Kejadian 14:5–7: Allah yang Berdaulat di Tengah Pergolakan Bangsa-Bangsa

Kejadian 14:5–7: Allah yang Berdaulat di Tengah Pergolakan Bangsa-Bangsa

Pendahuluan: Narasi Perang dalam Rencana Allah

Kejadian 14 sering dipandang sebagai pasal yang “asing” dalam kitab Kejadian. Di tengah kisah panggilan Abram, perjanjian Allah, dan janji keselamatan, tiba-tiba pembaca dihadapkan pada daftar raja-raja, peperangan, dan penaklukan bangsa-bangsa. Namun, justru di sinilah kita melihat dengan jelas bahwa Allah tidak hanya bekerja dalam ruang ibadah dan perjanjian, tetapi juga berdaulat penuh atas sejarah politik dan konflik internasional.

Kejadian 14:5–7 secara khusus menggambarkan ekspansi militer Kedorlaomer dan sekutunya, yang menundukkan berbagai bangsa di wilayah Transyordan dan Kanaan. Sekilas, bagian ini tampak seperti laporan sejarah belaka. Namun, dalam terang teologi Reformed, teks ini adalah bagian integral dari sejarah penebusan (redemptive history) yang mempersiapkan panggung bagi penyataan Allah kepada Abram sebagai umat pilihan-Nya.

John Calvin dengan tajam mengingatkan:

“Tidak ada satu peristiwa sejarah pun yang dicatat dalam Kitab Suci tanpa tujuan ilahi; bahkan peperangan bangsa-bangsa pun tunduk kepada hikmat Allah.”
(Commentary on Genesis)

Teks Dasar: Kejadian 14:5–7 (AYT)

Kejadian 14:5–7 (AYT)
“Pada tahun keempat belas, datanglah Kedorlaomer bersama raja-raja yang menyertainya dan mengalahkan orang Refaim di Asyterot-Karnaim, orang Zuzim di Ham, orang Emim di Syawe-Kiryataim, dan orang Hori yang tinggal di pegunungan mereka, Seir, sampai ke El-Paran di pinggir padang belantara. Setelah itu, mereka kembali dan tiba di En-Mispat, yaitu Kadesh, dan menaklukkan seluruh wilayah milik orang Amalek serta orang Amori yang tinggal di Hazezon-Tamar.”

I. Konteks Historis dan Naratif Kejadian 14

1. Latar belakang politik dunia kuno

Kejadian 14 menggambarkan konflik internasional paling awal yang dicatat dalam Alkitab. Empat raja dari wilayah Mesopotamia (termasuk Kedorlaomer, raja Elam) melawan lima raja dari lembah Yordan.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa dunia pada zaman Abram:

  • Sudah terorganisasi secara politik

  • Dipenuhi konflik kekuasaan

  • Dikuasai oleh kerajaan-kerajaan besar dan kecil

Meredith G. Kline, teolog Reformed dan pakar Perjanjian Lama, menyatakan:

“Narasi ini menempatkan Abram dalam dunia nyata sejarah, bukan dalam legenda religius; Allah bekerja di tengah gejolak politik internasional.”
(Kingdom Prologue)

2. Hubungan dengan panggilan Abram

Penting untuk dicatat bahwa Abram sudah menerima janji Allah dalam Kejadian 12, tetapi janji itu belum digenapi secara penuh. Tanah Kanaan masih dikuasai oleh berbagai bangsa.

Dengan mencatat penaklukan bangsa-bangsa ini, Musa ingin menunjukkan bahwa:

  • Tanah perjanjian tidak kosong

  • Janji Allah akan digenapi melalui kuasa dan providensi-Nya, bukan melalui kekuatan manusia

II. Eksposisi Ayat demi Ayat

Kejadian 14:5 — Penaklukan Orang Refaim, Zuzim, dan Emim

“Pada tahun keempat belas, datanglah Kedorlaomer bersama raja-raja yang menyertainya dan mengalahkan orang Refaim…”

1. Kedorlaomer sebagai alat providensi Allah

Kedorlaomer digambarkan sebagai penguasa dominan yang menundukkan berbagai suku besar. Dari sudut pandang teologi Reformed, bahkan penguasa kafir sekalipun dipakai Allah sebagai alat dalam rencana-Nya.

Herman Bavinck menulis:

“Providensi Allah meliputi juga tindakan bangsa-bangsa kafir; mereka bertindak bebas, tetapi tidak pernah di luar kehendak Allah.”
(Reformed Dogmatics, Vol. 2)

2. Refaim, Zuzim, dan Emim: bangsa-bangsa kuat

Bangsa-bangsa ini dikenal sebagai:

  • Bertubuh besar

  • Kuat secara militer

  • Ditakuti oleh bangsa lain

Namun mereka ditaklukkan, menegaskan bahwa kekuatan manusia tidak absolut.

