Kisah Para Rasul 11:4–10: Anugerah yang Melampaui Batas
.jpg)
Pendahuluan: Pintu Kasih Karunia yang Dibuka Lebar
Bagian Kisah Para Rasul 11:4–10 ini merupakan salah satu momen paling penting dalam sejarah gereja mula-mula. Petrus, yang selama ini memahami kekudusan dalam kerangka hukum Taurat, diperhadapkan pada penglihatan yang menantang seluruh paradigma keagamaannya. Ia melihat kain besar berisi berbagai binatang — yang secara hukum Yahudi dianggap najis — dan diperintahkan oleh Tuhan untuk memakannya.
Penglihatan ini bukan sekadar tentang makanan, melainkan tentang misi Allah yang universal, yang kini menjangkau bukan hanya bangsa Israel, tetapi juga bangsa-bangsa lain. Kisah ini menandai peralihan besar dalam ekonomi keselamatan, dari batasan etnis menuju anugerah yang melampaui segala bangsa.
Dalam kerangka teologi Reformed, bagian ini memperlihatkan dua tema besar:
-
Kedaulatan anugerah Allah dalam keselamatan.
-
Transformasi pemahaman manusia di bawah otoritas wahyu Allah.
John Calvin menulis dalam komentarnya atas Kisah Para Rasul:
“Allah mengajar Petrus untuk tidak membatasi kasih karunia-Nya dengan prasangka manusia. Ia menunjukkan bahwa Kristus tidak datang hanya bagi sebagian orang, tetapi bagi semua yang dipanggil oleh kasih karunia-Nya.”
1. Konteks Historis: Dari Yope Menuju Kaisarea
Sebelum peristiwa ini, Petrus sedang melayani di Yope, kota pelabuhan di tepi Laut Tengah. Di sanalah ia menerima penglihatan ini. Pada waktu yang sama, Cornelius, seorang perwira Romawi yang takut akan Allah, juga mendapat penglihatan dari malaikat (Kis. 10:1–8).
Kedua peristiwa ini saling terkait dan disatukan oleh penyelenggaraan ilahi. Roh Kudus sedang menyiapkan pertemuan lintas batas — antara Yahudi dan bukan Yahudi, antara hukum dan anugerah, antara eksklusivitas dan universalitas Injil.
Bagi seorang Yahudi seperti Petrus, perintah untuk “makan binatang najis” adalah pelanggaran serius terhadap hukum ritual. Namun Allah sendiri yang memberi perintah itu. Di sinilah terletak ketegangan rohani dan teologis dari kisah ini.
2. Eksposisi Ayat per Ayat
Kisah Para Rasul 11:4 – Penjelasan yang Sistematis
“Akan tetapi, Petrus mulai menjelaskannya secara urut kepada mereka, katanya,”
Ketika Petrus kembali ke Yerusalem, ia dikritik oleh orang-orang percaya dari golongan bersunat (ayat 2–3). Mereka menuduhnya melanggar tradisi Yahudi karena bergaul dengan orang bukan Yahudi.
Namun, Petrus tidak membela diri dengan argumen manusia, melainkan menjelaskan karya Allah secara berurutan dan sistematis.
Ini menunjukkan bahwa iman sejati bukanlah anti-rasional, melainkan berakar pada wahyu dan pengalaman ilahi yang dapat dijelaskan berdasarkan firman Allah.
Calvin menafsirkan:
“Petrus memberi teladan bagi semua pelayan Kristus agar tidak bertindak berdasarkan perasaan pribadi, tetapi tunduk pada pimpinan Roh Kudus dan menyelidiki kehendak Allah dengan tertib.”
Teologi Reformed menghargai rasionalitas iman. Penjelasan Petrus “secara urut” menunjukkan bahwa iman Kristen itu masuk akal, karena bersumber dari wahyu yang teratur.
Kisah Para Rasul 11:5 – Penglihatan di Yope
“Aku sedang berdoa di kota Yope, dan dalam keadaan tidak sadar, aku melihat sebuah penglihatan, sesuatu seperti selembar kain lebar turun, yang terulur dengan keempat sudutnya dari langit, dan benda itu mendekat kepadaku.”
Petrus sedang berdoa ketika penglihatan itu datang. Artinya, wahyu ilahi datang di tengah disiplin rohani. Penglihatan ini bukan hasil imajinasi, melainkan komunikasi ilahi.
Kain besar yang “turun dari langit” melambangkan inisiatif Allah — bukan manusia yang mencari Allah, tetapi Allah yang menyatakan diri-Nya. “Empat sudut” kain itu melambangkan seluruh bumi (utara, selatan, timur, barat), menandakan bahwa keselamatan akan mencakup semua bangsa.
