Kejadian 13:5–13: Ketika Iman dan Ambisi Bertemu di Lembah Yordan

Kejadian 13:5–13: Ketika Iman dan Ambisi Bertemu di Lembah Yordan

Pendahuluan: Dua Jalan, Dua Hati

Kisah Kejadian 13:5–13 memperlihatkan kontras yang tajam antara dua tokoh — Abram yang dipimpin oleh iman, dan Lot yang digerakkan oleh pandangan mata dan ambisi pribadi.
Dua orang yang sama-sama diberkati, sama-sama kaya, namun berbeda arah hidup karena berbeda pusat kepercayaan.

Bagi Abram, iman kepada janji Allah adalah pusat segala keputusan.
Bagi Lot, kenyamanan dan keuntungan duniawi menjadi penuntun langkahnya.

Peristiwa ini adalah titik balik rohani: Allah memisahkan Abram dari semua sandaran manusiawi agar janji-Nya dapat tergenapi tanpa campuran ambisi manusia.

John Calvin menulis dalam komentarnya:

“Tuhan sering kali menggunakan perpisahan manusiawi untuk memperjelas panggilan ilahi. Abram harus berdiri sendiri agar berkat yang dijanjikan Allah menjadi murni bersumber dari iman, bukan dari bantuan duniawi.”

1. Kekayaan yang Menjadi Ujian (Kejadian 13:5–6)

“Lot, yang ikut bersama Abram, juga memiliki kawanan domba, kawanan sapi, dan tenda-tenda, sehingga negeri itu tidak cukup lagi menampung mereka untuk hidup bersama-sama.”

Di sini kita melihat berkat Allah yang melimpah justru menjadi sumber persoalan.
Baik Abram maupun Lot diberkati dengan kekayaan yang besar. Namun, kekayaan itu membawa tekanan rohani dan relasional.

Teologi Reformed menekankan bahwa berkat materi bukan tanda utama dari perkenanan Allah, melainkan alat untuk menguji hati manusia.

Herman Bavinck menulis:

“Segala berkat duniawi memiliki dua sisi: sebagai anugerah dan sebagai ujian. Berkat itu menguji apakah hati kita melekat pada pemberian atau kepada Pemberi.”

Abram lulus dalam ujian ini. Ia tidak melekat pada kekayaannya. Tetapi Lot gagal. Hatinya condong pada kesuburan tanah dan kemakmuran duniawi.

2. Perselisihan di Tengah Berkat (Kejadian 13:7)

“Lalu, terjadilah perselisihan di antara para gembala ternak Abram dan para gembala ternak Lot.”

Perselisihan muncul bukan karena kekurangan, melainkan karena kelimpahan.
Inilah ironi kehidupan rohani: kelimpahan yang tidak dijaga dengan kerendahan hati dapat memunculkan perpecahan bahkan di antara keluarga seiman.

Di tengah berkat, keserakahan dan ego dapat menyelinap tanpa disadari.

Matthew Henry mencatat:

“Tidak ada rumah tangga yang terlalu saleh untuk terbebas dari pertengkaran jika kesombongan dan cinta akan dunia masuk ke dalam hati.”

Bahkan dalam keluarga yang diberkati Allah, konflik dapat muncul bila mata rohani tidak tertuju kepada Tuhan.

3. Kematangan Rohani Abram (Kejadian 13:8–9)

“Abram berkata kepada Lot, ‘Aku mohon, jangan sampai terjadi perselisihan antara kamu dan aku... sebab kita ini bersaudara. Bukankah seluruh tanah ini ada di hadapanmu? Jika kamu ke kiri, aku akan ke kanan; jika kamu ke kanan, aku akan ke kiri.’”

Abram menampilkan buah Roh Kudus dalam sikapnya: kelemahlembutan, kasih persaudaraan, dan kerelaan melepaskan haknya.
Ia adalah orang yang lebih tua, kepala keluarga, dan pemegang janji Allah. Namun, ia tidak menuntut posisi atau kehormatan. Ia menyerahkan hak memilih kepada Lot.

Ini adalah bukti iman yang sejati. Orang yang tahu bahwa hidupnya ada di tangan Allah tidak takut kehilangan apa pun.

Calvin berkata:

“Abram menunjukkan bahwa iman sejati tidak bergantung pada penguasaan tanah atau keuntungan materi, tetapi pada keyakinan bahwa Allah adalah bagian dan pusakanya.”

R.C. Sproul menambahkan:

“Abram bebas dari ketamakan karena ia yakin janji Allah lebih pasti daripada tanah yang terlihat. Iman sejati menundukkan hak kepada kasih.”

Abram menolak menggunakan kekuatan duniawi untuk mempertahankan janji rohani. Ia tahu bahwa tanah perjanjian adalah warisan kasih karunia, bukan hasil negosiasi manusia.

