Zakharia 3:10: Damai Sejahtera di Bawah Pohon Anggur dan Ara

Zakharia 3:10: Damai Sejahtera di Bawah Pohon Anggur dan Ara

Pendahuluan: Nubuat Damai yang Dijanjikan

Ayat Zakharia 3:10 ini merupakan penutup dari penglihatan ketiga dalam kitab Zakharia pasal 3, yang berpusat pada pemulihan imam besar Yosua dan, melalui dia, pemulihan seluruh umat Israel. Setelah Yosua dibersihkan dari pakaian yang kotor (melambangkan penghapusan dosa) dan mengenakan pakaian yang baru (melambangkan pembenaran dan pengudusan oleh anugerah Allah), Tuhan mengakhiri penglihatan itu dengan janji damai dan kemakmuran — bahwa pada “hari itu,” setiap orang akan duduk di bawah pohon anggur dan pohon ara bersama sahabatnya.

Ungkapan ini, yang tampaknya sederhana dan agraris, sebenarnya mengandung makna teologis yang dalam. Ia berbicara bukan sekadar tentang kesejahteraan materi, melainkan tentang kedamaian yang bersumber dari keselamatan, yaitu shalom yang datang dari rekonsiliasi antara Allah dan manusia.

I. Konteks Historis dan Nubuat Eskatologis

Setelah pembuangan Babel, bangsa Israel hidup dalam ketakutan, kemiskinan, dan keterpurukan rohani. Yerusalem hancur, bait Allah terbengkalai, dan ibadah sejati melemah. Dalam konteks itulah Tuhan berbicara melalui Zakharia — nabi yang membawa kabar pengharapan restoratif.

Pasal 3 menggambarkan penglihatan tentang Yosua sang imam besar, yang berdiri di hadapan TUHAN sambil dituduh oleh Iblis, musuh umat Allah. Allah menegur Iblis dan memerintahkan agar pakaian Yosua yang kotor ditanggalkan dan diganti dengan pakaian pesta. Ini adalah gambaran simbolis pembenaran oleh kasih karunia, yang menjadi inti dari doktrin Reformed.

Ayat 10 kemudian menjadi penutup penglihatan, menandai hasil dari pembenaran itu — damai sejahtera dan persahabatan yang sejati di bawah pemerintahan Mesias.

John Calvin dalam komentarnya menulis:
“Tuhan menunjukkan melalui simbol agraris bahwa setelah pemulihan rohani, akan datang keadaan damai dan keamanan yang hanya dapat terjadi ketika manusia hidup di bawah pemerintahan Kristus.”

Jadi, janji “setiap orang akan duduk di bawah pohon anggur dan pohon ara” bukan sekadar kembalinya kemakmuran ekonomi, tetapi gambaran kerajaan Mesias yang penuh shalom, di mana umat Allah mengalami ketenteraman batin karena dosa mereka telah dihapuskan.

II. Simbolisme Pohon Anggur dan Pohon Ara

1. Pohon Anggur: Sukacita dan Persekutuan

Dalam Alkitab, pohon anggur sering kali melambangkan sukacita dan berkat rohani. Anggur adalah simbol dari perayaan, kebahagiaan, dan kehidupan yang limpah (bdk. Mazmur 104:15, Yohanes 2:1-10). Di bawah pemerintahan Kristus, umat Allah menikmati sukacita sejati yang berasal dari keselamatan dan kehadiran Allah sendiri.

Menurut Herman Bavinck, dalam Reformed Dogmatics, berkat-berkat kerajaan Allah tidak dapat dipisahkan dari transformasi batin yang dikerjakan Roh Kudus:

“Sukacita umat Allah bukan berasal dari hal-hal lahiriah, melainkan dari persekutuan yang dipulihkan dengan Allah yang kekal. Inilah anggur rohani yang menguatkan jiwa.”

Pohon anggur dalam konteks ini melambangkan pembaharuan persekutuan dengan Allah — umat Allah yang telah disucikan sekarang dapat menikmati kebersamaan dengan Sang Pencipta tanpa rasa takut.

