Sang Mesias yang Dijanjikan

Pendahuluan
Ketika George Frideric Handel menulis oratorio agungnya Messiah pada tahun 1741, ia bukan sekadar menciptakan karya musik religius — ia menulis sebuah pernyataan teologis. Libretto (teks) dari oratorio itu disusun sepenuhnya dari ayat-ayat Alkitab, terutama dari nubuat-nubuat Perjanjian Lama dan penggenapannya dalam Kristus pada Perjanjian Baru.
Empat dekade kemudian, John Newton — mantan pedagang budak yang bertobat dan menjadi pendeta Anglikan dengan teologi Reformed yang kuat — menyusun lima puluh khotbah ekspositori tentang oratorio itu. Karya tersebut diberi judul:
Messiah: Fifty Expository Discourses on the Oratorio of Handel (1786–1787).
Tujuannya bukan untuk menafsirkan musik Handel, melainkan menjelaskan Firman Tuhan yang menjadi dasar dari teks oratorio itu. Dengan gaya eksposisi khas Puritan, Newton menelusuri setiap bagian dari naskah Messiah — mulai dari nubuat Yesaya, kelahiran Kristus, penderitaan, kebangkitan, hingga kemenangan kekal-Nya.
Artikel ini akan menguraikan secara sistematis inti teologi dari karya tersebut: Mesias sebagai Penggenapan Janji Allah, Pusat Sejarah Penebusan, dan Sumber Pengharapan Umat Allah.
Kita akan melihat ayat-ayat Alkitab yang menjadi dasar Newton, serta meninjau pandangan beberapa pakar teologi Reformed tentang tema-tema utama di dalamnya.
1. Janji Mesianis dalam Nubuat: “Comfort ye, my people” (Yesaya 40:1–5)
Oratorio Messiah dimulai dengan seruan yang lembut namun penuh kuasa:
“Comfort ye, comfort ye my people, saith your God.”
Newton memulai khotbah pertamanya dengan menekankan bahwa penghiburan sejati hanya mungkin ditemukan di dalam penggenapan janji Allah dalam Kristus.
Dalam konteks Yesaya 40, bangsa Israel hidup dalam pembuangan, terpisah dari tanah perjanjian. Namun Allah berfirman dengan suara kasih: “Hiburkanlah umat-Ku.” Ini adalah seruan Injil yang pertama — Allah sendiri yang memulai karya penebusan.
Eksposisi Reformed
John Newton menulis:
“Seluruh Injil adalah pesan penghiburan, bukan karena manusia layak menerimanya, tetapi karena Allah berkenan untuk menyatakan kasih karunia-Nya melalui Sang Mesias.”
Teolog Reformed John Calvin dalam komentarnya atas Yesaya berkata bahwa seruan itu adalah “kabar bahwa murka Allah telah berlalu karena Kristus akan datang sebagai pendamai.”
Bagi Newton dan Calvin, penghiburan di sini bukan emosional, tetapi bersifat perjanjian (covenantal comfort) — Allah mengingat perjanjian kasih-Nya dengan umat pilihan.
R.C. Sproul kemudian menafsirkan bagian ini sebagai “pengumuman Injil pertama dalam Yesaya kedua” — di mana Allah berbicara bukan kepada dunia secara umum, tetapi kepada umat yang telah ditebus-Nya.
2. Nubuat tentang Kelahiran Mesias: “For unto us a Child is born” (Yesaya 9:6)
Bagian kedua dari Messiah menampilkan ayat terkenal dari Yesaya:
“Sebab seorang anak telah lahir bagi kita, seorang putra telah diberikan kepada kita; pemerintahan ada di atas bahunya...”
Newton menafsirkan ayat ini sebagai puncak dari pewahyuan kasih karunia Allah. Kelahiran Mesias adalah jawaban atas dosa manusia, bukan sekadar keajaiban kelahiran, melainkan tindakan penebusan.
Ia menulis:
“Anak yang lahir menunjukkan kerendahan hati Kristus; Putra yang diberikan menunjukkan keilahian-Nya. Dalam satu pribadi yang sama, natur manusia dan ilahi bersatu tanpa bercampur.”