4. Lot: Pilihan yang Digerakkan oleh Pandangan Duniawi (Kejadian 13:10–11)

“Lot mengarahkan matanya dan melihat seluruh Lembah Yordan, yang terairi dengan baik di mana-mana seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir ke arah Zoar... Jadi, Lot memilih bagi dirinya sendiri seluruh Lembah Yordan.”

Lot melihat dan memilih berdasarkan penampilan luar. Ia “mengangkat matanya,” tetapi bukan dengan mata iman. Ia melihat kesuburan tanah, bukan kondisi rohani dari tempat itu.

Lot terpikat oleh “Lembah Yordan” — wilayah subur dan indah — tetapi ia tidak menyadari bahwa keindahan dunia sering menyembunyikan bahaya rohani.

Lembah itu “seperti taman TUHAN,” tetapi di sanalah berdiri Sodom dan Gomora — lambang dari kebobrokan moral.

John Owen menjelaskan:

“Setan kerap memikat jiwa dengan kemegahan yang serupa taman Eden, tetapi ujungnya adalah kehancuran. Ketika mata rohani tertutup, keindahan dunia menjadi jerat yang mematikan.”

Lot memilih “bagi dirinya sendiri.” Ini adalah kata kunci. Keputusan itu berpusat pada ego. Tidak ada doa, tidak ada konsultasi dengan Allah, tidak ada pertimbangan rohani.

Reformed theology menekankan bahwa keputusan yang diambil tanpa Firman dan doa cenderung menjerumuskan kita ke dalam kehendak sendiri, bukan kehendak Allah.

5. Dua Arah Hidup yang Bertolak Belakang (Kejadian 13:12)

“Abram menetap di tanah Kanaan, sedangkan Lot menetap di antara kota-kota di lembah itu dan memindahkan tendanya sampai ke Sodom.”

Kedua tokoh kini mengambil arah yang berlawanan:

  • Abram tinggal di tanah Kanaan — tanah janji.

  • Lot bergerak ke timur — menuju Sodom.

Dalam Alkitab, arah “ke timur” sering melambangkan menjauh dari hadirat Allah (bandingkan Kejadian 3:24; 4:16; 11:2).

Lot secara simbolik bergerak menjauh dari janji Allah menuju wilayah kompromi moral.

Abram hidup dalam tenda, tanda ketergantungan pada Allah dan kesadaran bahwa ia hanyalah pengembara di dunia.
Lot hidup di antara kota-kota, tanda keinginan untuk stabilitas dan kenyamanan dunia.

Seperti dikatakan oleh Bavinck:

“Dunia ini bukan rumah bagi orang beriman, melainkan tempat ziarah. Ketika kita ingin menjadikannya rumah permanen, kita telah mulai kehilangan arah rohani.”

6. Dosa yang Bersembunyi di Balik Kemakmuran (Kejadian 13:13)

“Namun, orang Sodom itu jahat dan sangat berdosa terhadap TUHAN.”

Kalimat ini adalah peringatan tajam. Di balik kesuburan Lembah Yordan, tersembunyi kejahatan moral yang sangat besar.
Lot melihat padang yang hijau, tetapi Allah melihat kota yang busuk.

R.C. Sproul menulis:

“Lot melihat rumput, Allah melihat dosa. Lot melihat air, Allah melihat api yang akan turun dari surga.”

Lot tidak memerhatikan reputasi Sodom. Ia hanya memikirkan keuntungan ekonomi. Ia tidak bertanya: Apakah tempat ini akan menolong imanku atau menghancurkannya?

Pilihan Lot akhirnya membawa akibat fatal:

  • Ia kehilangan hartanya.

  • Istrinya menjadi tiang garam.

  • Anak-anaknya hidup dalam aib (Kej. 19).

Teologi Reformed melihat ini sebagai bukti bahwa iman yang lemah akan mudah tertipu oleh kenikmatan dunia.

7. Teologi Anugerah dalam Perpisahan Ini

Meskipun Lot gagal dalam keputusannya, kisah ini tetap memancarkan anugerah Allah yang besar.
Allah tetap menyelamatkan Lot dari kehancuran Sodom (Kej. 19), bukan karena kebaikan Lot, tetapi karena kasih Allah kepada Abram.

“Ketika Allah membinasakan kota-kota di lembah itu, Allah ingat kepada Abraham dan menyelamatkan Lot.” (Kejadian 19:29)

Ini adalah gambaran indah tentang perantaraan Kristus.
Sebagaimana Lot diselamatkan karena Abram, demikianlah orang berdosa diselamatkan karena Kristus yang menjadi Perantara.

Calvin menulis:

“Lot diselamatkan bukan karena dirinya, tetapi karena Allah mengingat perjanjian-Nya dengan Abram. Demikianlah semua orang percaya diselamatkan bukan karena jasa mereka, tetapi karena Allah mengingat Anak-Nya.”

