Keluaran 7:22–25: Ketika Sungai Menjadi Darah

Keluaran 7:22–25: Ketika Sungai Menjadi Darah

Pendahuluan

Kisah dalam Keluaran 7:22–25 merupakan bagian dari narasi besar tentang sepuluh tulah yang Allah timpakan atas Mesir sebagai bentuk penghukuman terhadap penindasan bangsa Israel dan pernyataan kuasa-Nya atas seluruh dewa-dewa Mesir. Perikop ini menutup bagian pertama dari tulah pertama — air Sungai Nil berubah menjadi darah. Dalam keajaiban yang mengerikan ini, Allah menyingkapkan bukan hanya kuasa-Nya, tetapi juga kerasnya hati manusia yang menolak kebenaran meskipun telah menyaksikan tanda-tanda yang nyata.

Teks ini mengajarkan beberapa tema besar teologis yang amat penting: kedaulatan Allah, kebutaan rohani manusia berdosa, serta kebijaksanaan Allah yang menyatakan diri-Nya dalam penghakiman dan anugerah.

Konteks Historis dan Naratif

Sebelum tulah ini terjadi, Musa dan Harun telah diperintahkan oleh TUHAN untuk datang menghadap Firaun dan meminta agar bangsa Israel dilepaskan untuk beribadah di padang gurun (Keluaran 7:14–19). Firaun, yang dianggap sebagai inkarnasi dewa oleh orang Mesir, menolak dengan congkak. Allah lalu memerintahkan Musa dan Harun untuk menghantam Sungai Nil dengan tongkat mereka, dan airnya berubah menjadi darah.

Sungai Nil bukan hanya sumber kehidupan Mesir, tetapi juga simbol teologis dari kekuatan dan keilahian Mesir. Dalam mitologi Mesir kuno, Sungai Nil dikaitkan dengan dewa Hapi, yang dianggap sebagai pemberi kesuburan dan kehidupan. Dengan mengubah air itu menjadi darah, Allah menunjukkan bahwa Dialah Tuhan atas kehidupan dan kematian — bukan Hapi, bukan Firaun, dan bukan kuasa magis Mesir.

Eksposisi Ayat per Ayat

Keluaran 7:22

“Namun, para ahli ilmu gaib Mesir melakukannya juga dengan mantra-mantra rahasianya sehingga hati Firaun dikeraskan. Sebab itu, dia tidak mau mendengarkan mereka, sebagaimana yang telah difirmankan TUHAN.”

Para ahli ilmu gaib Mesir di sini kemungkinan besar adalah imam-imam kerajaan yang menggunakan trik ilusi atau praktik okultisme. Mereka meniru perbuatan Musa dan Harun, walaupun dalam skala yang jauh lebih kecil. Namun tindakan mereka membuat Firaun semakin mengeraskan hatinya.

John Calvin dalam Commentary on Exodus menulis bahwa “Allah mengizinkan para pesulap Mesir melakukan hal serupa bukan untuk menunjukkan bahwa kuasa mereka sebanding dengan kuasa Allah, melainkan agar Firaun semakin diserahkan pada kebodohan dan kesombongannya.” Bagi Calvin, ini adalah bentuk penghakiman ilahi — ketika Allah menyerahkan manusia kepada kebebalan pikirannya (bdk. Roma 1:28).

Matthew Henry, seorang komentator Puritan, juga menegaskan bahwa peniruan para ahli sihir hanyalah bukti bahwa kuasa kegelapan masih tunduk di bawah izin Allah. Henry menulis, “Setan dapat meniru beberapa pekerjaan Allah, tetapi tidak dapat menandingi-Nya; ia boleh menipu mata manusia, namun tidak bisa menciptakan kehidupan.”

Secara teologis, ayat ini menyoroti misteri tentang pengerasan hati Firaun. Dalam teologi Reformed, pengerasan ini bukanlah tindakan sewenang-wenang Allah yang melanggar kehendak manusia, tetapi justru bentuk penghukuman atas penolakan manusia terhadap kebenaran. Allah membiarkan Firaun berjalan sesuai kehendak hatinya yang berdosa, hingga ia menjadi buta terhadap realitas kuasa Allah.