Kejadian 14:6 — Penaklukan Orang Hori di Seir

“dan orang Hori yang tinggal di pegunungan mereka, Seir, sampai ke El-Paran…”

Wilayah Seir kelak akan menjadi tanah Edom. Dengan mencatat penaklukan ini, Alkitab menunjukkan bahwa:

  • Sejarah bangsa-bangsa berada dalam kontrol Allah

  • Tidak ada wilayah yang “liar” di luar providensi-Nya

Geerhardus Vos menyatakan:

“Sejarah umum adalah panggung tempat sejarah penebusan berlangsung; keduanya tidak terpisah.”
(Biblical Theology)

Kejadian 14:7 — Penaklukan Amalek dan Amori

“Setelah itu, mereka kembali dan tiba di En-Mispat… dan menaklukkan seluruh wilayah milik orang Amalek serta orang Amori…”

Bangsa Amalek dan Amori kelak menjadi musuh utama Israel. Penaklukan sementara ini:

  • Menunjukkan dinamika naik-turun kekuasaan

  • Mempersiapkan konteks bagi konflik Israel di masa depan

John Sailhamer menulis:

“Penulis Kejadian menyiapkan pembaca untuk memahami bahwa tanah perjanjian adalah medan konflik rohani dan historis.”
(The Pentateuch as Narrative)

III. Dimensi Teologis Reformed

1. Kedaulatan Allah atas sejarah

Kejadian 14:5–7 menegaskan doktrin kedaulatan Allah. Tidak ada kerajaan yang berdiri atau jatuh di luar kehendak-Nya.

Daniel 2:21 menyatakan prinsip yang sama:

“Dia yang mengganti waktu dan masa, Dia yang memecat raja dan mengangkat raja.”

2. Allah memakai bangsa kafir sebagai alat penghakiman

Dalam teologi Reformed, Allah sering memakai bangsa kafir:

  • Untuk menghukum bangsa lain

  • Untuk mendisiplinkan umat-Nya

  • Untuk menggenapi rencana penebusan

Calvin menulis:

“Pedang orang fasik sering menjadi cambuk Allah.”

IV. Kejadian 14 dalam Kerangka Sejarah Penebusan

1. Menyiapkan panggung bagi Melkisedek

Narasi peperangan ini akan mengarah pada perjumpaan Abram dengan Melkisedek (Kejadian 14:18–20), figur Kristologis yang penting dalam teologi Reformed (Ibr. 7).

Tanpa konflik ini:

  • Abram tidak akan tampil sebagai pembela

  • Tidak ada konteks bagi berkat Melkisedek

2. Abram sebagai representasi umat Allah

Abram hidup di tengah dunia yang kacau, tetapi:

  • Dipelihara oleh Allah

  • Dipakai Allah

  • Tidak ditelan oleh kekerasan dunia

Abraham Kuyper menulis:

“Allah tidak menarik umat-Nya keluar dari sejarah, tetapi memelihara mereka di dalamnya.”

V. Aplikasi Teologis dan Pastoral

1. Dunia tidak pernah netral

Konflik, perang, dan krisis global bukan tanda Allah absen, melainkan bukti dunia jatuh dalam dosa.

2. Penghiburan bagi umat Allah

Bagi orang percaya:

  • Allah tetap berdaulat

  • Janji-Nya tidak gagal

  • Sejarah menuju tujuan yang telah Ia tetapkan

3. Panggilan untuk iman, bukan ketakutan

Abram tidak dipanggil untuk mengendalikan dunia, tetapi percaya kepada Allah yang mengendalikan dunia.

VI. Dimensi Kristologis

Yesus Kristus adalah:

  • Raja di atas segala raja

  • Penggenapan kuasa Allah yang sejati

  • Penakluk terakhir bukan dengan pedang, tetapi dengan salib

Kolose 2:15:

“Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa…”

VII. Dimensi Eskatologis

Kejadian 14 menunjuk kepada:

  • Ketidakstabilan kerajaan dunia

  • Kepastian Kerajaan Allah yang kekal

Anthony Hoekema menulis:

“Sejarah dunia bergerak menuju penggenapan kerajaan Kristus yang tidak tergoncangkan.”
(The Bible and the Future)

Kesimpulan: Allah Tetap Memerintah

Kejadian 14:5–7 mengajarkan bahwa:

  • Allah berdaulat atas sejarah

  • Bangsa-bangsa berada di tangan-Nya

  • Umat Allah aman dalam janji-Nya

Di tengah dunia yang terus bergejolak, gereja dipanggil untuk:

  • Beriman

  • Bertekun

  • Menantikan penggenapan kerajaan Kristus

Next Post Previous Post