Iman: Apa Itu dan Ke Mana Ia Membawa

Pendahuluan: Iman Sebagai Jantung Kehidupan Kristen
Iman merupakan pusat dari seluruh kehidupan rohani orang percaya. Di dalam iman, seseorang berhubungan dengan Allah yang tidak kelihatan, menerima janji-janji-Nya, dan bersandar sepenuhnya kepada karya penebusan Kristus. Tanpa iman, Alkitab dengan tegas berkata, “tidak mungkin orang berkenan kepada Allah” (Ibrani 11:6).
Dalam pandangan teologi Reformed, iman bukanlah sekadar perasaan optimis atau keyakinan buta, melainkan tindakan rohani yang lahir dari karya Roh Kudus dalam hati manusia yang telah diperbaharui oleh anugerah Allah. Iman adalah saluran yang menghubungkan manusia berdosa dengan Kristus yang menyelamatkan.
Sebagaimana dikatakan John Calvin dalam Institutes of the Christian Religion (III.2.7):
“Iman adalah pengetahuan yang pasti dan teguh akan kasih Allah terhadap kita, sebagaimana dinyatakan dalam Injil, yang dimeteraikan oleh Roh Kudus dalam hati kita.”
Dengan demikian, iman bukan hanya tahu tentang Allah, melainkan percaya dan bersandar kepada Allah. Iman adalah jantung yang memompa kehidupan rohani; darinya mengalir semua bentuk ketaatan, kasih, dan pengharapan.
I. Hakikat Iman: Anugerah yang Menyatukan Dosa dengan Kristus
1. Iman Bukan Kemampuan Alamiah
Menurut Alkitab dan pandangan Reformed, iman bukanlah hasil dari keputusan manusia secara alami. Paulus berkata dalam Efesus 2:8–9:
“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”
Louis Berkhof menjelaskan dalam Systematic Theology:
“Iman sejati tidak mungkin timbul dari natur manusia yang telah jatuh; ia merupakan buah regenerasi oleh Roh Kudus. Iman adalah anugerah yang Allah tanamkan dalam hati orang yang telah dilahirkan kembali.”
Dengan kata lain, iman bukanlah syarat yang manusia penuhi agar Allah mau menyelamatkan; sebaliknya, iman adalah alat (instrumentum) yang dengannya manusia menerima keselamatan yang telah Allah sediakan di dalam Kristus.
2. Iman Sebagai Tangan yang Menerima Kristus
Para teolog Reformed sering menggambarkan iman sebagai tangan kosong yang menerima Kristus. Ia tidak menciptakan keselamatan, melainkan hanya menerima dan mempercayakan diri kepada Kristus sebagai satu-satunya dasar keselamatan.
John Owen berkata:
“Iman tidak menambah apa pun pada karya Kristus, tetapi ia adalah sarana yang dengannya jiwa bersandar pada karya itu, sebagaimana seseorang bersandar pada batu karang yang kokoh di tengah badai.”
Jadi, iman tidak berisi kekuatan magis; kekuatannya terletak pada objeknya, yaitu Kristus. Inilah mengapa teologi Reformed menekankan bahwa iman yang menyelamatkan adalah iman yang berfokus pada Kristus saja (sola fide, solus Christus).
II. Unsur-Unsur Iman Sejati
Dalam teologi Reformed klasik, iman yang menyelamatkan memiliki tiga unsur pokok, yang dikenal dalam istilah Latin sebagai notitia, assensus, dan fiducia.
1. Notitia (Pengetahuan)
Iman dimulai dengan pengetahuan yang benar tentang kebenaran Allah sebagaimana dinyatakan dalam Kitab Suci.
Tanpa pengetahuan, iman akan menjadi buta dan berbahaya. Paulus menegaskan dalam Roma 10:17:
“Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”
Menurut R.C. Sproul,
“Iman yang sejati tidak mungkin tanpa pengetahuan. Kita tidak dapat mempercayai apa yang kita tidak ketahui. Tetapi pengetahuan saja tidak cukup — bahkan Iblis pun memiliki pengetahuan teologis yang benar.”
2. Assensus (Persetujuan)
Setelah mengenal kebenaran, orang percaya memberikan persetujuan mental terhadapnya — yakni mengakui bahwa apa yang dikatakan Alkitab benar adanya.
