempurna dalam Kristus:

“Sebab Allah setia, yang telah memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus, Tuhan kita” (1 Korintus 1:9).

Makna Kristologis Mazmur 21: Bayangan Raja Mesias

Mazmur 21 tidak hanya berbicara tentang Daud, tetapi juga menunjuk kepada Raja yang lebih besarYesus Kristus.

Unsur Mazmur 21Penggenapan dalam Kristus
Raja bersukacita dalam kekuatan Allah (ay.1)Kristus bergembira dalam kehendak Bapa (Yoh. 4:34)
Doa yang dijawab (ay.2)Doa Kristus untuk kebangkitan dikabulkan (Ibr. 5:7)
Mahkota emas (ay.3)Mahkota kemuliaan setelah penderitaan (Ibr. 2:9)
Kehidupan kekal (ay.4)Kebangkitan Kristus dan hidup yang tak berakhir (Rm. 6:9)
Kemuliaan dari Allah (ay.5)Kemuliaan Anak di sebelah kanan Bapa (Flp. 2:9–11)
Sukacita di hadapan Allah (ay.6)Kristus bersukacita di hadapan Bapa dan umat tebusan (Ibr. 12:2)
Keteguhan iman (ay.7)Ketaatan sempurna Kristus sampai mati (Ibr. 5:8)

Dengan demikian, Mazmur ini dapat dibaca secara mesianik dan eskatologis:
Daud melambangkan Kristus, dan kemenangan Daud melambangkan kemenangan penebusan di kayu salib.

Geerhardus Vos menulis:

“Mazmur kerajaan seperti Mazmur 21 adalah gema dari rencana keselamatan Allah yang berpuncak pada Mesias. Melalui kemenangan Daud, kita mendengar gema kemenangan Anak Daud yang sejati.”

Aplikasi Bagi Orang Percaya Masa Kini

  1. Sumber Sukacita Kita Adalah Tuhan, Bukan Keberhasilan
    Ketika kita mengalami kemenangan atau berkat, kita harus meneladani Daud — bersukacita bukan dalam hasil, melainkan dalam Tuhan yang memberi hasil itu.

  2. Doa yang Dilandasi Iman Selalu Didengar Allah
    Tuhan menjawab doa yang lahir dari hati yang tunduk kepada-Nya. Ia tidak menolak keinginan yang Ia sendiri tanamkan dalam hati orang percaya.

  3. Hidup yang Dikaruniakan Adalah Hidup untuk Allah
    Umur panjang tanpa tujuan rohani bukan berkat, tetapi kesia-siaan. Hidup sejati adalah hidup yang digunakan untuk kemuliaan-Nya.

  4. Kemuliaan Sejati Adalah Refleksi dari Kasih Karunia
    Dunia mencari kehormatan diri, tetapi orang percaya menemukan kemuliaan sejati dalam menjadi alat kemuliaan Allah.

  5. Iman yang Teguh Berdiri di Atas Kesetiaan Allah
    Ketika badai datang, kita tidak akan goyah karena Allah setia. Keyakinan iman bukan terletak pada kekuatan kita, melainkan pada karakter Allah yang tidak berubah.

Penutup: Kristus, Raja yang Tidak Goyah

Mazmur 21:1-7 mengajarkan bahwa sukacita sejati, doa yang dijawab, dan kemenangan sejati hanya mungkin karena kekuatan Tuhan yang bekerja dalam hidup umat-Nya.
Daud menjadi lambang dari Kristus, Sang Raja sejati yang bersukacita di dalam ketaatan dan menerima mahkota kemuliaan setelah penderitaan.

Dalam terang Injil, Mazmur ini adalah nyanyian kemenangan Kristus yang kini dinyanyikan oleh umat-Nya:

“Tuhan, dalam kekuatan-Mu Raja bersukacita.”

Dan seperti Daud, kita pun dapat berkata:

“Aku bersukacita bukan karena aku menang, tetapi karena Engkau yang menang bagiku.”

Next Post Previous Post