John Stott menulis:
“Langit terbuka untuk menunjukkan bahwa Injil bukan lagi milik satu bangsa. Allah sedang mengirim pesan bahwa Kristus adalah Juruselamat dunia.”
Petrus tidak sedang bermimpi tentang makanan, tetapi sedang menyaksikan revolusi ilahi dalam sejarah keselamatan.
Kisah Para Rasul 11:6 – Binatang Najis dan Pesan Simbolis
“Setelah aku menatapnya, aku memperhatikan dan melihat binatang-binatang berkaki empat di bumi, binatang-binatang liar, binatang-binatang melata, dan burung-burung di udara.”
Binatang-binatang ini adalah simbol dari segala jenis makhluk ciptaan, termasuk yang dianggap najis oleh hukum Taurat (lihat Imamat 11).
Dalam konteks PL, perbedaan antara binatang tahir dan najis mengajarkan kekudusan Allah dan pemisahan Israel dari bangsa lain. Namun, melalui penglihatan ini, Allah menyatakan bahwa batasan-batasan itu tidak lagi relevan dalam Perjanjian Baru.
R.C. Sproul menjelaskan:
“Ketika Kristus datang, Ia tidak membatalkan kekudusan, tetapi menggenapinya. Simbol-simbol ritual yang menunjuk pada pemisahan Israel kini digantikan oleh realitas: kekudusan sejati yang datang melalui iman kepada Kristus.”
Dengan demikian, binatang-binatang itu menggambarkan bangsa-bangsa — dan penglihatan ini menjadi proklamasi awal tentang Injil bagi segala bangsa.
Kisah Para Rasul 11:7 – Perintah Ilahi yang Mengejutkan
“Aku juga mendengar ada suara berkata kepadaku, ‘Bangun, Petrus, sembelih dan makanlah!’”
Perintah ini mengejutkan. Allah sendiri memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan hukum ritual Musa.
Ini bukan karena Allah berubah, melainkan karena rencana keselamatan-Nya mencapai tahap penggenapan.
Dalam Kristus, hukum seremonial telah digenapi (lihat Efesus 2:15). Karena itu, apa yang dahulu melambangkan perbedaan antara kudus dan najis kini disatukan dalam satu tubuh rohani — gereja.
Calvin menulis:
“Tuhan tidak memerintahkan Petrus untuk berdosa, tetapi mengajarinya bahwa perbedaan antara yang tahir dan najis telah berakhir dalam Kristus. Kristus adalah satu-satunya dasar kekudusan sejati.”
Kisah Para Rasul 11:8 – Penolakan Manusia yang Alamiah
“Namun, aku berkata, ‘Tidak, Tuhan. Sebab, tidak ada yang haram atau najis pernah masuk ke dalam mulutku.’”
Penolakan Petrus menunjukkan resistensi alami manusia terhadap perubahan teologis. Ia setia pada hukum Taurat, tetapi belum memahami kedalaman Injil.
Sikap ini menggambarkan ketegangan antara tradisi dan wahyu baru.
Petrus berkata, “Tidak, Tuhan” — dua kata yang seharusnya tidak pernah disatukan. Jika benar-benar Tuhan, maka kita tidak berhak berkata “tidak”.
Reformed theologian Sinclair Ferguson menulis:
“Petrus adalah contoh bagaimana kasih karunia Allah harus menaklukkan kebiasaan lama dan prasangka. Pengudusan bukan hanya meninggalkan dosa, tetapi juga meninggalkan cara berpikir lama yang membatasi kasih karunia.”
Allah sedang mendidik Petrus untuk melihat dengan mata Injil, bukan dengan mata kebangsaan.
Kisah Para Rasul 11:9 – Prinsip Theologis Utama
“Akan tetapi, suara itu menjawab untuk kedua kalinya dari langit, ‘Apa yang telah Allah tahirkan, jangan sekali-kali kamu sebut haram!’”
Inilah inti teologis dari seluruh perikop ini. Allah menegaskan bahwa apa yang telah Ia nyatakan tahir, manusia tidak boleh menajiskannya kembali.
Dalam konteks keselamatan, ini berarti bahwa semua orang yang dibenarkan oleh Kristus adalah kudus di hadapan Allah, tanpa memandang latar belakang etnis atau moral masa lalu mereka.
Bavinck menulis:
“Allah sendiri yang menyucikan manusia, bukan hukum atau ritual. Kekudusan bukan hasil perbuatan, tetapi hasil dari hubungan dengan Kristus.”