Namun, ini pun belum cukup untuk keselamatan. Seperti dijelaskan Yakobus,
“Engkau percaya bahwa hanya ada satu Allah? Itu baik! Tetapi setan-setan pun percaya demikian dan mereka gemetar!” (Yakobus 2:19).
Assensus adalah pengakuan intelektual terhadap kebenaran, tetapi belum menjadi kepercayaan yang menyelamatkan.
3. Fiducia (Kepercayaan Pribadi)
Inilah unsur inti iman yang menyelamatkan — kepercayaan pribadi kepada Kristus.
Bukan hanya mengetahui atau menyetujui, tetapi juga bersandar dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan.
John Calvin berkata:
“Iman bukanlah pengetahuan yang dingin, melainkan penghiburan yang hangat, di mana manusia percaya bahwa Allah adalah Bapanya yang penuh kasih dan Kristus adalah Penebusnya.”
Iman sejati berarti percaya “bagi saya” — bahwa Kristus mati untuk menebus saya, bukan hanya bahwa Ia mati bagi dunia.
III. Objek Iman: Allah dalam Kristus yang Menyatakan Diri-Nya
Iman Kristen tidak berakar pada kekuatan batin manusia, tetapi berakar pada objek yang benar, yaitu Allah yang menyatakan diri di dalam Kristus.
1. Iman kepada Firman Allah
Iman percaya pada Firman Allah sebagai sumber kebenaran yang mutlak.
Sebagaimana dikatakan dalam Roma 4:20–21 mengenai Abraham:
“Ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan terhadap janji Allah, tetapi ia diperkuat dalam imannya dan memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan bahwa Allah berkuasa melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.”
Bagi orang Reformed, iman bukan sekadar perasaan positif terhadap masa depan, tetapi respon kepada janji Allah yang tidak dapat berdusta.
Herman Bavinck menulis:
“Iman sejati bersandar pada otoritas Firman Allah. Ia tidak didasarkan pada bukti empiris, tetapi pada kepastian bahwa Allah yang berfirman adalah benar.”
2. Iman kepada Kristus sebagai Pengantara
Kristus adalah pusat iman yang menyelamatkan. Tanpa Kristus, iman hanyalah moralitas religius yang kosong.
Paulus menyatakan dalam Galatia 2:20:
“Hidupku yang sekarang bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang dalam daging, aku hidupi oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”
Bagi orang Reformed, iman adalah relasi personal dengan Kristus, bukan hanya persetujuan doktrinal.
Jonathan Edwards menggambarkan iman sebagai “pandangan rohani yang memandang keindahan Kristus dan memeluk-Nya dengan kasih.”
IV. Sumber Iman: Karya Roh Kudus
Iman sejati tidak dapat muncul dari kehendak manusia yang berdosa. Menurut teologi Reformed, iman adalah hasil regenerasi (kelahiran baru).
Yesus berkata dalam Yohanes 6:44:
“Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jika ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku.”
John Owen menulis dalam The Holy Spirit:
“Roh Kuduslah yang menanamkan iman di dalam hati. Ia menerangi pikiran, melembutkan kehendak, dan menyalakan kasih kepada Kristus. Tanpa karya Roh, manusia hanya memiliki kepercayaan alami, bukan iman yang menyelamatkan.”
Dengan demikian, iman bukanlah awal dari keselamatan, melainkan buah dari kelahiran baru. Seseorang percaya karena Allah lebih dahulu bekerja dalam dirinya.
V. Buah Iman: Apa yang Dihasilkan oleh Iman Sejati
Iman sejati tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu menghasilkan buah. Yesus berkata,
“Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Matius 7:20).
1. Iman Melahirkan Pembenaran (Justification)
Doktrin sola fide (hanya oleh iman) adalah inti Reformasi.
Manusia dibenarkan bukan oleh perbuatan, melainkan oleh iman kepada Kristus.
Roma 3:28 berkata:
“Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.”
Martin Luther menyebut pembenaran oleh iman sebagai “artikel yang menentukan berdirinya atau runtuhnya gereja.”
Namun iman yang membenarkan bukan iman kosong — iman itu menghubungkan kita dengan Kristus, dan karena itu menghasilkan pembenaran.
2. Iman Melahirkan Kasih dan Ketaatan
Yakobus 2:17 menegaskan:
“Iman tanpa perbuatan adalah mati.”
Ini bukan berarti kita diselamatkan oleh perbuatan, tetapi iman sejati tidak mungkin tidak berbuah.