Keluaran 7:23

“Firaun berbalik dan kembali ke istananya. Bahkan, dia juga tidak menaruh hatinya terhadap hal ini.”

Respon Firaun menggambarkan sikap acuh dan sombong terhadap tanda ilahi. Ia telah menyaksikan mukjizat yang mengguncang seluruh Mesir, namun tetap tidak peduli. Ini bukan hanya soal kebodohan intelektual, melainkan kebutaan rohani.

R.C. Sproul menulis dalam The Holiness of God:

“Ketika manusia berdosa menolak untuk gentar di hadapan kekudusan Allah, ia sedang memperlihatkan betapa rusaknya natur moralnya. Firaun tidak hanya menolak tanda itu, ia menolak Allah itu sendiri.”

Firaun “tidak menaruh hatinya terhadap hal ini” — dalam bahasa Ibrani, frasa itu menggambarkan sikap yang disengaja: hati yang menolak untuk memahami atau memedulikan. Dalam teologi Reformed, hal ini dikaitkan dengan kondisi total depravity (kerusakan total manusia). Dosa telah begitu mencemari hati manusia sehingga ia tidak dapat mengenal Allah kecuali oleh anugerah-Nya.

John Owen, teolog Puritan, menjelaskan bahwa “pengerasan hati adalah tanda bahwa seseorang telah ditinggalkan oleh pengaruh kasih karunia yang menegur. Ia masih memiliki tanda-tanda kehidupan jasmani, namun secara rohani ia telah mati.”

Dengan demikian, ayat ini menunjukkan betapa dalamnya penolakan manusia terhadap kebenaran ilahi. Mukjizat yang menakjubkan pun tidak akan mengubah hati yang keras tanpa karya Roh Kudus.

Keluaran 7:24

“Semua orang Mesir menggali di sekitar sungai untuk mencari air minum karena mereka tidak dapat minum air dari sungai.”

Akibat tulah ini bersifat menyeluruh dan praktis. Air adalah simbol kehidupan — ketika air lenyap, kehidupan pun terguncang. Dalam konteks Mesir, Sungai Nil adalah sumber ekonomi, pertanian, dan spiritualitas. Ketika air itu berubah menjadi darah, Allah sedang memukul jantung peradaban Mesir.

Namun menariknya, reaksi bangsa Mesir bukanlah pertobatan, melainkan usaha manusiawi untuk mencari solusi sendiri. Mereka menggali di sekitar sungai untuk mencari air yang belum terkontaminasi. Ini adalah simbol dari usaha manusia untuk mencari kehidupan tanpa Allah.

Augustinus dalam City of God menulis, “Manusia yang berdosa akan terus menggali sumur-sumur retak yang tidak dapat menampung air, padahal di hadapannya ada sumber air kehidupan.”

Demikian pula, Charles Spurgeon menegaskan bahwa upaya bangsa Mesir menggali air adalah metafora dari kecenderungan manusia berdosa — mencari keselamatan dengan kekuatan sendiri. Ia berkata, “Banyak orang berusaha menggali air pengetahuan, moralitas, dan agama mereka sendiri, namun hanya anugerah Kristus yang dapat memberi air kehidupan yang sejati.”

Keluaran 7:25

“Tujuh hari telah berlalu sesudah TUHAN memukul sungai.”

Tulah pertama berlangsung selama tujuh hari penuh — angka yang melambangkan kesempurnaan dalam simbolisme Ibrani. Ini bukan kebetulan. Allah sedang menyatakan penghakiman yang lengkap dan adil atas Mesir. Namun, juga terdapat unsur kesabaran ilahi. Meskipun tulah ini berlangsung selama satu minggu, Allah tidak langsung membinasakan Mesir. Ia memberi waktu bagi mereka untuk bertobat sebelum tulah berikutnya datang.

John Gill, teolog Baptis Reformed, mengamati bahwa tujuh hari itu menunjukkan bahwa “penghakiman Allah tidaklah tergesa-gesa; Ia panjang sabar terhadap orang berdosa, memberi kesempatan untuk berbalik, namun jika mereka terus menolak, penghakiman berikutnya akan datang dengan lebih berat.”