8. Pelajaran Rohani dan Prinsip Reformed

a. Kekayaan Bukan Tanda Keberkenanan Ilahi

Reformed theology menegaskan bahwa berkat materi bukan bukti mutlak dari kasih karunia Allah.
Abram dan Lot sama-sama kaya, tetapi yang satu menjadi berkat dunia, yang lain menjadi peringatan bagi orang percaya.

b. Iman Mengutamakan Janji, Bukan Penampakan

Abram memandang kepada Allah yang tidak kelihatan; Lot memandang kepada lembah yang kelihatan.
Iman sejati selalu menilai segala sesuatu dari sudut pandang kekekalan.

Bavinck menyatakan:

“Iman tidak mengukur berkat dari keadaan sekarang, tetapi dari kesetiaan Allah yang kekal.”

c. Kasih Lebih Tinggi dari Hak

Abram melepaskan haknya karena mengutamakan damai dan kasih persaudaraan.
Dalam teologi Reformed, ini mencerminkan buah regenerasi — hati yang diperbarui oleh kasih karunia.

d. Kompromi Kecil Dapat Berakhir Fatal

Lot tidak langsung tinggal di Sodom; ia hanya “memindahkan tendanya sampai ke Sodom.” Namun langkah kecil itu menjadi awal kejatuhannya.
Dosa sering dimulai dari kompromi kecil yang tampak tidak berbahaya.

John Owen menulis:

“Dosa tidak pernah puas berhenti di satu langkah; ia selalu menuntut lebih. Tugas kita bukan bernegosiasi dengannya, tetapi mematikannya.”

9. Aplikasi untuk Kehidupan Kristen Masa Kini

1. Dalam Dunia yang Materialistis

Kita hidup di zaman di mana “Lembah Yordan” modern — kekayaan, karier, dan kenyamanan — menarik banyak hati orang percaya.
Kisah Lot mengingatkan kita untuk tidak membuat keputusan berdasarkan keuntungan duniawi, melainkan kehendak Allah.

2. Dalam Pelayanan dan Gereja

Perselisihan seperti antara gembala Abram dan Lot masih dapat terjadi dalam gereja.
Solusinya bukan kekuasaan, tetapi kerendahan hati dan kasih seperti Abram. Gereja yang dipenuhi Roh akan memilih perdamaian daripada kemenangan ego.

3. Dalam Hidup Pribadi

Kita diajak bertanya:

  • Apakah keputusan-keputusan saya diambil melalui doa dan iman?

  • Apakah saya lebih tertarik pada “taman TUHAN” yang terlihat atau pada janji Allah yang kekal?

  • Apakah saya hidup sebagai pengembara rohani seperti Abram atau sebagai penghuni Sodom seperti Lot?

10. Abram sebagai Tipe Kristus

Abram dalam kisah ini menggambarkan Kristus yang lebih besar:

  • Ia menyerahkan haknya demi damai (Filipi 2:6–8).

  • Ia mempercayai janji Allah sepenuhnya.

  • Ia menjadi perantara yang membawa berkat bagi Lot.

Kristus adalah “Abram sejati” yang memilih salib daripada mahkota dunia, dan melalui pengorbanan-Nya, membawa kita kepada tanah perjanjian surgawi.

11. Refleksi Teologis: Dua Jenis “Pandangan Mata”

Dalam kisah ini, dua cara memandang dunia ditampilkan:

AbramLot
Melihat dengan mata imanMelihat dengan mata dunia
Menyerahkan hakMemilih bagi diri sendiri
Hidup dalam tenda (ziarah)Tinggal di kota (kenyamanan)
Mengandalkan janji AllahMengandalkan penilaian sendiri
Menjadi berkatMenjadi peringatan

Reformed theology menegaskan bahwa iman sejati melihat dengan mata yang diperbarui oleh Roh Kudus.
Sebaliknya, dunia memandang dengan mata yang dibutakan oleh nafsu.

12. Kesimpulan: Pilihan yang Menentukan Nasib Kekal

Perpisahan Abram dan Lot bukan sekadar kisah keluarga, tetapi cermin dua jalan hidup — jalan iman dan jalan pandangan duniawi.

Abram mengajarkan bahwa ketaatan kepada Allah lebih berharga daripada tanah yang subur.
Lot mengingatkan bahwa ambisi tanpa iman akan berakhir dalam kerugian rohani.

Akhir dari kisah ini menunjukkan:

  • Abram menerima janji Allah dan diberkati sepanjang hidupnya.

  • Lot kehilangan segalanya di Sodom.

Pilihan kita hari ini — antara iman dan ambisi — menentukan arah kehidupan rohani kita.

Seperti kata Yesus:

“Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Matius 6:21)

Next Post Previous Post