Eksposisi Teologis
Dalam teologi Reformed, Yesaya 9:6 adalah landasan Kristologi inkarnasional.
Louis Berkhof menulis bahwa dua natur Kristus (ilahi dan manusia) “tidak bercampur namun bersatu dalam satu pribadi yang kekal.”
Newton menegaskan bahwa karena Anak itu diberikan, maka keselamatan adalah anugerah, bukan hasil usaha manusia.
“Allah tidak sekadar memberi nabi atau malaikat, tetapi Anak-Nya sendiri. Inilah kasih yang tidak terselami.”
Teolog Reformed modern Sinclair Ferguson juga menyebut ayat ini sebagai “cahaya yang menembus kegelapan dunia yang dikuasai dosa.”
Handel menempatkan ayat ini dalam musik yang penuh sukacita — “For unto us a Child is born” — mencerminkan keindahan doktrin inkarnasi yang membebaskan.
3. Sang Domba yang Menderita: “He was despised and rejected of men” (Yesaya 53:3–7)
Bagian tengah oratorio adalah jantung teologinya: penderitaan dan penebusan Kristus.
Yesaya 53 merupakan salah satu teks paling sering dikutip Newton dalam khotbah-khotbahnya.
“Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan...”
Newton menulis dengan nada kontemplatif:
“Tidak ada musik yang dapat menandingi melodi kasih dalam luka-luka Kristus. Di sinilah keadilan dan kasih bertemu.”
Eksposisi Ayat
Yesaya 53 menggambarkan Mesias sebagai Hamba yang Menderita. Dalam pandangan Reformed, ini mengacu pada penebusan substitusional (substitutionary atonement) — Kristus menanggung dosa umat pilihan menggantikan mereka.
John Owen menegaskan bahwa “penderitaan Kristus tidak hanya memberi teladan kesabaran, tetapi secara nyata memuaskan tuntutan keadilan Allah.”
Charles Hodge menambahkan: “Hamba ini menanggung murka Allah, bukan karena kesalahan-Nya, melainkan karena kasih kepada umat yang telah ditetapkan untuk diselamatkan.”
Newton memandang penderitaan Kristus bukan sebagai tragedi, melainkan sebagai triumph through suffering. Ia menulis:
“Melalui luka-luka-Nya, dosa dikalahkan; melalui kematian-Nya, kehidupan dimenangkan.”
4. Kematian dan Kebangkitan: “But Thou didst not leave His soul in hell” (Mazmur 16:10)
Setelah bagian penderitaan, Messiah memasuki tema kebangkitan. Ayat ini berbunyi:
“Sebab Engkau tidak menyerahkan jiwaku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.”
Newton menafsirkan ayat ini sebagai janji kebangkitan yang tidak mungkin gagal, karena didasarkan pada kekudusan Kristus dan kuasa Allah yang setia pada janji-Nya.
Pandangan Reformed
Bavinck menulis bahwa kebangkitan Kristus adalah “stempel pengesahan Allah atas karya penebusan-Nya.”
John Murray menambahkan, “Tanpa kebangkitan, salib tidak memiliki makna; tetapi dengan kebangkitan, salib menjadi sumber kehidupan.”
Bagi Newton, kebangkitan bukan sekadar mukjizat historis, tetapi dasar pengharapan eksistensial. Ia menulis:
“Jika Tuhan tidak membiarkan Kristus di kubur, maka Ia juga tidak akan meninggalkan umat-Nya di bawah kuasa maut.”
Kebangkitan adalah jaminan bahwa kematian bukan akhir, melainkan pintu menuju kemuliaan bagi mereka yang bersatu dengan Kristus.
5. Pemberitaan Injil dan Kemenangan Kristus: “The Lord gave the word” (Mazmur 68:11)
Setelah kebangkitan dan kenaikan Kristus, oratorio melanjutkan dengan bagian misi gereja.
“Tuhan memberikan firman; perempuan-perempuan yang memberitakan kabar baik itu merupakan pasukan yang besar.”