Iman sejati melahirkan kasih kepada Allah dan sesama, serta kerinduan untuk menaati firman Tuhan.
John Calvin menulis:
“Kita dibenarkan oleh iman saja, tetapi iman yang membenarkan itu tidak pernah sendirian.”
Dengan kata lain, iman sejati selalu disertai buah ketaatan sebagai bukti kehidupan baru.
3. Iman Memberi Kekuatan dalam Penderitaan
Iman bukan hanya alat untuk diselamatkan, tetapi juga kekuatan untuk bertahan.
Ibrani 11 menunjukkan para saksi iman yang tetap teguh dalam penderitaan.
Herman Bavinck berkata:
“Iman bukanlah pelarian dari realitas, tetapi kekuatan rohani yang memungkinkan kita berdiri teguh di tengah badai, karena kita melihat yang tak kelihatan.”
Iman memampukan orang percaya memandang melampaui kesulitan dunia, menuju pengharapan kekal di dalam Kristus.
4. Iman Menumbuhkan Pengharapan dan Kedamaian
Roma 5:1–2 menulis:
“Sebab kita telah dibenarkan oleh iman, maka kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah melalui Tuhan kita Yesus Kristus.”
Iman menghasilkan shalom batin — kedamaian yang lahir dari kepastian akan kasih Allah.
R.C. Sproul menambahkan:
“Iman sejati bukan sekadar percaya bahwa Allah ada, tetapi percaya bahwa Ia adalah Bapa yang penuh kasih yang tidak akan meninggalkan anak-anak-Nya.”
VI. Bahaya Iman yang Palsu
Tidak semua iman bersifat menyelamatkan. Alkitab memperingatkan tentang iman yang dangkal, seperti benih yang jatuh di tanah berbatu (Markus 4:5–6).
Iman palsu bisa tampak aktif secara lahiriah, tetapi tidak berakar dalam Kristus.
Jonathan Edwards menulis dalam Religious Affections:
“Banyak orang tampak beriman untuk sementara, tetapi iman mereka lahir dari emosi, bukan dari pembukaan rohani terhadap kemuliaan Kristus.”
Iman sejati bertahan karena ditopang oleh Roh Kudus, sedangkan iman palsu layu ketika ujian datang.
VII. Iman dan Pengudusan
Iman tidak hanya membenarkan, tetapi juga menjadi dasar bagi pengudusan (sanctification).
Iman memandang kepada Kristus bukan hanya sebagai Penebus dosa, tetapi juga sebagai Teladan dan Sumber kekudusan.
John Owen berkata:
“Iman sejati melihat kemuliaan Kristus, dan penglihatan itu mengubah orang percaya menjadi serupa dengan Dia.”
Semakin kuat iman seseorang, semakin nyata keserupaannya dengan Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
VIII. Iman dan Kemuliaan Kekal
Akhir dari iman adalah penglihatan akan Allah.
1 Petrus 1:8–9 menyatakan:
“Sekalipun kamu tidak melihat Dia, kamu mengasihi-Nya; kamu percaya kepada-Nya, dan kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.”
Pada saat kedatangan Kristus, iman tidak lagi diperlukan — karena yang sekarang kita percayai dengan iman, akan kita lihat dengan mata.
Herman Bavinck menulis dengan indah:
“Iman akan berakhir dalam penglihatan, harapan akan berakhir dalam kepemilikan, dan kasih akan tetap tinggal selamanya.”
Kesimpulan: Hidup oleh Iman
Iman adalah fondasi seluruh kehidupan Kristen. Ia adalah anugerah Allah, sarana pembenaran, kekuatan dalam penderitaan, dan jalan menuju kekudusan serta kemuliaan.
Iman bukanlah optimisme buta, melainkan keyakinan teguh bahwa Allah setia menepati janji-Nya di dalam Kristus.
Oleh karena itu, orang percaya dipanggil untuk terus bertumbuh dalam iman, sebagaimana Paulus berkata dalam 2 Korintus 5:7:
“Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.”
Penutup
Iman bukan sekadar konsep teologis, tetapi kehidupan itu sendiri — kehidupan yang bersandar sepenuhnya pada Kristus, berjalan bersama-Nya, dan menantikan penggenapan janji-Nya.
Kiranya setiap kita dapat berkata seperti Rasul Paulus:
“Aku tahu kepada siapa aku percaya.” (2 Timotius 1:12)