Demikianlah, ayat ini menutup tulah pertama dengan nada serius — Allah sabar, namun adil. Setiap tulah berikutnya akan semakin menunjukkan intensitas murka Allah terhadap pemberontakan manusia.

Makna Teologis Utama

1. Kedaulatan Allah atas Alam dan Dewa-Dewa

Tulah pertama secara langsung menyerang kepercayaan Mesir terhadap dewa Sungai Nil. Dalam teologi Reformed, ini menunjukkan bahwa Allah adalah Pemerintah mutlak atas ciptaan (sovereign Creator). Tidak ada bagian dari dunia ini yang berdiri di luar kuasa dan kedaulatan-Nya.

Abraham Kuyper pernah berkata, “Tidak ada satu inci pun di seluruh ciptaan ini yang tidak diklaim Kristus dengan seruan, ‘Milik-Ku!’” Peristiwa ini merupakan pernyataan keras dari Allah bahwa Dialah Tuhan atas seluruh ciptaan, bahkan atas sumber kehidupan bangsa yang paling kuat sekalipun.

2. Pengerasan Hati dan Misteri Anugerah

Tema pengerasan hati Firaun adalah salah satu bagian paling kompleks dalam Alkitab. Teologi Reformed menjelaskan hal ini dengan konsep anugerah umum dan anugerah khusus. Allah dapat mengeraskan hati seseorang dengan menahan pengaruh anugerah yang menuntun kepada pertobatan.

Louis Berkhof dalam Systematic Theology menulis, “Pengerasan hati bukanlah tindakan aktif Allah menaruh kejahatan di dalam manusia, melainkan penarikan anugerah yang sebelumnya menahan kejahatan itu.” Dengan kata lain, Firaun menjadi keras karena ia dibiarkan menjadi dirinya sendiri.

Dalam perspektif pastoral, hal ini memperingatkan bahwa penolakan terus-menerus terhadap kebenaran dapat membuat hati seseorang tak lagi peka terhadap suara Allah.

3. Kontras antara Kuasa Ilahi dan Imitasi Setan

Para ahli sihir Mesir berhasil “meniru” tanda Musa, namun tidak bisa memulihkan air menjadi jernih. Ini menegaskan bahwa kuasa kegelapan hanya dapat memalsukan, bukan mencipta. Iblis dapat meniru sebagian pekerjaan Allah, tetapi tidak dapat menebus atau menciptakan kehidupan baru.

Cornelius Van Til, filsuf Reformed, menegaskan bahwa dunia tanpa Kristus hanya bisa menjadi “distorsi dari kebenaran,” bukan kebenaran itu sendiri. Demikian pula para pesulap Mesir — mereka hanyalah bayangan palsu dari kuasa sejati yang ada dalam Firman Allah.

4. Allah Menggunakan Penghakiman untuk Menyatakan Diri

Setiap tulah bukan hanya hukuman, tetapi juga wahyu. Allah sedang menyatakan siapa diri-Nya — Tuhan yang benar di tengah dunia politeistik. Dalam penghakiman, Allah menyatakan keadilan dan kekudusan-Nya. Namun bagi umat pilihan-Nya (Israel), penghakiman ini sekaligus merupakan tanda pembebasan.

B.B. Warfield menulis, “Setiap tindakan Allah yang tampak keras bagi orang berdosa, pada akhirnya adalah tindakan kasih bagi umat-Nya, sebab melaluinya Ia menyingkirkan kuasa yang menindas mereka.”

Aplikasi Teologis bagi Orang Percaya Masa Kini

  1. Peringatan terhadap Kekerasan Hati
    Firaun adalah contoh tragis dari seseorang yang berulang kali menolak panggilan Allah. Setiap penolakan membuat hatinya semakin keras. Orang percaya dipanggil untuk segera taat ketika Firman berbicara, sebelum hati menjadi dingin dan tidak peka.

  2. Keterbatasan Kuasa Duniawi
    Mesir, dengan segala kebesaran dan teknologinya, tidak berdaya menghadapi kuasa Allah. Dunia modern dengan segala kemajuan ilmiah pun tetap tidak dapat menolak ketetapan Allah. Semua kuasa duniawi hanyalah sementara di bawah tangan Sang Pencipta.