2. Pohon Ara: Keamanan dan Ketenteraman

Pohon ara, di sisi lain, sering dipakai dalam Perjanjian Lama untuk melambangkan ketenteraman, keamanan, dan kelimpahan. Dalam 1 Raja-raja 4:25 tertulis:

“Pada zaman Salomo, Yehuda dan Israel diam dengan aman, masing-masing di bawah pohon anggurnya dan di bawah pohon aranya, dari Dan sampai Bersyeba, seumur hidup Salomo.”

Ini adalah gambaran shalom nasional — ketenangan yang tidak terganggu oleh perang, ketakutan, atau kekurangan. Namun dalam konteks Zakharia, gambaran ini meluas menjadi shalom rohani, yaitu kedamaian hati yang lahir dari pengampunan dosa dan pemulihan hubungan dengan Allah.

Louis Berkhof menafsirkan simbol ini dalam konteks eskatologis:

“Bayangan damai di bawah pohon anggur dan ara menunjuk kepada kedamaian yang menjadi bagian umat Allah di bawah pemerintahan Kristus. Itu bukan utopia politik, melainkan realitas rohani yang dimulai dalam hati orang percaya dan akan mencapai kepenuhan pada kedatangan Kristus yang kedua.”

III. “Pada Hari Itu”: Penggenapan dalam Kristus

Ungkapan “pada hari itu” sering muncul dalam kitab Zakharia (lih. Zakharia 2:11, 3:10, 9:16, 12:3, 13:1, 14:9) dan selalu menunjuk pada masa Mesianik — hari ketika Allah bertindak secara penuh dalam sejarah untuk menebus umat-Nya melalui Mesias, yaitu Yesus Kristus.

Dalam konteks teologi Reformed, hari itu telah dimulai dengan kedatangan pertama Kristus, tetapi akan mencapai kesempurnaannya pada kedatangan kedua-Nya. Ini sejalan dengan pandangan “already but not yet” dari teologi kerajaan Allah: keselamatan sudah dihadirkan, tetapi belum disempurnakan.

R.C. Sproul menjelaskan:

“Dalam Kristus, kerajaan Allah telah datang, tetapi belum sepenuhnya direalisasikan. Kita sudah hidup dalam bayang-bayang kemuliaan itu — dalam damai yang sejati, meski dunia di sekitar kita masih bergejolak.”

Dengan demikian, Zakharia 3:10 berbicara tentang penggenapan janji keselamatan dan kedamaian di dalam Kristus. Orang percaya sekarang dapat “duduk di bawah pohon anggur dan ara” secara rohani — yaitu menikmati kehadiran Allah, damai batin, dan persekutuan kasih yang sejati di dalam tubuh Kristus.

IV. Dimensi Komunal: “Setiap Orang dari Kalian Akan Mengundang Temannya”

Perhatikan bahwa janji ini bersifat komunal: bukan hanya seseorang duduk di bawah pohonnya, tetapi ia mengundang temannya. Ini melambangkan persekutuan umat Allah yang saling berbagi damai dan sukacita yang mereka alami dalam Kristus.

Doa dan undangan ini mencerminkan realitas gereja — komunitas orang yang telah ditebus dan kini hidup dalam kasih persaudaraan. Dalam konteks ini, damai sejahtera yang dijanjikan Allah bukan bersifat individualistis, melainkan relasional dan sosial.

John Owen menulis dalam Communion with God:

“Persekutuan dengan Allah tidak dapat dipisahkan dari persekutuan dengan sesama orang percaya. Mereka yang menikmati kasih Allah akan secara alami memancarkannya kepada orang lain.”

Jadi, gambaran duduk bersama di bawah pohon anggur dan ara merupakan prototipe dari persekutuan gereja, di mana kasih dan damai Kristus mengikat umat-Nya menjadi satu tubuh.