Newton memandang ayat ini sebagai nubuat tentang penyebaran Injil ke seluruh dunia.
Ia menulis:
“Tuhan yang memberikan firman, dan Tuhan pula yang memberdayakan mereka yang memberitakannya. Injil adalah kuasa Allah, bukan kebijaksanaan manusia.”
Eksposisi Reformed
Matthew Henry melihat ayat ini sebagai pengingat bahwa “setiap kebangkitan rohani dalam sejarah gereja dimulai ketika Tuhan memberikan firman-Nya secara segar.”
Charles Spurgeon menambahkan, “Bila firman keluar dari mulut Allah, tidak ada kuasa dunia yang dapat menahannya.”
Dalam teologi Reformed, inilah doktrin efektivitas Firman Allah (the efficacy of the Word). Firman yang diilhami Roh Kudus tidak akan kembali dengan sia-sia (Yesaya 55:11).
Newton menghubungkannya dengan Amanat Agung (Matius 28:19–20), menegaskan bahwa Kristus yang bangkit adalah Raja yang berdaulat atas misi gereja-Nya.
6. Kerajaan Kristus: “Hallelujah! for the Lord God omnipotent reigneth” (Wahyu 19:6)
Bagian “Hallelujah Chorus” adalah puncak oratorio Messiah, dan juga puncak khotbah Newton.
Ia menulis:
“Setiap hati yang telah ditebus akan berseru ‘Hallelujah’ karena Sang Anak Domba memerintah. Inilah paduan suara surga dan bumi.”
Eksposisi Teologis
Wahyu 19 menggambarkan Kristus sebagai Raja segala raja yang memerintah dengan kuasa mutlak. Dalam teologi Reformed, inilah Kerajaan Allah yang aktual dan eskatologis.
Herman Bavinck menulis:
“Kerajaan Kristus sudah hadir, namun juga belum selesai. Gereja adalah wujud kerajaan itu di dunia yang masih menantikan kepenuhannya.”
Abraham Kuyper terkenal dengan pernyataannya:
“Tidak ada satu inci pun dalam seluruh wilayah eksistensi manusia yang tidak dikatakan Kristus: ‘Milik-Ku!’”
Newton menafsirkan bagian ini bukan sebagai harapan politik, tetapi sebagai pengakuan iman bahwa Kristus telah memerintah di dalam hati umat-Nya, dan suatu hari akan memerintah secara nyata di seluruh ciptaan.
7. Kemenangan Kekal: “Worthy is the Lamb that was slain” (Wahyu 5:12–13)
Bagian penutup oratorio Messiah diambil dari pemandangan surgawi dalam kitab Wahyu.
“Anak Domba yang disembelih itu layak menerima kuasa, kekayaan, hikmat, kekuatan, hormat, kemuliaan, dan pujian.”
Newton menulis dengan nada penuh penyembahan:
“Inilah lagu penebusan yang akan dinyanyikan selama-lamanya. Tidak ada suara sumbang di surga, karena semua kemuliaan diberikan kepada Sang Anak Domba.”
Eksposisi Reformed
Teolog Reformed Jonathan Edwards menulis dalam The End for Which God Created the World:
“Seluruh ciptaan ada untuk menampilkan kemuliaan Kristus, Anak Domba yang disembelih.”
Geerhardus Vos menambahkan bahwa penyembahan di surga adalah “realisasi akhir dari perjanjian anugerah — umat Allah menikmati Allah selama-lamanya.”
Newton menyimpulkan:
“Setiap luka Kristus menjadi permata di mahkota-Nya. Ia layak disembah, karena Ia telah menebus umat-Nya dengan darah-Nya.”
8. Refleksi Teologi Reformed atas Karya Newton dan Handel
Melalui 50 khotbahnya, Newton tidak sekadar menafsirkan teks oratorio, tetapi mengajarkan seluruh rentang teologi penebusan: dari janji, inkarnasi, penebusan, kebangkitan, misi, hingga kemuliaan kekal.