  3. Ketergantungan Total pada Anugerah Allah
    Bangsa Mesir menggali air dengan kekuatannya sendiri, tetapi gagal menemukan kehidupan sejati. Demikian pula manusia modern sering menggali sumur-sumur kesuksesan, uang, dan pengetahuan, namun tanpa Kristus semuanya kering. Hanya Yesus yang berkata, “Barangsiapa minum air yang Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus lagi” (Yohanes 4:14).

  4. Kesabaran Allah yang Mengundang Pertobatan
    Tujuh hari penundaan menunjukkan kesabaran Allah. Namun kesabaran itu bukan berarti penundaan selamanya. Hari penghakiman akan datang. Maka, “hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, jangan keraskan hatimu” (Ibrani 3:15).

Pandangan Para Teolog Reformed Tentang Tulah Pertama

  • John Calvin: Melihat tulah ini sebagai “demonstrasi bahwa kuasa Allah melampaui segala dewa Mesir, dan bahwa manusia tanpa Roh Kudus akan tetap buta bahkan ketika mukjizat di depan matanya.”

  • Matthew Henry: Menekankan bahwa setiap tulah adalah panggilan pertobatan yang ditolak. Ia menulis, “Allah berbicara dengan lembut dalam anugerah, tetapi bila manusia tidak mau mendengar, Ia akan berbicara melalui penderitaan.”

  • R.C. Sproul: Menggarisbawahi kekudusan Allah yang tidak bisa diremehkan. Tulah ini, menurutnya, adalah pengingat bahwa “kekudusan Tuhan selalu menuntut respon yang benar, dan penolakan terhadap-Nya berujung pada murka.”

  • Geerhardus Vos: Melihat rangkaian tulah sebagai drama redemptif yang menunjuk pada karya penebusan Kristus — pembebasan Israel dari Mesir adalah gambaran pembebasan umat pilihan dari dosa.

  • Herman Bavinck: Dalam Reformed Dogmatics, ia menyatakan bahwa penghakiman Allah di Mesir mengandung unsur pewahyuan umum dan khusus: umum bagi dunia (bahwa Allah berdaulat), dan khusus bagi Israel (bahwa Allah menepati janji perjanjian-Nya).

Kristus dalam Bayangan Tulah Pertama

Bagi teologi Reformed, setiap kisah dalam Perjanjian Lama memiliki pusatnya di dalam Kristus. Air yang berubah menjadi darah adalah simbol penghakiman atas dosa, tetapi juga menunjuk kepada darah Kristus yang menjadi jalan keselamatan.

Sungai Nil yang “menjadi darah” adalah tanda kematian, sedangkan darah Kristus adalah tanda kehidupan. Di kayu salib, air dan darah mengalir dari lambung Yesus (Yoh. 19:34) — simbol bahwa di dalam diri-Nya, penghakiman dan anugerah bertemu.

Jonathan Edwards menulis, “Seperti Mesir yang dihakimi agar Israel bebas, demikian pula dunia dan dosa dihakimi melalui darah Anak Domba agar umat Allah dibebaskan dari perbudakan dosa.”

Kesimpulan

Keluaran 7:22–25 bukan hanya kisah sejarah kuno, tetapi refleksi mendalam tentang relasi antara manusia berdosa dan Allah yang kudus. Perikop ini mengingatkan bahwa mukjizat tidak menjamin pertobatan, bahwa hati manusia cenderung menolak Allah, dan bahwa hanya anugerah-Nya yang dapat melembutkan hati yang keras.

Allah yang memukul Sungai Nil adalah Allah yang sama yang memanggil umat-Nya hari ini untuk bertobat. Dia berdaulat atas seluruh ciptaan, sabar dalam kasih-Nya, namun juga adil dalam penghakiman-Nya.

Kiranya setiap pembaca merenungkan bahwa waktu masih diberikan — tujuh hari simbolis kehidupan ini — agar kita tidak seperti Firaun yang berpaling dari Allah, tetapi seperti Musa dan Harun yang taat dan percaya kepada-Nya.

“Berdoalah mohon Roh Kudus memberikan pengertian ketika kita melakukan studi Alkitab. AI hanya alat yang hasilnya harus dibandingkan kembali dengan Alkitab.”

Next Post Previous Post