Ayat ini menegaskan otoritas ilahi atas definisi kekudusan. Manusia tidak berhak menilai siapa yang layak menerima kasih karunia Allah.
Kisah Para Rasul 11:10 – Tiga Kali Pengulangan
“Hal ini terjadi tiga kali, lalu semuanya itu ditarik kembali ke langit.”
Pengulangan tiga kali menunjukkan penegasan ilahi. Petrus yang pernah menyangkal Kristus tiga kali kini juga diajar tiga kali tentang luasnya kasih karunia Allah.
Dalam simbolisme Alkitab, tiga kali berarti sesuatu yang pasti dan sah.
Dengan demikian, pesan ini tidak bisa disalahartikan: Allah benar-benar telah membuka jalan keselamatan bagi semua bangsa.
3. Makna Teologis Menurut Teologi Reformed
a. Kedaulatan Anugerah dalam Panggilan Bangsa-Bangsa
Teologi Reformed menekankan bahwa keselamatan tidak dimulai dari manusia, tetapi dari inisiatif Allah.
Petrus tidak bermimpi untuk pergi ke bangsa-bangsa lain; justru Allah yang membuka pintu itu.
John Murray menulis:
“Panggilan efektif Allah tidak hanya memanggil individu, tetapi juga memecahkan tembok-tembok etnis dan moral. Kasih karunia itu berdaulat dan transnasional.”
Kisah ini memperlihatkan bahwa Allah berdaulat dalam menentukan siapa yang akan menerima Injil, dan Roh Kudus memimpin gereja untuk melampaui batasan manusiawi.
b. Transformasi Paradigma Hukum kepada Injil
Hukum Taurat telah berfungsi sebagai “penuntun kepada Kristus” (Galatia 3:24). Sekarang, ketika Kristus telah datang, hukum itu menemukan penggenapannya.
Reformed theology tidak meniadakan hukum, tetapi menempatkannya di bawah kasih karunia. Hukum tetap penting sebagai cermin dosa dan pedoman moral, namun tidak lagi menjadi dasar persekutuan dengan Allah.
Seperti ditulis oleh Louis Berkhof:
“Hukum masih berlaku, tetapi sebagai hukum kasih, bukan sebagai sistem ritual yang membatasi anugerah.”
c. Doktrin Penyucian Ilahi
Ayat 9 menjadi dasar doktrin pengudusan oleh Allah sendiri.
Ketika Allah menyatakan sesuatu tahir, maka kekudusan itu objektif dan final, bukan hasil dari usaha manusia.
Hal ini paralel dengan doktrin pembenaran dan pengudusan posisional dalam Kristus.
Seperti dikatakan oleh Calvin:
“Kita tidak menjadi kudus karena kita bersih, tetapi karena Allah memanggil kita kudus di dalam Kristus.”
4. Implikasi Praktis bagi Gereja Masa Kini
-
Menghapus Prasangka dalam Pelayanan.
Gereja tidak boleh membatasi siapa yang layak menerima Injil. Kasih karunia Allah harus diberitakan kepada semua orang tanpa pandang bulu. -
Ketaatan kepada Wahyu Lebih Tinggi dari Tradisi.
Petrus harus belajar bahwa tradisi Yahudi tidak bisa menandingi otoritas suara Allah. Demikian juga, gereja harus tunduk pada Firman, bukan budaya atau kebiasaan. -
Doa Sebagai Saluran Wahyu dan Transformasi.
Penglihatan terjadi saat Petrus berdoa. Kehidupan doa membuka pintu bagi pengertian baru tentang kehendak Allah. -
Kekudusan yang Sejati Bersumber dari Allah.
Manusia tidak dapat menajiskan apa yang telah Allah tahirkan. Kita dipanggil untuk menerima saudara-saudara kita sebagaimana Allah telah menerima kita.
5. Kesimpulan: Kasih Karunia yang Tak Terbatas
Kisah Para Rasul 11:4–10 bukan hanya sejarah misi, tetapi pengumuman teologis tentang kasih karunia yang melampaui batasan manusia. Allah mematahkan dinding pemisah antara Yahudi dan bukan Yahudi, antara yang dianggap tahir dan najis, antara hukum dan Injil.
Petrus belajar bahwa kasih karunia Allah tidak bisa dibatasi oleh kebiasaan atau tradisi.
Kristus telah datang untuk menahirkan semua yang percaya kepada-Nya.
R.C. Sproul menutup dengan kalimat yang tepat:
“Di hadapan salib, tidak ada orang najis yang tidak dapat ditahirkan oleh darah Anak Domba Allah.”