Struktur itu selaras dengan pandangan Reformed tentang “sejarah penebusan” (redemptive history) — bahwa seluruh Alkitab adalah satu narasi besar yang berpusat pada Kristus.
| Tema Oratorio | Ayat Utama | Doktrin Reformed |
|---|---|---|
| Penghiburan (Yes. 40) | Kasih Karunia Perjanjian | Election & Covenant Grace |
| Kelahiran (Yes. 9) | Inkarnasi | Hypostatic Union |
| Penderitaan (Yes. 53) | Penebusan | Substitutionary Atonement |
| Kebangkitan (Mazm. 16) | Justifikasi | Resurrection Power |
| Amanat (Mazm. 68) | Misi Allah | Efficacy of the Word |
| Kerajaan (Why. 19) | Eskatologi | Sovereign Kingship |
| Penyembahan (Why. 5) | Doksologi | Soli Deo Gloria |
Dengan demikian, Newton memandang oratorio Messiah bukan sekadar seni, melainkan katekismus musikal yang menggambarkan Injil dari awal hingga akhir.
9. Pelajaran Bagi Gereja Masa Kini
a. Firman Harus Dihidupi, Bukan Sekadar Didengar
Newton memperingatkan jemaatnya agar tidak berhenti pada kenikmatan musik atau retorika, melainkan merespons dengan pertobatan sejati.
“Apa gunanya menikmati melodi ‘Hallelujah’ bila hati tidak tunduk kepada Raja yang dipuji?”
b. Injil Adalah Sumber Penghiburan di Tengah Dunia yang Goncang
Pesan pertama oratorio tetap relevan: “Hiburkanlah umat-Ku.”
Dalam dunia yang dilanda penderitaan, penghiburan sejati hanya dapat ditemukan dalam janji bahwa Kristus telah datang dan akan datang kembali.
c. Penderitaan Tidak Mematahkan, Tetapi Menggenapi Rencana Allah
Yesaya 53 mengajarkan bahwa melalui penderitaan, kemuliaan Allah dinyatakan.
Reformed menegaskan bahwa tidak ada penderitaan yang sia-sia bagi orang percaya, karena semua dipakai untuk memuliakan Kristus (Roma 8:28–30).
d. Gereja Dipanggil Menyanyi dan Memberitakan
Messiah menggabungkan dua unsur ibadah Reformed: Firman dan pujian.
Firman diberitakan, dan umat menanggapi dengan nyanyian rohani. Seperti ditulis Newton:
“Di surga, teologi dan musik bersatu; kebenaran menyalakan api penyembahan.”
10. Kesimpulan: Sang Mesias yang Layak Dipuji
Karya Messiah Handel dan khotbah John Newton menegaskan satu kebenaran besar:
Seluruh sejarah manusia menemukan maknanya hanya di dalam Kristus, Sang Mesias.
Dari nubuat di padang pembuangan, hingga paduan suara surgawi di kitab Wahyu, Alkitab bercerita tentang satu Pribadi — Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.
Dalam teologi Reformed, Kristus adalah pusat dari segala sesuatu:
-
Ia adalah Firman yang dijanjikan oleh Allah Bapa,
-
Digenapi dalam sejarah oleh Roh Kudus,
-
Dan dimuliakan di surga bersama umat tebusan-Nya.
John Newton menutup khotbah terakhirnya dengan kalimat yang begitu sederhana, namun mengguncang:
“Bila engkau mengenal Sang Mesias ini, maka setiap nada ‘Hallelujah’ adalah milikmu; tetapi bila tidak, seluruh musik dunia tidak dapat menenangkan jiwamu.”
Refleksi Akhir
Karya Newton mengajarkan bahwa studi Alkitab, teologi, dan seni dapat menyatu dalam penyembahan yang sejati.
Messiah bukan sekadar konser, melainkan pengakuan iman yang dinyanyikan — sebuah liturgi yang menggemakan Injil:
“The kingdoms of this world are become the kingdoms of our Lord, and of His Christ,
and He shall reign forever and ever.” (Wahyu 11:15)
Kiranya kita, seperti John Newton, menemukan dalam setiap bagian Firman itu suara yang sama:
“Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia!” (Yohanes 1:29)