V. Aplikasi Teologis dan Spiritualitas Reformed

1. Damai Sejahtera yang Berasal dari Pembenaran

Paulus dalam Roma 5:1 menyatakan:

“Sebab kita telah dibenarkan karena iman, maka kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah melalui Tuhan kita, Yesus Kristus.”

Inilah inti pesan Zakharia 3: seluruh penglihatan dari ayat 1–10 menunjukkan bagaimana pembenaran (justification) membawa damai (shalom). Dalam Kristus, dosa yang membuat manusia najis telah dihapuskan, dan sebagai hasilnya, umat Allah menikmati kedamaian sejati — gambaran duduk di bawah pohon anggur dan ara itu.

John Calvin menulis:

“Kedamaian sejati hanya dapat ditemukan ketika hati manusia mengetahui bahwa dosa-dosanya telah diampuni. Segala bentuk keamanan tanpa pengampunan hanyalah ilusi.”

2. Kehidupan Kudus sebagai Buah Damai

Zakharia 3:7 menekankan bahwa mereka yang “berjalan di jalan-Ku” akan memiliki tempat di hadapan Allah. Maka, damai di ayat 10 tidak dapat dipisahkan dari panggilan kepada kekudusan.

Sebagaimana ditegaskan oleh Herman Bavinck:

“Anugerah Allah tidak hanya membenarkan, tetapi juga membaharui. Kedamaian yang dijanjikan Tuhan adalah buah dari kehidupan yang dikuduskan oleh Roh.”

Artinya, kedamaian sejati bukanlah hasil dari kemalasan rohani, melainkan dari kehidupan yang taat dan dipimpin oleh Roh Kudus.

3. Persekutuan Kristen: Jemaat yang Menghidupi Damai

Dalam terang janji Zakharia 3:10, gereja dipanggil untuk menjadi komunitas shalom — tempat di mana orang-orang percaya saling mengundang satu sama lain untuk menikmati damai Kristus.

Sinclair Ferguson menulis:

“Ketika Injil benar-benar dihayati, gereja menjadi tempat di mana manusia dapat ‘bernaung di bawah pohon anggur dan ara’ — bukan karena keadaan lahiriah yang sempurna, tetapi karena kasih karunia yang menenangkan hati.”

VI. Eskatologi: Pengharapan Akan Kedamaian yang Sempurna

Akhirnya, nubuat ini mengarah kepada penggenapan eskatologis — hari di mana seluruh umat Allah akan hidup dalam damai kekal di hadapan-Nya. Yohanes dalam Wahyu 21:4 menggambarkan keadaan itu dengan indah:

“Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka... tidak akan ada lagi dukacita, tangisan, atau duka cita.”

Zakharia 3:10 adalah bayangan awal dari realitas surgawi ini. Di bawah pemerintahan Anak Domba, orang percaya akan menikmati kedamaian yang tidak dapat diganggu lagi oleh dosa, maut, atau kejahatan. Itulah puncak dari shalom Allah.

Kesimpulan: Shalom sebagai Buah dari Penebusan

Zakharia 3:10 bukan hanya sebuah janji damai bagi Israel pasca-pembuangan, tetapi sebuah nubuatan universal tentang damai sejahtera yang datang melalui Kristus. Ia menunjukkan transformasi yang dimulai dari pengampunan dosa hingga pemulihan komunitas dan ciptaan.

Bagi teologi Reformed, ayat ini menegaskan bahwa semua berkat — damai, persaudaraan, kemakmuran, dan sukacita — mengalir dari satu sumber: anugerah penebusan di dalam Kristus. Tanpa pembenaran, tidak ada kedamaian sejati. Tetapi di dalam Kristus, manusia yang dahulu najis kini diundang untuk duduk, beristirahat, dan bersukacita dalam hadirat Allah.

“Pada hari itu,” firman TUHAN, “setiap orang akan duduk di bawah pohon anggur dan pohon ara.”
Ini bukan sekadar janji bagi masa lalu — ini adalah realitas rohani bagi setiap orang yang telah dibenarkan oleh darah Kristus dan hidup dalam damai yang kekal bersama-Nya.

Next Post Previous Post